Dendam yang Menjadi Tata Negara

29 January 2026

Ranggalawe mulai memahami satu hal yang selama ini hanya ia rasakan sebagai ganjalan: Majapahit tidak dibangun semata-mata dari harapan, melainkan dari dendam yang panjang dan terpelihara rapi.

Dendam itu bukan miliknya.

Ia adalah milik Gayatri Rajapatni.

Bagi Ranggalawe, Singhasari adalah kenangan tentang kekalahan dan pelarian. Bagi Gayatri, Singhasari adalah luka yang belum pernah sembuh—tentang ayah yang dibunuh, istana yang dijarah, dan kehormatan yang diinjak oleh Jayakatwang. Dari luka itulah, Majapahit ditegakkan bukan hanya sebagai kerajaan baru, melainkan sebagai jawaban: dingin, tertib, dan tidak memberi ruang pada kekacauan.

Kini Ranggalawe melihatnya dengan jelas. Setiap aturan yang dipertegas, setiap kekuasaan yang dipecah, setiap panglima yang dibatasi—semuanya berakar pada satu tekad: jangan pernah lagi membiarkan satu orang cukup kuat untuk menjatuhkan kerajaan dari dalam.

Dan di mata Gayatri, Ranggalawe terlalu kuat.

Ia mendengar bagaimana Nambi semakin dipercaya, semakin sering disebut dalam urusan sima, pajak, dan prasasti. Bukan karena keberanian, melainkan karena kepatuhan pada sistem yang sedang dibangun. Gayatri memilih Nambi karena ia bisa dikendalikan oleh aturan. Ia tidak mengandalkan amarah, tidak memikat rakyat dengan keberanian, dan tidak menuntut balasan atas jasa lama.

Dalam pandangan Ranggalawe, itulah kelemahan.

“Kau membangun negara dari kertas dan cap,” gumamnya pahit, “sementara kami membangunnya dari darah.”

Ia tidak membenci Gayatri. Ia bahkan memahami ketakutannya. Namun pemahaman tidak selalu melahirkan penerimaan. Baginya, dendam yang disusun menjadi tata negara tetaplah dendam—dan dendam selalu mencari korban baru.

Ia teringat percakapannya dengan Nambi. Sahabat lama itu berbicara tentang stabilitas, tentang waktu, tentang bahaya pengaruh yang terlalu besar. Tidak ada kata tentang perasaan. Tidak ada pengakuan tentang luka lama.

Saat itulah Ranggalawe sadar: Majapahit yang dibangun Gayatri tidak membutuhkan orang-orang sepertinya.

Kerajaan itu membutuhkan pengatur, bukan penggerak.

Dan kesadaran itu jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan apa pun.

Ranggalawe menatap halaman istana dari kejauhan, berdiri di balik bayangan pohon yang daunnya mulai mengering. Trowulan tampak semakin teratur—terlalu teratur. Para abdi berjalan dengan langkah terukur, prajurit berjaga tanpa gelisah, dan suara istana mengalir seperti air yang sudah menemukan salurannya. Semua itu seharusnya menjadi tanda keberhasilan.

Namun bagi Ranggalawe, ketertiban itu terasa asing.

Ia pernah berdiri di tempat yang sama, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari denyut yang membangun kerajaan ini. Ia mengingat lumpur Tarik yang menempel di betis, suara napas kawan yang terengah di tengah persembunyian, dan malam-malam panjang ketika Majapahit belum bernama apa-apa. Saat itu, tidak ada jarak antara mereka yang bertarung dan mereka yang memutuskan.

Kini jarak itu nyata.

Ia tidak dipanggil dalam rapat-rapat kecil. Tidak dimintai pandangan. Bahkan namanya jarang disebut, kecuali sebagai bagian dari cerita lama. Bagi Ranggalawe, pengabaian semacam itu lebih menyakitkan daripada penolakan terbuka.

Seorang prajurit mendekat dengan sikap ragu. “Gusti Adipati,” katanya pelan, “Paduka Raja sedang sibuk hari ini.”

Ranggalawe mengangguk singkat. “Aku tidak mencari Paduka,” jawabnya. “Aku hanya berjalan jalan.”

Prajurit itu menunduk dan pergi. Ranggalawe tahu, kalimat itu tidak sepenuhnya dipercaya. Di istana, setiap langkah selalu dicurigai memiliki tujuan.

Ia berjalan menjauh dari pusat istana, menuju bagian yang jarang dilewati pejabat tinggi. Di sanalah ia merasa lebih leluasa bernapas. Di sanalah ia bisa mengingat siapa dirinya sebelum gelar dan perintah tertulis mengambil alih segalanya.

Ia teringat percakapannya dengan Wijaya bertahun lalu, saat Majapahit masih berupa rencana rapuh. “Kita akan membangunnya bersama,” kata Wijaya waktu itu. Ranggalawe mempercayainya tanpa syarat.

Kini, janji itu terasa seperti kata-kata yang tertinggal di masa lain.

Dalam benaknya, Ranggalawe tidak menuduh Wijaya sebagai pengkhianat. Ia tidak sebodoh itu. Ia tahu kekuasaan mengubah semua orang. Namun ia juga tahu bahwa perubahan tidak selalu berarti pembenaran. Ada harga yang dibayar, dan tidak semua orang bersedia menjadi bagian dari pembayaran itu.

Sore hari, ia bertemu dengan seorang lama—bukan pejabat tinggi, hanya seseorang yang pernah bertarung bersamanya. Percakapan mereka singkat, nyaris berbisik.

“Engkau jarang terlihat,” kata orang itu.

“Karena aku jarang dibutuhkan,” jawab Ranggalawe.

Orang itu ragu sejenak. “Atau karena engkau terlalu dibutuhkan untuk dilupakan.”

Ranggalawe tersenyum tipis. “Jika aku dilupakan, berarti pekerjaanku sudah selesai.”

Namun di dalam dirinya, senyum itu tidak sampai.

Pikiran Ranggalawe yang semakin terbelah. Di satu sisi, ia tidak ingin menjadi orang yang menuntut imbalan. Ia tahu jasa bukan mata uang yang boleh ditagih sembarangan. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa menerima ketika sejarah mulai menyingkirkan peran mereka yang berdarah di awal.

Ia melihat bagaimana orang-orang baru mulai menempati posisi penting. Mereka rapi, pandai bicara, dan tahu cara menyebut kepentingan Majapahit tanpa pernah menyentuh lumpur Tarik. Ranggalawe tidak membenci mereka. Ia hanya tidak percaya pada dunia yang mereka wakili.

Menjelang malam, Ranggalawe berdiri di tempat yang lebih sepi, menatap obor-obor yang mulai dinyalakan. Ia tahu, dirinya sedang berada di persimpangan. Tidak ada yang memaksanya memilih. Justru itulah yang berbahaya.

Jika ia diam, ia akan terus tersisih dengan tenang. Jika ia bersuara, ia akan dicurigai. Jika ia bergerak terlalu jauh, ia akan disebut pembangkang.

Untuk pertama kalinya sejak perang usai, Ranggalawe merasakan sesuatu yang lebih berat daripada rasa takut: rasa tidak diakui.

“Aku tidak meminta singgasana,” gumamnya pelan. “Aku hanya tidak ingin dilupakan.”

Ranggalawe belum melangkah ke arah pemberontakan, namun pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada di dalam istana. Sebagian telah melangkah keluar—menuju ruang di mana kesetiaan diuji oleh ingatan dan harga diri.

Majapahit berdiri tegak malam itu. Namun di balik ketenangan temboknya, satu hati mulai menjauh. Dan sejarah tahu, jarak semacam itu jarang berakhir tanpa getaran.

Ranggalawe melangkah menjauh dari cahaya obor, menuju sisi tembok yang lebih gelap. Di sanalah pikirannya menjadi paling jujur. Ia tidak sedang merencanakan apa pun, namun kejujuran semacam itu justru menakutkan. Ia tahu, seseorang tidak selalu memilih jalan pemberontakan; kadang jalan itu muncul ketika semua pintu lain tertutup perlahan.

Ia teringat wajah-wajah lama—mereka yang tidak sempat melihat Majapahit berdiri utuh. Nama-nama itu jarang disebut kini, tenggelam di antara perhitungan dan kehati-hatian. Ranggalawe merasa memikul ingatan mereka seorang diri, seperti beban yang tidak bisa diserahkan kepada siapa pun.

“Jika kesetiaan hanya dihargai saat diperlukan,” pikirnya, “lalu apa arti setia setelahnya?”

Angin malam menyentuh wajahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan bara di dadanya. Ia belum melangkah keluar dari garis. Belum. Namun ia juga tidak lagi berdiri sepenuhnya di dalamnya. Di antara dua posisi itu, Ranggalawe menyadari satu hal yang tak bisa dihindari: harga diri yang terluka jarang sembuh dengan diam.

Ia menoleh sekali lagi ke arah istana—bukan dengan benci, melainkan dengan kesedihan yang matang. “Majapahit,” gumamnya pelan, “aku membangunnya. Tapi apakah ia masih mengenaliku?”

Malam menelan pertanyaannya. Dan dalam keheningan itu, jarak antara kesetiaan dan perlawanan menjadi semakin tipis.