Asap kelabu mengepul tipis dari atas piring kaleng berkarat di sudut kamar indekos berukuran tiga kali tiga meter. Baunya menyengat tajam. Sebuah perpaduan ganjil antara aroma warung kopi pinggir jalan yang tumpah dan ruang rawat inap puskesmas kurang ventilasi. Jari-jari kurus Tejo baru saja meracik "kemenyan" andalannya: bubuk kopi saset murahan rasa moka diseduh kering dengan tujuh tetes minyak kayu putih, ditambah sejumput bedak gatal. Bagi orang awam yang akalnya sudah tumpul digerus rasa takut, campuran serampangan ini selalu lolos sebagai wangi dupa keraton sakral. Buktinya, selama enam bulan terakhir, tak ada satu pun kliennya protes, meski beberapa dari mereka pulang dengan mata merah menahan perih.
Tejo terbatuk pelan, mengibaskan tangan di depan hidung hingga matanya berair. Ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin retak yang menempel pada lemari plastik miring. Pria dua puluh delapan tahun itu mengenakan kemeja hitam pudar. Kancing bawahnya sudah lepas entah ke mana. Sebuah kain ikat kepala bermotif batik sisa acara tujuh belasan ia lilitkan menutupi kening, membentuk siluet dukun eksentrik. Gelarnya di dunia bawah tanah internet cukup mentereng: Ki Gimmick, Sang Penakluk Entitas Astral. Kenyataannya? Ia hanyalah seorang pengangguran lulusan sarjana teknik informatika. IPK-nya nyaris koma. Ia sadar penuh, pasar klenik di Indonesia tak akan pernah mati ditelan zaman. Orang Indonesia jauh lebih takut pada penampakan rumah kosong daripada ancaman resesi ekonomi global.
Di atas meja lipatnya yang goyah, sebuah tablet generasi lama menyala terang. Layarnya menampilkan aplikasi pendeteksi gelombang elektromagnetik. Tentu saja itu bohong besar. Benda itu hanyalah aplikasi pengukur sinyal Wi-Fi gratisan. Antarmukanya ia modifikasi sendiri dengan warna hijau neon berkedip-kedip ala radar kapal selam di film Hollywood. Di sebelahnya, tergeletak sebuah lampu RGB portabel seukuran telapak tangan. Benda plastik murahan inilah kunci dari segala efek dramatisnya. Jika ia menekan tombol merah dari remot kecil di saku celananya, seluruh ruangan akan berubah semerah darah. Sederhana, modal di bawah seratus ribu, dan terbukti sangat efektif menipu mata orang kaya yang kelebihan uang.
Malam ini, taruhannya jauh lebih besar dari sekadar mengusir "hantu penunggu mesin cuci" di rumah ibu-ibu kompleks perumahan elite. Pak Broto, seorang konglomerat nyentrik pengusaha kelapa sawit yang perutnya menyaingi ukuran galon air minum, baru saja mentransfer uang muka sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening Tejo. Misi utamanya terdengar persis seperti plot film horor murahan: membersihkan sebuah rumah kolonial Belanda peninggalan kakek buyut Pak Broto di lereng Gunung Salak. Rumah itu rencananya akan diubah menjadi vila mewah tempat cuci uang, tetapi tiga mandor bangunan sudah kabur terbirit-birit dengan mulut berbusa dalam sebulan terakhir.
Tejo mengusap layar tabletnya, memastikan baterai terisi penuh dan colokan powerbank menancap sempurna. Pandangannya jatuh pada sebuah buku bersampul kulit imitasi kusam di ujung meja. Buku itu tidak memiliki judul. Halaman-halamannya terbuat dari kertas daur ulang menguning, dipenuhi coretan aksara Jawa kuno yang ditulis dengan tinta kecokelatan. Tinta itu baunya selalu membuat bulu kuduk Tejo berdiri karena mengingatkannya pada bau darah kering. Padahal, ia membelinya dari seorang pedagang loak tua di Pasar Jatinegara seharga lima puluh ribu rupiah, yang belakangan ia ketahui hanyalah tumpahan kecap manis basi. Si pedagang bersumpah buku itu adalah pedoman pemanggil roh tulen. Tejo membelinya murni sebagai properti tambahan agar terlihat meyakinkan di depan klien kelas atas.
"Hantu zaman sekarang lebih takut sama kamera HP daripada mantra," gumam Tejo, memasukkan tablet, lampu RGB, powerbank cadangan, dan buku tua itu ke dalam tas ranselnya yang ritsletingnya sering macet. "Soalnya mereka takut masuk akun gosip, terus dihujat netizen se-Nusantara."
Perjalanan menuju rumah tua Pak Broto memakan waktu tiga jam menembus jalanan menanjak yang membelah hutan pinus. Motor bebek tahun dua ribuan milik Tejo menjerit protes setiap kali melewati tanjakan curam. Knalpotnya memuntahkan asap abu-abu, seolah ikut merasakan penderitaan majikannya. Kabut turun perlahan dari puncak gunung, menelan sorot lampu depan motor yang redup kekuningan. Udara dingin menusuk pori-pori, menembus jaket kulit sintetisnya yang sudah mengelupas parah di bagian siku dan pundak. Tidak ada tiang lampu jalan. Hanya bayangan pepohonan tinggi yang melengkung seperti jemari raksasa kurus, mencoba menggapai langit malam tanpa bintang.
Rumah itu berdiri angkuh di ujung jalan berbatu sebesar kepalan tangan. Arsitektur Indische Empire-nya membusuk dimakan usia dan kelembapan gunung. Pilar-pilar betonnya retak parah, dililit akar pohon beringin yang menjalar liar. Cat putihnya sudah lama mengelupas, menyisakan noda-noda hijau kecokelatan bekas rembesan air dan jamur tebal. Saat Tejo mematikan mesin motornya, kesunyian langsung menerkam telinganya. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada lolongan anjing liar. Hanya keheningan kejam yang terasa sangat berat, seolah udara di tempat itu menolak bergerak.
Pak Broto sudah menunggu di teras depan. Dua ajudan berbadan tegap menemaninya, mereka terus mengawasi sekeliling dengan tatapan gelisah. Tangan mereka siaga di balik jaket. Sang konglomerat mengenakan jaket tebal bermerek internasional, menghisap cerutu mahal yang asapnya berbenturan dengan kabut gunung.
"Kamu Ki Gimmick?" tanya Pak Broto. Suaranya serak dan berat, sarat akan kesombongan kental. Matanya memicing, menatap Tejo dari ujung sandal gunung hingga ujung ikat kepala batiknya. "Kelihatan terlalu gembel untuk ukuran orang pintar. Kamu yakin bisa kerja?"
"Ilmu tidak mengenal penampilan luar, Pak Broto," jawab Tejo lancar. Nada suaranya sengaja dibuat dalam, serak, dan berwibawa, meniru aktor laga. Ia menurunkan tas ranselnya, mengeluarkan tablet yang layarnya langsung berkedip-kedip menampilkan grafik hijau palsu yang naik turun dramatis. "Aura di tempat ini sangat pekat. Gelombang astral berbenturan dengan energi negatif sisa penjajahan."
Pak Broto mendengus, membuang puntung cerutunya ke tanah berlumut. Ia tampak sedikit terkesan melihat grafik di layar tablet tersebut. "Terserah apa omong kosongmu. Tiga mandorku nyaris gila. Mereka bilang ada perempuan Belanda terus menangis di lorong belakang, dan bau busuk muncul tiba-tiba dari balik lantai kayu. Bersihkan tempat ini sampai tuntas. Jika besok pagi tempat ini aman dan alat beratku bisa masuk, sisa seratus juta kutransfer langsung."
"Serahkan pada saya," sahut Tejo mantap. Ia memasang wajah sedingin es, meski jantungnya mulai berdebar kencang menabuh tulang rusuk memikirkan angka seratus juta.
Pak Broto dan ajudannya jelas tidak mau berlama-lama menghirup udara kutukan itu. Mereka masuk ke dalam mobil SUV hitam berpelat nomor cantik, lalu melesat pergi menuruni gunung. Lampu belakang mobil itu menghilang ditelan kabut, meninggalkan Tejo sendirian di tengah cengkeraman malam.
Tejo menelan ludah, mendorong pintu kayu jati raksasa di hadapannya. Engsel berkarat itu menjerit keras, bunyinya ngilu mengiris gendang telinga. Bau apak menyergap hidungnya, sebuah campuran antara kayu lapuk, kotoran kelelawar, dan sesuatu yang manis namun memualkan. Persis wangi bunga kantil busuk di dalam air tergenang berbulan-bulan.
Tejo melangkah masuk ke ruang tamu utama. Lantai tegel bermotif geometris klasik tertutup debu setebal satu sentimeter, mencetak jelas jejak sepatu kets miliknya. Jaring laba-laba menggantung dari lampu kristal kusam di langit-langit. Ia mengeluarkan lampu RGB dari tas, meletakkannya di tengah ruangan, dan menyalakannya dengan warna biru redup menggunakan remot. Cahaya biru itu menciptakan bayangan-bayangan panjang mengerikan di dinding.
"Oke, mari kita mulai pertunjukan sirkus ini," bisik Tejo pelan. Ia berencana merekam video dirinya melakukan ritual palsu, mengirimkannya pada Pak Broto besok pagi, lalu mengeklaim hantunya sudah diusir menggunakan frekuensi radio penangkal gaib. Alasan yang cukup ilmiah untuk menipu orang kaya gaptek.
Ia membuka buku tua bersampul kulit itu di bawah cahaya biru tablet. Ia sama sekali tidak bisa membaca aksara Jawa dengan lancar, hanya mengeja huruf-hurufnya serampangan, merangkai bunyi sesuka hati. Jari telunjuknya menyusuri baris pertama di halaman tengah yang tampak paling kusam akibat kecap.
"Hong... ilaheng... sekaring... bawono..." Tejo mengeja susah payah. Suaranya menggema memantul di dinding ruangan kosong. "Sun... matek... aji... pameling... roh... udud..."
Suhu ruangan anjlok drastis.
Napas Tejo seketika berubah menjadi uap putih pekat di udara. Layar tablet di tangannya mendadak berkedip liar, grafiknya melonjak hingga mentok ke ujung layar sebelum retak halus dengan bunyi crak. Baterai yang tadinya seratus persen merosot tajam menjadi sepuluh persen dalam hitungan dua detik. Lampu RGB di lantai berderit pelan, korsleting, warnanya berubah sendiri dari biru redup menjadi oranye terang menyilaukan.
Bulu kuduk Tejo berdiri tegak layaknya paku. Hawa dingin ini berbeda. Ini bukan sekadar angin malam pegunungan. Ini dingin yang merayap langsung dari dalam tulang sumsum, membekukan aliran darah. Bau bunga busuk tadi menguap, digantikan oleh bau aneh. Bukan bau menyan, bukan bau darah, melainkan bau... karet plastik murahan terbakar matahari, bercampur wangi parfum bubblegum.
Wuuuuuung....
Sebuah suara aneh memecah ketegangan. Tejo tersentak, nyaris menjatuhkan tabletnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Suara itu bukan raungan sosok jahat atau tawa melengking kuntilanak. Itu terdengar persis seperti suara kipas angin portabel kecil milik abang-abang penjual sosis bakar.
Di sudut ruangan, tepat di mana bayangan oranye paling pekat berkumpul, udara melengkung dan beriak seperti fatamorgana di atas aspal panas. Sesosok bayangan raksasa menjulang perlahan dari lantai. Tingginya lebih dari dua meter. Perutnya buncit, ekornya besar bergoyang-goyang kaku, dan tangannya... sangat kecil, menempel konyol di depan dada.
Lutut Tejo lemas. Ia mundur terhuyung, menabrak pilar beton. Punggungnya berdenyut nyeri. Matanya terbelalak lebar, napas tertahan di tenggorokan. Ini bukan ilusi lampu RGB. Makhluk itu nyata, melayang beberapa sentimeter di atas lantai. Warnanya oranye neon, terbuat dari bahan parasut licin yang menggembung, dengan kepala reptil raksasa bermata melotot lucu.
Itu kostum badut dinosaurus T-Rex tiup.
Namun tembus pandang. Benda itu memancarkan pendaran cahaya astral berwarna kebiruan di tepiannya. Di balik plastik transparan di bagian leher kostum, terlihat wajah pucat seorang pemuda belasan tahun dengan rambut belah tengah berantakan. Wajah pemuda itu memancarkan ekspresi frustrasi luar biasa. Tangan kecil T-Rex itu berusaha keras memegang sebuah benda persegi bersinar - sebuah ponsel pintar gaib terbuat dari asap tipis.
"Bang," suara makhluk itu serak, terdengar seperti keluar dari pengeras suara bluetooth murahan sember. "Password Wi-Fi sini apa yak? Sinyal gua mentok di E nih, muter doang dari tadi buffering!"
Tejo mengerjap tiga kali. Otaknya menolak keras memproses informasi absurd yang baru saja menabrak retinanya. "A... apa?"
Hantu T-Rex itu melompat kecil mendekati Tejo. Setiap kali melompat, terdengar bunyi gesekan karet srek-srek komikal, diiringi suara kipas angin wuuung dari dalam kostumnya. Wajah pemuda di balik jendela plastik itu cemberut kesal.
"Wi-Fi, Bang! Gua lagi live streaming tadi pas tiba-tiba ketarik ke mari! Viewers gua udah mau tembus lima ribu padahal! Lu yang narik gua ke sini pake bacaan aneh tadi, kan?!"
"Lu... lu hantu?" suara Tejo bergetar hebat, tangannya mencengkeram tablet erat-erat.
"Ya menurut lu aja, Bang? Masa gua maskot Dufan nyasar ke mari?!" sahut makhluk itu ketus. Ia menghela napas panjang. Embusan udara sedingin kulkas menerpa wajah Tejo, membawa aroma permen karet stroberi. "Kenalin, gua Asep. Asep Surasep. Content Creator alam gaib paling underrated se-Jawa Barat."
Tejo merosot pelan, duduk di lantai tegel berdebu tebal. Ketakutannya menguap, digantikan rasa pening akibat situasi terlampau absurd. Ia menatap perut buncit kostum T-Rex itu dengan kening berkerut dalam. "Lu meninggal... kenapa pakai baju begituan, Sep?"
Asep menunduk, menatap tubuh dinosaurusnya sendiri, lalu mendecak kesal. Tangannya yang mungil bergoyang-goyang tak berdaya. "Ini dia nih, tragedinya. Gua kan meninggalnya konyol parah, Bang. Gua lagi bikin challenge joget jedag-jedug pargoy pake kostum T-Rex ini buat TikTok. Tiba-tiba kabel ring light gua kesandung ekor. Gua jatoh, pala gua kejedot ujung meja kaca. Meninggal deh di tempat. Sialan emang. Mana retsleting kostumnya macet dari luar, keluarga gua panik pas nemuin gua, paramedis juga gak berani buka sembarangan takut ngerusak posisi jenazah. Akhirnya roh gua nyangkut di dimensi astral bareng bentuk ginian. Jatuhnya aura horor gua minus. Tiap gua mau nakut-nakutin orang, mereka malah minta foto bareng!"
Tejo memijat pelipisnya kuat-kuat. Kepalanya berdenyut nyeri seakan mau pecah. Pandangannya beralih ke ponsel asap di tangan pendek kostum itu. Layar gaibnya menyala terang benderang.
"Tunggu dulu," Tejo menyipitkan mata. "Lu udah mati. Terus itu HP lu kok nyala terus? Sistem charging-nya gimana ceritanya?"
Asep membusungkan dada plastiknya bangga. "Gua pake sistem wireless charging jalur karma, Bang. HP gaib ini nyedot energi penyesalan gua. Makin gua nyesel mati konyol pake kostum ginian, baterainya makin penuh. Ibaratnya, penderitaan dan rasa malu gua adalah powerbank abadi. Gak bakal lowbatt sampai kiamat!"
Tejo menatap buku tua tumpahan kecap di lantai. Alih-alih memanggil entitas kuno penunggu rumah, mantranya yang salah eja malah bertindak seperti antena radio rusak, menarik hantu nyasar dari dimensi modern.
"Oke, Sep. Ini salah paham parah," kata Tejo menata kembali pita suaranya yang gemetar. Ia mulai berpikir pragmatis. Jika hantu dinosaurus ini tidak mematikan, ia bisa mengusirnya dengan mudah, lalu melanjutkan rencana awalnya. "Gue minta maaf udah narik lu ke sini. Sekarang, lu bisa balik lagi ke tempat lu berasal. Alam baka, atau fyp TikTok, terserah. Pintu keluar ada di belakang lu."
Asep mencoba menyilangkan tangannya di dada, namun gagal total karena tangan T-Rex-nya terlalu pendek. "Gak bisa gitu dong, Bang."
"Gak bisa gimana maksud lu?"
"Gua punya urusan yang belum kelar. Unfinished business, kata orang bule," Asep mendongak menatap langit-langit berjamur dengan tatapan melankolis yang tertahan kepala reptil raksasa. "Gua gak bisa log out dari dunia ini sebelum akun Instagram gua tembus seratus ribu followers. Itu cita-cita gua dari pas masih idup! Sekarang followers gua nyangkut di angka sembilan puluh sembilan ribu. Gua butuh seribu lagi buat dapet centang biru sebelum tenang di alam baka!"
"Gila aja lu, Sep!" seru Tejo. Rasa takutnya benar-benar sirna, digantikan rasa frustrasi luar biasa. "Lu tuh hantu! Lu udah mati! Ngapain lu mikirin followers sama centang biru?!"
"Harga diri, Bang! Lu gak ngerti kerasnya algoritma alam gaib!" balas Asep ngotot. Ia melompat maju, menundukkan kepala plastiknya mendekat ke wajah Tejo. Pendaran cahaya biru samar memancar dari baterai kipas di pinggang kostum Asep. "Eh, tunggu bentar. Tablet lu kok sinyalnya kenceng banget?"
Tejo melirik layar tabletnya. Benar saja, indikator sinyal Wi-Fi yang tadinya mati total karena berada di pedalaman gunung, kini menunjukkan bar penuh dengan logo 5G bersinar terang.
"Gua emang pancaran sinyal berjalan, Bang," Asep tersenyum lebar di balik plastiknya, menggoyangkan ekornya. "Efek radiasi ring light sama router Wi-Fi kamar pas gua mati kali ya. Sinyal gua setara pemancar satelit militer. Gimana kalau kita kerja sama? Lu bantu gua bikin konten biar dapet seratus ribu followers, gua kasih lu akses internet gratis seumur idup kuota unlimited!"
Belum sempat Tejo menjawab tawaran sinting itu, udara di ruangan berubah drastis dalam sekejap mata.
Udara terasa teramat sangat berat, menekan dada Tejo hingga ia sulit bernapas. Seolah ada balok es ditumpukkan di atas paru-parunya. Lampu RGB yang menyala oranye tiba-tiba meledak pecah berantakan dengan suara PRANG memekakkan telinga, melontarkan serpihan plastik ke segala arah. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi pendaran cahaya redup dari layar tablet dan tubuh neon Asep.
Bau karet terbakar seketika tergusur oleh aroma bunga melati mati yang sangat pekat. Menyengat hidung, menusuk hingga terasa pahit di pangkal lidah.
Dari ujung lorong gelap yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian belakang rumah, terdengar suara gesekan pelan namun ritmis. Sesuatu yang berat diseret melintasi lantai tegel berdebu. Srek... Srek... Srek...
Asep mundur tiga langkah, bersembunyi di belakang punggung Tejo, membuat perut tiupnya menabrak kepala Tejo. "Bang... itu apaan, Bang?" cicit hantu T-Rex itu. Suaranya tiba-tiba kehilangan nada sombong.
Tejo menelan ludah paksa. "Gue pikir lu hantu? Masa lu takut sama beginian?!"
"Gua hantu Gen-Z, Bang! Gua kagak biasa ngadepin vibes senior kolonial begini! Serem gila!"
Sebuah tawa melengking panjang memecah kesunyian malam. Tawa itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan bergema langsung menyayat di dalam rongga tengkorak Tejo. Suaranya tinggi, meliuk-liuk menembus gendang telinga, membawa keputusasaan dan duka absolut. Hihihihihi...
Sesosok siluet perlahan muncul dari pekatnya kegelapan lorong. Seorang perempuan dengan rambut hitam panjang kusut masai, menjuntai menyapu lantai layaknya sapu lidi rusak. Gaun putihnya model lawas, lusuh, berlumuran noda kecokelatan kental berkerak di bagian dada hingga perut. Ia melayang perlahan, ujung kakinya yang pucat sama sekali tidak menyentuh lantai. Wajahnya tertutup tirai rambut. Tejo bisa merasakan dua titik mata imajiner menatap mereka berdua dengan kebencian murni.
Ini dia. Mpok Lela. Penunggu asli rumah kolonial tersebut. Alasan utama mengapa tiga mandor Pak Broto berakhir mengompol di ranjang rumah sakit jiwa.
Perempuan itu mengangkat sebelah tangannya yang seputih kapur, memamerkan kuku-kuku hitam kotor melengkung tajam bak celurit berkarat. Mulutnya yang tersembunyi di balik rambut terbuka lebar, mendesis marah.
"Siapa... yang berani... mengotori... wilayahku..." suaranya berderit ngilu seperti engsel pintu peti mati dipaksa buka setelah seratus tahun.
Tejo membeku kaku. Otot-ototnya menolak perintah otaknya untuk lari. Kematian menatapnya tepat di wajah, siap mencabik lehernya.
Namun, di tengah momen horor klasik mencekam itu, Asep melongokkan kepala dinosaurusnya dari balik bahu Tejo. Wajah pemuda di balik plastiknya berkerut tidak suka.
"Mpok," tegur Asep lantang. Suaranya cempreng membelah ketegangan. "Ketawa melengking gitu udah old school banget tau gak sih! Lagian pitch suaranya ketinggian, kliping nih masuk ke mic HP gua! Coba deh ketawanya agak di-reverb dikit, di-bass-in, biar dapet aesthetic horor sinematik ala film bioskop. Kalo gini mah jatohnya kayak ibu-ibu kejepit pintu kulkas!"
Mpok Lela menghentikan tawanya seketika, tercekik ludahnya sendiri. Hantu perempuan itu tampak tertegun parah. Kepalanya miring patah-patah, seolah otaknya yang membusuk berusaha memproses hinaan teknis dari sesama makhluk halus berbentuk kadal raksasa neon itu.
"Kurang ajar!" jerit Mpok Lela murka. Rambutnya mekar menentang gravitasi, memperlihatkan wajahnya yang hancur sebelah dengan belatung menggeliat rakus di rongga pipi. Ia melesat maju menembus udara, mengincar leher Asep dengan kuku tajamnya.
Asep menjerit panik bergaya kartun, melompat ke belakang meja kayu tebal. Kostumnya yang besar menabrak kursi hingga terguling. "Bang! Tolongin, Bang! Emak-emak boomer ngamuk!"
Tejo yang panik kehilangan akal sehat, secara refleks mengambil satu-satunya senjata yang ia miliki: tabletnya. Ia menyalakan senter flash dari tablet, mengarahkannya tepat ke wajah Mpok Lela. Cahaya LED putih menyilaukan itu rupanya cukup membuat sang Kuntilanak senior memekik kesakitan, menutupi matanya dengan kedua tangan pucat. Matanya yang terbiasa dengan kegelapan seabad tidak kuat menahan intensitas lumen gawai modern.
"Kalian merusak tatanan!" desis Mpok Lela, mundur melayang ke dalam bayang-bayang lorong. "Tidak ada rasa hormat pada tradisi luhur! Kemenyan kalian palsu bau gula! Auramu menjijikkan!" ia menunjuk Asep dengan kuku gemetar. "Siluman macam apa yang memakai kulit oranye aneh seperti itu?! Bikin malu leluhur demit!"
"Biarin aja sih dong, Mpok!" balas Asep nyolot dari balik meja, mencoba mengacungkan kepalan tangan kecilnya. "Yang penting engagement gua tinggi! Dari pada lu, nongkrong di rumah lapuk bertahun-tahun kagak ada yang kenal! Mending lu bikin akun TikTok, gua ajarin joget pargoy dah, lumayan dapet saweran koin!"
Kemarahan Mpok Lela memuncak hingga batas maksimal. Udara di ruangan itu berputar hebat, membentuk pusaran angin kecil menerbangkan debu tebal, daun kering, dan serpihan kayu. Kaca-kaca jendela bergetar meronta-ronta, retak, pecah berhamburan ke lantai.
"Keluar dari wilayahku! Atau kuubah kalian menjadi pakan belatung peliharaanku!" ancam Mpok Lela dengan raungan mengerikan. Bau busuk jasad membusuk meledak di udara, membuat Tejo jatuh berlutut, muntah hebat memuntahkan isi perutnya di atas lantai tegel. Kuntilanak itu berbalik, melesat menembus dinding tebal dan menghilang lenyap.
Tejo terbatuk parah, menyeka mulutnya yang basah dengan ujung lengan kemeja. Jantungnya memukul-mukul tulang rusuk beringas. Asep melompat keluar dari persembunyiannya, menatap Tejo dengan tatapan polos.
"Gila, toxic banget tuh hantu boomer," komentar Asep santai, seolah baru saja ribut dengan tetangga sebelah gara-gara parkir sembarangan.
Tejo menatap hantu T-Rex itu dengan napas tersengal. "Kita... kita harus pergi dari sini, Sep. Hantu purba itu bisa ngebunuh gue beneran."
"Eh, jangan gitu dong, Bang," Asep melompat mendekat. Bunyi srek-srek karetnya terdengar menyebalkan di telinga Tejo. "Kalo lu kabur, lu gak dapet seratus juta dari Pak Broto. Kalo gua kabur, gua gak dapet seratus ribu followers. Kita sama-sama rugi bandar nih."
"Terus gue harus ngapain?! Nyiram dia pake kopi saset kadaluarsa?!" bentak Tejo frustrasi, mengusap wajahnya kasar.
Asep tersenyum lebar. "Kita bikin konten. Rumah seserem ini, ditambah talent gaib berbakat kayak gua, dan skill editing lu yang lumayan? Kita bakal viral se-Nusantara, Bang. Mpok Lela biar aja marah-marah di pojokan lorong, malah bagus banget buat background video alami. Gak perlu CGI mahal!"
Tejo terdiam membisu. Otak kalkulatif dan mental penipunya mulai bekerja mencari celah. Ia melihat tabletnya menyala terang benderang berkat sinyal dari tubuh Asep. Jika ia benar-benar bisa membuat video "penampakan nyata" sangat jernih, beresolusi tinggi, dan meyakinkan, pamornya sebagai dukun digital akan meroket tajam ke stratosfer. Ia tidak perlu lagi pura-pura mengusir hantu. Ia bisa beralih profesi menjadi manajer artis hantu.
"Oke," Tejo mengangguk pelan, memaksakan kakinya bangkit berdiri. "Tapi sinyal lu kadang-kadang goyang pas lu ketakutan tadi. Gue harus ritualin lu dulu biar koneksinya stabil anti ngelag."
"Ritual apaan tuh, Bang?"
"Ruwat Router," jawab Tejo asal jeplak. Ia mengeluarkan kabel charger panjang dari tasnya, melilitkannya ke sekeliling leher kostum T-Rex Asep layaknya kalung beringin, dan menancapkan ujung USB-nya ke powerbank berkapasitas besar. Ia kemudian melakukan gerakan pencak silat absurd mengelilingi Asep sambil berkomat-kamit membaca lirik lagu dangdut koplo. "Diem lu, jangan banyak gerak. Gue mau kalibrasi frekuensi alam gaib."
Selama dua hari berikutnya, rumah tua angker itu berubah total menjadi studio rekaman horor paling tidak masuk akal di dunia. Tejo dan Asep bekerja sama memproduksi puluhan video absurd. Mulai dari video penelusuran lorong gelap, di mana Asep pura-pura melintas di belakang layar dengan tatapan misterius (yang gagal karena warna oranyenya terlalu mencolok), hingga video mukbang kembang kantil yang berakhir dengan Asep tersedak batuk-batuk, karena ia pada dasarnya memang hantu ceroboh.
Sinyal 5G mistis dari tubuh Asep membuat proses pengunggahan video secepat kilat. Dalam waktu empat puluh delapan jam, akun Instagram Asep melonjak tajam menembus algoritma. Sembilan puluh dua ribu. Sembilan puluh lima ribu. Sembilan puluh delapan ribu pengikut. Netizen Indonesia geger luar biasa melihat penampakan hantu T-Rex beresolusi 4K tanpa efek blur murahan acara televisi tengah malam. Komentar membanjiri postingan mereka, menganggapnya sebagai performance art tingkat dewa.
Mpok Lela beberapa kali mencoba mengganggu syuting mereka. Ia memunculkan suara tangisan menyayat hati, tetapi Tejo dengan sigap langsung menjadikannya backsound ASMR horor tidur lelap. Ia memunculkan bau anyir darah kental, tetapi Tejo malah menyemprotkan pengharum ruangan aerosol aroma lavender murahan ke arahnya, membuat sang Kuntilanak mual, terbatuk, dan kabur menembus tembok. Kesucian tradisi horor Mpok Lela benar-benar diinjak-injak modernisasi tanpa ampun.
Namun, kejayaan instan penuh tawa itu tidak bertahan lama.
Pada hari ketiga menjelang sore, jumlah pengikut Asep mandek parah di angka sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus. Kurang seratus pengikut lagi menuju kebebasan mutlak. Di saat yang sama, deru mesin kasar memecah udara. Sebuah mobil SUV hitam memasuki pelataran rumah dengan agresif, menabrak pagar kayu lapuk hingga patah.
Pak Broto turun dari mobil, wajahnya merah padam menahan amarah meledak-ledak. Ia tidak sendirian kali ini. Di sebelahnya berjalan mengendap-endap seorang pria tua bertubuh kurus kering. Pria itu tidak memakai baju atasan, hanya mengenakan celana pangsi hitam selutut. Bertelanjang kaki, menginjak kerikil tajam tanpa meringis. Tubuhnya dipenuhi tato rajah kuno memudar termakan usia. Bekas luka tebal melintang di wajahnya, membelah mata kirinya yang buta putih. Udara di sekeliling pria tua itu beriak, memancarkan hawa panas menyesakkan dada.
Tejo yang sedang santai mengedit video di teras menggunakan tabletnya, langsung merasakan hawa mematikan itu. Bulu kuduknya berdiri serentak. Ini bukan hantu abal-abal. Ini manusia berilmu hitam sejati. Dukun sungguhan pengabdi setan.
"Kamu pikir saya bodoh, Tejo?!" bentak Pak Broto, menendang kursi plastik di dekatnya hingga terpental menghantam dinding. Wajahnya berkeringat jagung. "Saya suruh kamu bersihkan rumah ini, bukan bikin sirkus dinosaurus di Instagram! Semua kolega bisnis saya menertawakan saya di grup WhatsApp karena rumah pusaka keluarga saya jadi markas badut oranye!"
Tejo menelan ludah kasar, memeluk tabletnya, mundur selangkah mencari aman. "Pak Broto, tenang dulu, saya bisa jelaskan konsep marketing viral ini - "
"Tidak perlu bacot!" potong Pak Broto kejam. Ia menoleh pada pria tua menyeramkan di sebelahnya. "Ki Entitas Gelap, tolong bersihkan tempat ini sekarang juga. Hancurkan semuanya. Termasuk dukun palsu ini jika dia berani menghalangi jalanmu."
Ki Entitas Gelap melangkah maju lambat-lambat. Mata kanannya yang tersisa menatap tajam ke arah rumah tua itu. Ia sama sekali tidak memedulikan eksistensi Tejo yang gemetar hebat. Tatapannya seakan menembus dinding beton, langsung mendeteksi keberadaan Asep dan Mpok Lela yang bersembunyi di dalam.
"Tempat ini kotor. Sangat kotor. Ada roh cacat berbentuk ganjil yang menodai tatanan gaib leluhur," suara Ki Entitas Gelap terdengar berat, seperti gesekan batu kerikil di dasar sungai kering. Ia merogoh kantong kain dekil di pinggangnya, mengeluarkan segenggam tanah kuburan berwarna kemerahan bercampur pecahan tulang belulang. "Aku akan memanggil penguasa hutan hitam ini untuk mengunyah mereka semua hidup-hidup."
Tanpa peringatan apa pun, Ki Entitas Gelap melemparkan tanah itu ke udara. Ia merapal mantra panjang dalam bahasa Jawa kuno yang sangat kental, bukan ejaan serampangan seperti milik Tejo. Suaranya bertenaga, menggetarkan tanah di bawah kaki mereka berdua.
Srekkk... KRAAAKKK!
Lantai teras beton mendadak retak membelah diringi dentuman keras. Pilar-pilar penyangga bergetar hebat menjatuhkan debu tebal. Langit sore yang tadinya cerah mendadak mendung gelap, tertutup awan hitam pekat bergulung-gulung bagai badai. Bau belerang murni yang sangat menyengat menampar hidung Tejo, membuatnya batuk tersedak hingga air matanya keluar.
Dari balik tanah yang retak menganga, sebuah tangan raksasa berbulu hitam lebat mencengkeram tepi lantai kasar. Kuku-kukunya sebesar pisau daging tukang jagal. Disusul oleh munculnya kepala raksasa bertanduk melengkung, dengan rambut kawat berantakan bagai sarang burung gagak. Sepasang mata merah menyala menatap lapar ke arah dunia manusia. Genderuwo. Bukan ilusi optik, bukan halusinasi lampu disko. Monster mengerikan setinggi tiga meter itu merangkak naik ke teras, menggeram ganas memamerkan taring-taring kuning meneteskan liur berbau sisa daging busuk.
Tejo terpaku kaku. Lututnya kehilangan tenaga, membuatnya jatuh terduduk lemas. Kiamat kecilnya datang menjemput. Ia akan mati dirobek-robek sosok jahat sungguhan hanya karena serakah bermain-main dengan hal gaib demi uang receh media sosial.
"Hancurkan roh cacat di dalam sana!" perintah Ki Entitas Gelap, mengarahkan telunjuk keriputnya ke arah pintu utama.
Genderuwo itu mengaum sangat memekakkan telinga, bersiap melompat menerjang pintu. Namun, sebelum monster raksasa itu sempat bergerak menghancurkan kayu, pintu jati itu berderit terbuka pelan.
Asep melayang keluar dengan santainya, kostum T-Rex-nya bergoyang-goyang konyol. Ponsel asap di tangannya menyala terang, lensa kamera mengarah ke depan merekam segalanya.
"Hai guys, welcome back to my live stream! Hari ini kita kedatangan tamu kolab spesial nih, abang-abang cosplay King Kong lokal dari jalur undangan!" sapa Asep ceria dengan nada khas influencer tidak tahu diri.
Genderuwo itu terhenti mendadak di tengah jalan. Monster purba itu tampak kebingungan luar biasa. Otak primitifnya sama sekali tidak dirancang memproses makhluk gaib lain yang tidak memancarkan rasa takut, melainkan malah menyodorkan kotak bercahaya ke arah wajah seramnya.
"Sikat dia! Jangan diam saja!" teriak Ki Entitas Gelap murka, urat-urat hijau di lehernya menonjol keluar menahan marah.
Genderuwo itu mengangkat cakar raksasanya tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan kostum plastik Asep menjadi debu astral.
"Sep, awas lu!" jerit Tejo. Insting bertahan hidupnya mendadak menyala benderang. Ia menyadari satu hal krusial: monster raksasa ini berasal dari zaman kuno di mana teknologi belum ada. Kekuatan utama Asep bukanlah ilmu hitam, melainkan gelombang frekuensi digital tinggi yang ia pancarkan.
"Sep! Nyalain mode Hotspot sekarang! Mentokin bandwith lu ke lima gigahertz! Cepat!" teriak Tejo sambil merogoh saku celananya tergesa-gesa, mengeluarkan ponsel pribadinya yang layarnya retak.
"Siap, Bang! Laksanakan!" Asep memejamkan mata di balik plastiknya, berkonsentrasi penuh. Baterai kipas di pinggangnya mendadak bersinar biru sangat menyilaukan. Terdengar dengungan tajam membelah udara di sekitarnya. Gelombang elektromagnetik tingkat tinggi memancar kuat dalam radius lima meter, menabrak hawa mistis hingga beriak.
Tejo berlari mendekat nekat, melempar ponsel pribadinya tepat ke dada bidang berbulu sang Genderuwo. "Nih, main Mobile Legends!"
Ponsel itu memantul pelan lalu jatuh tepat ke telapak tangan besar sang monster. Layarnya menyala terang benderang, menampilkan grafik arena permainan dengan suara narator menggelegar dari speaker. Welcome to Mobile Legends!
Genderuwo itu terkesiap mundur. Matanya yang merah menyala menatap layar kecil itu dengan takjub bercampur bingung. Warna-warni skill mencolok, suara ledakan meriah, dan animasi karakter mungil berputar-putar di layar sepenuhnya menyita perhatian otak primitifnya. Terlebih lagi, dengan koneksi 5G langsung dari tubuh Asep, permainan online itu berjalan dengan frame rate sangat mulus tanpa lag sedikit pun. Pengalaman visual luar biasa yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun mendiami hutan lebat.
Monster raksasa yang tadinya siap menghabisi nyawa itu, perlahan menurunkan bahunya. Ia duduk bersila di lantai teras hancur, persis anak kecil asyik di depan TV tabung. Jari telunjuknya yang sebesar pisang ambon, dengan canggung namun sangat hati-hati mulai mengusap layar ponsel. Layar itu bergetar memberikan haptic feedback setiap kali ia menyentuh tombol serangan. Getaran kecil itu rupanya memberikan sensasi menyenangkan di kulit kasarnya.
Ia asal menekan tombol skill berulang-ulang tanpa strategi. Kebetulan karakter yang terpilih adalah Balmond, sesama raksasa barbar berkapak. Karakter itu berputar kencang di layar, menebas musuh yang kebetulan lewat dengan darah sekarat. Layar ponsel seketika memancarkan efek cahaya dramatis, disusul suara menggelegar.
FIRST BLOOD!
Genderuwo itu tersentak kaget, lalu matanya membesar penuh binar kebahagiaan. Dopamin meledak di otak purbanya. Ia mendengkur pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis hingga taringnya terlihat tidak mengancam sama sekali. Ia seolah terhipnotis total oleh sihir teknologi umat manusia.
Ki Entitas Gelap terbelalak kaget. Rahangnya nyaris jatuh menyentuh tanah melihat peliharaan ganasnya jinak oleh sebuah kotak tipis menyala. "Apa... apa sihir yang kalian lakukan pada peliharaanku?! Serang mereka sekarang, makhluk bodoh!"
Sang Genderuwo menoleh, menggeram jengkel pada Ki Entitas Gelap. Ia mengibaskan sebelah tangannya yang bebas, memberi isyarat kasar menyuruh pria tua itu diam menutup mulut, karena ia sedang sangat fokus melakukan push rank mengejar Mythic.
Ki Entitas Gelap mundur selangkah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia mencoba merapal mantra penarik paksa untuk mengembalikan monsternya ke alam gaib. Namun, gelombang sinyal 5G Asep merusak frekuensi mantranya berantakan. Energi klenik Ki Entitas Gelap terpental keras oleh dinding tak kasat mata dari sinyal digital. Dadanya sesak mendadak. Ia terbatuk memuntahkan cairan hitam kental dari mulutnya. Ilmu hitamnya berbalik menyerang organ dalamnya sendiri akibat gagal mengendalikan entitas panggilannya.
"Dukun... dukun gila..." desis Ki Entitas Gelap menahan sakit, menatap Tejo dengan ketakutan teramat sangat. Pria tua itu berbalik cepat, berlari tunggang langgang menuruni jalan berbatu meninggalkan area pelataran rumah, menghilang ditelan kabut gunung meratapi harga dirinya yang hancur oleh sinyal internet lokal.
Sementara itu, Pak Broto yang menyaksikan seluruh rentetan kejadian absurd itu dari balik ban mobilnya, berdiri mematung. Wajahnya pucat pasi tanpa setetes darah pun mengalir. Ia terengah-engah, napasnya pendek-pendek seperti ikan kekurangan air. Jas mahalnya kotor terkena cipratan lumpur. Cerutunya entah jatuh ke mana. Matanya menatap Tejo yang berdiri memegang lutut, lalu beralih menatap monster raksasa berbulu yang asyik bermain gim sambil senyum-senyum sendiri memamerkan taring.
Pikiran kolot Pak Broto yang baru saja dipaksa menelan realitas gaib tingkat tinggi mulai korslet. Ia butuh penjelasan logis untuk menjaga kewarasannya agar tidak berakhir di rumah sakit jiwa seperti mandornya.
Tejo, yang sangat peka membaca kepanikan klien berkantong tebal, langsung merapikan kerah kemejanya. Ia memasang wajah serius layaknya CEO startup teknologi di acara presentasi tahunan.
"Jangan panik, Pak Broto," kata Tejo lantang, melangkah santai menghampiri sang konglomerat. "Seperti yang Bapak lihat, area ini sudah berhasil saya kuasai sepenuhnya menggunakan teknologi penjinak astral berbasis Augmented Reality dan proyeksi spasial kecerdasan buatan."
Pak Broto mengerjap cepat, bibirnya gemetar. "Ap... apa? Itu bukan setan beneran? Tapi tanahnya retak, Tejo! Tanah rumahku retak!"
"Efek animatronik hidrolik, Pak," balas Tejo berbohong tanpa berkedip sekecil apa pun. "Monster berbulu lebat itu adalah proyeksi hologram Metaverse tingkat lanjut yang saya sewa dari luar negeri. Sengaja saya padukan dengan database mitos lokal agar dukun tua tadi mengira panggilannya berhasil. Sekarang, hologram itu sedang masuk mode standby dengan menjalankan simulasi gim interaktif agar software-nya tidak crash. Teknologi tinggi, Pak. Dukun tradisional mana paham soal beta testing."
Pak Broto menelan ludah susah payah. Otak bisnis boomer-nya menangkap kata "Metaverse", "AI", dan "Hologram". Mengakui bahwa dirinya ketakutan setengah mati oleh teknologi rasanya jauh lebih menyelamatkan harga diri daripada mengakui ia hampir kencing di celana melihat Genderuwo.
Ia membusungkan dada, mengusap keringat di dahi dengan sapu tangan sutra, lalu mengangguk cepat berturut-turut. "Oh... oh begitu! Saya sudah curiga dari awal! Pantas saja tekstur bulunya kelihatan terlalu... resolusi tinggi! Luar biasa sekali kamu, Tejo. Startup klenikmu ini sangat prospektif!"
"Terima kasih, Pak. Jadi, soal sisa pembayaran dan bonusnya...?" pancing Tejo tersenyum ramah.
"Saya transfer sisa seratus jutanya sekarang juga. Tidak, saya tambah lima puluh juta lagi sebagai kompensasi kerusakan teras beton saya akibat alat hidrolikmu itu! Tolong... tolong pastikan saja program hologram itu segera kau matikan setelah saya pulang."
"Beres, Pak Broto. Silakan tinggalkan tempat ini segera. Proses shut down server gaib ini memancarkan radiasi UV yang lumayan menyilaukan mata orang awam."
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Pak Broto melompat gesit masuk ke dalam SUV-nya, menyuruh sopirnya menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu berputar arah meninggalkan rumah tua itu selamanya dengan ban berdecit keras.
Keheningan malam kembali turun perlahan menyelimuti lereng gunung. Angin berhembus pelan menyapu sisa-sisa bau belerang, menggantinya kembali dengan aroma hutan pinus segar.
Tejo menjatuhkan diri telentang di lantai teras yang retak, mengusap wajahnya bersimbah keringat dingin. Dadanya naik turun. Ia masih hidup. Ia benar-benar masih hidup menghirup oksigen. Rekening banknya baru saja dipastikan bertambah seratus lima puluh juta rupiah dalam waktu kurang dari satu jam.
Tiba-tiba, rentetan suara notifikasi meledak riuh dari ponsel gaib Asep. Ting! Ting! Ting!
Hantu T-Rex itu melayang turun berlutut di sebelah Tejo. Mata plastiknya terpaku tak berkedip menatap layar. "Bang... Bang Tejo..." suaranya bergetar menahan haru.
"Kenapa lagi lu? Followers lu turun gara-gara lu live bareng monster jelek?"
"Gak, Bang," Asep mendongak menatap langit, matanya di balik kostum tampak berkaca-kaca. "Tembus, Bang. Seratus ribu followers bulat! Pas monster tadi nongol di kamera live, viewers gua meledak nembus lima belas ribu orang!"
Seketika, tubuh plastik oranye Asep perlahan memancarkan cahaya putih keemasan menyilaukan namun hangat. Suara kipas wuuung di perutnya memudar. Aura dingin di sekitarnya menghangat lembut, berganti menjadi aroma melati menenangkan jiwa, bukan bau busuk dan karet terbakar seperti sebelumnya.
"Gua... gua dipanggil ke atas nih, Bang," kata Asep, suaranya terdengar jauh lebih jernih, bergema indah. Tidak lagi serak seperti speaker rusak. "Urusan gua di dunia fana udah selesai tuntas. Gua udah dapet centang biru. Gua bisa log out ke alam baka dengan tenang sekarang."
Tejo duduk, tersenyum tipis menatap temannya itu. Ada rasa lega luar biasa mengalir di dadanya, namun anehnya, terselip setitik rasa kehilangan. "Selamat jalan, Sep. Makasih banyak buat sinyal kencengnya. Lu influencer sejati menembus dua dunia."
Asep tersenyum lebar. Perlahan, tubuh besarnya mulai memudar, terurai menjadi partikel-partikel cahaya bercahaya keemasan melayang ke udara. Namun, tepat sebelum bagian kepala kostumnya menghilang sepenuhnya, ponsel di tangannya berbunyi ping berkali-kali dengan nada panjang. Asep melirik layarnya sebentar.
BZZZT!
Cahaya putih keemasan di tubuh Asep mendadak mati total layaknya saklar lampu dicabut kasar. Proses kenaikannya ke alam baka terhenti seketika dengan bunyi ngek komikal. Tubuhnya kembali solid. Kostum T-Rex-nya kembali berwarna oranye neon menyala, lengkap dengan suara kipas angin wuuuung berisik.
"Loh? Kok batal naik lu, Sep?" tanya Tejo kebingungan, mengerutkan kening.
Asep menatap Tejo dengan mata melotot lebar di balik plastiknya. "Bang... ada Direct Message masuk."
"Dari siapa? Malaikat pencatat amal?"
"Bukan, Bang! Dari brand kopi kekinian sama perusahaan skincare lokal! Mereka mau nawarin endorse eksklusif ke gua! Nilai kontraknya seratus juta per postingan video, Bang! Katanya kostum gua estetik buat jualan masker wajah!"
Tejo terdiam mematung. Matanya menatap Asep lekat-lekat. Ia menoleh lambat-lambat menatap sang Genderuwo yang masih duduk anteng asyik bermain Mobile Legends sambil sesekali mengumpat kesal karena gagal mencuri Lord di sudut teras. Sebuah ide brilian, sekaligus gila dan sangat kapitalis, meledak di dalam kepalanya. Otak bisnis kotornya berputar jauh lebih cepat dari prosesor komputer mutakhir mana pun.
"Sep," Tejo bangkit berdiri cepat, menepuk pundak plastik hantu dinosaurus itu pelan namun penuh keyakinan. "Lu tahu nggak apa yang jauh lebih bagus dari sekadar tenang beristirahat di alam baka?"
"Apa tuh, Bang?" sahut Asep mencondongkan kepalanya penasaran.
"Pasif income." Tejo menyeringai sangat lebar, menunjuk rumah tua kolonial di belakang mereka dengan gaya teatrikal. "Mulai besok pagi, kita ubah rumah angker ini jadi kantor resmi. Pak Broto udah ketakutan dan gak bakal peduli lagi sama tempat ini karena ngiranya ini pusat server hologram. Kita bikin agensi hiburan pertama di Indonesia. Ghost Management Agency. Gue yang bakal urus semua kontrak klien dan negosiasi brand luar. Lu yang jadi talent artis utamanya."
Mata Asep berbinar terang menyadari potensi materiil itu. "Wih, mantap tuh! Terus yang lain gimana, Bang?"
"Mpok Lela bisa kita rekrut jadi asisten sutradara bagian efek suara jumpscare alami. Tinggal kita beliin catokan rambut aja biar dia gak marah-marah terus," Tejo menunjuk Genderuwo yang sedang sibuk memencet layar kuat-kuat, "Dan si King Kong itu, bisa jadi satpam jaga pintu depan, merangkap atlet e-sport profesional divisi mistis kita. Kalau dia butuh digaji, kita beliin diamond aja."
Asep tertawa lepas, mengacungkan jempol pendeknya penuh semangat. "Setuju banget, Bang! Kita guncang algoritma dunia gaib sampai ke akar-akarnya!"
Malam itu, di tengah lereng gunung berselimut kabut tebal, sebuah tatanan hidup baru tercipta. Batas tebal antara dunia mistis kuno dan logika modern lebur hancur oleh kekuatan sinyal digital dan ambisi duniawi umat manusia. Kemenyan wangi digantikan oleh ring light terang, mantra sakral digantikan oleh caption media sosial yang mengundang klik.
Tejo tersenyum puas menatap langit malam. Menjadi dukun palsu ternyata tidak seburuk itu, batinnya riang. Terutama jika hantu maskot yang kau temui bersedia diajak bagi hasil adsense dan komisi endorsement tanpa perlu repot membayar pajak penghasilan manusia hidup.