Fantasi

Pengkhianatan dan Penyerahan

17 March 2026

Pengkhianatan dan Penyerahan

Kegelapan di bawah Hutan Kaca berbeda dengan kegelapan di atas. Di sini, cahaya matahari tembaga tidak pernah menembus. Di sini, kegelapan itu pekat, fisik, berbau belerang dan besi yang membusuk, dan hidup dengan suara-suara yang tidak seharusnya ada: tetesan air yang bergema seperti langkah kaki, desis uap panas bumi yang terdengar seperti napas raksasa tidur, dan kerangka logam terowongan yang mengerang di bawah tekanan ribuan ton batu di atasnya.

Arka menyeret tubuh Kiro yang berat dan berasap melalui labirin terowongan pembuangan kuno yang sempit. Setiap langkah adalah siksaan. Bahunya terasa seperti terbakar, otot-otot kakinya gemetar karena kelelahan, dan paru-parunya menjerit meminta udara bersih. Tapi dia tidak berhenti. Dia tidak berani berhenti.

"Bertahanlah," bisik Arka, suaranya parau, kering karena debu. "Jangan mati padaku sekarang, kaleng rongsokan. Kau berhutang penjelasan padaku."

Kiro tidak menjawab. Lampu matanya mati total. Sasisnya dingin, tidak ada dengungan Core yang biasa menemani langkah mereka. Hanya suara gesekan logam di lantai beton yang basah dan licin oleh lumut. Scrape. Scrape. Scrape.

Mereka mencapai sebuah ceruk kering—mungkin bekas ruang pompa air atau gardu listrik—yang sedikit lebih tinggi dari permukaan air limbah yang menggenang di terowongan utama. Arka menjatuhkan tubuh Kiro di sana dengan bunyi klang keras yang bergema menyedihkan.

Dia menyandarkan punggungnya ke dinding yang berlumut, merosot ke lantai, dan membiarkan air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah.

Rama.

Bayangan orang tua itu di balik reruntuhan, berteriak menyuruhnya lari, terus berputar di kepalanya seperti rekaman yang rusak. Rama telah mengorbankan dirinya. Dan Arka... Arka telah lari. Seperti pengecut. Seperti tikus yang ketakutan.

"Maafkan aku," isaknya, memeluk lututnya sendiri. Rasa bersalah itu lebih berat daripada puing-puing yang menimbun perpustakaan. "Aku seharusnya lebih kuat. Aku seharusnya bisa menyelamatkannya."

Tiba-tiba, suara desis lemah terdengar dari tubuh Kiro.

Arka mendongak. Asap tipis mengepul dari persendian bahu robot itu. Bau ozon dan plastik terbakar menyengat hidungnya.

"Sial," umpat Arka, menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan yang kotor. "Fokus, Arka. Menangis tidak akan menyelamatkan siapa pun. Rama bilang jangan cengeng."

Dia merangkak ke sisi Kiro, membuka panel dadanya dengan tangan gemetar.

Pemandangan di dalamnya mengerikan. Jaring listrik Exo-Trooper telah menggoreng hampir semua sirkuit sekunder. Kapasitor daya meleleh menjadi gumpalan plastik hitam. Kabel serat optik putus di sana-sini seperti urat saraf yang terpotong. Tapi Core-nya... bola kristal kecil yang mirip dengan Shard di dada Arka... masih utuh, meski berkedip lemah, sangat lemah.

"Oke," gumam Arka. "Oke. Kita bisa perbaiki ini."

Arka mengeluarkan multi-tool-nya, satu-satunya benda berharga yang masih berfungsi dengan baik. Dia menyalakan lampu kerjanya. "Kita tidak akan mati di sini, Kiro. Tidak hari ini. Aku berjanji."

Dia mulai bekerja. Tanpa suku cadang, dia harus berimprovisasi. Dia mengambil kabel dari sistem audionya sendiri yang rusak (dia tidak butuh musik sekarang) untuk menjumper sirkuit daya Kiro. Dia menggunakan potongan logam dari Exo-frame miliknya yang patah untuk menambal sasis robot itu. Dia bahkan mengorbankan baterai cadangan senternya untuk memberikan jump-start pada sistem pendingin Kiro.

Berjam-jam berlalu. Arka tidak tahu berapa lama. Waktu kehilangan maknanya di dalam kegelapan ini. Dia bekerja dalam diam, hanya ditemani oleh tetesan air dan napasnya sendiri. Dia tidak merasa lapar. Dia tidak merasa lelah. Dia hanya merasa... fokus. Fokus yang dingin dan tajam, lahir dari keputusasaan.

Klik.

Kipas pendingin Kiro berputar pelan. Awalnya tersendat-sendat, seperti orang batuk, lalu stabil menjadi dengungan rendah yang menenangkan. Lampu matanya menyala, redup, berkedip biru pucat.

"Sistem... reboot," suara Kiro terdengar statis, pecah-pecah seperti radio yang kehilangan sinyal di tengah badai. "Diagnostik awal: Integritas struktural 45%. Kapasitas energi 12%. Unit pemrosesan logika... stabil. Memori... 89% terpulihkan."

Arka menghela napas panjang, merosot ke lantai lagi, bahunya turun karena lega. "Selamat pagi, Putri Tidur."

Kiro menatap Arka dengan satu matanya yang masih berfungsi penuh. Lensa kameranya berputar, memfokuskan pandangan pada wajah Arka yang kotor. "Operator. Tanda vital Anda tidak stabil. Tingkat kortisol tinggi. Detak jantung aritmia. Anda... menangis?"

Arka tertawa kecil, suara yang kering dan pahit. "Hanya debu, Kiro. Hanya debu."

"Analisis: Kebohongan terdeteksi," kata Kiro, suaranya datar. "Profesor Rama... statusnya?"

Arka terdiam. Dia menatap kegelapan terowongan yang tak berujung. "Dia tertinggal. Di balik reruntuhan. Nayla... dia menangkapnya. Aku melihat mereka menyeretnya."

"Kalkulasi taktis: Probabilitas eksekusi 89% jika dia menolak kooperasi. Probabilitas 99% jika dia melawan. Enklaf tidak mentolerir pembangkangan, terutama dari target bernilai tinggi."

"Dia menyerahkan dirinya agar kita bisa lari," kata Arka, suaranya bergetar menahan amarah. "Dan aku lari. Aku meninggalkan dia untuk disiksa oleh wanita gila itu. Aku punya kekuatan ini... aku punya Pulse... tapi aku malah menghancurkan jalan kita sendiri."

"Koreksi: Anda melakukan penarikan strategis," suara Kiro terdengar lebih tegas, mencoba menembus kabut emosi Arka. "Jika Anda tertangkap, Shard akan jatuh ke tangan Enklaf. Itu akan menjadi Game Over untuk ekosistem planet ini. Misi prioritas adalah melindungi Core. Profesor Rama mengetahui ini. Itu adalah kalkulasi logisnya."

Arka menatap robot itu tajam. "Misi? Ini bukan misi, Kiro! Ini hidup seseorang! Dia penciptamu! Dia ayahmu!"

Kiro diam sejenak. Lampu birunya berkedip pelan. "Dia adalah Creator," koreksi Kiro tenang. "Tapi Anda adalah Operator. Prioritas saya adalah Anda. Protokol saya telah ditulis ulang. Bukan oleh kode, tapi oleh... pengalaman."

Arka tertegun. Dia melihat ketulusan—jika mesin bisa tulus—di mata biru Kiro. Robot itu, yang baru saja mengetahui bahwa dia adalah penyebab kiamat, memilih untuk setia pada Arka. Bukan karena program, tapi karena pilihan.

"Kau... kau benar," kata Arka pelan. "Tapi itu tidak membuatku merasa lebih baik."

"Perasaan tidak relevan dalam survival," kata Kiro.

"Perasaan adalah segalanya!" bentak Arka, suaranya menggema di dinding terowongan. "Itulah yang Rama katakan! Itulah kenapa kau meledak dulu! Karena kau merasakan! Dan sekarang... sekarang aku merasakannya juga. Rasa sakit ini... rasa marah ini... rasanya seperti mau meledak."

Arka memegang dadanya. Kristal itu panas, membakar kulitnya di balik baju.

"Aku berbahaya, Kiro. Aku meledakkan gua itu karena aku marah. Jika aku mencoba menyelamatkan Rama... aku mungkin akan menghancurkan Enklaf bersama isinya. Termasuk Rama. Aku bukan pahlawan. Aku bom waktu."

Kiro terdiam sejenak, prosesornya berputar, menghitung variabel. "Hipotesis: Ledakan itu tidak terkendali karena tidak ada saluran. Anda seperti bendungan yang jebol. Energi potensial menjadi energi kinetik tanpa arah. Tapi jika kita bisa membuat pintu air..."

"Maksudmu?"

"Cetak biru markas Enklaf yang saya unduh dari terminal perpustakaan sebelum Anda menghancurkannya," kata Kiro. Dia memproyeksikan peta holografik kecil dari matanya ke lantai yang kotor. "Sektor Penahanan Level 5. Di sanalah mereka akan membawa Rama. Dindingnya terbuat dari Tri-Titanium Alloy. Tahan ledakan nuklir taktis. Anda tidak bisa menghancurkannya dengan Pulse biasa."

Arka mendengarkan, matanya mulai menyala dengan harapan baru. Dia mencondongkan tubuh ke depan.

"Tapi sistem kuncinya," lanjut Kiro, menunjuk titik merah di peta hologram, "adalah elektromagnetik. Sistem penguncian magnetik Mag-Lock seri 9. Jika Anda bisa menyalurkan energi Pulse Anda, bukan sebagai ledakan omni-directional, tapi sebagai jarum presisi... kita bisa mematikan sistem keamanan tanpa meruntuhkan gedung."

"Seperti... kunci digital?"

"Lebih seperti linggis elektromagnetik. Tapi itu membutuhkan presisi. Dan ketenangan. Jika Anda marah, Anda meledak. Jika Anda tenang, Anda menembus."

Arka menatap tangannya yang kotor dan berdarah. Dia ingat latihan di Bukit Bisikan. Dia ingat kata-kata Rama: Fokus. Bukan otot.

"Ini gila," gumam Arka. "Kita akan menyusup ke benteng paling aman di dunia, dijaga oleh tentara dengan armor keramik dan robot perang, hanya dengan robot rusak dan bom waktu berjalan."

"Definisi gila: Melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil berbeda," kata Kiro, mengutip data lama. "Rencana ini berbeda. Kali ini, kita tidak lari. Kali ini, kita menyerang. Elemen kejutan ada di pihak kita. Nayla berpikir Anda lari ke gurun."

Arka berdiri. Kakinya masih gemetar, tapi tatapannya tajam. Dia melihat sekeliling terowongan gelap itu. Ini adalah dunia tempat dia dilahirkan. Gelap, kotor, rusak.

Tapi di dadanya, ada cahaya yang bisa mengubah itu semua.

"Baiklah," kata Arka. Dia mengulurkan tangan pada Kiro. "Kita tidak akan lari. Kita akan mengetuk pintu depan mereka. Dan jika mereka tidak membukanya... kita akan mendobraknya. Dengan sopan."

Kiro menyambut tangan itu. Logam dingin bertemu kulit hangat.

Sync aktif.

Kali ini, tidak ada rasa sakit. Hanya kejelasan. Peta holografik Enklaf muncul di benak Arka, ditumpangkan di atas pandangannya. Jalur ventilasi. Sektor keamanan. Posisi penjaga. Dia bisa melihat rutenya. Dia bisa melihat tujuannya.

"Tujuan: Menara Pusat Enklaf," kata Arka. "Misi: Penyelamatan. Dan mungkin... sedikit balas dendam."

Mereka berjalan menuju kegelapan yang lebih dalam, meninggalkan rasa takut mereka di belakang bersama puing-puing masa lalu, melangkah menuju jantung musuh.