Final Tarkam Metaverse
Aroma klorin bercampur keringat basi yang merembes dari pori-pori jas haptik rongsokan menampar penciuman, mengalahkan bau comberan dari genangan air setinggi mata kaki yang merendam lantai basemen. Di bawah megaproyek jalan layang bertingkat tujuh kawasan Bojonggede tahun 2090, rumput hijau cuma mitos yang diceritakan kakek-kakek pikun. Sepak bola fisik sudah lama mati, digantikan oleh hamparan beton dan apartemen kapsul yang menumpuk bagai sarang lebah raksasa. Anak pinggiran yang haus kejayaan lapangan hijau terpaksa mencari pelarian ke dalam ruang peladen ilegal, meretas jaringan Neural-Net demi menggelar turnamen antar kampung alias Tarkam Virtual.
Bagas mengutuk pelan. Jari telunjuknya yang gemetar berusaha mengaitkan sabuk sensor gerak ke pinggangnya yang membuncit. Sabuk itu tadinya milik kurir drone pengantar paket yang jatuh nyungsep di atap musala bulan lalu, kini dimodifikasi paksa dengan lakban hitam dan kabel serabut agar bisa mendeteksi putaran pinggul.
"Cup, ini feedback haptiknya nggak bisa diturunin dikit apa? Kemarin gue nyundul bola virtual, aslinya leher gue kayak dihantam linggis," keluh Bagas, napasnya ngos-ngosan meski belum berlari selangkah pun. Air genangan membasahi ujung celana kolornya.
Ucup, pemuda kerempeng dengan kacamata las yang dimodifikasi menjadi visor analisis kode, bahkan tidak menoleh dari layar monitor cembung peninggalan dekade lawas. Tangannya sibuk menyolder cip memori yang menancap pada papan sirkuit karatan. Cipratan bunga api kecil berdesis saat mengenai air genangan. 
"Kagak bisa, Gas. Lu mau main di Final Piala Kelurahan Metaverse atau mau main game balita? Kalau lu mau ngerasain tendangan saldo kripto jutaan rupiah, lu juga harus siap ngerasain saraf tulang belakang lu ketarik. Udah, diem deh. Ini server kalau sampai overheat sebelum peluit akhir, kita semua bakal digulung Cyber-Satpol PP." Ucup menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang berlumuran oli sintetik.
Di sudut ruangan, Pak RT Somad sedang mengunyah sirih sintetis sambil memeluk tabung pemadam kebakaran. Dia bukan sekadar penonton; dia adalah wasit sekaligus bandar judi kripto yang mempertaruhkan seluruh uang kas RT untuk kemenangan tim Bojonggede United. Matanya nanar menatap layar utama yang menampilkan hitung mundur pertandingan.
"Buruan pakai helm VR kalian, bocah-bocah tengik!" teriak Pak RT, ludah merahnya muncrat mengenai tumpukan kardus pendingin server. "Bintaro Cyborg FC udah login semua. Kalau kita telat lima menit, kita kena WO. Lu tahu kan sanksi WO? Server kita diformat, terus tagihan listrik nunggak tiga bulan ini bakal dialihin ke cip KTP gue!"
Bagas menarik napas panjang, menghirup udara lembap yang berbau tembaga terbakar. Dia menatap tiga anggota timnya yang lain: Mamat si tukang tambal ban levitasi, Jono si pengangguran berijazah S3 Sastra Mars, dan Kipli yang masih mengenakan seragam kasir minimarket 24 jam. Wajah mereka pucat. Mereka bukan atlet. Di dunia nyata, berlari mengejar bus kota saja membuat mereka nyaris pingsan. Namun, di dalam Neural-Net, dengan sedikit manipulasi ping dan injeksi skrip pergerakan, mereka adalah gladiator.
Bagas meraih helm VR-nya - sebuah panci aluminium yang dipasangi lensa optik curian dari kamera pengawas tol - lalu memasangnya ke kepala. Gelap sesaat menyelimuti pandangannya. Suara dengungan kipas angin rongsokan di basemen perlahan memudar, digantikan oleh denging frekuensi tinggi yang menusuk gendang telinga.
"Sinkronisasi saraf dimulai," suara sintetis bersuara serak khas program bajakan menggema di telinganya. "Peringatan: Tingkat latensi 400 milidetik. Risiko mual, muntah, dan dislokasi tulang virtual sangat tinggi."
"Hajar aja, Cup!" teriak Bagas dari balik helm pancinya. Tubuh aslinya di dunia nyata mengejang sedikit saat arus listrik ringan menyengat kulit punggungnya.
Cahaya putih meledak. Pandangan Bagas seketika beralih dari basemen kumuh yang kebanjiran menjadi sebuah stadion raksasa yang bercahaya neon. Kapasitas penonton seratus ribu orang, diisi oleh avatar anonim berbentuk kucing terbang, robot berkarat, dan anime bermata raksasa yang bersorak-sorai mengeluarkan efek suara terompet kartun. Tetot! Tetot!
Namun, karena peladen Bojonggede United menggunakan kartu grafis sisa penambangan kripto dekade lalu, tekstur stadion itu tidak sempurna. Rumput di bawah kaki avatar Bagas berkedip-kedip antara warna hijau zamrud dan abu-abu kotak-kotak error. Di sisi kiri gawang, ada seekor ayam jago raksasa beresolusi rendah yang melayang-layang tanpa alasan jelas - sebuah glitch abadi yang tak pernah bisa diperbaiki Ucup.
Bagas melihat ke arah tubuh virtualnya. Ucup memang bangsat. Alih-alih memberikan avatar atletis berotot kawat seperti permintaannya, Ucup membiarkan avatar Bagas menggunakan model dasar yang mencetak perut buncit aslinya, hanya saja dibalut seragam jersey warna stabilo yang menyilaukan mata.
Di seberang lapangan maya itu, berdirilah tim Bintaro Cyborg FC. Tidak ada glitch pada mereka. Avatar mereka mulus, bersinar keemasan, dan proporsional. Mereka memakai sepatu bot dengan efek api biru yang menyala - sebuah item pay-to-win seharga tiga bulan gaji buruh pabrik yang memberikan tambahan kecepatan sepuluh persen. Kapten mereka, seorang pria dengan username xX_LordSultan_Xx, menatap Bagas dengan senyum meremehkan yang dirender dengan resolusi 8K. 
"Heh, gembel Bojong!" suara xX_LordSultan_Xx menggema dengan efek auto-tune yang mahal. "Mending log-out aja lu pada. Bikin kotor ping server gue aja. Tuh lihat, bek kiri lu jalannya aja moonwalk gara-gara lag."
Bagas melirik ke belakang. Benar saja, Mamat sedang berusaha maju, tetapi avatarnya malah meluncur mundur dengan posisi tubuh kaku seperti patung, menabrak tiang gawang dengan suara klotang imajiner yang konyol.
"Banyak bacot lu, anak manja!" balas Bagas, meski suaranya terdengar putus-putus seperti kaset kusut akibat koneksi yang tidak stabil. "Kita lihat siapa yang bakal nangis di pelukan mami virtualnya nanti!"
Peluit panjang berbunyi. Pertandingan dimulai.
Kekacauan absolut langsung meledak di detik pertama. Pemain Bintaro FC melesat dengan kecepatan tak masuk akal, sepatu api mereka meninggalkan jejak partikel digital yang membuat mata sakit. xX_LordSultan_Xx menggiring bola seperti penari balet, meliuk melewati Jono yang bahkan belum selesai memuat animasi berkedipnya.
Bagas menerjang maju. Di dunia nyata, tubuh gempalnya menabrak dinding basemen. Di dunia virtual, avatarnya meluncur melakukan tackle brutal ke arah kaki xX_LordSultan_Xx. Namun, akibat latensi 400 milidetik, Bagas baru sampai di titik tersebut sedetik setelah xX_LordSultan_Xx lewat. Avatar Bagas malah menendang udara kosong, berputar seperti gasing rusak, lalu jatuh tengkurap mencium rumput piksel. Gedebuk!
Feedback haptik bekerja terlalu baik. Di basemen nyata, Bagas merasakan sengatan listrik menghantam ulu hatinya, membuatnya terbatuk hebat sambil memuntahkan sedikit air ludah ke lantai basemen yang becek.
"Fokus, Gas, fokus! Mata lu ke mana sih?!" teriak Pak RT Somad melalui saluran komunikasi radio burik. "Itu bola udah di kotak penalti kita!"
xX_LordSultan_Xx menarik kaki virtualnya ke belakang, bersiap menendang bola ke gawang Bojonggede yang kosong melompong - karena Kipli, sang kiper, sedang mengalami malfungsi sistem dan avatarnya terjebak dalam posisi T-pose menyembah langit.
Tendangan dilepaskan. Bola meluncur secepat peluru kendali. Namun, tepat sebelum bola itu merobek jaring gawang, sebuah keajaiban absurd terjadi. Ayam jago raksasa beresolusi rendah yang sejak tadi melayang di sisi lapangan tiba-tiba mengalami bug rotasi. Ayam itu bergeser secara patah-patah ke tengah gawang, tepat di jalur bola.
BOM! Bola membentur pantat ayam piksel tersebut. Ayam itu berkokok dengan suara statis yang memekakkan telinga, lalu bola memantul kembali ke tengah lapangan. Gawang Bojonggede selamat oleh sebuah anomali kode.
Keheningan canggung menyelimuti stadion virtual selama dua detik. Bahkan algoritma penonton buatan pun bingung harus bereaksi seperti apa.
"Curang lu, anjing!" maki xX_LordSultan_Xx, menuding ke arah gawang Bojonggede. "Wasit! Itu illegal entity!"
Pak RT Somad yang memegang kendali sistem wasit dari luar langsung mematikan mikrofon protes Bintaro FC. "Lanjut terus! Play on! Di tarkam nggak ada VAR! Ayam itu bagian dari kontur lapangan!" teriak Pak RT tanpa dosa.
Pertandingan berubah menjadi perang parit yang kotor. Bintaro FC menyadari bahwa keahlian teknis dan item mahal mereka tidak berguna melawan tim yang pergerakannya sangat tidak bisa diprediksi akibat lag tingkat dewa. Setiap kali pemain Bintaro mencoba mendekat, pemain Bojonggede akan tiba-tiba berteleportasi sejauh dua meter ke samping karena paket data internet mereka hilang di tengah jalan.
Menit ke-89. Skor masih kacamata, 0-0. Ketegangan mencapai titik didih, baik di dalam ruang virtual maupun di basemen nyata yang mulai berasap.
"Cup... napas gue... sesak," rintih Bagas dari balik helm pancinya. Keringat membanjiri matanya, perih tak tertahankan. Suhu jas haptik di tubuhnya sudah setara dengan aspal di siang bolong.
"Bertahan, Gas! Cuma sisa satu menit!" balas Ucup panik. Suara gedoran keras tiba-tiba terdengar dari arah pintu besi basemen. BAM! BAM! BAM! "Sialan! Cyber-Satpol PP udah di depan pintu! Mereka bawa palu plasma!"
"Kalau skor seri, kita masuk adu penalti, Cup! Server kita bakal meledak duluan!" teriak Pak RT Somad, suaranya gemetar melihat indikator suhu peladen yang berkedip merah menyala.
Di dalam arena virtual, Bintaro FC melancarkan serangan balik kilat. Seluruh pemain mereka maju ke depan, menyisakan kiper sendirian di belakang. xX_LordSultan_Xx berlari membawa bola, melewati Jono yang terkapar karena koneksinya putus. Di depan xX_LordSultan_Xx kini hanya tersisa Bagas. Satu lawan satu.
Bagas tahu dia tidak bisa menghentikan avatar super cepat itu dengan cara biasa. Pinggang aslinya sudah kram parah. Jika dia kalah di sini, basemen digerebek, server disita, dan dia bakal dipenjara karena mencuri listrik negara untuk bermain gim bajakan.
"Cup," desis Bagas pelan, napasnya tersengal di ujung tenggorokan. "Aktifin protokol kotornya. Sekarang."
Di dunia nyata, mata Ucup membelalak. "Gila lu, Gas! Protokol itu belum diuji! Kalau gue eksekusi malware 'Seblak Nuklir' itu, server kita bakal ikut crash! Lagian itu menyalahi kode etik hacker kelas bawah!"
"Persetan sama kode etik! Tekan tombolnya atau gue telan mouse lu!"
Gedoran di pintu basemen semakin brutal. Engsel pintu mulai meleleh akibat panas plasma. Ucup menelan ludah, jarinya melayang di atas tuts Enter berwarna merah pudar. "Maafin gue, Tuhan. Gue cuma mau kampung ini juara." Jari itu menekan tuts dengan keras.
Di dalam Neural-Net, langit virtual mendadak berubah menjadi warna ungu pekat. Suara terompet kartun penonton berubah menjadi distorsi bas yang menggetarkan tulang.
xX_LordSultan_Xx yang sedang bersiap mengecoh Bagas tiba-tiba berhenti mendadak. Avatar mahalnya berkedip-kedip hebat. Sepatu apinya padam seketika. Dia menunduk, memegangi perut virtualnya dengan kedua tangan.
"Aduhhh... perut gue..." keluh xX_LordSultan_Xx melalui saluran suara yang tiba-tiba terbuka. Di dunia nyata, jas haptik premium miliaran rupiah milik para pemain Bintaro FC baru saja menerima injeksi data mentah yang menyimulasikan rasa sakit akibat mengonsumsi level pedas maksimal dari seblak berjamur. Sistem saraf buatan mereka dibombardir rasa mulas akut.
Seluruh pemain Bintaro FC tumbang di lapangan, bergulingan memegangi perut dengan posisi janin. Bola terlepas dari kaki xX_LordSultan_Xx, menggelinding pelan ke arah Bagas.
"Sekarang, Gas! Sisa waktu sepuluh detik!" jeritan Pak RT Somad menembus noise statis.
Bagas menatap bola itu. Jarak ke gawang lawan masih setengah lapangan. Avatarnya bergerak lambat, tertatih-tatih seperti zombi yang kekurangan kalsium. Di dunia nyata, Bagas mengerahkan seluruh sisa tenaga di kakinya, mengabaikan rasa robek di otot pahanya. Dia mengambil ancang-ancang.
"Ini... buat... harga diri... Bojonggede!" rutuk Bagas.
Diayunkannya kaki kanannya dengan kekuatan penuh. TRAK! Di dunia nyata, kaki Bagas menendang keras tiang besi penyangga pipa air di basemen. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun.
Namun di dalam game, tendangan itu terekam sebagai serangan proyektil sempurna. Bola melesat ke udara, membelah langit ungu, melengkung melewati para pemain Bintaro yang masih merintih memegangi perut. Kiper Bintaro FC berusaha melompat, tetapi malware Ucup membuat tangannya bergerak ke arah yang salah, meninju wajahnya sendiri.
Bola menukik tajam. Membentur mistar gawang dengan suara TENG! yang nyaring, terpantul ke bawah, mengenai tanah, lalu bergulir tipis melewati garis gawang. 
GOL.
Sistem papan skor meledak dalam perayaan konfeti berpiksel kotak-kotak. Angka berubah menjadi 1-0. Bojonggede United menang.
Sorak-sorai sintetik bergemuruh, namun segera tersapu oleh suara distorsi panjang. Malware Ucup akhirnya memakan tuan. Langit virtual runtuh. Lapangan retak. Avatar Bagas hancur menjadi serpihan kode biner.
Bagas ditarik paksa keluar dari simulasi. Matanya terbuka lebar di dalam basemen yang gelap gulita. Asap tebal mengepul dari server yang meledak kecil, menyemprotkan cairan pendingin berbau busuk ke sekujur tubuh mereka. Air genangan di lantai terasa sedingin es. Napas Bagas memburu, kakinya berdenyut menyakitkan. Mamat dan Jono muntah di sudut ruangan, mabuk motion sickness akut.
Pintu besi basemen akhirnya jebol dengan dentuman memekakkan telinga. Puing-puing berjatuhan. Asap putih mengepul dari ambang pintu.
Tiga sosok tinggi besar mengenakan baju pelindung taktis hitam melangkah masuk, memegang senapan kejut elektromagnetik. Lampu sorot dari bahu mereka menyilaukan mata Bagas yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan realitas.
Bagas mengangkat kedua tangannya yang gemetar, pasrah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ini akhirnya. Penjara siber. Rehabilitasi paksa. Habis sudah riwayatnya.
Pemimpin regu taktis itu melangkah maju, sepatu bot besinya menginjak genangan air kotor. Dia menatap tajam ke arah kerumunan pria-pria menyedihkan yang memakai panci di kepala dan jas rongsokan berbau klorin. Suasana tegang, sangat hening, hanya terdengar tetesan air dari pipa yang bocor.
Pemimpin itu membuka kaca helm taktisnya. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka bakar di rahang. Dia menatap langsung ke arah Pak RT Somad yang masih gemetar memeluk tabung pemadam.
"Saudara Somad," suara bariton petugas itu memecah keheningan yang mencekik.
"S-siap, Ndan! Kami ngaku salah! Kami cuma main bola, Ndan! Nggak ada niat makar sama MegaCorp!" racau Pak RT, nyaris mengompol di celana bahan murahnya.
Petugas itu mengernyitkan dahi, tampak kebingungan melihat kekacauan di basemen itu. Dia lalu menarik sebuah tablet layar lipat dari sabuknya, mengetuk layarnya dua kali.
"Makar apa? Saya ke sini cuma mau nagih iuran sampah lingkungan bulan ini. Anda nunggak tiga bulan bayar pakai Bitcoin palsu. Ibu kos di atas yang laporin."
Bahu Bagas merosot. Ucup yang sejak tadi bersembunyi di bawah meja server perlahan memunculkan kepalanya dengan mulut menganga bodoh. Keheningan canggung kembali menguasai ruangan, jauh lebih menyiksa daripada ancaman penjara siber. 
Sebelum ada yang sempat memproses absurditas situasi tersebut, bunyi percikan listrik liar terdengar dari papan sirkuit utama yang terendam air di dekat kaki petugas itu. Percikan itu membesar, merambat seketika melalui air genangan yang menghubungkan mereka semua dalam satu kolam konduktor raksasa.
Lampu neon di langit-langit berkedip satu kali, lalu mati total. Dalam kegelapan, hanya suara desisan listrik dan teriakan kejut yang tertahan di udara lembap basemen Bojonggede, menyisakan tanya apakah mereka akan selamat dari sengatan tegangan tinggi, atau malah harus mencicil denda sampah dari alam baka.