Rumah adalah tempat kita merasa aman. Tapi saat ini, unit apartemen studio lantai 12 ini terasa seperti sel isolasi yang dinding-dindingnya mulai menyempit.
Aku berdiri di tengah ruangan, dadaku naik-turun memompa oksigen yang terasa tipis. Di kakiku, tergeletak buku Hutan yang Menangis versi baru yang baru saja kubeli—benda fisik yang menjadi bukti tak terbantahkan bahwa wanita yang duduk di sofaku adalah penipu.
Bukan, dia bukan penipu. Akulah penipunya.
Aku yang menipu diriku sendiri selama berbulan-bulan, menciptakan boneka cantik dari sisa-sisa ingatan yang bias, lalu menyembahnya seolah dia adalah dewi.
"Berhenti," geramku lagi. Suaraku rendah, bergetar oleh amarah yang sudah tidak bisa diredam.
Hantu Luna tidak bergeming. Cahaya matahari senja yang masuk dari jendela membuatnya berpendar oranye, memberinya aura suci yang menjijikkan.
Dia menunduk, menatap buku imajinernya. Jemarinya yang lentik—jemari yang dulu sering kugenggam saat menyetir—bergerak ke sudut kanan atas halaman.
Sreeet... Krek.
Suara halaman dibalik.
Dia kembali ke awal halaman 42. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, membaca kalimat pertama yang sama untuk ke-seribu kalinya.
"AKU BILANG BERHENTI!"
Aku meledak.
Kakiku menendang meja kopi di depan sofa. BRAK!
Meja kayu jati itu tergeser kasar, kakinya berdecit nyaring di lantai parket, menabrak lutut hantu Luna. Tapi tentu saja, tidak ada benturan fisik. Meja itu menembus kakinya seolah kakinya terbuat dari kabut. Hantu itu bahkan tidak tersentak. Dia tetap membaca, seolah aku dan amukanku hanyalah angin lalu.
Ketidakpeduliannya itulah yang memicu kegilaanku.
Jika dia hantu sungguhan, dia seharusnya marah. Dia seharusnya menghantuiku, melempar barang, atau menangis darah. Tapi dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya ada. Dia adalah rekaman video yang diputar ulang, dan aku tidak bisa menemukan tombol stop-nya.
"Lo nggak nyata!" teriakku, menunjuk wajahnya. "Lo nggak suka buku itu! Luna yang asli benci buku itu! Dia benci sastra! Dia benci sok pinter! Lo cuma bohong!"
Hening.
Hantu itu terus membaca. Tapi kemudian, sesuatu terjadi.
Mungkin karena persepsiku tentangnya sudah retak, atau mungkin karena energiku yang meluap-luap mengganggu frekuensi eksistensinya.
Visual hantu itu mulai glitch.
Seperti layar televisi tua yang kehilangan sinyal, tubuhnya berkedip. Flicker.
Selama satu detik, wajah cantiknya berubah menjadi buram, pixel-nya pecah, lalu kembali normal.
"Lo denger gue, kan?" tantangku. Aku melangkah maju, menginjak buku baru di lantai tanpa peduli.
Aku berdiri tepat di depannya. Jarak wajah kami hanya beberapa senti. Aku bisa melihat pori-pori di kulit transparannya.
"Luna yang asli lagi meeting sama cowok lain," bisikku kejam. Aku ingin menyakitinya. Aku ingin menyakiti diriku sendiri. "Dia ketawa. Dia bahagia. Dia bilang hubungan kita dulu cuma panggung sandiwara. Lo tau kenapa? Karena gue ngebosenin. Gue sibuk sama masa lalu, sementara dia mau masa depan."
Hantu itu berkedip lagi. Kali ini lebih lama.
Zzzztt.
Tiba-tiba, gerakannya menjadi patah-patah.
Tangannya yang sedang memegang halaman buku tersentak mundur, lalu maju lagi. Mundur, maju. Seperti kaset DVD yang macet.
Kepalanya menoleh ke arahku, tapi matanya tidak fokus. Senyum tiga sentimeter itu masih tertempel di bibirnya, tapi sekarang terlihat mengerikan. Senyum itu bergetar, sudut bibirnya naik turun tak terkendali.
"Ba... ca..."
Sebuah suara keluar.
Aku terlonjak mundur saking kagetnya. Selama ini dia bisu. Dia tidak pernah bersuara.
Suara itu bukan suara manusia. Itu suara statis, seperti gabungan desis radio dan rekaman suara Luna yang diputar dengan kecepatan rendah. Berat. Dalam. Menyeramkan.
"Ba... ca... ha... la... man..."
Dia mencoba bicara, tapi program di otaknya rusak. Dia terjebak dalam loop narasi yang kubuat.
"Nggak ada yang perlu dibaca!" teriakku.
Aku menyambar buku imajiner di tangannya. Tanganku menembus udara dingin, mengacaukan partikel tubuhnya. Sensasi beku menjalar ke lenganku sampai ke bahu, membuatku menggigil hebat. Tapi aku tidak peduli. Aku mengibaskan tanganku liar di tengah tubuhnya, berusaha memecah bentuknya.
"PERGI! PERGI DARI KEPALA GUE!"
Hantu itu mulai bergetar hebat. Wujudnya tidak lagi stabil. Kadang dia terlihat jelas, kadang dia memudar menjadi asap tipis.
Suara halaman dibalik terdengar semakin cepat dan keras.
Krek. Krek. Krek. Krek.
Bukan lagi satu kali per menit, tapi satu kali per detik.
Tangannya bergerak gila-gilaan, membalik halaman udara kosong dengan kecepatan tidak manusiawi. Kepalanya mengangguk-angguk cepat mengikuti ritme tangannya.
Pemandangan di depanku bukan lagi wanita yang kucintai. Ini adalah monster. Monster yang terbuat dari obsesi.
"BERISIK!"
Aku menutup telingaku. Suara krek-krek itu memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding apartemen, masuk ke dalam tengkorakku.
Aku berlari ke jendela. Gorden tebal yang selama ini kututup rapat untuk menjaga suasana "intim" itu kutarik paksa.
Sreeeet!
Cahaya matahari sore yang menyengat langsung membanjiri ruangan. Debu-debu beterbangan terlihat jelas.
Cahaya itu menabrak tubuh hantu Luna.
Dia menjerit. Bukan jeritan kesakitan, tapi suara statis yang melengking tinggi.
NGEIIING!
Wujudnya semakin kacau. Wajahnya mulai kehilangan fitur. Hidungnya hilang, matanya menjadi lubang hitam kosong, tapi mulutnya masih tersenyum. Senyum itu melebar, merobek pipinya, menjadi seringai grotesk.
Ini adalah wajah asli dari kenanganku. Kenangan yang dipaksakan bertahan hidup melampaui masa kedaluwarsanya akan membusuk dan menjadi monster.
"Gue lepasin lo!" teriakku, air mata mulai mengalir di pipiku. Air mata kemarahan, ketakutan, dan kesedihan yang terlambat. "Gue nggak mau cinta sama mayat! Gue nggak mau cinta sama bohong!"
Aku berlari ke rak dinding. Aku mengambil vas bunga kecil—hadiah anniversary pertama kami.
Aku membantingnya ke lantai. PRANG! Pecah berkeping-keping.
Hantu itu tersentak. Gerakan membalik halamannya terhenti sejenak.
"Ini yang lo mau, kan?" racauku. Aku mengambil bingkai foto kami di meja TV. Membantingnya lagi. PRANG! Kaca berhamburan.
"Kita udah hancur, Lun! Kita udah pecah! Nggak ada yang bisa direstorasi!"
Aku mengamuk.
Satu per satu benda kenangan kuhancurkan. Cangkir kopi couple. Hiasan dinding. Bahkan aku menyambar tumpukan piring keramik antiku yang sedang kurestorasi di meja kerja, dan menyapunya jatuh ke lantai dengan satu gerakan tangan.
Bunyi pecahan keramik, kaca, dan kayu memenuhi ruangan.
Apartemenku yang rapi dan sunyi kini berubah menjadi kapal pecah. Lantai penuh dengan beling tajam.
Aku berdiri di tengah kekacauan itu, napasku memburu, tanganku berdarah karena tergores pecahan kaca.
Aku menoleh ke sofa.
Hantu Luna masih di sana. Tapi dia sudah tidak berbentuk manusia utuh. Dia hanya gumpalan asap yang membentuk siluet wanita duduk. Wajahnya rata. Bukunya sudah hilang.
Dia tidak lagi membalik halaman.
Dia hanya diam. Menatapku dengan wajah ratanya.
Getaran di tubuhnya berhenti. Suara bising itu lenyap.
Hening kembali. Tapi kali ini, hening yang berbeda. Bukan hening damai, tapi hening pasca-perang.
Lututku lemas. Aku jatuh terduduk di lantai, tidak peduli pada pecahan keramik yang menusuk celana jeansku.
Tenagaku habis. Adrenalinku surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Rasa lelah menahan beban perasaan selama berbulan-bulan yang akhirnya tumpah dalam sepuluh menit.
Aku menunduk, menatap telapak tanganku yang berdarah. Darah merah segar menetes ke lantai parket, tepat di samping pecahan vas Dinasti Qing yang mahal.
"Sakit..." bisikku.
Sakit fisik ini terasa melegakan. Jauh lebih masuk akal daripada sakit hati yang abstrak.
Aku mendongak pelan, takut melihat monster itu lagi.
Tapi monster itu sudah hilang.
Di sofa, asap itu mulai menipis. Perlahan-lahan, bentuknya kembali memadat. Tapi bukan menjadi monster, dan bukan menjadi Hantu Luna yang sempurna.
Sosok itu kini transparan, sangat tipis, nyaris tak terlihat. Wajahnya kembali normal, tapi kali ini tidak ada senyum palsu. Ekspresinya datar. Sedih.
Dia menatapku. Untuk pertama kalinya, matanya benar-benar menatap mataku. Bukan menatap buku, bukan menatap dinding.
Dia menatapku dengan sorot mata perpisahan.
Dia tidak memegang buku lagi. Tangannya kosong, tergeletak pasrah di pangkuannya.
Dia tidak lagi terjebak di halaman 42. Ceritanya sudah habis. Bukunya sudah ditutup.
"Maaf..." bisikku lagi, kali ini ditujukan padanya. "Maaf aku maksa kamu tinggal di sini. Maaf aku bikin kamu jadi monster."
Hantu itu mengangguk pelan. Sangat pelan.
Lalu, dia mulai memudar. Dimulai dari kakinya, lalu tangannya, lalu badannya.
Tidak ada efek dramatis. Tidak ada cahaya silau. Dia hanya... hilang. Seperti embun yang menguap terkena matahari.
Dalam hitungan detik, sofa biru itu kosong.
Benar-benar kosong. Hanya ada lekukan samar di bantal duduknya yang perlahan kembali mengembang ke bentuk semula.
Aku sendirian.
Dikelilingi oleh pecahan barang-barang yang dulu kuanggap berharga. Dikelilingi oleh puing-puing masa lalu yang kuhancurkan sendiri.
Angin sore masuk dari jendela yang terbuka, meniup gorden, membawa masuk debu jalanan Jakarta. Membawa masuk suara klakson samar dari kejauhan.
Dunia luar akhirnya masuk.
Aku membaringkan tubuhku di lantai, di antara pecahan kaca, menatap langit-langit yang kosong.
Air mataku menetes ke samping, membasahi telinga. Tapi aku tersenyum tipis.
Rasanya sakit. Rasanya sepi. Rasanya hancur.
Tapi setidaknya, ruangan ini tidak lagi dingin.