"TIDAAKK..!"
Lexie terbangun dengan tangan menjulur ke atas seakan berusaha meraih sesuatu. Nafasnya terengah, tubuhnya basah oleh keringat dan wajahnya juga basah oleh air mata.
"Hosh.. Hosh.."
"Mimpi, ini hanya mimpi. Syukurlah" batinnya.
Wanita itu lalu memejamkan mata berusaha menetralkan nafas dan jantungnya yang berdebar kencang. Namun, pemandangan yang didapatnya saat membuka matanya kembali, membuatnya terpaku.
"Ini bukan kamarku, dimana aku?" ujarnya lirih saat mendapati kamar yang luasnya jauh lebih besar dari kamar miliknya.
Lalu kesadaran lain menghantamnya. Suara itu yang baru saja keluar dari mulutnya, jelas bukan suaranya. Lexie spontan memegang lehernya dan semakin dibuat terkejut saat mendapati sebuah kalung disana.
"Apa lagi ini?" Batinnya saat meneliti kalung yang jelas bukan miliknya.
Dengan kepanikan yang tiba-tiba melanda, Lexie turun dari ranjang menuju meja rias dan menatap bayangannya sendiri di cermin.
"Siapa ini? Ini bukan aku. Apa yang terjadi?!" pekiknya nyaris histeris saat mendapati sosok yang dilihatnya di cermin adalah seorang wanita asing.
Tok... Tok... Tok..
"Hera! Jika kau sudah bangun, segera turun dan sarapan!" suara seorang wanita yang juga jelas bukan milik neneknya, terdengar dari balik pintu.
Lexie mengernyit pada panggilan wanita itu padanya. Selain itu wanita asing itu juga berbicara dengannya dalam bahasa asing yang tak pernah didengarnya tapi anehnya dia bisa mengerti apa yang dikatakannya.
"Hera? Siapa?"
Tak kehabisan akal, Lexie mencoba berkeliling ruangan dan mencari tahu siapa wanita yang dilihatnya dari pantulan kaca barusan.
Saat sedang mencari, matanya terpaku pada sebuah surat kabar. Tubuhnya seketika membeku ketika melihat tanggal, bulan dan tahun yang tertera di surat kabar itu.
Het Vaderland
Den Haag, 2 Maret 1945
"Den Haag? Aku di Belanda?"
"Apa-apaan ini?!"
Lexie mulai meracau saking terkejutnya dengan fakta yang ada digenggaman tangannya sekarang. Dia yang yakin telah tewas bersama sang nenek dalam serangan di London, tiba-tiba terbangun 5 tahun kemudian di tubuh wanita lain dan di kota yang ratusan kilometer jauhnya dari tempat kelahirannya.
"HERA! Cepat turun dan makan sarapanmu!" suara wanita yang tadi mengetuk pintunya dan memintanya turun, kembali terdengar lebih keras kali ini.
Lexie dengan linglung meletakkan surat kabar yang digenggamnya ke tempat semula lalu beranjak keluar dari kamar itu. Dia menuruni tangga dengan pikiran gamang dan saat sampai di lantai satu, dia tertegun karena rumah itu ternyata cukup mewah untuk standar tahun ini.
Kakinya tanpa sadar membawa langkahnya menuju area dapur dan mendapati seorang wanita cantik dengan rambut pirang yang digelung dan seorang pria paruh baya berwajah tegas disana.
Lexie memperhatikan wanita cantik itu cukup lama dan menyadari bahwa wanita itu mirip sekali dengan wajahnya sekarang, "Dia pasti ibu wanita ini."
"Sedang apa kau disana, Hera? Duduklah," pria yang tadinya nampak tak begitu memperhatikan dibalik surat kabar yang dibacanya, tiba-tiba berkata mengejutkannya.
"Ah, ya," ujar Lexie dengan ragu.
Dia lalu menarik kursi dan duduk di sana dengan punggung tegak. Ibu dari wanita yang tubuhnya ditempati jiwanya sekarang, tersenyum padanya dan mengangsurkan piring berisi hidangan yang dimasaknya.
"Makanlah yang banyak, kau terlalu kurus," tukas wanita itu.
"Baik, Moeder," sahut Lexie.
Wanita cantik itu terkekeh, "Akhirnya kau mau memanggil Moeder lagi."
Lexie tertegun, dia sama sekali tak memiliki ingatan tentang hidup wanita yang bernama Hera ini. Dirinya akhirnya memutuskan tak menjawab dan menghabiskan makanannya dengan cepat lalu membawa bekas makannya untuk di cuci.
"Aku sudah selesai, terimakasih makanannya." Tukas Lexie sambil mengulas senyumnya sebelum melangkah pergi kembali menuju tangga ke kamarnya di lantai atas.
"Huft," Lexie menghela nafas lega begitu telah masuk ke kamarnya.
Lexie kembali menatap ke sekeliling kamar luas itu, "Baiklah Hera, siapa dirimu sebenarnya?"
Dia mulai mencari-cari di sekeliling kamar itu mencoba menemukan barang pribadi Hera seperti diary atau semacamnya agar Lexie bisa mengenal siapa pemilik tubuh ini.
DUK ..
Sebuah buku terjatuh ketika Lexie mencoba mengangkat sebuah kotak. Dia mengambil buku itu dan mulai memeriksa isinya sambil duduk di pinggir ranjang.
Lexie memeriksa lembar demi lembar isi buku yang merupakan diary Hera. Tulisan gadis itu rapi dan dia menuliskan hampir detail apa yang terjadi padanya tiap hari.
Saat akhirnya Lexie selesai membaca semua isi buku itu, dia menghela nafas kasar, "Rupanya pemilik tubuh ini sempat bertengkar hebat dengan ibunya beberapa minggu yang lalu."
Di dalam buku harian itu, wanita yang menjadi pemilik tubuh ini menuliskan bahwa dia bertengkar hebat dengan sang ibu saat dirinya memutuskan untuk menjadi relawan di salah satu rumah sakit.
Ibu Hera menentangnya habis-habisan, karena selain keadaan sedang kacau akibat perang, wabah penyakit misterius sedang ramai diperbincangkan dimana pun.
Sang ibu tak ingin putri tunggal kesayangannya menjadi korban lain dari semua itu, tapi Hera bersikeras hingga mereka terlibat cekcok yang berakhir perang dingin dan Hera yang tak mau lagi memanggil ibunya.
"Ugh.."
Lexie mencengkeram kepalanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Tubuhnya perlahan limbung seiring pandangannya yang mulai mengabur hingga akhirnya tubuhnya jatuh ke atas ranjang.
Budapest - Hongaria
Sebuah mobil mewah bergerak masuk dengan kecepatan sedang ke area sebuah mansion megah. Seorang pria dengan setelan kepala pelayan bergegas melangkah menyambut sang tuan yang keluar dari dalam mobil.
"Tuan muda," sapa kepala pelayan itu.
"Apa tamuku sudah tiba?" tanya seorang pria muda pemilik mansion itu.
"Mereka baru saja sampai, tuan muda," tukas sang kepala pelayan.
"Baiklah, katakan pada mereka untuk menungguku sebentar lagi. Aku ke kamarku dulu," sahut sang tuan.
Pria muda itu meneruskan langkahnya menuju lantai atas mansion tempat kamar pribadinya berada. Dia melepaskan setelan yang digunakannya sembari melangkah masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, pria muda itu keluar dari kamar menuju ke sebuah ruangan besar di lantai bawah yang difungsikan untuk mengadakan pertemuan tertentu.
"Ah, tuan Constantine," salah seorang diantara kelima tamunya menyambut pria muda itu.
Gavin Constantine, pria muda itu. Pria yang dikenal sebagai salah seorang bangsawan Austria dan sedang berada di Budapest saat beberapa pengusaha yang dikenalnya meminta pertemuan dengannya.
Gavin sangat tahu apa yang diinginkan mereka. Kelima orang itu menginginkan uangnya untuk diinvestasikan dalam usaha mereka yang hampir bangkrut akibat kekacauan ekonomi dalam situasi World War II.
Pria muda itu menjabat tangan mereka satu persatu sebelum mengajak mereka untuk kembali duduk. Dengan menyilangkan kaki dan menempatkan tangan yang menangkup di atas lututnya, Gavin menatap kelima orang itu satu persatu.
"Apa yang ingin anda semua tawarkan padaku, tuan-tuan?
Dengan perkataan singkat itu, kelima orang itu langsung berebut menjelaskan proposal bisnis mereka pada Gavin yang tak sedikit pun merubah raut datarnya.
Hingga hampir tiga jam berlalu, dia mendengarkan mereka semua terus berbicara tentang kelebihan bisnis dan rencana mereka, Gavin mulai merasa bosan.
"Saya rasa yang saya dengar sudah cukup. Beri saya waktu untuk berpikir dan pelayan saya akan menghubungi anda semua setelah saya memutuskan," Gavin berkata tegas.
Mendengar itu, ekspresi cerah terbit di wajah kelima orang itu. Mereka sekarang beralih memuji-muji Gavin yang lagi-lagi hanya ditanggapi datar olehnya.
Saat akhirnya kelima tamunya sudah meninggalkan mansion itu, Gavin menggoyangkan lonceng untuk memanggil kepala pelayannya.
"Anda memanggil saya, tuan muda?" ujar sang kepala pelayan.
"Ya, Charles. Siapkan berita kematianku 3 hari lagi, aku akan pindah ke Den Haag. Sudah saatnya membuang peran bangsawan Austria. Kurasa seorang dokter di masa perang jauh lebih tidak terdeteksi, bukan?"
"Pastikan kau menghilangkan semua jejak tentangku disini seperti biasanya."
Dua minggu kemudian - Den Haag, Belanda
Lexie terbangun di tengah malam ketika mimpi tentang kilas balik kehidupan Hera, sang pemilik tubuh, kembali menyambanginya.
Sejak jiwanya masuk ke dalam tubuh Hera Visser, secara perlahan memori tentang kehidupan wanita muda itu mulai didapatkannya entah lewat mimpi atau semacam penglihatan yang diawali dengan nyeri menyakitkan di kepalanya seakan otaknya dipaksa untuk mengingat.
Sedikit demi sedikit, berbekal memori yang kembali didapatkannya itu, Lexie mulai beradaptasi dan berusaha menjadikan dirinya "Hera" yang dikenal banyak orang demi menghindari kecurigaan mereka.
"Lama-lama aku bisa gila jika tiap malam terbangun oleh memorimu, Hera," keluh Lexie.
Lexie kembali memejamkan mata mencoba melanjutkan tidurnya yang terganggu. Dia membutuhkan banyak istirahat karena pekerjaannya sebagai relawan di rumah sakit sungguh tak memberinya banyak waktu luang.
Esok paginya, Lexie yang baru menyelesaikan mandinya dan hendak mengenakan pakaian seragamnya untuk pergi bekerja, dikejutkan dengan keberadaan sebuah tatto di punggungnya.
Tatto itu berwarna samar bahkan nyaris tak terlihat dan memiliki ukuran cukup besar hingga hampir mencapai pangkal lehernya.
"Sepertinya kemarin tatto ini tidak ada," gumam Lexie heran.
Dia terpaku beberapa saat di depan cermin sebelum memutuskan tak ada gunanya berpikir, toh semua kejadian yang dialaminya memang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat.
"Vader, Moeder. Aku pergi dulu." Lexie berpamitan pada kedua orangtua Hera sembari membuka pintu depan dan keluar dari rumah itu.
Jarak dari rumahnya ke rumah sakit dapat ditempuh dengan 15 menit berjalan kaki. Cukup dekat jika Lexie ingin pulang untuk sekedar beristirahat yang tak pernah dilakukannya.
"Selamat pagi," Lexie menyapa riang rekan-rekan sesama perawatnya yang sudah tiba lebih dulu.
"Selamat pagi, Hera. Sepertinya hari ini suasana hatimu sedang bagus," celetuk salah seorang diantara mereka.
Lexie tertawa kecil, "Ah, mungkin karena akhirnya besok aku bisa mengambil libur satu hari."
"Wah, menyenangkan sekali. Apa yang akan kau lakukan di waktu liburmu?" tanya rekannya ingin tahu.
"Tidur," jawaban singkat Lexie membuat semua rekannya disana tertawa keras.
"Eh, lihat! Bukankah itu dokter Constantine?" seorang perawat lain berkata dengan sedikit heboh sambil menunjuk seorang pria muda berjas dokter yang baru masuk ke area itu.
"Benar, dia tampan sekali," timpal yang lain.
Lexie hanya memutar bola matanya dan tak berniat bergabung dengan mereka yang langsung asyik membicarakan tentang dokter baru itu.
"Aku berkeliling dulu," pamit Lexie pada rekan-rekannya yang mengangguk.
Dia melangkahkan kakinya berkeliling ke tiap-tiap bangsal untuk memeriksa pasien-pasiennya. Sesekali dia akrab bercengkerama dengan beberapa pasien yang cukup dikenalnya.
Kegiatan itu lah yang rutin dilakukannya setiap hari saat bekerja, hingga tak terasa waktu telah berlalu nyaris satu tahun lamanya sejak Lexie terbangun di tubuh Hera Visser.
"Tattonya semakin terlihat jelas,"
Lexie berkata dengan dahi mengerut dalam ketika menyadari tatto yang berada di punggungnya sekarang semakin jelas terlihat dibanding saat awal dia menyadarinya.
Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya berpikir bahwa ini sungguh aneh dan entah bagaimana dia memiliki firasat buruk untuk itu.
Lexie menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan sebelum bergumam, "Tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Kau sudah pernah mati satu kali Lexie, tak ada lagi yang harus kau takutkan."
CKIIIT ...
BRAKK ...
Gavin menatap datar pemandangan yang sebenarnya cukup mengerikan itu ketika tubuh seorang wanita muda dengan pakaian perawat rumah sakit tempatnya bekerja sekarang, tertabrak truk dan terpental jauh.
Hanya dengan melihat sekilas kondisi wanita itu dari jauh, dia bisa memperkirakan bahwa wanita itu tewas seketika. Ekspresi pria itu bahkan tak berubah sedikit pun dan dia justru terus melanjutkan langkahnya tanpa niat menghampiri tubuh wanita itu.
Jika dia mau sebenarnya jaraknya cukup dekat untuk mencegah kecelakaan itu terjadi. Gavin bisa saja berlari dan menarik wanita muda itu untuk menghindar dari truk yang melaju kencang, tapi tak dilakukannya.
Benak Gavin selalu memutar kalimat dari sang kakek yang tak pernah dilupakannya.
"Jika ada yang bisa kau pelajari dari ribuan tahun hidupmu, maka itu hanya satu hal,"
"Terkadang, kematian tak boleh dicegah."