Bram merasa terperosok ke dalam perut kegelapan yang tak tercatat di peta mana pun, sebuah labirin kabut di mana logika dan kewarasan perlahan dikuliti.
Bram menahan napas. Paru-parunya terasa seperti diisi serbuk kaca. Ia ingin berteriak, memaki, atau setidaknya bertanya pada sopir bangsat itu kemana sebenarnya arah bus ini, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu, seolah ada tangan dingin tak kasat mata yang membekap mulutnya dari dalam.
Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya pada tas kulit hitam di pangkuannya. Tas itu—berisi tumpukan rupiah hasil manipulasi anggaran proyek fiktif di Jakarta—adalah satu-satunya benda yang terasa nyata saat ini. Tekstur kulitnya yang licin, bobotnya yang menekan paha, baunya yang samar-samar mengingatkan pada brankas kantor yang dingin; semua itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam gelombang kepanikan. Uang itu tiket kebebasannya. Uang itu jaminan hidup barunya di kampung.
Namun, di dalam kabin Bus Laju Sanjaya yang pengap ini, uang itu terasa tidak lebih berharga daripada sampah kertas.
Udara di dalam bus berbau apek, campuran menyengat antara solar bakar, keringat basi, dan aroma kembang kantil yang sudah layu. Dinginnya bukan main. Bukan dingin AC, melainkan dingin yang merayap dari bawah lantai bus yang berkarat, menusuk menembus sol sepatu pantofel Bram, menjalar naik ke tulang kering seperti jarum-jarum es.
"Tiket..."
Suara itu terdengar seperti gesekan kertas pasir di atas beton. Kering. Serak.
Bram tersentak. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah lorong. Sosok itu berdiri di sana, terhuyung mengikuti irama guncangan bus. Jaka, sang kondektur. Seragamnya lusuh, warnanya abu-abu kusam yang nyaris menyatu dengan keremangan kabin. Kancing bajunya terpasang acak-acakan. Tapi yang membuat perut Bram mual adalah cara pria itu berdiri; tubuhnya miring secara tidak wajar, seakan tulang punggungnya pernah dipatahkan paksa dan tidak pernah disatukan kembali dengan benar.
"Tiket," ulang Jaka. Matanya kosong, menatap lurus menembus Bram, seolah Bram hanyalah udara kosong.
Tangan Bram gemetar hebat saat ia merogoh saku kemejanya. Jari-jarinya menyentuh potongan kertas tebal itu. Ia menariknya keluar. Di bawah lampu kabin yang berkedip-kedip suram—warnanya kuning sakit-sakitan—Bram melihat tiket itu untuk pertama kalinya dengan jelas.
Itu bukan kertas.
Permukaannya kasar, berpori, dan sedikit berminyak. Ada bulu-bulu halus yang tumbuh jarang-jarang di pinggirannya. Warnanya cokelat sawo matang, dengan bercak-bercak pigmentasi yang tidak merata. Tinta yang mencetak tulisan "PO. LAJU SANJAYA" berwarna merah tua yang mengering, tampak seperti goresan luka lama yang mengelupas.
Lambung Bram bergejolak. Ia ingin melempar benda menjijikkan itu, tapi tangan Jaka sudah menyambar tiket tersebut dengan gerakan secepat kilat.
Ctrek. Ctrek.
Bunyi pelubang tiket itu terdengar basah. Seperti suara gunting memotong daging mentah.
Jaka mengembalikan sobekan tiket itu ke tangan Bram tanpa kata. Ujung jari kondektur itu sempat bersentuhan dengan kulit tangan Bram. Dingin. Sedigin mayat yang baru saja dikeluarkan dari lemari pendingin kamar jenazah.
"Selamat menikmati perjalanan," gumam Jaka datar, lalu menyeret kakinya menjauh, menuju deretan kursi belakang.
Bram mengusap bekas sentuhan itu di celananya dengan panik, napasnya memburu. Tenang, Bram. Tenang. Ini cuma bus tua. Bus rongsokan yang kebetulan lewat. Supirnya sinting, kondekturnya gila. Biasa. Ini Pantura. Orang-orang aneh banyak berkeliaran malam-malam begini.
Ia mencoba mengalihkan fokus. Matanya menyapu sekeliling. Kursi-kursi bus dilapisi vinil merah marun yang sudah sobek di sana-sini, memuntahkan busa kuning yang tampak seperti nanah kering. Di kursi seberang, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang kusut—Darma.
Pria itu tampak lebih kacau daripada Bram. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya yang lebar. Tangan kirinya tak henti-hentinya mengguncang pergelangan tangan kanannya, mengetuk-ngetuk kaca jam tangan emas yang melingkar di sana.
"Kenapa berhenti?" bisik Darma, suaranya bergetar. "Kenapa jarumnya tidak bergerak? Padahal ini Rolex asli... Swiss movement... tidak mungkin macet..."
Bram melirik jam tangannya sendiri. Seiko butut yang ia beli dari pasar loak di Jatinegara. Jarum detiknya diam kaku di angka dua belas. Tidak berdetak. Tidak bergeser. Waktu seolah mati suri di dalam kotak besi berjalan ini.
Di kursi depan Darma, duduk seorang perempuan muda. Siti. Punggungnya membelakangi Bram, tapi dari pantulan kaca jendela yang gelap, Bram bisa melihat wajahnya. Pucat pasi seperti lilin. Bibirnya membiru. Ia mendekap buntalan kain jarik kumal di dadanya dengan protektif. Ia menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, sebuah ritme meninabobokan yang konstan dan meresahkan.
"Sshhh... tidur ya, Le... tidur..." bisik Siti. Suaranya halus, namun di telinga Bram terdengar seperti desis ular di semak belukar.
Bram menajamkan pendengarannya. Tidak ada suara tangisan bayi. Tidak ada suara napas kecil. Buntalan itu diam. Mati. Bentuknya pun aneh; terlalu kaku, terlalu bersudut untuk berisi seorang bayi manusia.
Keinginan Bram untuk turun kembali memuncak. Persetan dengan polisi di Jakarta. Persetan dengan audit kantor. Penjara Cipinang masih lebih masuk akal daripada kegilaan ini.
Ia memberanikan diri menengok ke jendela di sampingnya, berharap melihat plang jalan, lampu warung tegal, atau setidaknya sorot lampu kendaraan lain.
Nihil.
Di luar sana hanya ada abu-abu. Kabut tebal bergulung-gulung menempel pada kaca, seolah mencoba mencari celah untuk masuk. Tidak ada aspal. Tidak ada pohon. Tidak ada langit. Dunia di luar bus telah lenyap, digantikan oleh kehampaan yang berputar.
Bus ini tidak melaju di atas jalan raya. Getaran yang dirasakan Bram bukan berasal dari gesekan ban dengan aspal, melainkan getaran mesin yang terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang sekarat. Dug... Dug... Dug... Iramanya lambat, berat, dan menyakitkan telinga.
Tiba-tiba, bus mengerem mendadak.
Tubuh Bram terhempas ke depan, wajahnya nyaris menghantam sandaran kursi di depannya. Tas uangnya merosot, hampir jatuh ke lantai yang kotor. Dengan sigap ia menyambarnya kembali, memeluknya erat-erat seolah itu pelampung di tengah laut badai.
Pintu hidrolik di bagian depan mendesis terbuka. Suaranya panjang dan menyakitkan, seperti jeritan logam yang dipaksa meregang.
Tidak ada halte. Tidak ada terminal.
Dari balik kabut pekat yang menyerbu masuk lewat pintu yang terbuka, samar-samar terlihat sebuah plang kayu tua yang miring, tertancap di tanah berlumpur hitam. Catnya sudah mengelupas, tapi Bram masih bisa mengeja tulisan yang tertera di sana dengan bantuan cahaya lampu bus yang menyorot lemah.
KM. 0 - PENYESALAN
Bulu kuduk di tengkuk Bram meremang. Apa-apaan ini?
"Pemberhentian pertama," suara Pak Tua, sang sopir, menggema dari pengeras suara yang sember. Suaranya berat, bergema seolah berasal dari dasar sumur.
Tidak ada yang naik. Tidak ada yang turun.
Hanya hening.
Namun, perlahan, suara-suara mulai bermunculan dari luar. Bukan suara mesin atau klakson. Itu suara... kertas. Suara stempel yang dihantamkan ke meja. Suara telepon berdering yang tidak pernah diangkat. Suara bisik-bisik rekan kerja di pantry kantor.
"Bram... laporannya sudah kau palsukan?"
"Bram... jangan lupa bagianku."
"Tenang saja, Bram... tidak akan ada yang tahu."
Mata Bram membelalak. Itu suara bosnya. Itu suara rekan konspiratornya. Itu suara-suara dari kehidupan yang baru saja ia tinggalkan. Suara dosa-dosanya.
Suara-suara itu tidak datang dari speaker. Suara itu datang dari kabut, menyusup masuk ke dalam kepalanya, memantul-mantul di dinding tengkoraknya.
"Tutup pintunya!" teriak Bram tiba-tiba. Ketakutan menghancurkan kelumpuhannya. "Jalan! Jalan, goblok!"
Pak Tua tidak menoleh. Topi pet-nya yang kusam menutupi separuh wajah, hanya memperlihatkan rahang yang kaku dan sebatang kretek yang menyala merah di ujung bibir. Asap kemenyan mengepul dari rokok itu, membentuk pola-pola abstrak yang menyerupai wajah-wajah kesakitan di udara.
Darma, si pengusaha, tiba-tiba berdiri. Wajahnya basah oleh air mata. Ia menatap pintu terbuka itu dengan tatapan ngeri sekaligus rindu.
"Itu... itu suara anakku," gumam Darma. "Dia memanggilku... Katanya dia menungguku di rumah... Padahal... padahal aku meninggalkannya demi proyek jembatan itu..."
Darma melangkah gontai menuju pintu. Kakinya gemetar.
"Jangan!" seru Bram, meski ia tak tahu kenapa ia peduli. "Jangan turun! Itu bukan rumahmu!"
Jaka, sang kondektur, muncul entah dari mana di belakang Darma. Tangannya yang dingin dan miring itu menepuk bahu si pengusaha.
"Belum saatnya Bapak turun," kata Jaka, suaranya datar namun penuh ancaman. "Tiket Bapak masih panjang. Duduk."
Itu bukan permintaan. Itu perintah.
Jaka mencengkeram bahu Darma. Terdengar bunyi krak—seperti ranting kering yang diinjak. Darma menjerit tertahan, lalu terhempas kembali ke kursinya, memegangi bahunya yang kini terlihat lebih rendah sebelah. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap Jaka dengan ketakutan murni.
"Pintu ditutup," seru Jaka.
Pintu hidrolik itu kembali mendesis, menutup perlahan, memotong suara-suara dari masa lalu Bram dan Darma. Kabut kembali menelan pemandangan luar. Bus kembali bergerak, merangkak maju menembus ketiadaan.
Bram menyandarkan punggungnya yang basah oleh keringat dingin ke kursi. Napasnya tersengal-sengal. Jantungnya memukul-mukul rusuk seakan ingin meledak keluar.
Ia menunduk menatap tas uangnya. Untuk sesaat, ia bersumpah melihat kulit tas itu berdenyut. Seperti ada pembuluh darah yang berkedut di balik lapisan kulit hitam itu.
Bram menarik tangannya dengan jijik. Tapi ia tidak bisa melepaskannya. Ia butuh uang ini. Hanya ini yang ia punya. Jika ia melepaskan tas ini, ia merasa dirinya akan lenyap, tersedot menjadi bagian dari jok bus yang bernanah atau menjadi asap rokok Pak Tua.
Ia terjebak.
Di dalam bus ini, realitas adalah konsep yang subjektif. Satu-satunya hukum yang berlaku adalah hukum penyesalan. Dan perjalanan ini baru saja dimulai.
Dari kaca spion tengah yang retak seribu, Bram melihat sepasang mata merah menyala menatapnya. Mata Pak Tua. Tidak ada pupil, tidak ada iris. Hanya merah darah yang menyala dalam kegelapan.
Sopir itu tersenyum. Senyum yang terlalu lebar, merobek kulit pipinya yang kering hingga ke telinga.
Bus Laju Sanjaya melaju makin kencang, bukan menembus jarak, tapi menembus batas kewarasan Bram.