Kirchhellen - Germany
"Haaah..!"
Lexie membuka matanya dengan nafas terengah dan tubuh yang masih bisa merasakan nyeri dari kejadian terakhir yang diingatnya sebelum kegelapan merenggutnya. Truk yang melaju kencang di jalan raya Den Haag dekat rumah sakit tempatnya bekerja, menabraknya begitu kuat hingga tubuhnya terbanting keras menghantam aspal.
Dirinya sontak memegang tubuhnya, rasa sakit luar biasa itu masih bisa sedikit dirasakannya. Lexie memang masih sempat merasakan kesakitan sebelum menjemput ajalnya.
Setelah menenangkan dirinya, Lexie baru berani menatap ke sekelilingnya. Kali ini dia terbangun di sebuah ruang tengah yang cukup luas. Rupanya pemilik tubuh itu tadinya tertidur di sebuah sofa.
"Erika, jika kau sudah bangun, kemarilah dan bantu Papa sebentar," seorang pria paruh baya dengan mengenakan celemek memanggilnya dari arah dapur.
Lexie hanya mengangguk saat lagi-lagi dia mendapati pria itu bicara bahasa asing yang entah bagaimana dapat dimengerti olehnya seperti saat dia terbangun di tubuh Hera.
"Dimana lagi aku kali ini?" batinnya.
Memutuskan akan mencari tahu nanti, Lexie menghampiri pria yang sepertinya adalah ayah dari pemilik tubuh itu. Pria itu memintanya membantu membuat makan malam untuk mereka.
"Biar Papa yang selesaikan. Kembalilah ke kamarmu dan tidur, besok kau harus berangkat lebih pagi bersama Papa ke sekolah," ujar pria itu usai mereka menyelesaikan makan malam.
"Baik, Papa." Sahut Lexie yang kemudian melangkah menuju lantai dua rumah itu dan mendapati sebuah pintu dengan cat merah muda dan nama Erika tertempel disana.
Ceklek...
Lexie memasuki kamar itu dan mendapati ukurannya nyaris seluas kamar lamanya di London. Dia lalu mengelilingi kamar itu sama seperti yang dilakukannya saat menjadi Hera.
Lalu dia menemukan sebuah kalender yang membuatnya tahu bahwa dia kembali melompati waktu 5 tahun mendatang dan berada di tahun 1950 sekarang. Lexie kembali mengalami reinkarnasi dengan rentang waktu 5 tahun sejak terakhir kali dia kehilangan nyawanya.
Pemilik asli tubuhnya sekarang, Erika, sepertinya senang mengumpulkan berbagai kliping koran sehingga Lexie tahu bahwa dia berada di Jerman kali ini.
"Dari London, Belanda, sekarang Jerman. Apa sebenarnya yang terjadi padaku?!" Lexie berujar frustasi.
Dalam kebingungan dan rasa frustasi itu, Lexie mencoba menenangkan dirinya lalu seperti kata ayah Erika, tidur. Dia membaringkan tubuhnya ke ranjang, menutup mata dan terlelap tak lama kemudian.
Keesokan paginya, Lexie terbangun dengan kepala pening. Dia sudah mendapatkan semua memori Erika. Seperti sebelumnya, semua kilas memori itu datang dalam bentuk mimpi.
Dengan ekspresi suram, Lexie beranjak bangun dan duduk bersandar ke kepala ranjang, "Kali ini seorang siswi senior tingkat akhir. Baiklah, semangatlah Lexie, setidaknya kau masih hidup."
Setelah menetapkan tekadnya, Lexie beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap berangkat ke sekolah bersama ayah Erika.
"Hey, jelek!" Seorang laki-laki memanggilnya yang menyusuri lorong sekolah itu.
Lexie tak mengenal lelaki itu, tapi tubuh Erika sepertinya mengenalnya. Dia merasakan perasaan takut dan gugup yang jelas bukan miliknya, seakan seluruh tubuh Erika memintanya untuk menghindari interaksi.
"Aku memanggilmu dan kau diam saja! Sudah sombong sekarang, hm?!" Laki-laki itu membentak sembari menarik kerah belakang bajunya.
Lexie melirik dan mendapati sekitar 5 orang lelaki lain berada di belakang mereka menatap dengan pandangan mengejek.
BRUK..
Tubuh Lexie di dorong keras hingga jatuh tersungkur ke lantai, "Dasar jelek!"
Keenam orang itu tertawa mengejek lalu pergi begitu saja meninggalkan Lexie yang masih bertahan di lantai. Setelah mereka tak terlihat lagi, barulah Lexie bangkit dan melanjutkan langkah ke kelasnya.
"Erika benar-benar korban perundungan," batin Lexie.
"Semoga ini tak terlalu sering," gumamnya tak yakin.
Namun, harapan tinggal harapan. Bahkan sampai menjelang kelulusannya dari sekolah itu beberapa bulan kemudian, Lexie terus mendapatkan perundungan secara rutin nyaris tiap hari.
"Ahk!"
Lexie mengaduh saat rambut panjangnya ditarik kasar. Tak hanya itu, lelaki yang menarik rambutnya itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mulai menggores kulit lehernya.
"Aaargh!"
"Hentikan!"
Lexie berusaha memberontak tapi tubuhnya lalu ditahan oleh dua orang laki-laki lainnya, hingga dia tak berdaya. Lalu yang terburuk terjadi. Di tempat itu, sebuah gudang di bagian belakang sekolah, Lexie yang ada dalam tubuh Erika mendapat pelecehan dari enam orang itu.
Mereka semua bergilir melakukannya bahkan salah seorang diantaranya sampai melakukannya dua kali. Lexie yang tak berdaya hanya bisa menangis saat deraan rasa sakit bukan hanya dari pelecehan itu tapi juga dari penyiksaan fisik yang diterimanya. Dia menatap kosong ke arah enam orang yang berdiskusi akan melakukan apa padanya sekarang.
"Bunuh saja," salah seorang dari mereka mengusulkan.
"Bagaimana?" tanya yang lain.
"Begini." Ujar orang itu lagi meraih sebuah tongkat besi yang tak jauh dari sana.
BUGH.... BUGH... BUGH...
CRASSSS...
Darah menyiprat kemana-mana, sementara Lexie yang meregang nyawanya dari serangan brutal lelaki itu, perlahan-lahan kehilangan cahaya kehidupan di matanya.
Provo, Salt Lake City - Amerika,
Lexie mulai terbiasa dengan ini. Repetisi reinkarnasi jiwanya ke tubuh orang lain yang berulang setelah rasa sakit luar biasa dari kematian terakhirnya.
Dia kembali terbangun kali ini di tubuh seorang gadis yang nampaknya merupakan mahasiswi dengan adanya buku-buku di meja belajarnya. Lexie sudah mulai kehilangan hitungannya, entah ini hidup keberapa enam atau tujuh, dia tak tahu lagi.
"Susan Curtis, Brigham Young University," gumam Lexie saat mendapati tanda pengenal mahasiswi milik wanita yang sekarang tubuhnya di ambil alih olehnya.
"Sepertinya ini kamar apartment." Lanjutnya lagi sambil terus menjelajahi isi kamar itu, sesuatu yang telah menjadi kebiasaannya tiap kali terbangun di tubuh baru.
"Woah," mata Lexie membelalak lebar saat mendapati sebuah papan tulis yang berisi potongan-potongan berita dari koran.
"1975, aku terbangun di Amerika sekarang tepat saat ada pembunuh berantai berkeliaran, bagus sekali," gerutu Lexie setelah meneliti semua potongan berita itu.
Semua berita yang dikumpulkan Susan, menunjukkan satu hal. Seorang pembunuh berantai yang sudah membunuh banyak sekali wanita muda sejak tahun 1974 dan semua itu digambarkan sebagai serangan brutal.
"Gila! Haruskah aku mengunci diri di kamar ini selamanya agar tak kembali mati?!" Lexie nyaris histeris dengan keputusasaannya.
Bayangkan, kau terus mati dengan menyakitkan dan hidup lagi hanya untuk beberapa bulan sebelum kembali mati mengenaskan. Hidup macam apa itu memangnya. Lexie beruntung masih cukup waras untuk terus berusaha beradaptasi dengan semua keadaan aneh itu.
"Nah, Susan. Kurasa aku akan tidur sekarang. Berikan aku memory indahmu, ya." Lexie bermonolog sembari kembali ke ranjang dan berbaring.
Tiga bulan berlalu, tanpa terasa hidup Lexie di tubuh Susan Curtis ternyata tak seburuk beberapa hidupnya belakangan. Wanita muda ini merupakan mahasiswi periang dengan banyak teman dan dia juga cukup cerdas.
Lexie mulai merasakan nyaman hidup sebagai Susan sekarang. Dia banyak berjalan-jalan bersama teman-temannya, menikmati hidupnya, dengan pemikiran bahwa besok bisa saja dia mati seperti biasa.
"Susan, lihat pria itu, tampan sekali." Viona, sahabat dari Susan menunjuk ke arah seorang pria yang baru saja masuk ke dalam bar.
Pria muda itu memang sangat tampan tapi entah bagaimana Lexie merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Dia memperhatikan pria itu lekat sampai mata mereka akhirnya bertemu dan membuatnya langsung berpaling karena malu terpergok sedang memperhatikan pria itu diam-diam.
"Sepertinya kau tertarik padanya," celetuk Viona.
"Bukan seperti itu, aku hanya merasa tak asing seperti pernah melihatnya entah dimana," tukas Lexie.
"Kau pasti berkhayal, Susan. Ini pertama kalinya kita melihat pria setampan itu," goda Viona.
Lexie hanya memutar bola matanya lalu mengedikkan bahu acuh merasa percuma menjelaskan pada Viona soal itu. Mereka lalu turun ke lantai dansa dan mulai berbaur disana.
Saat sedang asyik berdansa, Lexie tak menyadari bahwa pria muda yang menjadi bahan pembicaraannya tadi, ganti menatapnya lekat.
"Wanita itu, rasanya berbeda apa dia immortal sepertiku?" batin pria itu.
"Gavin!" seorang pria lain menepuk bahunya.
"Apa?" tanyanya acuh.
"Ayo turun dan berdansa, kau tak mungkin kemari hanya untuk duduk dan minum bukan?" ujar temannya itu.
"Aku tak berminat, kau saja," tukas Gavin.
Ya, pria muda itu Gavin Constantine. Masih dengan penampilan lamanya sebagai bangsawan Austria dan sebagai dokter di Den Haag. Kali ini dia adalah mahasiswa tingkat akhir di kampus yang sama dengan Susan Curtis alias Lexie mengenyam pendidikannya.
"Kau benar-benar tidak seru," gerutu temannya yang lalu meninggalkannya sendiri disana.
Gavin hanya menatap acuh sembari menyesap minumannya. Mata tajamnya tak lepas dari tiap gerak gerik wanita muda yang menarik perhatiannya itu.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama di kota ini, mungkin saatnya pergi lagi," batinnya.
Dengan pemikiran itu, Gavin membayar minumannya lalu beranjak pergi dari bar tanpa menoleh.
Lexie baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya di perpustakaan ketika menyadari hari sudah sangat gelap ketika dia akhirnya keluar dari sana dan berjalan kaki menuju apartemennya yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kampus.
Firasat aneh menyergapnya tiba-tiba. Dia tahu perasaan apa ini, "Sial! Apa sekarang waktunya aku mati lagi? Aku lupa tak memperhatikan tatto sialan itu pagi tadi."
Lexie sudah mulai memahami bahwa saat tatto aneh di punggungnya itu berubah dari samar menjadi memiliki garis tegas yang jelas, saat itulah dia akan mati, lagi.
Wanita muda itu dengan cepat bergegas mempercepat langkahnya, dia bahkan sudah setengah berlari sekarang.
Drap.. Drap.. Drap...
Pendengarannya menangkap suara langkah kaki seseorang tak jauh di belakangnya. Lexie sudah berlari sekarang, sekuat tenaganya dengan membuang seluruh barang bawaannya.
BRAK...
"Ummmph!"
Hanya tinggal beberapa meter lagi dia mencapai apartemennya, orang yang mengikutinya itu berhasil menyergapnya, membekap mulutnya lalu menyeret tubuhnya menuju sebuah gang sempit dan gelap.
"Uump!"
BAK.. BAK.. BAK..
Lexie berusaha memberontak melepaskan diri tapi orang itu tak bergeming. Lalu, dia merasakan orang itu menekannya ke tembok sambil meraih sesuatu di saku bajunya.
Orang itu yang adalah seorang pria, mengeluarkan sebuah benda yang nampak seperti stocking karet panjang. Tanpa ragu pria itu menjerat leher Lexie hingga membuatnya bergerak memberontak semakin keras.
Seiring nafasnya yang mulai terputus, gerakan perlawanannya melemah. Pria itu menyeringai senang melihat korbannya melemas. Lalu tanpa merasa iba, pria itu mengambil sebuah linggis yang sepertinya sudah disiapkannya disana dan mulai memukulkannya ke tubuh Susan tanpa ampun.
BUGH... BUGH... CRASSSS...
"Jadi ini lah wajah pembunuh berantai itu, tampan juga. Andai aku bisa memberitahu polisi."
Lagi, untuk kesekian kalinya Lexie menyaksikan sendiri akhir kehidupannya sebagai Susan Curtis.