Ribuan Musim Bersamamu Terjebak Di Tengah Kekacauan
4/15
Bab 4

Terjebak Di Tengah Kekacauan

50 tahun kemudian, Januari 2025 - New York, Amerika

Lexie sudah dua minggu berada di kota itu sejak terbangun lagi, kali ini jiwanya bereinkarnasi di tubuh seorang wanita cantik dengan rambut pirang dan mata abu yang indah.

Wanita muda ini juga memiliki nama depan yang sama dengannya, Alexandria Greco. Lexie di kehidupannya kali ini adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan raksasa, Constantine Corp.

Sebuah nama yang tak asing baginya, namun lagi-lagi Lexie tak bisa mengingatnya. Lagipula dia sudah melalui entah belasan atau puluhan kehidupan berbeda sampai di titik ini. Apalah arti sebuah nama baginya sekarang.

"Miss Greco, CEO memanggil Anda," seorang pria yang dikenalnya sebagai asisten sekaligus Sekretaris CEO perusahaan itu menghubunginya dan memintanya datang.

"Baiklah, saya akan kesana sebentar lagi," tukas Lexie.

Begitu panggilan diakhiri, Lexie beranjak bangkit dari duduknya dan mulai melangkah keluar ruangan itu menuju lift yang membawanya ke lantai khusus sang CEO.

Tok.. tok.. tok..

Lexie mengetuk pintu besar ruangan milik sang CEO dan menunggu sampai pintu itu terbuka dengan sendirinya sebelum mendorongnya sedikit lebih lebar agar dia bisa masuk.

"Selamat siang, Mr. Constantine. Anda memanggil saya?" Tanya Lexie sembari menunduk sopan.

Dia sedikit mengernyit saat merasakan tatapan tajam pria muda itu padanya. Benaknya bertanya-tanya apa dia melakukan kesalahan sampai sang CEO yang dikenal tegas, memanggilnya.

"Siapa namamu?" suara berat nan tajam Gavin menembus telinga Lexie.

"Saya Alexandria Greco." Ujar Lexie masih dengan wajah tertunduk.

"Angkat wajahmu," titah Gavin.

Lexie menelan ludahnya kasar, lalu menaikkan wajah dan menatap sang CEO tepat di matanya. Wanita cantik itu sedikit mengernyit saat mendapati sekilas perubahan ekspresi di wajah datar Gavin, seakan pria itu terkejut melihatnya.

"Apa ada yang salah di wajahku?" batin Lexie.

"Kau bukan Alexandria Greco. Siapa kau sebenarnya?" Gavin berujar tajam.

Lexie terang-terangan menaikkan sebelah alisnya heran sekarang. Dia sungguh tak mengerti apa yang coba dikatakan pria muda itu.

"Apa maksud anda, Mr. Constantine? Saya sungguh tidak mengerti," ujar Lexie.

"Biar aku ubah pertanyaanku, siapa jiwa yang menguasai tubuh Alexandria Greco sekarang?" Gavin berujar masih dengan nada tajamnya.

Lexie mengerjapkan kedua matanya, "Apa anda sedang mencoba mengerjai saya?"

Sesungguhnya Lexie bisa mengerti arah pembicaraan Gavin. Tapi yang dia tak mengerti adalah dari mana pria itu tahu tentangnya dan jika dia memang tahu, Lexie perlu melihat Gavin adalah lawan atau kawan untuknya.

Dia sudah hidup dengan berbagai pengalaman hingga membuatnya begitu waspada pada siapa pun. Lexie juga sudah begitu terbiasa untuk tak bergantung pada orang lain, mengingat dia pasti akan mati lagi dalam jangka waktu 1 tahun paling lama.

Jadi kalimat Gavin bukannya membangkitkan rasa penasarannya, tetapi justru ketakutan dan kewaspadaannya lah yang mengambil alih.

"Ah, kau memang bukan wanita bodoh," gumam Gavin yang masih bisa didengar Lexie.

Wanita cantik itu sedikit meremas ujung pakaiannya saat mendengar gumaman CEO muda itu. Ingin rasanya dia meneriaki pria itu, tapi mengingat reputasi Gavin sebagai pebisnis yang cukup berkuasa di Amerika, Lexie mengurungkan niatnya.

"Jangan memecahkan rekor kematianmu kali ini menjadi yang terpendek, Lexie. Pria itu berbahaya," dia bermonolog dalam hati.

Gavin menatap lekat Lexie yang sekarang kembali menunduk, "Baiklah, kau boleh pergi."

"Ah,"

"Saya permisi Mr. Constantine."

Lexie yang terkejut karena Gavin tiba-tiba memintanya pergi setelah mengajukan pertanyaan aneh, memilih untuk langsung menuruti perintah itu dibanding berlama-lama lagi.

BRUK..

Lexie melempar dirinya ke kursi begitu sampai di ruang kerjanya sendiri, "Sial! Pria itu sungguh menyeramkan."

Tok.. tok.. tok..

Lexie tersentak kaget saat mendengar suara ketukan di pintu. Dia menetralkan jantungnya yang berdebar kencang sebelum meminta siapa pun di balik pintu itu untuk masuk.

"Miss Greco, rapatnya sudah akan dimulai." Ternyata Asistennya lah yang mengetuk pintu dan mengingatkannya soal rapat penting mereka.

"Ah, baiklah aku akan segera menyusul," tukas Lexie.

Wanita cantik itu menarik nafas lega sebelum kembali berdiri dan keluar dari sana dengan sebuah buku catatan di tangannya.

"Lexie, kudengar CEO memanggilmu?" Vivi, eksekutif lain yang adalah teman akrab Alexandria Greco berbisik padanya ketika Lexie duduk di kursi tepat di samping wanita itu.

"Ya," sahut Lexie.

"Untuk apa?" tanya Vivi penasaran karena sang CEO memang jarang sekali memanggil karyawannya ke ruangannya.

"Hanya membicarakan beberapa pekerjaan, ada laporanku yang tak dia pahami," ujar Lexie beralasan.

"Oh, kukira tadinya CEO kita akhirnya tertarik pada dewi Constantine Corp." goda Vivi.

Segera setelah Lexie mulai beradaptasi dengan tubuh barunya, dia langsung tahu bahwa di perusahaan ini, Alexandria Greco mendapat julukan dari teman-temannya sebagai dewi dari Constantine Corp.

Julukan itu tidak mengherankan mengingat visual Alexandria yang memang di atas rata-rata. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang sempurna bak model papan atas, wajahnya cantik dengan rambut pirang membingkai dan mata keabuan yang memikat.

Sesuatu yang jelas bukan milik seorang Alexandria Higgins, si wanita muda korban perang dunia dua tahun 1940-an.

"Kau ini bicara apa, seperti CEO kita menyukai wanita saja. Aku yakin dia tidak normal" ketus Lexie.

Vivi terdiam hingga membuat Lexie menoleh padanya dan mendapati wanita itu menunduk dalam. Seketika Lexie merasakan firasat buruk, dia menoleh dan mendapati Gavin Constantine berdiri tegak disisinya. Pria itu jelas dapat mendengar komentar terakhirnya.

Gavin tersenyum miring padanya sebelum mendekatkan wajah ke telinga Lexie dan berbisik di sana, "Aku pastikan padamu bahwa aku masih sangat normal, Miss Greco."

Setelah mengatakan itu, Gavin beranjak menuju kursi besar di tengah ruangan meeting itu, mengabaikan tatapan terkejut semua karyawan disana yang melihat tingkahnya barusan.

"Ayo mulai rapatnya," ujarnya tenang tanpa terpengaruh.

Sepanjang rapat itu, Lexie yang sudah sangat tak tenang sejak mendapati Gavin berbisik di telinganya, tak bisa berkonsentrasi pada materi rapat itu. Pikirannya seakan memintanya untuk segera berlari menghindar dari predator yang sedang mengincarnya.

"Sungguh aku bisa gila jika begini terus."

Untungnya rapat hari itu berakhir tanpa insiden terutama dari Lexie yang sama sekali tak bisa memfokuskan dirinya untuk mengikuti jalannya rapat. Dia bergegas merapikan barang-barangnya dan beranjak keluar dari ruangan itu sebelum sebuah suara berat menghentikan langkahnya.

"Miss Greco, tolong tinggal sebentar. Saya masih perlu membahas sesuatu terkait laporan Anda," Gavin berujar tanpa mempedulikan karyawan lain yang masih ada di sana.

Lexie sontak menahan nafasnya lalu berbalik kembali untuk duduk dengan punggung tegak. Ketika ruangan itu kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Gavin mengatakan sesuatu yang membuatnya melebarkan kedua matanya tak percaya.

"Aku masih menginginkan jawaban dari pertanyaanku tadi, Miss Greco. Kuberi kau waktu satu minggu untuk memberiku jawaban atau kau kupecat."


Beberapa jam sebelum konfrontasi Gavin pada Lexie soal identitasnya, pria itu nampak memandang serius Charles, sang kepala pelayan yang selalu setia mengikutinya selama beberapa ratus tahun belakangan.

"Bagaimana? Aku yakin dia bukan orang biasa, sesuatu dalam dirinya menarikku, tapi dia juga tidak sama sepertiku," tukas Gavin.

"Saya masih mencoba mencari tahu jawabannya, tuan muda. Perkiraan awal saya mungkin ini ada hubungannya dengan kutukan Circe (dewi sihir dalam mitologi Yunani)," ujar Charles.

"Cih! Wanita tua itu lagi" ujar Gavin sinis.

"Baiklah, cari tahu lebih lanjut dan berikan padaku laporannya."


Lexie berjalan menyusuri sebuah jalanan yang sepi untuk menuju lokasi apartemennya berada. Malam itu dia merasa jalanan yang dilewatinya jauh lebih sepi dari biasanya.

DOR..

Sebuah suara tembakan membuat langkahnya sontak terhenti. Lexie menatap ke sekeliling dengan waspada, mencoba mencari tahu asal tembakan namun tak mendapatkan apa pun.

DOR.. DOR.. DOR..

Suara tembakan kembali terdengar berulang kali ini suaranya semakin dekat dari posisi Lexie berada. Dia lalu dengan panik mempercepat langkahnya.

"Sial! Tidak mungkin ini waktunya, kan? Tattonya bahkan masih pudar, apa aturannya berubah?" gumam Lexie sambil setengah berlari.

Wanita itu sedikit menghela nafas lega saat mendapati dia telah sampai belokan terakhir hanya beberapa puluh meter dari apartemennya.

"Sial!" Lexie mengumpat ketika mendapati beberapa pria menghalangi jalannya.

Dia berbalik dan berlari menuju salah satu gang sempit, mencoba menghindari mereka yang dia tahu telah mengejarnya. Lexie mengenali salah satu dari mereka, tatto di tangan orang-orang itu adalah lambang salah satu kelompok mafia yang dia tahu sangat berbahaya.

Mereka bertanggungjawab atas beberapa pembunuhan dan arus obat terlarang di kota itu. Polisi dan pemerintah bahkan dibuat tak berkutik oleh mereka. Selain itu beberapa pembunuhan misterius yang meningkat tajam di kota itu, juga dikaitkan dengan mereka.

"Kurasa sekarang aku tak boleh lagi mengandalkan tattoku," batin Lexie suram.

DRAP.. DRAP.. DRAP..

Suara langkah para pengejarnya semakin mendekat saat Lexie telah keluar dari gang sempit itu. Wanita cantik itu semakin mengencangkan larinya tanpa menoleh ke belakang.

"Brengsek!"

Lexie mendapati seorang pria berdiri tegak tak jauh di depannya dengan senjata teracung ke arahnya. Dia sontak menghentikan larinya.

Nafasnya terengah dengan mata memicing mencoba mengenali pria itu tapi suasana yang gelap nyaris tanpa penerangan di posisi pria itu, menyulitkannya.

Sementara para pengejarnya sudah semakin mendekat, Lexie sekarang hanya bisa membeku pasrah. Dia jelas tak bisa maju tapi juga tak bisa mundur.

KLIK..

Suara pengaman pistol yang ditarik membuat Lexie sontak memejamkan matanya, bersiap pada rasa sakit yang mungkin akan kembali di rasakannya dalam pembukaan kematiannya kali ini.

DOR.. DOR... DOR.. DOR...

Tembakan beruntun dilepaskan orang itu tanpa ragu. Lexie refleks menutup kedua telinga dengan tangannya. Namun, saat mendapati tak ada satu pun peluru yang menyasar tubuhnya, Lexie membuka matanya dan berbalik ke arah belakang untuk mendapati semua pengejarnya sudah roboh dengan luka tembak fatal.

Tap.. tap.. tap..

Suara langkah kaki yang tegas dibelakangnya dari orang yang melepaskan tembakan beruntun itu, membuat Lexie menelan ludahnya kasar. Dia menoleh perlahan dan sontak membelalakkan mata saat akhirnya mengenali siapa orang itu.

"Mr. Constantine."