Hari Sabtu pagi itu udara terasa cerah. Setelah seminggu penuh berkutat dengan berkas, telepon, jadwal rapat, dan tatapan sinis Sisca di kantor, Arema akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.
Sabtu dan Minggu kantor biasa tutup. Untuk pertama kalinya sejak bekerja di perusahaan Jordi, ia benar-benar punya waktu untuk dirinya sendiri.
Arema memilih pergi ke sebuah taman kota yang tidak terlalu jauh dari apartemennya. Tempat itu cukup rindang, banyak pepohonan tua dengan bangku-bangku kayu di bawahnya.
Anak-anak berlarian, pasangan lansia berjalan santai, dan beberapa pedagang kaki lima berjajar di pinggir taman.
Arema duduk di salah satu bangku dekat jalan setapak. Di tangannya ada sepiring siomay hangat lengkap dengan bumbu kacang kental yang menggoda selera.
Ia meniup pelan uap panas yang mengepul, lalu menyuapkan satu potong ke mulutnya.
"Enak banget," gumamnya pelan.
Untuk sesaat, ia merasa seperti kembali menjadi dirinya yang dulu. Gadis sederhana yang bisa menikmati hal kecil tanpa beban pikiran terlalu berat.
Tidak ada suara telepon kantor. Tidak ada bayangan Rino. Tidak ada tatapan meremehkan. Ia memandangi kolam kecil di depan taman, tempat beberapa anak memberi makan ikan.
Angin berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutnya.
"Kayaknya hidupku pelan-pelan mulai bener," batinnya. "Capek sih, tapi setidaknya aku jalan ke depan."
Belum sempat ia menghabiskan siomay ketiganya, bayangan seseorang tiba-tiba jatuh di depannya.
Arema mengernyit, lalu mendongak. Jantungnya langsung berdegup keras.
Vheronika.
Perempuan itu berdiri dengan kacamata hitam besar, tas branded menggantung di bahu, dan senyum miring yang sangat Arema kenal. Senyum yang selalu terasa seperti ejekan.
"Eh, ada Arema," katanya dengan nada dibuat-buat ramah, tapi jelas penuh sindiran.
Arema tersentak. Tangan yang memegang garpu plastik berhenti di udara.
"Vhero, ngapain dia?" batin Arema, waspada.
Vheronika melepas kacamata hitamnya perlahan, memperlihatkan tatapan yang menilai dari ujung kepala sampai kaki.
"Gimana," lanjutnya santai, "udah terima undangan nikah aku sama Rino?"
Kata-kata itu seperti sengaja dilempar untuk menusuk. Arema merasakan dadanya menegang, tapi wajahnya tetap datar.
Ia menunduk lagi, pura-pura fokus pada siomaynya, seolah tidak mendengar apa pun.
Vheronika mendecak pelan. "Ih, sombong amat sih sekarang. Dulu ngejar-ngejar Rino, sekarang pura-pura nggak kenal."
Arema menarik napas pelan. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat umum. Tidak ingin menurunkan dirinya ke level Vheronika.
Tanpa sepatah kata pun, Arema berdiri. Ia berjalan ke gerobak siomay.
"Berapa, Bang?" tanyanya singkat.
"Dua belas ribu, Mbak."
Arema menyerahkan uang, bahkan tidak menoleh lagi ke arah Vheronika. Siomaynya masih tersisa, tapi seleranya sudah hilang.
"Eh, malah minggat!" seru Vheronika dari belakang. "Sakit hati ya? Hahaha!"
Langkah Arema tidak berhenti. Ia menuju parkiran motor di tepi taman. Tangannya sedikit gemetar saat memasang helm.
"Ngapain aku ladenin orang kayak dia," batinnya. "Cuma buang energi."
Ia menyalakan motor maticnya dan langsung melaju meninggalkan taman, meninggalkan suara tawa kecil Vheronika yang masih terdengar samar di belakang.
Sepanjang perjalanan, pikiran Arema campur aduk. Bukan hanya karena bertemu Vheronika, tapi juga karena undangan itu kembali terbayang.
"Kenapa sih hidupku harus muter-muter di orang-orang itu lagi?" gumamnya di balik helm.
Alih-alih kembali ke apartemen, Arema justru membelokkan motor ke arah kampung halamannya.
Tiba-tiba ia ingin pulang. Ingin melihat wajah orang tuanya. Ingin merasa aman.
Sesampainya di rumah, halaman terlihat sepi. Ia memarkir motor, lalu berjalan ke rumahnya.
"Bunda!" panggilnya.
Dari dalam rumah, Salma keluar sambil mengusap tangan dengan kain lap. Wajahnya langsung cerah melihat putrinya.
"Rema! Lho, kamu nggak kerja, Nak?"
Arema tersenyum tipis. "Sabtu Minggu kan perusahaan tutup, Bun."
"Oh iya ya, Bunda lupa." Salma tertawa kecil, lalu memeluk Arema sebentar. "Masuk dulu, Ayah kamu lagi di belakang."
Di ruang tamu, Wawan muncul sambil membawa segelas teh.
"Eh, anak Ayah pulang!" katanya senang. "Gimana kerjaannya?"
"Lancar, Yah," jawab Arema, berusaha terdengar baik-baik saja.
Mereka duduk bertiga. Suasana hangat itu membuat dada Arema yang tadi sesak perlahan mengendur.
Namun ucapan Salma berikutnya membuat tubuh Arema kembali tegang.
"Oh iya, Rema," kata Salma seolah ingin membicarakan hal sepele, "kemarin ada Rino sama cewek datang ke sini."
Arema langsung terdiam.
"Mereka nanya kamu sekarang tinggal di mana," lanjut Salma. "Katanya mau anter sesuatu penting, jadi Bunda kasih tahu alamat apartemen kamu deh."
Waktu seperti berhenti beberapa detik ....
"Oh, jadi Bunda yang kasih tahu apartemenku, pantesan," batin Arema.
Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Ada rasa kecewa, tapi ia tahu orang tuanya tidak punya niat buruk.
"Kenapa, Ma?" tanya Wawan, melihat perubahan wajah putrinya.
Arema menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Yah."
Salma tampak bingung. "Memang kenapa, Nak? Salah ya Bunda kasih alamat kamu?"
Arema menarik napas dalam. "Bukan salah, Bun, cuma ...." Ia menahan diri, tidak ingin membuat orang tuanya merasa bersalah. "Aku udah jarang kontak sama Rino. Aku kira dia nggak bakal nyari aku lagi."
Wawan langsung mengerti. Wajahnya mengeras. "Dia ganggu kamu lagi?"
"Nggak, kok," jawab Arema pelan. "Cuma, kemarin dia kirim undangan nikah."
Salma menutup mulutnya kaget. "Astaga."
"Ya sudah," kata Wawan tegas. "Kalau dia datang ke apartemen kamu, jangan dibukain pintu. Kalau perlu, bilang ke satpam."
Arema mengangguk. Hatinya hangat melihat ayahnya membela tanpa banyak tanya.
Salma menggenggam tangan Arema. "Maafin Bunda ya, Nak. Bunda kira memang penting."
Arema tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Bun. Bunda kan nggak tahu."
Namun di dalam hati, Arema tahu satu hal pasti, kehidupannya yang baru, yang susah payah ia bangun, mulai terusik lagi.
Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan, bahwa kedatangan kurir yang disuruh Rino ke apartemennya bukan sekadar ingin mengantar undangan pernikahan.
Salma tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Oh iya, Bunda sampai lupa. Ayo makan bareng. Bunda hari ini masak ikan mujair santan pedas. Jarang-jarang kan kamu makan di rumah bareng kita," katanya hangat.
Sebenarnya, Arema sudah kehilangan selera makan. Perutnya terasa penuh oleh pikiran, bukan oleh makanan.
Bayangan Vheronika di taman, undangan pernikahan, dan kabar Rino datang ke rumah tadi masih berputar-putar di kepalanya.
Tapi melihat wajah ibunya yang begitu tulus, ia tak tega menolak.
Arema mengangguk pelan. "Iya, Bun."
Mereka bertiga pindah ke ruang makan sederhana di dekat dapur. Aroma santan pedas langsung menyambut. Ikan mujair berkuah merah kekuningan mengepul di atas meja, ditemani sambal terasi dan lalapan.
"Ini kesukaan kamu dari dulu," kata Salma sambil mengambilkan nasi ke piring Arema.
Wawan ikut tersenyum. "Dulu kalau Bunda masak ini, kamu bisa nambah sampai dua kali."
Arema tersenyum kecil. "Sekarang juga masih suka, Yah."
Ia menyuapkan sedikit nasi dan kuah ke mulutnya. Rasa pedas gurih itu langsung mengingatkannya pada masa-masa sebelum semua rumit.
Saat hidup hanya soal sekolah, membantu orang tua, dan mimpi-mimpi sederhana.
Untuk beberapa menit, ia membiarkan dirinya larut dalam kehangatan itu.
Tertawa kecil mendengar cerita ayahnya tentang proyek bangunan yang hampir salah ukur, dan ocehan ibunya tentang pelanggan online shop yang cerewet.
Di tengah kegelisahan hidupnya, momen makan malam itu terasa seperti pelukan yang diam-diam menguatkan.