Gerimis mengguyur atap seng bangku cadangan. Suaranya bising, bersahutan dengan makian pelatih yang sejak tadi sibuk menyembur asap rokok kretek ke udara. Bau tembakau murah bercampur aroma tanah basah dan keringat apek pemain yang belum mandi dua hari. Khas Liga Tarkam Divisi Utama-atau apalah nama kerennya tahun ini, tergantung siapa sponsor yang mau buang duit.
Aku duduk memeluk lutut. Dingin ubin merambat naik ke tulang ekor.
"Woy, Bagas! Jangan ngelamun! Kesambet baru tau rasa lu!"
Teriakan Kapten Tim, Bang Jampang, memecah lamunan. Aku hanya mengangguk lemah. Bagas. Dulu nama itu diteriakkan dengan lantang. "Bagas Elang!", "Bagas Si Kaki Emas!". Sekarang? Aku lebih mirip "Bagas Si Kaki Lemas".
Enam bulan. Sudah enam bulan kakiku mandul. Setiap kali bola menyentuh sepatu, rasanya bundar kulit itu melicin seperti dilumuri minyak jelantah. Lari berat, napas senin-kemis, dan gawang lawan terasa mengecil seukuran lubang tikus.
Manajemen Persaka (Persatuan Sepakbola Kampung Atas) sudah memberi ultimatum. Degradasi atau bubar. Gaji tiga bulan belum turun, katering diganti nasi bungkus karet satu, dan spanduk "BAGAS OUT" sudah berkibar megah di tribun selatan, bersanding dengan iklan obat kuat.
"Gas."
Sebuah tangan keriput menepuk pundakku. Pak Suryo. Kitman abadi klub ini. Orang tua yang umurnya mungkin lebih tua dari tiang gawang stadion. Dia bau menyan. Selalu. Bahkan saat tim sedang rapat evaluasi di warung Tegal, dia tetap bau menyan.
"Kenapa, Pak?"
Pak Suryo celingukan. Matanya yang katarak sebagian memindai situasi. Aman. Pelatih sedang sibuk memaki wasit cadangan soal offside yang terjadi di babak pertama.
"Pakai ini."
Di telapak tangannya yang kasar dan bernoda oli, tergulung sepasang tali sepatu. Warnanya bukan hitam, bukan putih. Tapi kusam, agak kekuningan, dengan serat-serat kasar yang mencuat.
"Tali apaan ini, Pak? Tali sumbu kompor?"
"Hush! Sembarangan cangkemmu!" Pak Suryo melotot. "Ini tali sepatu bekas Mbah Kliwon. Striker legendaris jaman Perserikatan. Meninggal pas mau nendang penalti, tapi bolanya tetep masuk gawang. Rohnya penasaran pengen nge-gol-in terus."
Bulu kudukku meremang. Angin sore tiba-tiba terasa menusuk. "Pak, ini musyrik..."
"Gaji belum turun, Gas. Cicilan motor nunggak. Istrimu mau lahiran. Mau musyrik apa mau makan?"
Logika brutal ekonomi kerakyatan menghantam ulu hatiku. Pak Suryo benar. Idealisme tidak bisa dipakai bayar bidan. Dengan tangan gemetar, aku mengambil tali kusam itu. Terasa hangat. Berdenyut. Seperti memegang nadi orang hidup.
"Ikat simpul mati. Jangan dilepas sampai peluit akhir. Ingat, Mbah Kliwon itu kakinya kidal. Kalau nendang kanan, arahin ke kiri."
Pertandingan melawan PS Buaya Muara. Klub kaya raya hasil cuci uang tambang pasir ilegal.
Menit ke-75. Kami tertinggal 0-1.
Pelatih menunjukku. Bukan karena strategi, tapi karena striker utama kami mendadak muntah paku di tengah lapangan. Santet. Jelas santet. Tim medis panik, penonton lempar botol air kencing. Kekacauan standar sepak bola tarkam.
"Masuk, Gas! Jangan bikin malu luhur!"
Aku berlari masuk. Rumput stadion becek, lumpur di mana-mana. Tapi aneh. Kakiku ringan. Tali sepatu pemberian Pak Suryo seolah menarikku bergerak.
Bola lambung datang. Tanggung. Bek lawan yang badannya sebesar lemari dua pintu siap menabrakku. Biasanya aku akan ciut, pura-pura jatuh, lalu minta pelanggaran.
Tapi tidak kali ini.
Ada bisikan di telinga. Suara kakek-kakek, serak dan berat. “Sikat, Le!”
Kakiku bergerak sendiri. Melompat. Salto.
BUMMM!
Bukan kaki yang kena bola, tapi punggung. Bola memantul aneh, melengkung melewati kiper yang sedang sibuk membetulkan celana, membentur tiang, lalu menggelinding pelan masuk gawang.
Gol.
Stadion hening sedetik. Lalu meledak.
"GOOOLLL! BAGAS KEMBALI!"
Aku bengong. Punggungku sakit, tapi papan skor berubah. 1-1.
Keanehan berlanjut. Menit 85. Aku terpeleset kulit pisang (siapa yang buang kulit pisang di lapangan?!). Kakiku menendang angin, tapi angin itu seolah padat, membelokkan bola tendangan teman yang melenceng, masuk ke gawang lawan. 2-1.
Kemenangan.
Malam itu, di ruang ganti yang bau balsem, Pak Suryo hanya tersenyum memamerkan giginya yang tinggal dua. Dia mengacungkan jempol.
Sejak hari itu, Bagas si Mandul berubah jadi Bagas si Hantu. Gol-golku tidak masuk akal. Gol pantat, gol telinga, gol kesandung. Media lokal menyebutku "Striker Oportunis". Padahal itu murni kerjaan Mbah Kliwon yang sepertinya bosan di alam kubur dan ingin main bola lagi.
Persaka merangkak naik. Zona degradasi lewat. Kami masuk final play-off promosi.
Lawan kami di final: Naga Hitam FC.
Ini bukan klub biasa. Pemiliknya juragan sawit yang merangkap ketua ormas. Dukun mereka, Ki Asta, terkenal punya tarif per jam lebih mahal dari gaji setahun bupati. Konon, dia bisa memindahkan gawang lawan sejauh lima sentimeter pakai tenaga dalam.
Hari H. Stadion Utama Kabupaten.
Atmosfernya beda. Langit mendung pekat, tapi tidak hujan. Udara gerah, bikin sesak napas. Bau kemenyan bakar bersaing dengan bau sate kambing dari pedagang di luar pagar.
Di tribun VIP, Ki Asta duduk bersila di atas kursi busa. Dia pakai blangkon hitam, kacamata hitam, dan memegang tablet. Dukun milenial. Jari-jarinya menari di layar, mungkin sedang mengirim santet via WhatsApp.
Aku duduk di loker, jantung berdegup kencang. Waktunya memakai senjata rahasia.
Aku merogoh tas. Kosong.
Kubongkar isi tas sampai baju ganti berhamburan. Decker, kaos kaki, minyak angin... Tali itu tidak ada.
"Nyari apa, Gas?"
Aku menoleh. Pak Suryo sedang mengelap sepatu kapten. Wajahnya pucat. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.
"Tali, Pak! Tali Mbah Kliwon! Ilang!"
Pak Suryo tidak berani menatap mataku. Dia sibuk menggosok noda lumpur yang sudah bersih.
"Pak?"
"Anu, Gas..." Suaranya mencicit. "Itu... kemarin... Pak Manajer butuh dana talangan buat nyogok wasit-eh, maksudnya buat biaya operasional."
"Bapak gadai?!"
"Bukan gadai! Disewakan! Ke tim tarkam sebelah kampung. Cuma sehari kok! Harusnya udah balik tadi pagi, tapi kurirnya nyasar ke kuburan!"
Lututku lemas. "Pak, ini final! Lawan kita Naga Hitam! Ki Asta ada di sana!"
"Ya makanya! Kamu main pake skill asli aja ya? Ingat latihan passing dasar kan?"
"Skill asli saya itu lari dari tagihan koperasi, Pak! Bukan main bola!"
Pintu ruang ganti digebrak. "KELUAR! KICK OFF LIMA MENIT LAGI!"
Mampus.
Aku berjalan ke lorong pemain seperti sapi mau dijagal. Di seberang, pemain Naga Hitam menatap kami dengan mata kosong. Beneran kosong. Pupil mereka melebar. Mulut komat-kamit tanpa suara. Mereka bukan pemanasan lari-lari kecil, tapi melakukan gerakan silat.
Pertandingan dimulai.
Neraka bocor di lapangan.
Baru lima menit, gelandang kami muntah darah (ternyata cuma sirup merah, dia kebanyakan minum es sebelum main, tapi efek psikologisnya kena). Menit kesepuluh, kiper kami berteriak histeris, katanya melihat pocong gelantungan di mistar gawang.
Skor 0-2 untuk Naga Hitam.
Ki Asta di tribun berdiri, merentangkan tangan. Langit bergemuruh. Petir menyambar tiang lampu stadion. Lampu berkedip-kedip horor.
Aku? Aku cuma lari-lari kecil menghindari bola. Takut. Tanpa Mbah Kliwon, aku cuma Bagas si pecundang.
"Gas! Lari woy! Jangan kayak orang linglung!" Bang Jampang berteriak sambil memegangi pinggangnya yang encok.
Bola menggelinding ke arahku. Bek Naga Hitam, seorang raksasa botak dengan tato naga di leher, berlari menerjang. Matanya merah menyala. Dia tidak mengincar bola. Dia mengincar tulang keringku.
Lari. Mati. Lari. Mati.
Insting bertahan hidup mengambil alih. Aku memejamkan mata, pasrah.
BRAKK!
Bunyi benturan keras terdengar. Aku membuka mata. Si Raksasa Botak terkapar di tanah, mengerang kesakitan memegangi kakinya sendiri. Aku? Aku masih berdiri utuh.
Apa yang terjadi?
Rupanya, karena aku gemetar ketakutan, kakiku bergetar hebat. Saat dia mau menekel, getaran kakiku membuatku tersandung rumput, tubuhku miring ke kiri secara tidak sengaja, menghindari tekel maut itu. Si Botak malah menghantam papan iklan "SEDOT WC" di pinggir lapangan.
Penonton bersorak. "GOCEKAN MAUT!" teriak komentator kampung.
Padahal itu gocekan gemetar.
Pertandingan berlanjut aneh. Ki Asta di tribun tampak bingung. Dia memencet-mencet tabletnya dengan frustrasi.
Rupanya, "sinyal" santetnya bingung. Gerakanku terlalu acak. Terlalu bodoh. Dukun mana pun bisa memprediksi gerakan atlet profesional, tapi tidak ada yang bisa memprediksi gerakan orang panik yang lari zig-zag dikejar bayangan tagihan utang.
Menit 90. Masih 0-2.
Wasit (yang perutnya buncit dan jelas sudah terima amplop dari kedua kubu jadi bingung mau memenangkan siapa) memberi tambahan waktu 5 menit.
Tiba-tiba, hujan turun. Deras sekali. Bukan hujan air biasa, tapi hujan angin ribut. Spanduk partai beterbangan. Payung pedagang asongan terbalik.
Di tengah kekacauan itu, Pak Suryo berlari ke pinggir lapangan. Dia membawa toa masjid.
"GAS! BAGAS!"
Aku menoleh di tengah guyuran hujan.
"MBAH KLIWON GAK BISA DATENG! TAPI DIA NITIP PESAN!"
"APA?!" teriakku melawan suara guntur.
"KATANYA UTANGMU DI WARUNG BU RT SUDAH DILUNASI SAMA MANAJEMEN! MAIN YANG TENANG!"
Berita itu lebih ampuh dari jimat apa pun. Utang lunas. Beban hidup terangkat separuh.
Mendadak, pandanganku jernih. Suara bising stadion meredup. Yang terdengar hanya detak jantung dan suara hujan menampar rumput.
Bola muntah jatuh di kakiku. Genangan air membuat bola berhenti mendadak. Bek lawan terpeleset karena licin. Kiper Naga Hitam sedang sibuk mengusap matanya yang kelilipan debu mistis kiriman dukun kami (ya, Pak Suryo ternyata juga "kerja").
Gawang kosong. Jarak 30 meter.
Ki Asta berdiri, merapal mantra terakhir. Dia meniupkan sesuatu ke arah lapangan. Angin puting beliung mini terbentuk di depan gawang lawan.
Semua orang melihatnya. Angin itu nyata. Membawa sampah plastik dan daun kering, membentuk dinding yang mustahil ditembus.
Aku tidak punya pilihan. Tendang atau mati konyol.
Aku mengambil ancang-ancang. Bukan gaya Cristiano Ronaldo, bukan gaya Messi. Tapi gaya anak kampung yang mau nendang kaleng bekas.
Bismillah.
Aku menendang sekuat tenaga. Ujung sepatuku menghajar tanah lebih dulu sebelum kena bola. Cipratan lumpur hitam melesat ke udara, berbarengan dengan bola.
Bola itu melaju rendah, menyusur tanah, berbalut lumpur tebal.
Angin puting beliung Ki Asta menderu, siap menepis bola.
Tapi... bola itu berat. Berat karena lumpur. Berat karena dosa-dosa masa lalu. Dan yang paling penting, bola itu "grounded".
Angin ribut itu bertiup di atas. Bola menggelinding di bawah, melewati kolong angin, melewati kaki kiper yang terpaku melihat fenomena alam, dan...
Pelan. Sangat pelan. Bola itu bergulir melewati garis gawang. Berhenti tepat setelah garis putih.
PRIT! PRIT! PRIIIT!
Bukan, itu bukan peluit akhir. Itu peluit pelanggaran. Wasit menunjuk titik putih. Penalti? Kenapa penalti?
Ternyata, saat aku menendang tadi, kiper lawan melempar botol air mineral ke arahku. Kena kepala. Aku tidak sadar karena terlalu fokus.
Skor masih 0-2. Ini kesempatan memperkecil jadi 1-2. Tapi waktu sudah habis. Kalau ini masuk, peluit panjang bunyi. Kami tetap kalah. Percuma.
Aku lemas. Penonton mulai melempar sandal jepit ke lapangan. Rusuh.
Tapi tunggu. Wasit berlari ke meja inspektur pertandingan. Ada diskusi alot. Pak Suryo ikut nimbrung, menunjuk-nunjuk papan skor manual yang angkanya copot satu kena angin.
Pengumuman dari pengeras suara yang sember:
"PERHATIAN! KARENA KLUB NAGA HITAM MENGGUNAKAN PEMAIN ILEGAL... YAITU... ANU... ITU BEK NOMOR 4 TERNYATA MASIH TERDAFTAR SEBAGAI BURONAN POLSEK SEBELAH... MAKA NAGA HITAM DIDISKUALIFIKASI!"
Mendadak hening...
Satu detik. Dua detik.
"PERSAKA MENANG WO! SKOR 3-0!"
Stadion meledak. Bukan sorak sorai kemenangan olahraga, tapi tawa bahak-bahak ribuan manusia yang menertawakan absurditas nasib.
Ki Asta membanting tabletnya sampai pecah. Bos Naga Hitam ditarik polisi yang tiba-tiba muncul dari balik papan iklan (ternyata intel yang menyamar jadi tukang bakso sejak babak pertama).
Aku berdiri di tengah hujan. Bingung.
Kami menang? Karena bek lawan buronan maling motor?
Pak Suryo menghampiriku, memelukku erat sambil menangis haru. Bau menyannya hilang, tergantikan bau apek air hujan.
"Kita lolos, Gas! Kita lolos!"
"Pak," tanyaku lirih. "Tali Mbah Kliwon beneran ada?"
Pak Suryo melepaskan pelukan. Dia nyengir.
"Sebenernya, Gas... Mbah Kliwon itu meninggalnya bukan pas nendang penalti."
"Terus?"
"Dia meninggal keselek biji salak pas nonton dangdut. Tali itu cuma tali rafia yang saya celup kopi hitam biar kelihatan keramat."
Aku melongo. Menatap kakiku yang penuh lumpur.
Jadi selama ini... gol salto itu... gol pantulan itu...
"Sugesti itu mahal harganya, Gas. Lebih mahal dari dukun manapun," Pak Suryo menepuk pipiku pelan. "Lagian, tadi saya bohong soal utangmu lunas. Besok ditagih Bu RT lagi."
"PAK SURYO!!!"
Aku mengejarnya keliling lapangan. Di bawah guyuran hujan, di tengah riuh rendah dangdut "Cendol Dawet" yang diputar panitia untuk merayakan kemenangan konyol ini, aku tertawa.
Tertawa lepas.
Tidak ada sihir. Tidak ada klenik. Yang ada hanya birokrasi yang bobrok, keberuntungan orang bodoh, dan semangat bertahan hidup dari tagihan utang.
Inilah sepak bola kami. Inilah tanah air kami. Gila, lucu, dan entah bagaimana, selalu bikin kangen.
Aku, Bagas, striker Persaka, siap menghadapi musim depan. Tentu saja, setelah melunasi kasbon di warung Bu RT.