Matahari pukul dua siang di Lapangan Merah, pinggiran Bekasi, bukanlah matahari yang ramah. Ia tidak membelai; ia menggigit. Sinar itu jatuh tegak lurus, memanggang tanah merah yang botak di bagian tengah lapangan, mengubah debu menjadi bedak panas yang menempel di kulit siapa saja yang nekat bernapas di sana.
Di pinggir lapangan, deretan penonton duduk di atas bangku kayu reyot yang dipinjam dari warung tegal sebelah. Aroma keringat asam bercampur dengan bau minyak urut dan asap rokok kretek yang pekat. Suara tok-tok-tok dari penjual ketoprak keliling menjadi metronom bagi ketegangan yang mulai merayap naik.
"Itu Pak Haji sudah pasang kuda-kuda," bisik seorang bapak berkumis tebal sambil mengipasi lehernya dengan sobekan kardus mie instan. "Lihat matanya. Kosong tapi isi."
Temannya, seorang pemuda tanggung yang mengenakan jersi KW Thailand timnas antah-berantah, mengangguk dengan takzim. "Katanya khodamnya bukan sembarang khodam, Pak. Itu Jin Qorin dari Banten. Makanya kalau dia tiup peluit, pemain belum jatuh pun pelanggaran sudah kejadian. Sakti."
Di tengah lapangan, Haji Mamat berdiri tegak. Usianya sudah kepala lima, namun punggungnya lurus seperti tiang gawang baru. Ia tidak mendengar percakapan itu-atau lebih tepatnya, ia memilih untuk mengabaikannya. Tangan kanannya memegang peluit hitam yang tergantung di leher, sementara tangan kirinya merapikan kerah seragam hitamnya yang mulai basah di bagian ketiak.
Ia memejamkan mata sejenak. Bukan untuk berdoa memanggil jin, melainkan untuk menahan rasa perih yang tiba-tiba menyengat bola matanya.
“Sistem kalibrasi dimulai. Memindai topografi lapangan... Selesai. Kelembapan: 88%. Suhu permukaan: 39 derajat Celcius. Jarak pandang: Optimal.”
Suara robotik perempuan yang datar itu berdengung langsung di dalam tulang tengkoraknya, dihantarkan lewat konduksi tulang dari earpiece seukuran butir beras yang tersembunyi di dalam lubang telinga.
Saat Mamat membuka mata, dunia di hadapannya berubah.
Lapangan yang tadinya hanya hamparan tanah merah dan rumput liar yang enggan hidup, kini dilapisi jaring-jaring neon biru transparan. Di atas kepala setiap pemain yang sedang pemanasan, melayang kotak data kecil berisi angka-angka yang bergerak cepat.
Target: Pemain No. 10 (Tim Garuda Putih). Detak Jantung: 110 bpm. Tingkat Agresi: Tinggi. Probabilitas Pelanggaran: 78%.
Mamat menghela napas panjang. Bukan khodam, bukan ilmu laduni, bukan pula wangsit dari leluhur. Yang bersarang di kedua bola matanya adalah sepasang lensa kontak Augmented Reality (AR) purwarupa senilai tiga miliar rupiah, dikembangkan oleh Nusantara Neural-Tech, sebuah startup ambisius yang bermarkas di sebuah ruko tiga lantai di kawasan Jakarta Selatan.
"Dimas, gambarnya agak nge-lag di sudut kiri," gumam Mamat pelan, nyaris tanpa gerak bibir. Mikrofon super-sensitif di kerahnya menangkap getaran suara itu.
"Sinyal agak ribut, Pak Haji. Banyak gangguan frekuensi dari tower seluler di belakang masjid. Coba kedip dua kali cepat untuk refresh," suara Dimas, insinyur muda yang canggung itu, terdengar panik di telinga Mamat.
Mamat berkedip dua kali. Bip-bip. Jaring neon biru itu berkedip, lalu kembali stabil.
"Sudah. Jangan sampai baterainya habis di tengah jalan kayak minggu lalu. Malu saya kalau tiba-tiba buta arah di depan lurah," ancam Mamat halus.
"Aman, Pak. Aman. Baterai 92%. Server cloud lancar jaya."
Mamat tidak menjawab. Ia meniup peluit panjang. Suaranya melengking membelah udara panas, membungkam riuh rendah penonton. Pertandingan final tarkam (taruhan kampung) memperebutkan hadiah kambing etawa sepasang itu pun dimulai.
Pertandingan tarkam adalah seni bertahan hidup. Tidak ada offside trap yang rapi ala Eropa di sini. Yang ada adalah lari sekencang-kencangnya, tendang sekeras-kerasnya, dan tabrak siapa saja yang menghalangi. Debu mengepul setiap kali bola diperebutkan, menciptakan kabut cokelat yang menyesakkan dada.
Mamat berlari kecil menjaga jarak pandang. Bagi penonton awam, ia tampak santai, bergerak seolah tahu ke mana bola akan mendarat. Tapi di balik lensa matanya, ia sedang berada di dalam kokpit pesawat tempur.
Garis-garis vektor merah dan hijau melesat-lesat di pandangannya. Sebuah panah merah tiba-tiba muncul dari kaki penyerang tim lawan, memanjang ke arah betis pemain bertahan.
PERINGATAN: Potensi Benturan Kinetik Tinggi. Estimasi waktu: 1,5 detik.
Otak Mamat belum memproses informasi itu sepenuhnya, tapi tubuhnya sudah bergerak sesuai protokol. Ia menarik napas, mengangkat peluit.
Prriiit!
Peluit berbunyi nyaring. Setengah detik kemudian-Bruk!
Pemain nomor punggung 7 tersungkur, mengerang memegangi tulang keringnya setelah disapu tekel terlambat dari bek lawan. Debu membumbung tinggi.
Penonton ternganga.
"Gila! Dia udah tiup peluit sebelum kakinya kena!" seru si bapak berkumis tadi, matanya melotot. "Itu pasti dia lihat masa depan! Khodamnya ngasih tahu!"
Di lapangan, bek yang melakukan pelanggaran bangkit dengan wajah garang, siap memprotes. "Woy, Pak Wasit! Saya kena bola duluan!"
Mamat menatap bek itu dengan tenang. Di layar AR-nya, sebuah tayangan ulang slow-motion berputar otomatis di sudut kanan atas pandangannya, lengkap dengan analisis fisika.
Analisis Dampak: Kontak 100% pada Tibia. Bola tidak tersentuh. Kecepatan ayunan kaki: 45 km/jam.
"Sampeyan (kamu) tidak kena bola, Mas," kata Mamat datar, suaranya tenang namun berwibawa. Ia menunjuk titik kejadian. "Kaki sampeyan telat dua puluh milidetik. Kalau saya tidak tiup peluit lebih cepat, kaki teman sampeyan itu bisa patah tebu."
Bek itu terdiam. Ia tidak mengerti apa itu milidetik, tapi sorot mata Mamat yang tajam-yang sebenarnya sedang membaca data biometrik-membuat nyalinya ciut. Ada sesuatu yang tidak manusiawi di mata itu. Sesuatu yang dingin, presisi, dan tak terbantahkan.
"Tendangan bebas," putus Mamat.
Permainan berlanjut. Matahari semakin condong ke barat, membuat bayangan para pemain memanjang seperti hantu-hantu kurus di atas tanah merah.
Di pinggir lapangan, tersembunyi di balik gerobak es kelapa muda, Dimas duduk bersila di atas tikar plastik. Laptop gaming tebalnya menyala terang, menampilkan grafik-grafik rumit yang sama dengan yang dilihat Mamat. Kipas laptop itu menderu kencang, bersaing dengan suara mesin parut kelapa di sebelahnya.
"Suhu prosesor naik, Mas Dimas," celetuk tukang es kelapa sambil menyerut es balok. "Laptop mahal kok bunyinya kayak mesin jahit."
Dimas hanya tersenyum kecut sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaos. "Biasa, Mang. Lagi ngerender... masa depan."
Ia mengetikkan beberapa baris kode dengan cepat. Algoritma Prediksi Kerusuhan mendadak melonjak ke angka 85%.
"Pak Haji," panggil Dimas lewat mikrofon. "Hati-hati. Algoritma sosial mendeteksi pola agresif di tribun timur. Penonton mulai panas. Ada botol air mineral yang baru saja dilempar, tapi meleset."
Di lapangan, Mamat menerima info itu. Sebuah notifikasi merah berkedip di pojok kiri bawah matanya: ZONA BAHAYA: SEKTOR TRIBUN TIMUR.
Ia melirik sekilas. Benar saja, beberapa pemuda mulai berdiri, menunjuk-nunjuk ke arah hakim garis yang ketakutan.
"Terima kasih, Dimas. Fokus ke lapangan saja. Biar urusan penonton diurus Panitia Pelaksana," balas Mamat dalam hati.
Tiba-tiba, sebuah momen krusial terjadi.
Menit ke-88. Skor imbang 1-1. Striker tim tuan rumah lolos dari jebakan offside. Ia berlari sendirian menuju gawang. Kiper lawan maju menerjang.
Dalam pandangan Mamat, dunia melambat.
Sistem AR memproyeksikan dua jalur kemungkinan. Jalur A: Kiper menepis bola (Probabilitas 30%). Jalur B: Kiper menabrak lutut striker (Probabilitas 70%).
Tetapi kemudian, sistem memberikan peringatan aneh. ANOMALI TERDETEKSI. Objek asing masuk lintasan.
Apa?
Mamat menyipitkan mata. Di layar AR-nya, sebuah garis kuning putus-putus muncul dari arah tribun penonton, melengkung menuju area kotak penalti. Itu bukan lintasan pemain. Itu lintasan proyektil.
Sebuah batu. Sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dilempar oleh penonton yang tidak puas.
Batu itu melayang di udara, tak terlihat oleh pemain yang sedang fokus penuh pada bola. Jika batu itu mengenai kepala striker yang sedang berlari kencang, fatal akibatnya.
Waktu tersisa sebelum dampak: 0,8 detik.
Mamat tidak berpikir. Ia tidak menunggu instruksi AI. Ia berlari memotong jalur lari striker tersebut.
Prriiiittt!! Prriiiittt!!
Ia meniup peluit panjang berulang kali sambil merentangkan tangan, tubuh tuanya melompat ke depan striker, menghalangi jalur lari anak muda itu.
"BERHENTI!" teriak Mamat.
Striker itu kaget, mengerem mendadak, dan menabrak tubuh Mamat. Keduanya jatuh berguling di tanah berdebu.
BUGH!
Batu sebesar kepalan tangan itu mendarat tepat di tempat kepala striker itu seharusnya berada sepersekian detik yang lalu. Batu itu menghantam tanah keras dengan bunyi gedebuk yang mengerikan, lalu menggelinding pelan.
Hening.
Seluruh lapangan membeku. Striker muda itu menatap batu di sebelahnya dengan wajah pucat pasi. Ia menoleh ke arah Mamat yang sedang berusaha bangun sambil memegangi pinggangnya yang encok.
"Ba... Bapak tahu?" gagap striker itu. "Bapak tahu ada batu?"
Mamat meringis. Lensa kontaknya memberikan notifikasi: TRAUMA FISIK TERDETEKSI. Area: Lumbar L4-L5. Disarankan istirahat.
Mamat berdiri perlahan, menepuk debu dari celananya. Ia mengambil batu itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah tribun. Wajahnya datar, namun matanya-yang dilapisi teknologi milyaran rupiah-memindai kerumunan, mencari pelaku berdasarkan lintasan balistik tadi.
Sistem AR mengunci target. Seorang pria berbaju merah di barisan ketiga, yang kini tampak ketakutan dan berusaha menyusup keluar.
Mamat menunjuk lurus ke arah pria itu. Bukan dengan telunjuk, tapi dengan tatapan tajam yang seolah menembus jarak lima puluh meter.
"Wasit sakti..." desis penonton. "Dia tahu siapa yang lempar!"
Kenyataannya, Mamat hanya mengikuti kotak merah yang berkedip di atas kepala si pelempar bertuliskan: SUMBER LINTASAN OBJEK.
Panitia keamanan, yang melihat arah telunjuk Mamat, langsung sigap mengejar pelaku.
Pertandingan dihentikan. Situasi sudah tidak kondusif. Mamat memutuskan menyudahi laga dengan hasil seri. Tidak ada kambing yang dibawa pulang, tapi setidaknya tidak ada nyawa yang melayang.
Matahari mulai tergelincir, menyisakan semburat oranye yang memar di ufuk barat. Mamat duduk di bangku panjang sebuah warung kopi kecil, jauh dari keramaian lapangan. Ia melepas peci-nya, mengusap kepala yang botak sebagian.
Dimas datang tergopoh-gopoh, membawa kotak lensa kontak dan cairan pembersih.
"Gila, Pak! Gila!" seru Dimas, matanya berbinar-binar. "Data telemetri tadi luar biasa. Bapak memproses peringatan anomali lebih cepat 0,2 detik dari prediksi AI. Itu refleks manusia murni, Pak! Investor pasti senang lihat data ini."
Mamat tidak segera menjawab. Ia mengambil botol kecil cairan pembersih, meneteskannya ke telapak tangan, lalu dengan hati-hati mencungkil lensa kontak transparan itu dari matanya.
Saat lensa itu keluar, dunia kembali menjadi buram dan biasa. Jaring-jaring neon menghilang. Angka-angka statistik lenyap. Yang tersisa hanya keremangan senja warung kopi, asap rokok dari pengunjung sebelah, dan wajah Dimas yang masih muda dan penuh ambisi.
"Mataku perih, Dim," keluh Mamat pelan. "Lensa ini bikin mata kering kalau dipakai lebih dari 90 menit. Bilang sama bosmu, tambahin fitur pelembap otomatis."
"Siap, Pak, dicatat. Tapi aksi Bapak tadi... wah, viral pasti. Orang-orang makin yakin Bapak punya 'pegangan'."
Mamat tertawa kecil, tawa yang terdengar lelah. Ia menyeruput teh manis hangat yang baru saja diantar pemilik warung. Uap teh itu membasuh wajahnya yang berdebu. Aroma teh melati murahan terasa lebih nikmat daripada data canggih mana pun.
"Biarin aja mereka mikir begitu," kata Mamat. "Lebih gampang jelasin soal jin daripada jelasin soal cloud computing sama orang-orang sini. Kalau mereka tahu ini cuma alat, wibawa wasit hilang. Mereka bakal debat sama mesin."
"Tapi Bapak nggak capek? Jadi bahan omongan mistis terus?"
Mamat memandang jalanan di depan warung. Angkot-angkot tua mulai menyalakan lampu kuning suram mereka, berebut penumpang dengan motor-motor yang knalpotnya bising. Suara jangkrik mulai terdengar dari semak-semak di seberang selokan, bersahut-sahutan dengan suara adzan Maghrib yang menggema dari kejauhan.
"Dim," Mamat meletakkan gelas tehnya. "Dulu, sebelum ada alat ini, saya sering salah ambil keputusan. Pernah saya diamuk massa sampai motor saya hampir dibakar cuma gara-gara offside tipis. Sejak pakai alat ini, saya bisa pulang dengan tenang. Kucing saya di rumah nggak perlu nunggu majikannya pulang babak belur."
Ia teringat Si Belang, kucing kampung gemuk yang pasti sedang menunggunya di teras rumah, mungkin sedang mengincar ikan pindang di meja makan.
"Teknologi ini menyelamatkan nyawa saya, Dim. Dan mungkin nyawa anak tadi," lanjut Mamat. "Jadi, mau dibilang khodam, mau dibilang wali, terserah. Yang penting pertandingannya adil, pemainnya selamat."
Dimas mengangguk pelan, rasa hormat terpancar di wajahnya. Ia menyimpan lensa kontak miliaran rupiah itu ke dalam kotak berlapis beludru, memperlakukannya seperti permata, sementara Mamat memperlakukannya seperti kacamata baca biasa.
"Bapak mau diantar pulang? Naik motor saya?" tawar Dimas.
"Nggak usah. Saya mau naik angkot saja. Kaki masih kuat," tolak Mamat halus.
Mamat berdiri, mengenakan kembali peci hitamnya yang agak miring. Ia merogoh saku, mengeluarkan uang receh untuk membayar teh manis.
"Lagipula," tambah Mamat sambil tersenyum simpul, matanya menyipit jenaka. "Angkot 04 yang sebentar lagi lewat itu sopirnya Pak Darto. Dia suka nyetel dangdut koplo kencang-kencang. Khodam saya suka dangdut."
Dimas tertawa.
Mamat melangkah keluar dari warung, menyatu dengan kegelapan pinggir jalan. Ia berdiri di bahu jalan, menunggu angkot biru butut yang lampunya berkedip-kedip genit.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa siraman air got dan wangi nasi goreng yang mulai dimasak di gerobak sebelah. Di langit, bintang-bintang mulai muncul satu per satu, kerlap-kerlip alami yang jauh lebih indah daripada pendar neon Augmented Reality.
Mamat menatap langit itu dengan mata telanjangnya yang rabun. Ia tidak butuh persentase atau data untuk tahu bahwa malam ini akan damai. Ia hanya butuh pulang, memberi makan Si Belang, dan tidur tanpa mimpi tentang garis vektor.
Sebuah angkot berhenti di depannya.
"Kiri, Pir!" seru Mamat.
Ia naik ke dalam perut besi tua itu, duduk di pojok dekat pintu agar angin bisa menerpa wajahnya. Saat angkot melaju terguncang-guncang, Mamat memejamkan mata, menikmati satu-satunya hal yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma superkomputer mana pun: rasa syukur yang sederhana karena hari ini berakhir selamat.
Di kejauhan, peluit kereta api malam terdengar sayup-sayup, menutup hari yang panjang bagi sang wasit bermata malaikat.
TAMAT