Paman, Keponakan, dan Dua Kesetiaan

29 January 2026

Malam turun perlahan di pinggiran Trowulan ketika Ranggalawe duduk bersandar pada tiang kayu yang mulai lapuk. Ia tidak berada di dalam istana, melainkan di tempat yang lebih ia kenal—di antara prajurit lama, di wilayah yang tidak sepenuhnya tercatat sebagai ruang kekuasaan. Di sanalah ia menunggu seseorang yang ia tahu tidak akan datang dengan pengawal.

Langkah kaki terdengar sebelum sosoknya terlihat.

“Engkau memilih tempat yang sunyi,” suara itu berkata.

Ranggalawe tidak menoleh. “Karena kata-kata lebih jujur di tempat seperti ini.”

Lembu Sora duduk di hadapannya, meletakkan tombaknya di samping. Wajahnya keras seperti biasa, namun sorot matanya menyimpan kegelisahan. Mereka pernah berdiri berdampingan dalam pertempuran, dan kedekatan semacam itu tidak membutuhkan basa-basi.

“Aku mendengar engkau jarang ke istana,” kata Lembu Sora.

“Aku mendengar istana jarang memanggil,” balas Ranggalawe.

Hening sejenak. Lembu Sora tidak tertawa.

“Kita semua jarang dipanggil,” katanya akhirnya. “Kecuali bila diperlukan.”

“Dan hari ini?” tanya Ranggalawe. “Hari ini kita tidak diperlukan,” jawab Lembu Sora. “Atau mungkin… tidak diinginkan.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Ranggalawe menatap tanah di depannya. “Aku tidak meminta lebih,” katanya pelan. “Aku hanya ingin tahu di mana tempatku sekarang.”

Lembu Sora menghela napas berat. “Tempat kita berubah sejak perang usai.”

“Berubah?” Ranggalawe menoleh tajam. “Atau digeser?”

Lembu Sora tidak langsung menjawab. “Kau tahu Raden Wijaya,” katanya akhirnya. “Ia memilih berhati-hati.”

“Aku tahu,” jawab Ranggalawe. “Dan aku menghormatinya. Tapi kehati-hatian yang terlalu lama berubah menjadi jarak.”

“Jarak melindungi,” kata Lembu Sora. “Jarak juga memisahkan,” balas Ranggalawe.

Percakapan itu mengalir tanpa amarah, namun penuh tekanan. Keduanya tidak berteriak, tidak pula saling menyalahkan. Justru ketenangan itulah yang membuat kata-kata mereka terasa lebih berat.

“Apakah engkau berniat melawan?” tanya Lembu Sora tiba-tiba.

Ranggalawe terdiam cukup lama. “Jika aku berniat melawan,” katanya akhirnya, “aku tidak akan duduk di sini berbicara.”

Lembu Sora menatapnya lama. “Lalu apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin Majapahit mengingat siapa yang membangunnya,” jawab Ranggalawe. “Bukan hanya mereka yang pandai mengatur, tetapi mereka yang berani mempertaruhkan nyawa ketika belum ada apa-apa.”

Lembu Sora mengangguk pelan. “Aku mengerti kemarahanmu.”

“Ini bukan kemarahan,” kata Ranggalawe. “Ini kesedihan.”

Kata itu membuat Lembu Sora terdiam.

“Kita berdarah bersama,” lanjut Ranggalawe. “Dan sekarang kita diminta diam bersama. Aku bisa menerima banyak hal, Paman Sora. Tapi dilupakan bukan salah satunya.”

Lembu Sora menunduk. “Aku juga merasakannya,” katanya jujur. “Namun aku memilih bertahan di dalam.”

“Dan aku memilih bertahan di ambang,” jawab Ranggalawe.

“Ambang itu berbahaya,” ujar Lembu Sora. “Aku tahu Paman,” kata Ranggalawe. “Tapi diam sepenuhnya lebih berbahaya bagiku.”

Percakapan itu tidak mengarah pada kesepakatan. Tidak ada rencana, tidak ada sumpah. Namun bagi keduanya, malam itu menegaskan satu hal: jalan mereka mungkin tidak lagi sejajar.

Lembu Sora selalu percaya bahwa kesetiaan adalah perkara lurus: siapa yang diselamatkan bersama, maka kepadanya nyawa dipertaruhkan kembali. Ia bukan orang yang gemar menimbang kata atau membaca isyarat halus. Baginya, dunia dibagi menjadi dua—mereka yang berdiri bersama di medan bahaya, dan mereka yang hanya muncul ketika kemenangan telah dekat.

Ia masih mengingat jelas malam ketika hutan Tarik basah oleh darah dan hujan. Wijaya terluka, Ranggalawe nyaris terjepit, dan Nambi menahan serangan dari sisi timur. Saat itu, tidak ada raja, tidak ada patih, tidak ada perhitungan. Yang ada hanyalah keputusan: bertahan atau mati bersama. Sejak malam itu, Lembu Sora menganggap ikatan mereka lebih kuat dari sumpah istana mana pun.

Namun Majapahit mengubah banyak hal.

Kini Lembu Sora berdiri di barak , memandangi para prajurit berlatih. Disiplin mereka baik—bahkan terlalu baik. Tidak ada tawa berlebihan, tidak ada kelengahan. Itu pertanda buruk. Prajurit yang terlalu rapi biasanya sedang menunggu sesuatu yang tidak ingin mereka sebutkan.

Ia mendengar bisik-bisik. Tentang Trowulan. Tentang rapat-rapat yang tidak mengundang Ranggalawe. Tentang prasasti yang tak pernah turun namanya. Semua itu terasa seperti penghinaan yang dibungkus tata krama.

“Apakah kita dianggap pemberontak sebelum mengangkat senjata?” gumam Lembu Sora.

Baginya, ketidakadilan tidak membutuhkan penjelasan panjang. Jika jasa dilupakan, maka kehormatan sedang digerus perlahan. Ia melihat sendiri bagaimana Ranggalawe menahan diri—terlalu lama, menurutnya. Seorang panglima yang setia tidak seharusnya diperlakukan seperti beban.

Malam itu, Lembu Sora duduk bersama Ranggalawe di serambi. Tidak banyak kata di antara mereka. Angin malam membawa suara lolongan anjing yang berulang-ulang, seolah mengingatkan bahwa tekanan kecil yang terus-menerus bisa memecah batu.

“Kau terlalu menggenggam luka hatimu,” kata Lembu Sora akhirnya.

Ranggalawe tersenyum tipis. “Dan Paman terlalu mudah menyimpulkan.”

“Karena aku tahu akhirnya,” sahut Lembu Sora. “Istana tidak suka pada orang yang dicintai rakyatnya.”

Nama Wijaya sempat terlintas, namun Lembu Sora menahannya. Ia masih menghormati raja itu. Ia percaya, Wijaya bukan pengkhianat. Tetapi ia juga tahu, seorang raja bisa terjebak oleh ketakutan akan bayangan kekuasaan.

“Aku tidak ingin berperang melawan Majapahit,” kata Ranggalawe pelan.

“Kadang perang datang bukan karena kita menginginkannya,” jawab Lembu Sora. “Tapi karena kita terlalu lama menunggu keadilan.”

Lembu Sora menatap keponakanya itu dengan dada bergetar. Ia siap mati di medan perang, tetapi ia tidak siap melihat kehormatan orang yang ia hormati dihancurkan perlahan oleh keputusan-keputusan sunyi.

Di kejauhan, obor-obor menyala di pelabuhan. Tuban tetap hidup—berdagang, berharap, dan bergantung pada nama Ranggalawe. Beban itu terlalu besar untuk dipikul seorang diri.

Lembu Sora tahu, jika hari itu tiba—hari ketika senjata harus diangkat—ia tidak akan bertanya siapa yang benar di mata sejarah. Ia hanya akan bertanya satu hal: kepada siapa ia berhutang nyawa.

Dan jawabannya, sejak hutan Tarik hingga malam di Tuban ini, tidak pernah berubah.

Kesetiaan, baginya, bukan pilihan.

Ia adalah takdir yang tidak bisa dilenturkan.

Sebelum pergi, Lembu Sora berdiri dan berkata pelan, “Hati-hati, Rangga. Kata-kata bisa menjadi awal yang tak kau maksudkan.”

Ranggalawe mengangguk. “Aku tahu. Karena itu aku memilih kata-kataku dengan hati-hati.”

Ketika Lembu Sora menghilang dalam gelap, Ranggalawe tetap duduk seorang diri. Ia tidak merasa lega, namun juga tidak lagi ragu. Percakapan itu tidak memberinya jawaban, tetapi memberinya kepastian: bahwa kesunyian yang ia rasakan bukan ilusi.

Ranggalawe berdiri perlahan, mengibaskan debu dari telapak tangannya. Malam terasa lebih dingin setelah percakapan itu, seolah kata-kata yang diucapkan menyedot sisa hangat di udara. Ia tidak merasa ditinggalkan oleh Lembu Sora; ia merasa dipantulkan—melihat bayangannya sendiri dari sudut yang lain.

“Tidak semua yang memilih bertahan memilih diam,” pikirnya.

Ia melangkah pergi tanpa tujuan jelas, hanya memastikan satu hal: setelah malam ini, ia tidak lagi berbicara untuk didengar istana. Ia berbicara untuk menenangkan nuraninya sendiri. Dan ketika nurani telah bicara, waktu akan memilih sisanya.