Gadis di Halaman 42 Halaman yang Tak Pernah Dibalik
4/10
Bab 4

Halaman yang Tak Pernah Dibalik

Lari.

Satu-satunya perintah yang dikirimkan otakku ke seluruh jaringan saraf adalah: Lari, Arya. Putar balik. Buang muka. Lari.

Tapi kakiku seperti ditanam dalam beton yang cepat kering. Aku berdiri kaku di ambang pintu toko buku, mematung di antara rak Best Seller dan meja kasir, memegang kantong kertas berisi buku yang ironisnya adalah buku favorit wanita di depanku.

Luna menatapku.

Jarak kami hanya sekitar lima meter, dipisahkan oleh dua meja bundar dan udara dingin pendingin ruangan yang beraroma kopi. Tapi rasanya jarak itu membentang seluas samudra.

Dia bukan Luna yang ada di apartemenku.

Luna yang duduk di sana mengenakan kemeja putih berpotongan slim-fit yang licin tanpa kerutan, kontras dengan kaus band belel yang dipakai hantu di rumahku. Rambutnya dipotong model bob pendek yang tegas, membingkai wajahnya yang dipulas make-up tipis namun profesional. Tidak ada jepit jedai. Tidak ada sisa kantuk. Dia terlihat tajam. Dia terlihat... sukses.

"Arya?" panggilnya lagi. Kali ini suaranya keluar, menembus riuh rendah musik jazz di kafe itu.

Suaranya sedikit lebih berat dari yang kuingat. Lebih matang.

Pria berjas di depannya menoleh ke arahku, lalu kembali menatap Luna dengan pandangan bertanya. Luna membisikkan sesuatu padanya—mungkin "Sebentar ya"—lalu dia melambaikan tangan padaku.

Sebuah gestur undangan. Sopan. Terlalu sopan.

Aku tidak punya pilihan. Melarikan diri sekarang hanya akan membuatku terlihat seperti pengecut yang belum dewasa. Dan ego lelakiku, sekecil apa pun yang tersisa, menolak itu.

Dengan langkah berat, aku menyeret kakiku mendekat. Setiap langkah terasa salah. Aku sadar betul penampilanku saat ini: mengenakan hoodie abu-abu yang sudah tiga hari tidak dicuci, celana jeans dengan noda cat di lutut, wajah kusam yang kurang tidur, dan menenteng kantong plastik hitam berisi bahan kimia berbau tajam.

Aku adalah antitesis dari keberadaannya yang rapi. Aku adalah masa lalu yang berantakan, sementara dia adalah masa depan yang berkilau.

"Hai, Lun," sapaku saat tiba di mejanya. Suaraku serak, kering di tenggorokan. "Gue... aku nggak nyangka ketemu kamu di sini."

Aku tergagap dalam pemilihan kata ganti. Dulu kami adalah "Aku-Kamu". Sekarang, rasanya terlalu intim.

Luna tersenyum. Senyum itu. Itu bukan senyum "tiga sentimeter" yang damai seperti milik hantu di rumah. Ini adalah senyum sosial. Senyum yang dia berikan pada klien, atau pada barista kopi. Ramah, tapi tidak mencapai matanya.

"Iya, dunia sempit ya," jawab Luna ringan. Dia menunjuk kursi kosong di sebelahnya, tapi aku menggeleng pelan. Aku tidak pantas duduk di sana.

"Aku lihat story kamu," kataku bodoh. Mulutku bergerak lebih cepat dari otakku. "Kirain kamu masih di Jepang."

Luna tertawa kecil. Renyah. "Oh, itu late post, Ar. Aku udah balik dari tiga hari lalu. Biasalah, baru sempet upload sekarang buat ngerapiin feed."

Late post.

Tentu saja.

Sementara aku menganalisis setiap piksel story-nya seperti detektif gila, dia hanya menganggapnya sebagai konten estetika. Fakta bahwa dia sudah di Jakarta selama tiga hari dan tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk mengabari—bahkan sekadar 'hai'—menampar kesadaranku.

"Kamu... apa kabar?" tanyanya. Matanya memindai penampilanku, berhenti sejenak di kantong plastik hitam di tanganku, lalu naik ke mataku yang berkantung. Ada kilatan iba di sana. Aku benci itu. Aku lebih memilih dia marah daripada dia kasihan.

"Baik," dustaku cepat. "Lagi banyak proyek. Ini habis beli bahan. Biasa, restorasi."

"Syukurlah," katanya. Nadanya tulus, yang justru membuatnya makin menyakitkan. "Aku seneng kamu masih ngerjain itu. Kamu emang berbakat banget di situ, Ar."

Pria berjas di depannya berdeham pelan, mengecek jam tangan mahalnya.

"Oh, kenalin," kata Luna, menyadari kecanggunganku. "Ini Pak David. Klien aku. Kami lagi bahas konsep rebranding perusahaannya."

Aku mengangguk kaku pada pria itu. "Arya."

"David," jawab pria itu singkat. Dia tidak tertarik padaku. Baginya, aku hanyalah gangguan kecil dalam jadwal meeting-nya.

"Aku nggak mau ganggu," kataku mundur selangkah. "Cuma... kaget aja liat kamu."

"Nggak apa-apa kok, Ar. Santai aja," kata Luna.

Keheningan menyelimuti kami selama tiga detik. Di apartemenku, keheningan dengan hantu Luna terasa nyaman. Di sini, keheningan ini mencekik. Aku harus bicara. Aku harus mencari validasi bahwa apa yang ada di apartemenku itu memiliki dasar kebenaran. Bahwa hubungan kami dulu nyata.

Mataku tertuju pada kantong kertas di tangan kiriku. Buku yang baru saja kubeli.

"Oh iya," kataku, mengangkat kantong itu sedikit. "Aku baru beli buku. Lucu ya, kebetulan banget."

Luna mengernyit bingung. "Buku apa?"

Aku mengeluarkan buku bersampul cokelat itu. Hutan yang Menangis. Ilustrasi pohon kering di sampulnya terlihat suram di bawah lampu kafe yang terang.

"Buku ini," kataku, mencoba tersenyum nostalgia. "Buku favorit kamu. Yang dulu sering banget kamu baca di apartemen. Kamu selalu bawa ini ke mana-mana."

Aku meletakkan buku itu di meja, di antara gelas americano Luna dan laptopnya. Berharap dia akan tersenyum lebar, menyentuh sampulnya dengan sayang, dan berkata: "Wah, kamu masih inget!"

Tapi reaksi Luna menghancurkan segalanya.

Dia menatap buku itu. Lalu, alih-alih tersenyum haru, dia malah tertawa.

Bukan tawa sopan. Tapi tawa geli. Tawa yang seolah-olah aku baru saja menceritakan lelucon konyol dari masa SMA.

"Ya ampun, buku ini!" serunya sambil terkekeh. Dia mengambil buku itu, membolak-baliknya dengan kasar. "Aku lupa pernah punya buku ini. Sumpah, ini buku paling ngebosenin yang pernah aku beli."

Duniaku berhenti berputar.

"Hah?" Suaraku keluar seperti cicit tikus. "Tapi... kamu selalu bacanya. Di sofa. Setiap sore. Kamu kelihatan serius banget."

Luna meletakkan kembali buku itu di meja, seolah itu adalah barang tidak berharga.

"Ar," katanya sambil menatapku geli. "Aku baca buku itu cuma karena kamu."

"Maksudnya?"

"Waktu itu kita baru jadian, kan?" Luna menjelaskan dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Kamu kan pinter banget, selera bacanya sastra klasik, filsafat, sejarah. Aku minder, Ar. Aku ngerasa nggak nyambung. Jadi aku beli buku sastra berat yang lagi hype, biar kelihatan pinter di depan kamu. Biar kita bisa diskusi."

Dia menyeruput kopinya sedikit, lalu melanjutkan.

"Tapi aslinya? Aku nggak ngerti sama sekali isinya. Bahasanya muter-muter. Aku cuma baca sampai..." Dia mengetuk dagunya, mengingat-ingat. "...nggak nyampe bab dua deh kayaknya. Halaman empat puluh berapa gitu. Terus aku nyerah. Aku cuma pura-pura baca kalau ada kamu, padahal pikiranku melayang mikirin mau makan apa nanti malem."

Halaman empat puluh berapa gitu.

Angka itu meledak di kepalaku.

Halaman 42.

Hantu di apartemenku selalu berhenti di halaman 42. Dia membaca kalimat yang sama, lalu membalik ke belakang. Berulang-ulang. Selamanya.

Selama ini aku mengira itu karena kalimat di halaman 42 sangat indah dan bermakna baginya. Aku mengira dia sedang meresapi seni sastra yang agung.

Ternyata tidak.

Hantu itu terjebak di halaman 42 karena ingatan Luna yang asli berhenti di situ. Hantu itu tidak bisa membalik ke halaman 43 karena Luna yang asli tidak pernah membaca halaman 43.

Data di memori kepalaku korup.

Hantu di rumahku bukan manifestasi cinta abadi. Hantu itu adalah monumen kebohongannya demi impresi, dan monumen kebodohanku yang tidak pernah menyadarinya.

"Kamu... nggak suka bukunya?" tanyaku pelan. Rasanya seperti bertanya apakah dia pernah mencintaiku.

"Nggak," jawab Luna jujur. "Aku lebih suka baca thriller atau komik, Ar. Kamu tahu itu kan? Oh, tunggu... aku kayaknya nggak pernah cerita ke kamu ya? Soalnya tiap kita ngobrol, kamu selalu semangat bahas soal restorasi atau sejarah. Aku jadi nggak enak mau motong."

Kalimat itu bukan hanya meruntuhkan ilusi tentang buku, tapi meruntuhkan ilusi tentang seluruh hubungan kami.

Selama dua tahun, aku mencintai wanita yang berusaha menjadi orang lain demi aku. Dan aku, dengan egoismeku, tidak pernah menyadari siapa dia sebenarnya. Aku mencintai cermin yang memantulkan apa yang ingin kulihat, bukan orang yang berdiri di depannya.

"Gitu ya," gumamku. Lidahku terasa kelu.

Pak David berdeham lagi, kali ini lebih keras. Dia mengetuk jam tangannya. "Lun, timeline."

"Eh, sorry Pak," Luna kembali ke mode profesionalnya dalam sekejap. Dia menatapku lagi. "Ar, sorry banget ya, aku harus lanjut meeting. Kejar tayang nih."

"Iya. Nggak apa-apa." Aku mengambil kembali buku itu dari meja. Buku itu kini terasa panas di tanganku. Seperti memegang barang bukti kejahatan.

"Seneng ketemu kamu, Ar," kata Luna. Dia mengulurkan tangan.

Aku menjabat tangannya. Kulitnya hangat. Hidup. Nyata. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari dingin menusuk hantu di apartemenku.

"Jaga diri, Lun," kataku.

"Kamu juga. Move on dong, cari pacar baru!" candanya ringan sambil menarik tangannya.

Aku memaksakan senyum, berbalik, dan berjalan keluar dari toko buku itu.

Langkahku cepat, hampir berlari. Aku menabrak bahu seseorang di pintu keluar tapi tidak peduli.

Aku kembali ke trotoar Cikini yang panas. Matahari sore menyengat kulit, tapi aku merasa kedinginan. Menggigil hebat.

Di tangan kananku, ada bahan kimia untuk memperbaiki barang pecah belah.

Di tangan kiriku, ada buku yang menjadi bukti bahwa hubunganku adalah sebuah pementasan drama yang gagal.

Aku memesan ojek online dengan tangan gemetar.

Aku harus pulang.

Aku harus menemui "dia".

Bukan karena rindu. Tapi karena marah. Marah pada diriku sendiri, marah pada kebohongan yang kuhidupi, dan marah pada hantu bisu yang selama ini menipuku dengan senyum manisnya.

Sepanjang perjalanan di atas motor, angin Jakarta menampar wajahku, tapi pikiranku hanya tertuju pada satu hal: Sofa biru di ruang tengah.

Aku membayangkan hantu itu duduk di sana. Membaca halaman 42.

Dulu, pemandangan itu adalah tempat perlindunganku. Tempat ternyamanku.

Sekarang, bayangan itu terasa seperti ejekan.

Krek. Krek. Suara halaman dibalik itu terngiang di kepalaku, terdengar seperti suara tawa yang mengejek. Kamu nggak kenal aku, Arya. Kamu cuma cinta imajinasimu sendiri.

Motor ojek berhenti di lobi apartemen. Aku turun, membanting helm ke pengemudi (dan buru-buru minta maaf), lalu berlari menuju lift.

Lantai 12. Angka di panel lift berganti dengan sangat lambat.

Ting.

Pintu terbuka. Aku berlari menyusuri lorong sepi, napasku memburu, kunciku bergemerincing di tangan.

Aku sampai di depan pintu unitku. Pintu yang memisahkan dunia nyata yang menyakitkan dengan dunia fantasi yang kini terasa busuk.

Aku memasukkan kunci, memutarnya kasar.

Pintu terbuka.

Gelap. Hanya ada cahaya oranye matahari senja yang masuk dari jendela, menciptakan siluet panjang di ruang tengah.

Dan dia masih di sana.

Luna—Hantu Luna—duduk di sofa. Posisinya tidak berubah satu milimeter pun sejak aku pergi tadi siang. Buku di pangkuannya terbuka.

Dia mendongak saat aku masuk. Senyum tiga sentimeter itu merekah di wajahnya. Senyum manis yang dulu kuanggap sebagai rumah.

Sekarang, senyum itu terlihat seperti topeng.

Aku masuk, membanting pintu di belakangku sampai tembok bergetar.

"Cukup," geramku. Suaraku bergema di ruangan sempit itu. "Sandiwara lo selesai."

Hantu itu tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata teduh itu, lalu kembali menunduk ke bukunya.

Tangannya bergerak untuk membalik halaman.

Ke halaman 42. Lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia muncul, aku tidak merasakan cinta atau kerinduan. Aku merasakan kebencian yang murni.

Aku menjatuhkan kantong belanjaanku ke lantai. Botol resin menggelinding. Buku Hutan yang Menangis yang baru kubeli terlempar keluar dari kantongnya, mendarat tepat di kaki hantu itu.

Dua buku yang sama. Satu nyata, satu ilusi.

Aku melangkah maju mendekati sofa.

"Berhenti bacanya!" teriakku.

Hantu itu tidak peduli. Krek.

Inilah saatnya. Aku akan mengakhiri kegilaan ini, atau kegilaan ini yang akan mengakhiriku.