Bus Laju Sanjaya: Pelarian ke Dunia Tak Dikenal Perjamuan di Sari Asih
4/31
Bab 4

Perjamuan di Sari Asih

Titik merah itu tidak berkedip, melainkan membesar, seolah-olah rokok Pak Tua adalah satu-satunya benda padat di tengah kehampaan yang menelan mereka.

Lalu, sentakan itu datang. Bukan benturan keras seperti tabrakan, melainkan penghentian mendadak yang melawan hukum fisika. Gravitasi kembali mencengkeram. Lambung Bram terhempas ke sandaran kursi yang kini terasa lengket dan hangat, seakan-akan kursi itu berkeringat. Suara mesin yang tadinya menderu seperti lolongan hewan sekarat kini mati total.

Hening.

Keheningan yang menyakitkan telinga. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin, tidak ada klakson kejauhan. Hanya desah napas Darma yang memburu di kursi seberang.

"Istirahat."

Suara Jaka memecah kebekuan. Serak, seperti gesekan dua batu nisan.

Pintu lipat bus terbuka dengan desis hidrolik yang terdengar seperti helaan napas panjang. Udara luar menyerbu masuk. Bukan udara segar pegunungan, melainkan bau tanah basah, kapur barus, dan aroma samar daging busuk yang disembunyikan di balik wewangian melati.

Bram mengintip keluar jendela yang berembun. Di luar sana, di bawah sorot lampu merkuri yang berkedip-kedip sakit, berdiri sebuah bangunan memanjang dengan cat putih yang mengelupas. Sebuah papan nama kusam tergantung miring di atasnya: RM SARI ASIH.

Huruf-hurufnya merah, menetes seperti cat yang belum kering. Atau darah.

"Turun," perintah Jaka. Ia berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan keluar dengan tubuh kurusnya yang kaku. Seragamnya tampak lebih kotor dari sebelumnya, dengan bercak-bercak gelap yang merembes di bagian ketiak dan punggung.

Bram meraba tas kanvas di pangkuannya. Uang itu masih ada di sana. Tekstur kertasnya memberinya sedikit rasa aman yang palsu. Ia menoleh ke arah Darma. Pria itu gemetar hebat, keringat dingin membasahi kemeja mahalnya.

"Jam... jam berapa ini?" racau Darma, mengetuk-ngetuk kaca arlojinya yang retak. "Saya harus rapat pagi di Semarang. Ini... ini di mana?"

"Turun, Pak," ulang Jaka. Matanya yang cekung menatap Darma tanpa emosi. "Tiket bapak sudah termasuk makan malam."

Bram memaksakan kakinya untuk bergerak. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai bus adalah lumpur hisap. Saat ia melintasi Pak Tua di kursi pengemudi, ia menahan napas. Supir itu tidak bergerak. Topi pet-nya menutupi seluruh wajah bagian atas. Asap rokok kretek mengepul tebal, membentuk pola-pola abstrak yang menyerupai wajah-wajah menjerit di udara, sebelum lenyap tertiup angin.

Bram turun ke aspal. Dingin. Dingin yang menusuk tulang, bukan dinginnya cuaca, tapi dinginnya kematian. Kabut tebal menyelimuti area parkir yang kosong melompong. Tidak ada kendaraan lain. Hanya Bus Laju Sanjaya yang terparkir di sana, mesinnya mengeluarkan bunyi tik-tik-tik logam yang mendingin.

Di belakangnya, Siti turun perlahan. Ia tidak menapak tanah. Bram bersumpah ia melihat tumit wanita itu melayang satu sentimeter di atas aspal. Siti menunduk, membisikkan sesuatu pada buntalan kain di gendongannya.

"Sstt... makan dulu ya, Nak. Jangan nangis."

Buntalan itu diam. Tidak ada pergerakan napas.

Mereka digiring masuk ke dalam rumah makan. Interior Sari Asih luas, namun langit-langitnya terlalu rendah, menciptakan kesan klaustrofobia. Meja-meja panjang berjajar rapi, dilapisi taplak plastik bermotif bunga yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu.

Di pojok ruangan, seorang wanita tua dengan kebaya hitam berdiri di belakang etalase kaca yang penuh dengan piring lauk. Wajahnya rata. Kulitnya seperti kertas perkamen yang keriput. Ia tidak tersenyum. Ia tidak berkedip. Tangannya menyendokkan nasi ke atas piring seng dengan gerakan mekanis yang berulang-ulang. Krak. Krak. Krak. Suara sendok beradu dengan piring terdengar terlalu keras di ruangan yang senyap itu.

"Makan," kata Jaka lagi. Ia duduk di kursi sudut, mengawasi mereka seperti sipir penjara.

Bram duduk di salah satu bangku kayu. Perutnya bergejolak. Rasa lapar yang aneh tiba-tiba menyerangnya—rasa lapar yang buas, primitif, seolah ia belum makan selama berhari-hari. Ia melihat piring di depannya. Nasi rawon. Kuahnya hitam pekat, mengepulkan uap panas.

Darma duduk di sebelahnya, masih bergumam tentang kontrak dan kerugian. Namun, begitu aroma makanan itu menyentuh hidungnya, Darma terdiam. Matanya membelalak, pupilnya mengecil. Ia menyambar sendok dan mulai makan dengan rakus.

"Enak... enak sekali," gumam Darma, kuah hitam menetes dari dagunya. "Ini... daging apa ini? Lembut sekali."

Bram menelan ludah. Ia mengambil sendoknya. Tangannya gemetar. Logika di kepalanya berteriak untuk lari, tapi tubuhnya mengkhianati akalnya. Ia menyuapkan nasi itu ke mulutnya.

Ledakan rasa. Gurih, asin, dan manis yang memabukkan. Itu adalah makanan terenak yang pernah ia rasakan. Bram menyendok lagi, dan lagi. Ia melupakan uangnya. Ia melupakan bus terkutuk itu. Ia hanya ingin mengisi kekosongan di perutnya.

Ia mengunyah potongan daging yang besar. Teksturnya kenyal, meletup di mulut.

Tiba-tiba, sebuah suara gemeretak terdengar dari mulutnya. Sesuatu yang keras.

Bram berhenti mengunyah. Ia merogoh mulutnya dan mengeluarkan benda yang mengganggu itu.

Sebuah kuku.

Kuku manusia. Masih lengkap dengan potongan kulit jari yang membiru.

Darah di wajah Bram surut seketika.

Ia melihat ke piringnya lagi. Ilusi itu runtuh. Aroma sedap itu berubah menjadi bau busuk yang menyengat—bau bangkai yang sudah pecah perutnya.

Nasi di piringnya bukan nasi. Itu adalah kumpulan belatung putih yang menggeliat-geliat dalam genangan cairan hitam pekat yang kental. Daging yang tadi ia nikmati adalah potongan-potongan organ yang sudah membusuk, berwarna hijau keabu-abuan.

"HOEK!"

Bram memuntahkan isi perutnya ke lantai. Cairan hitam bercampur belatung hidup tumpah dari mulutnya. Ia mundur, menendang kursi hingga terjengkang.

Di sebelahnya, Darma masih makan dengan lahap. Pria itu tidak sadar bahwa ia sedang memakan tanah kuburan yang bercampur dengan serpihan kaca dan darah. Bibir Darma sudah sobek-sobek, darah segar mengalir bercampur dengan lumpur hitam, tapi ia terus menyuap.

"Darma! Berhenti!" teriak Bram, suaranya parau.

Darma menoleh. Wajahnya mengerikan. Matanya kosong, hanya ada nafsu makan yang gila. "Jangan minta... ini bagian saya... untung saya... laba saya..."

Bram mundur terhuyung-huyung. Ia menabrak Siti. Wanita itu duduk tenang, menyuapkan "nasi" ke arah kain gendongannya. Kain itu tersibak sedikit.

Tidak ada bayi di sana.

Hanya sebuah batu nisan kecil yang retak, terbungkus kain kafan yang kumal. Siti menyuapkan belatung ke permukaan batu dingin itu dengan kasih sayang seorang ibu. "Makan yang banyak, Le... biar cepat besar."

Kewarasan Bram retak. Ia berbalik dan berlari. Ia harus keluar. Ia harus pergi dari tempat gila ini.

Ia menerobos pintu keluar, kembali ke udara dingin yang berbau kapur barus. Kabut semakin tebal. Ia berlari menuju bus, berharap bisa mengambil alih kemudi dan pergi, atau setidaknya lari ke jalan raya dan menyetop kendaraan lain.

Tapi langkahnya terhenti di depan benda itu.

Di bawah cahaya lampu merkuri yang remang, tanpa ilusi interior yang membingungkan, Bram melihat wujud asli Bus Laju Sanjaya.

Itu bukan bus. Itu rongsokan.

Badan bus itu ringsek parah, seolah pernah digulung dan diremukkan oleh tangan raksasa. Kaca-kacanya pecah, menyisakan lubang-lubang menganga yang gelap. Catnya bukan merah marun, melainkan warna karat yang menyerupai darah kering. Ban-bannya kempes, meleleh menyatu dengan aspal seakan pernah terbakar hebat.

Dan baunya. Bau daging hangus yang abadi.

Bram mundur, punggungnya menabrak dinding luar rumah makan. Di samping kepalanya, tertempel sebuah kliping koran tua yang dibingkai kaca buram. Kertasnya sudah menguning, rapuh dimakan zaman.

Matanya tertuju pada judul berita utama yang dicetak tebal dengan font mesin ketik lama:

TRAGEDI PANTURA: BUS LAJU SANJAYA TERJUN KE JURANG SEMARANG, 14 OKTOBER 1980 Seluruh penumpang dan awak bus dinyatakan tewas dalam kecelakaan tunggal di Alas Roban. Evakuasi terhambat cuaca buruk. Bangkai bus hangus terbakar...

1980.

Tahun itu... lima tahun yang lalu.

Bram menelusuri foto hitam putih yang buram di bawah artikel itu. Foto bangkai bus yang berasap di dasar jurang. Dan di sebelahnya, foto sang supir yang menjadi korban.

Wajah itu. Meski hitam putih dan berbintik, guratannya jelas. Wajah Pak Tua. Tanpa topi pet, matanya menatap kosong ke arah kamera, sebuah rokok terselip di bibirnya yang kaku.

"Sudah selesai makannya, Mas?"

Bram tersentak hebat.

Jaka berdiri tepat di sampingnya. Kali ini Bram melihatnya dengan jelas. Separuh wajah Jaka, sisi kiri yang selalu berada dalam bayangan, tidak memiliki kulit. Otot merah dan tulang rahang putih terlihat jelas. Lidahnya menjulur panjang, hitam dan bercabang, menjilati sisa nanah di ujung bibirnya.

Tiket di tangan Bram terasa panas, membakar kulit telapak tangannya. Ia melihat tiket itu lagi.

Tinta merah yang tadi tertulis JAKARTA - SEMARANG telah berubah. Huruf-hurufnya meleleh dan membentuk kata baru yang membuat jantung Bram berhenti berdetak.

NERAKA - PENYESALAN

"Kita harus berangkat," kata Jaka, suaranya tidak lagi serak, melainkan bergema ganda, seperti tumpukan jeritan ratusan orang. Tangannya yang dingin, yang terasa seperti cakar tulang, mencengkeram bahu Bram. "Perjalanan masih panjang. Utangmu belum lunas."

Bram ingin berteriak, tapi suaranya hilang ditelan kabut. Tas uang di tangannya terasa semakin berat, bukan seperti kertas, melainkan seperti ia sedang menenteng batu nisan miliknya sendiri.

Di dalam bus rongsokan itu, mesin mati tiba-tiba menyala kembali. Suaranya bukan deru diesel, melainkan suara tawa. Tawa rendah, basah, dan lapar.

Lampu depan bus menyala. Merah. Menyorot jalan setapak yang mengarah lurus ke dalam hutan yang gelap gulita. Tidak ada aspal di sana. Hanya jurang.

Dan Pak Tua, di balik kemudi yang hangus, menoleh perlahan ke arah Bram. Untuk pertama kalinya, ia mengangkat wajahnya.

Tidak ada mata. Hanya dua rongga hitam yang mengeluarkan asap kemenyan.

"Naik," perintah Pak Tua. Suaranya terdengar langsung di dalam kepala Bram, menggeser setiap pikiran rasional yang tersisa.

Bram tidak punya pilihan. Dunia nyata sudah jauh di belakang. Satu-satunya jalan adalah masuk kembali ke dalam perut besi itu, menuju pengadilan yang menantinya di ujung malam.