Detektif Imut Uang Kas Bermasalah (2)
5/22
Bab 5

Uang Kas Bermasalah (2)

“Segera bawa mereka berempat ke sini! Selagi aku melakukan investigasi!” suruh Romy.

“Baik!”

Detektif Romy tak bisa melakukannya seorang diri. Sehingga, dia memanggil temannya yang merupakan petugas forensik untuk membantunya. Namun, temannya tidak bisa datang, karena sedang menangani kasus lain, hingga pada akhirnya, dia harus menangani kasus itu seorang diri.

Dinda tidak hanya diam, dengan sembunyi-sembunyi mencari petunjuk untuk membantu Romy.

Detektif Romy berada di ruang interogasi, sedang berusaha memecahkan kasus yang dia rasa cukup rumit. Sedangkan Dinda di tempat lain, berharap mendapatkan barang bukti. Di saat dia keluar dari kantor, Dinda giliran masuk ke kantor untuk mencari petunjuk di ruangan tersebut.

Barang bukti paling nyata adalah sebuah brankas menggunakan kata sandi rumit untuk membukanya. Brankas tempat penyimpanan uang itu pun seperti ada bekas double-tip atau semacamnya pada bagian tombolnya. Dia menyentuh bagian itu merasa ada lengket-lengket sedikit. Ternyata, brankas tersebut menggunakan pengamanan ganda – kemungkinan menggunakan kode sandi dan sidik jari. Sehingga, hanya Bu Asri saja yang bisa membukanya. Harusnya, aman dari kebobolan.

Akan tetapi, bukti itu pun belum kuat. Sehingga, dia harus mencari bukti lain agar kasus itu valid. Tidak mungkin menuduh orang sembarangan tanpa dasar yang jelas.

“Pak Detektif, mereka semua sudah ada di sini,” ucap Pak Dharma.

“Bagus.”

Setelah itu, ada empat orang yang datang. Dari semuanya, ada salah satu yang mungkin adalah pencurinya.

Mereka adalah Bu Asri yang merupakan istri Pak Dharma itu sendiri, Bu Novi selaku petugas kebersihan sekolah, lalu Bu Khusni dan Bu Ani, keduanya adalah Guru TK.

“Ayo cepat selesaikan kasus ini, aku harus segera pulang!” suruh Bu Ani tak sabar. Hal itu sebenarnya membuat Romy curiga.

“Tenang dulu, saat ini masih dalam proses penyidikan,” jawab Detektif Romy.

“Mau sampai kapan?” tanya Bu Asri yang juga tidak sabar.

“Sekitar tiga puluh menit lagi, duduklah di ruang sebelah untuk menunggu keputusannya!”

Kelima orang, termasuk kepala sekolah sendiri masuk ke ruangan sebelah. Mereka menunggu Detektif Romy selesai penyelidikan. Dua puluh menit pun berlalu, para tersangka yang berada di ruangan sebelah tampak gelisah.

Sementara Dinda berdiri tidak jauh dari pintu masuk ruangan tempat mereka menunggu. Dia mendengar ocehan Bu Ani yang menuduh Bu Novi melakukan pencurian tersebut.

‘Apa? Bu Novi baru saja melunasi utang sebesar sepuluh juta? Kenapa nominalnya bisa sama persis dengan uang yang dicuri?’ batin Dinda.

“Kau mengaku saja, Bu Novi! Kau pasti kan yang mencuri?!” seru Bu Ani yang sepertinya tidak menyukai Bu Novi.

“Pasti kau yang mencurinya, Kan?” tuduh Bu Asri.

Sementara itu, di TKP, Detektif Romy kebingungan. Sebab, sebentar lagi dia harus kembali menemui mereka semua, sebelum mereka pergi. Dia sebenarnya masih belum terlalu ahli jika harus menangani kasus seorang diri.

‘Aduh! Gimana ya, aku belum dapat bukti kuat untuk menangani kasus ini?’ batin Detektif Romy, “aku harus gimana? Waktu sudah setengah jam dan mereka sebentar lagi akan pergi.”

Pada akhirnya, dengan langkah berat, dia menuju ke ruangan sebelah.

“Terima kasih sudah berkumpul di sini. Jadi, menurut laporan Kepala Sekolah, pihak sekolah kehilangan uang kas sebesar sepuluh juta rupiah yang dikumpulkan melalui bantuan orang tua siswa dan dana BOS.”

“Heh! Ayo cepetan! Siapa pelakunya?!” titah Bu Asri.

Detektif Romy, berkeringat dingin. Dia harus melakukan rencana terakhir agar tahu siapa penyebabnya.

“Aku mau menanyakan kalian satu persatu. Menurut kepala sekolah, hilangnya uang itu tadi malam, ya kan?”

“Benar, Pak Detektif. Bu Novi yang mencurinya!” tuduh Bu Ani yang sepertinya memang tidak menyukai Bu Novi.

Romy mengerutkan kening, “kok bisa kau tahu, pencurinya Bu Novi?”

“Benar, Pak Detektif. Tangkap saja dia!” seru Bu Asri.

“Jujur, aku tidak mencurinya, Pak,” cela Bu Novi sambil tertunduk.

“Jangan sembarang menuduhnya! Dia bukan pelakunya. Dia orang yang baik, mana mungkin berani mengambil barang yang bukan miliknya. Apalagi jumlahnya cukup banyak!” seru Bu Khusni memihaknya.

“Siapa tahu kan, jika ada kesempatan, dia akan mengambil uang itu,” sangkal Bu Asri.

“Aku berani sumpah, aku tidak mengambilnya. Aku pun tidak tahu kode sandi dalam brankas.”

“Kalau begitu, bagaimana bisa kau melunasi semua utangmu? Kau dapatkan uang dari mana?!” bentak Bu Ani.

“Bu Novi, apa itu benar? Anda baru saja melunasi utang?” tanya Romy.

“Be ... benar, Pak Detektif. Tapi aku tidak mencuri uang itu.”

“Kalau kau tidak mencuri, kau dapat uang dari mana? Kok bisa, utangmu nominalnya sama dengan uang yang hilang?” tuduh Bu Asri terus menerus memojokkannya.

Bu Novi hanya tertunduk lesu, dia sedih, tapi tidak merasa mencuri uang tersebut, sementara Detektif Romy bingung, dia belum bisa mengetahui siapa pelaku pencurian yang sebenarnya.

Akan tetapi, kalau dari bukti-bukti dan pengakuan saksi, dugaan kuat memang merujuk ke Bu Novi.

‘Aduh, aku menyesal sudah menyanggupi kasus ini tanpa bantuan polisi,’ gerutu Detektif Romy pada dirinya sendiri.

Di saat dia kebingungan untuk menentukan siapa pencuri uang kas tersebut, dia meletakkan kedua tangan pada saku celananya.

Ekspresinya aneh setelah menemukan sesuatu pada saku celananya. Rupanya, ada sobekan kertas dengan sebuah tulisan. Sontak, karena Romy penasaran tulisan itu apa isinya, dia pun membukanya.

Dinda yang saat itu mengawasi di luar ruangan tersebut tersenyum puas. Ternyata, dia sudah mampu memecahkan kasus itu dengan kecerdasan yang dia miliki. Meskipun tubuhnya menyusut menjadi anak kecil, tapi pikiran dewasanya masih utuh.

Beberapa saat sebelum Detektif Romy masuk ruangan, dia sempat memasukkan secarik kertas ke saku celananya berupa tulisan deduksinya.

‘Ini tulisan siapa, kok bisa-bisanya ada di sini?’ gumam Detektif Romy dalam hati.

Setelah membaca dan memahami semuanya, dia pun mulai melakukan aksinya. Sebenarnya ada keraguan, tapi karena desakan dari para tersangka, dia harus segera memulainya. Dia menghembuskan napas panjang, lalu mulutnya mulai terbuka.

“Aku ingin tahu, tadi malam kalian di mana. Mulai dari Bu Asri!” ujar Detektif Romy.

“Pak Detektif, kau tidak boleh menuduhku. Meskipun aku tahu kode sandinya, tapi tadi malam aku bersama suamiku di sini, membongkar brangkas yang isinya kosong.”

“Benar itu, Pak Dharma?”

“Iya, Benar, Pak Detektif.”

“Selanjutnya ... Bu Novi, kau tadi malam di mana?”

“Tadi malam, aku di rumah, Pak Detektif. Setelah aku melunasi utangku. Aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Mohon maaf, Ibu dapat uang pelunasan itu dari mana?”

“Aku ... aku ... pinjam uang Bu Khusni,” ungkap Bu Novi.

“Oh begitu, jadinya gali lubang tutup lubang,” ujar Romy, “lalu, Bu Ani?”

“Aku bersama Pak Dharma dan Bu Asri membongkar brankas itu tadi malam, karena besok lusa akan dilakukan renovasi sekolah.”

“Benar, Pak Dharma?”

“Iya, Benar,” ujarnya.

“Lalu Bu Khusni?”

“Sudah pasti aku di rumah saja. Setelah sore hari aku menyerahkan uang itu ke Bu Novi, aku tidak pergi ke mana-mana.”

“Hem ...,” gumam Detektif Romy semakin bingung. Dia menyentuh janggutnya sambil memikirkan sesuatu.

“Bu Khusni, kau dapat uang itu dari mana?” tanya Detektif Romy curiga.

“Dari Bank, aku mencairkan tabunganku saat itu.”

“Tabunganmu?”

“Adakah bukti kuat kalau kau melakukan pencairan?”

“Ada!” ujar Bu Khusni sambil menyerahkan struk pengambilan uang di bank. Romy memeriksanya dengan teliti. Tak tanggung-tanggung, dia memakai kaca matanya agar lebih jelas.

‘Benar juga, ini struk asli,’ gumam Detektif Romy.

Dia pun menyimpulkan, tersangkanya adalah ....