Duniaku kini menyusut.
Dulu, duniaku luas. Ada bioskop di pusat kota, ada kedai kopi di Jakarta Selatan, ada taman kota tempat orang-orang berolahraga di Minggu pagi, dan ada bandara—gerbang menuju petualangan. Tapi sekarang, peta kehidupanku hanya seluas unit apartemen studio tipe 36 ini. Bahkan lebih sempit lagi: duniaku hanya seluas meja kerja kayu mahoni berukuran satu kali dua meter di sudut ruangan.
Di bawah sorot lampu belajar yang memancarkan cahaya kuning hangat, aku menahan napas.
Tangan kananku memegang pinset besi runcing, sementara tangan kiriku menahan napas agar tidak bergetar. Di depanku tergeletak sebuah vas keramik Dinasti Qing—atau setidaknya, replika abad ke-19 yang sangat meyakinkan—yang pecah menjadi tujuh bagian besar dan puluhan serpihan debu.
Pekerjaanku sebagai seorang restorator barang antik adalah pekerjaan melawan takdir. Ketika gravitasi, waktu, atau kecerobohan manusia menghancurkan sebuah benda, tugasku adalah memutar balik waktu. Menolak kehancuran. Menjadikan yang pecah kembali utuh, seolah kecelakaan itu tidak pernah terjadi.
Aku mengoleskan setitik lem epoxy bening ke pinggiran pecahan keramik itu. Baunya tajam, menusuk hidung, bercampur dengan bau pelarut kimia yang menguap di udara.
Namun, di sela-sela bau kimia yang menyengat itu, hidungku masih bisa menangkap aroma lain. Aroma vanilla dan kopi.
Aku melirik sekilas ke belakang lewat pantulan kaca lemari hias di samping meja kerjaku.
Dia masih di sana.
Luna duduk di sofa, posisinya persis sama seperti tiga hari yang lalu, seminggu yang lalu, bahkan mungkin selamanya. Kakinya ditekuk, buku terbuka di halaman 42. Dia seperti perabot rumah tangga baru yang tidak bisa dipindahkan. Bedanya, perabot ini memiliki bentuk wanita yang paling kucintai di dunia.
"Menurut kamu lem ini bakal ninggalin bekas nggak, Lun?" tanyaku pelan, kembali fokus pada keramik di tangan.
Hening.
Tentu saja dia tidak menjawab. Hantu Luna bukan teman diskusi yang baik. Dia hanya ornamen. Tapi anehnya, keberadaannya yang bisu itu memberiku ketenangan. Selama dia ada di sudut mataku, aku merasa unit apartemen ini 'hidup'. Aku tidak sendirian.
TOK! TOK! TOK!
Gedoran keras di pintu depan memecah konsentrasiku.
Tanganku tersentak. Pinset meleset, menggores permukaan keramik.
"Sial!" umpatku. Goresan kecil tercipta di lapisan glasir vas itu. Pekerjaan tiga jam hancur dalam sedetik.
TOK! TOK! TOK!
"Arya! Buka! Gue tahu lo di dalem!"
Suara itu. Berat, lantang, dan tidak sabaran. Bagas.
Jantungku berdegup kencang. Bukan degupan antusias menyambut sahabat, melainkan degupan panik seorang kriminal yang polisi baru saja tiba di depan pintu persembunyiannya.
Aku menoleh panik ke arah sofa. Luna masih di sana. Tenang. Damai. Tidak terganggu oleh suara teriakan Bagas.
Masalahnya adalah: Bagas tidak bisa melihat Luna, tapi dia akan melihat ruang tempat Luna berada. Dia akan masuk ke sini. Dia akan menginvasi sanctuary—tempat suci—yang sudah kubangun susah payah ini.
"Ar! Gue dobrak ya kalau nggak dibuka! Satpam di bawah bilang lo nggak keluar unit seminggu!"
Ancaman Bagas tidak main-main. Pria itu punya otot lengan sebesar paha ayam kalkun dan otak yang kadang tidak memproses konsep privasi.
Aku meletakkan pinset, mengelap tangan yang berkeringat ke celana, lalu berjalan cepat menuju pintu. Kaki-kaki gemetar. Rasanya aneh bertemu manusia nyata lain setelah berhari-hari hanya berinteraksi dengan hantu bisu dan pecahan keramik.
Begitu kunci kuputar dan pintu terbuka, wajah Bagas yang berminyak dan merah padam langsung memenuhi pandanganku. Dia memakai helm ojek online di sikunya, membawa dua kantong plastik minimarket yang penuh sesak.
"Ya Tuhan, Arya..." Bagas mendengus, matanya memindai tubuhku dari atas ke bawah. "Lo bau kayak orang mati yang dicelupin ke tiner."
"Gue lagi kerja, Gas," jawabku defensif, berusaha menghalangi jalan masuk dengan tubuhku. "Lagi nge-lem keramik mahal. Nggak bisa diganggu."
Bagas tidak peduli. Dia mendorong bahuku pelan—tapi cukup kuat untuk menyingkirkanku dari ambang pintu—lalu melenggang masuk.
"Kerja sih kerja, tapi lo juga butuh makan. Gue telepon mati, WA centang satu. Gue pikir lo udah gantung diri di kamar mandi," cerocosnya sambil berjalan menuju dapur.
Langkah kakinya berat dan berisik. Sepatu boots-nya berdecit di lantai parket. Kehadirannya begitu... fisik. Terlalu nyata. Terlalu berisik untuk apartemenku yang sunyi.
Bagas meletakkan kantong belanjaan di meja dapur, lalu berbalik menatap ruang tengah.
Matanya tertuju pada sofa.
Tempat Luna duduk.
Darahku berhenti mengalir.
"Gila, apartemen lo sumpek banget," komentar Bagas. Dia mulai berjalan menuju ruang tengah. Menuju area duduk. "Lo nggak pernah buka jendela apa?"
Langkahnya semakin dekat ke sofa.
Di mataku, pemandangan itu mengerikan. Luna sedang duduk di sana, membaca dengan tenang. Dan Bagas—seperti raksasa buta—berjalan lurus ke arahnya. Jika Bagas terus berjalan, dia akan menabrak kaki Luna. Atau lebih buruk lagi, dia akan duduk menimpa Luna.
Bayangan Bagas menduduki hantu Luna membuat perutku mual. Itu terasa seperti penistaan. Seperti melihat seseorang menginjak foto ibumu dengan sepatu berlumpur.
"Gas, mau duduk di mana lo?" teriakku, suaraku melengking aneh.
Bagas menoleh, bingung. "Ya di sofa lah. Pegel kaki gue naik tangga darurat, lift lo mati."
Dia sudah berada dua langkah dari sofa. Dia memutar badannya, pantatnya sudah bersiap mendarat tepat di pangkuan hantu Luna.
"JANGAN!"
Aku melompat. Benar-benar melompat, menerjang ke depan seperti kiper yang berusaha menangkap bola penalti.
Bagas terlonjak kaget melihat reaksiku. Dia mundur selangkah, nyaris tersandung karpet. "Woy! Kenapa lo? Kesurupan?"
Napas ku memburu. Aku berdiri di antara Bagas dan sofa, merentangkan tangan seolah melindungi presiden dari tembakan sniper. Di belakangku, aku bisa merasakan hawa dingin menguar dari tubuh Luna. Punggungku terasa beku.
"Itu... uh..." Otakku berputar keras mencari alasan logis. Aku tidak bisa bilang: 'Jangan diduduki, mantan pacarku yang sudah jadi hantu sedang baca buku di situ.' Bagas akan langsung menelepon rumah sakit jiwa.
"Sofanya basah," kataku cepat. Terlalu cepat.
Bagas mengernyit, menatap sofa velvet biru itu. "Basah? Kering gitu kelihatannya."
"Bukan air, Gas. Itu... cairan kimia. Thinner. Tadi gue numpahin satu botol pas lagi bersihin kuas. Itu toxic banget. Kalau kena celana jeans lo, bisa luntur, terus kulit lo bisa melepuh. Serius."
Kebohongan itu meluncur begitu saja, detail teknis yang kurangkai sembarangan demi menyelamatkan ilusiku.
Bagas menatapku dengan mata menyipit. Tatapan menyelidik. Dia melihat ke sofa, lalu ke mataku yang mungkin terlihat liar dan paranoid.
"Thinner di sofa ruang tamu?" tanyanya skeptis. "Lo bersihin kuas di ruang tamu?"
"Gue... gue tadi jalan sambil ngelamun," elakku. "Udah, duduk di kursi makan aja. Keras dikit nggak apa-apa kan?"
Tanpa menunggu jawaban, aku menarik lengan Bagas, menyeretnya menjauh dari "zona bahaya".
Bagas menurut, meski wajahnya masih memancarkan kebingungan. Dia duduk di kursi kayu meja makan, membuka kaleng soda dengan bunyi klik-tsss yang nyaring.
Aku menghela napas lega, tapi tidak berani duduk. Aku tetap berdiri di posisi strategis yang menghalangi pandangan Bagas ke arah Luna secara langsung.
"Lo aneh banget, Ar," gumam Bagas setelah meneguk sodanya. Dia meletakkan kaleng dingin itu di meja, meninggalkan jejak embun melingkar. "Semenjak putus sama Luna, lo kayak orang... hilang."
Nama itu membuatku tersentak. Aku refleks melirik ke belakang.
Hantu Luna membalik halaman bukunya.
Krek.
Suara kertas bergesekan itu terdengar jelas di telingaku. Sangat jelas.
Bagas tiba-tiba berhenti minum. Dia menoleh ke arah ruang tengah, telinganya bergerak sedikit.
"Lo denger itu?" tanya Bagas.
Jantungku berhenti lagi. "Denger apa?"
"Suara kertas," kata Bagas pelan. Dia memanjangkan lehernya, menatap ke arah sofa kosong (bagi dia). "Kayak ada yang lagi buka buku."
Keringat dingin mengalir di punggungku. Apakah hantu ini semakin kuat? Apakah orang lain mulai bisa mendengarnya?
"Tikus kali," sergahku panik. "Banyak tikus di plafon belakangan ini."
"Suaranya dari arah sofa, Ar. Bukan plafon," bantah Bagas. Dia mengusap lengan atasnya. "Dan kenapa di sebelah sana dingin banget ya? AC lo mati, tapi hawanya kayak ada kulkas kebuka."
Aku harus menghentikan ini. Bagas terlalu peka. Logika dan instingnya sebagai manusia normal mulai mendeteksi anomali di ruangan ini. Jika dia terus di sini, dia akan menemukan sesuatu. Atau lebih buruk lagi, dia akan memaksaku menghadapi kenyataan yang sedang mati-matian kusembunyikan.
"Perasaan lo aja, Gas," potongku tegas. Aku mengambil satu lagi keramik pecah dari meja kerja, berpura-pura sibuk. "Lo ke sini mau ngapain sebenernya? Kalau cuma mau ngomongin suhu ruangan, mending lo pulang. Gue dikejar deadline klien."
Bagas terdiam. Dia menatapku lama. Bukan dengan kemarahan karena diusir, tapi dengan tatapan iba yang jauh lebih menyakitkan.
"Gue khawatir sama lo, Ar," katanya lembut, nada suaranya berubah serius. "Lo nggak bisa kayak gini terus. Mengurung diri di apartemen, ngobrol sama barang pecah belah. Luna udah di Jepang, Ar. Dia udah move on. Lo harusnya juga."
"Gue udah move on," dustaku sambil menatap lurus ke arah hantu Luna yang sedang tersenyum damai. "Gue cuma sibuk."
Bagas berdiri. Kursi kayu berdecit di lantai.
"Restorasi barang antik emang keahlian lo, Ar," kata Bagas sambil menyampirkan tasnya ke bahu. Dia berjalan mendekatiku, menepuk bahuku keras. "Tapi inget satu hal: Hati lo bukan vas keramik Dinasti Qing. Nggak semua yang pecah harus disambung lagi. Kadang, pecahan itu harus dibuang ke tempat sampah biar tangan lo nggak berdarah terus pas megangnya."
Kalimat itu menggantung di udara. Berat dan menohok.
Aku tahu dia benar. Logikaku tahu dia seratus persen benar. Tapi hatiku? Hatiku adalah pengkhianat yang lebih memilih tinggal di rumah hantu daripada keluar melihat matahari.
"Thanks, Gas. Hati-hati di jalan," jawabku datar. Mengusir secara halus.
Bagas menggeleng pelan, kecewa, lalu berjalan keluar.
Begitu pintu tertutup dan suara langkah kakinya menghilang di lorong, aku langsung memutar kunci dua kali. Klik. Klik.
Suara kunci itu adalah suara ternyaman di dunia. Itu adalah suara batas yang kembali tertutup. Batas antara dunia nyata yang bising, kejam, dan penuh logika, dengan duniaku yang sunyi dan magis.
Aku bersandar di pintu, membuang napas panjang sampai paru-paruku kosong. Tubuhku merosot ke bawah, duduk di lantai.
Mataku mencari Luna.
Dia masih di sana. Cahaya matahari mulai bergeser, membuat bayangannya memanjang menyentuh ujung kakiku. Dia mendongak sedikit dari bukunya, menatapku dengan tatapan kosong yang kuartikan sebagai kasih sayang.
"Maaf ya," bisikku pada udara hampa. "Temanku emang berisik. Dia nggak ngerti."
Aku merangkak pelan di lantai karpet, mendekati sofa, lalu merebahkan kepalaku di dekat kaki hantu itu.
Dingin.
Hawa dingin dari tubuhnya menerpa wajahku, membekukan keringat di dahiku. Tapi aku tidak menjauh. Aku justru memejamkan mata, menikmati sensasi beku itu. Bagas bilang hati tidak bisa direstorasi. Dia salah. Aku sedang merestorasinya sekarang.
Dengan lem yang terbuat dari penyangkalan dan memori yang sudah kedaluwarsa, aku menyusun ulang kepingan-kepingan kami.
Biarlah orang bilang aku gila. Setidaknya di dalam kegilaan ini, aku masih punya dia.