Mesin diesel tua itu seolah-olah meminum ketakutan penumpangnya sebagai solar. Getarannya merambat naik dari lantai besi yang berkarat, menyusup ke tulang kering, lalu bergetar di dalam sumsum Bram. Bukan guncangan jalanan berlubang khas Pantura yang ia rasakan, melainkan denyutan ritmis. Basah. Organik. Seperti berada di dalam perut makhluk raksasa yang sedang mencerna mangsanya perlahan-lahan.
Bram mencengkeram tas kulit di pangkuannya. Jemarinya memutih. Urat-urat punggung tangannya menonjol, tegang. Di dalam tas itu, tumpukan uang rupiah—hasil curian yang seharusnya membebaskannya dari jeratan hutang dan skandal di Jakarta—terasa berat. Bukan berat massa, tapi berat dosa. Anehnya, tas itu terasa hangat. Hangat yang menjijikkan, seakan tumpukan kertas di dalamnya sedang demam.
"Tiket," suara itu terdengar seperti gerinda yang menggesek tulang.
Bram tersentak. Lamunannya tentang pelarian pecah berkeping-keping.
Di lorong bus yang remang, Jaka berdiri. Sosok kondektur itu menjulang kaku. Seragam safari abunya tampak terlalu sempit, seolah membungkus tubuh yang salah ukuran. Wajahnya datar. Mata itu, dua lubang hitam tanpa pantulan cahaya, menatap lurus ke arah Darma yang duduk dua baris di depan Bram.
Darma, pengusaha paruh baya dengan setelan jas yang sudah kusut oleh keringat dingin, tampak gemetar. Ia terus mengetuk-ngetukkan jari gemuknya ke kaca arloji Rolex emas di pergelangan tangan kiri. Jarum jam itu mati kaku di angka dua belas. Tidak bergerak satu detik pun sejak mereka meninggalkan terminal.
"Tiket," ulang Jaka. Nadanya datar, tanpa intonasi bertanya. Itu sebuah perintah mutlak.
"Panas sekali di sini, Bung!" Darma membentak, suaranya pecah karena panik yang ditahan. Ia melonggarkan dasinya dengan kasar. "AC-nya mati? Saya bayar mahal! Saya ini mau ke Surabaya urusan bisnis penting besok pagi! Kenapa jalannya lambat begini? Kita sudah sampai mana?"
Jaka tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya yang kotor oleh oli dan noda hitam pekat. Telapak tangan itu terbuka. Menuntut.
"Tiket," katanya lagi. Kali ini, udara di sekitar mereka terasa memadat. Bau kapur barus menyeruak tajam, menutupi bau apek jok bus.
Darma mendengus kasar, merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar. Ia menarik selembar kertas persegi panjang. Tiket bus Laju Sanjaya. Warnanya merah kusam.
Saat Darma menyodorkannya, Jaka menyambar kertas itu dengan gerakan yang terlalu cepat untuk mata manusia. Krek. Bunyi sobekan itu terdengar basah. Jaka melubangi tiket itu dengan alat pembolong yang berkarat.
Bram memperhatikan dari belakang dengan napas tertahan. Ia menyipitkan mata. Ada yang salah. Serpihan yang jatuh dari alat pembolong tiket itu tidak melayang seperti kertas. Serpihan itu jatuh berat ke lantai.
Pluk.
Itu bukan kertas.
Bram menelan ludah yang terasa pahit. Ia meraba saku kemejanya sendiri, mencari tiket yang ia beli di loket terminal yang aneh tadi. Jemarinya menyentuh permukaan benda itu. Teksturnya ganjil. Halus, namun berserat. Ada sedikit bulu-bulu halus yang nyaris tak kasat mata di permukaannya.
Ia menarik tiket itu keluar perlahan, takut melihat apa yang ada di tangannya.
Di bawah keremangan lampu kabin yang berkedip kekuningan, tiket itu tampak berpori. Bram menggosoknya dengan ibu jari. Minyak tipis menempel di kulitnya. Bau amis samar tercium. Pori-pori itu tampak familiar. Pola guratannya juga familiar.
Itu kulit.
Kulit manusia yang dikeringkan.
Tulisan "Laju Sanjaya" di atasnya bukan dicetak dengan tinta, melainkan dibakar—seperti cap ternak pada daging hidup.
Rasa mual menghantam ulu hati Bram. Ia ingin melempar benda menjijikkan itu, tapi tangannya kaku. Ketakutan purba menahannya. Jika ia membuang tiket ini, ia merasa sesuatu yang jauh lebih buruk akan terjadi. Tiket ini adalah satu-satunya hal yang menjamin keberadaannya di dalam "kendaraan" ini. Tanpa tiket, ia hanyalah daging segar di tengah jalan antah berantah.
"Tiket."
Suara serak Jaka kini terdengar lebih dekat. Kondektur itu sudah bergeser, melewati Darma yang kini tertunduk sambil memegangi dadanya, seolah baru saja kehilangan separuh nyawanya.
Jaka kini berdiri di samping kursi Siti.
Wanita muda itu duduk tepat di seberang lorong dari Bram. Kebayanya lusuh, warnanya pudar termakan usia dan debu. Rambutnya disanggul asal-asalan, menyisakan helai-helai basah yang menempel di leher jenjangnya yang pucat. Ia menunduk dalam, mendekap buntalan kain jarik di dadanya.
"Sstt... diam ya, Sayang. Jangan nangis... jangan nangis..." bisik Siti. Suaranya halus, seperti desau angin di antara nisan tua.
Tidak ada suara tangisan dari buntalan itu. Hening. Hanya ada bau anyir yang lebih tajam daripada bau tiket di tangan Bram. Bau darah yang mulai membusuk.
Jaka menatap Siti. Untuk sesaat, gerakan mekanis kondektur itu terhenti. Ada keraguan—atau mungkin antisipasi—dalam postur tubuhnya yang kaku.
"Tiket," tagih Jaka.
Siti tidak mengangkat wajah. Ia hanya menggeser sedikit buntalan kain itu, memperlihatkan tangan kirinya yang menggenggam potongan kulit merah kusam serupa. Ia tidak menyerahkannya. Ia hanya memperlihatkannya sekilas, seolah itu adalah jimat pelindung.
"Dia belum bayar..." gumam Siti lirih, matanya tetap terpaku pada buntalan di pelukannya. "Dia masih kecil... belum punya dosa... belum harus bayar..."
Jaka terdiam. Suara mesin bus menderu, seolah marah. Dari kursi pengemudi di depan, kepulan asap rokok kretek membumbung tinggi. Pak Tua, sang supir, tidak menoleh sedikitpun, tapi Bram bisa melihat lewat kaca spion tengah—mata supir itu tertutup bayangan topi pet, namun seringai lebar menghiasi wajah keriputnya. Gigi-giginya kuning dan runcing.
Jaka akhirnya memalingkan wajah, melewati Siti tanpa melubangi tiketnya.
Kini giliran Bram.
Langkah kaki Jaka terdengar berat. Dug. Dug. Dug. Sepatu lars militernya menghantam lantai bus, meninggalkan jejak basah yang berbau lumpur kuburan.
Bram menekan punggungnya ke sandaran kursi sekuat tenaga, berharap ia bisa tembus dan lari ke belakang. Tapi ia terperangkap.
Sosok Jaka menjulang di sampingnya. Bau formalahida dan tanah basah menusuk hidung Bram, membuatnya ingin muntah.
"Tiket," kata Jaka.
Tangan Bram gemetar hebat saat ia menyodorkan potongan kulit itu. Ia tidak berani menatap wajah kondektur itu. Ia membuang pandangan ke arah tas uang di pangkuannya.
Jaka tidak segera mengambilnya. Ia diam. Bram bisa merasakan tatapan dua lubang hitam itu menelanjangi jiwanya, menembus tas kulit, melihat tumpukan uang haram di dalamnya.
"Berat?" tanya Jaka tiba-tiba. Suaranya berbeda. Lebih parau. Lebih mengejek.
Bram tersentak. Ia mendongak refleks. Wajah Jaka hanya berjarak beberapa sentimeter. Kulit wajah kondektur itu tampak seperti lilin yang meleleh, kaku dan berminyak.
"Ap... apa?" suara Bram tercekat.
"Bawaanmu," Jaka menunjuk tas Bram dengan dagunya. "Berat. Ongkosnya mahal kalau bawa beban seberat itu."
"Sa... saya sudah bayar di loket," elak Bram, suaranya bergetar. "Ini tiketnya."
Jaka menyeringai. Bibirnya kaku, merekah hingga ke telinga, memperlihatkan gusi yang hitam. Ia menyambar tiket dari tangan Bram.
Krek.
Bunyi sobekan itu terasa sakit di telinga Bram, seolah gendang telinganya yang disobek. Jaka mengembalikan tiket itu. Ada lubang kecil di sana sekarang. Tepi lubang itu hangus dan berasap, seperti baru saja disundut rokok.
"Simpan," desis Jaka. "Jangan sampai hilang. Kalau hilang... kau yang menggantikannya."
Kondektur itu berbalik, menyeret kakinya ke bagian belakang bus, meninggalkan Bram yang terengah-engah kehabisan oksigen.
Bram buru-buru memasukkan kembali tiket itu ke saku, lalu memeluk tasnya erat-erat. Jantungnya berpacu liar. Tenang, Bram. Tenang. Ini cuma mimpi buruk. Kau kelelahan. Kau stres karena kasus korupsi itu. Sebentar lagi kau sampai di kampung. Kau akan bangun, punya uang banyak, dan hidup tenang.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tapi logika itu runtuh saat ia menoleh ke jendela.
Di luar, kegelapan malam bukan sekadar absennya cahaya. Itu adalah materi padat. Kabut tebal bergulung-gulung menutupi segalanya. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah penduduk. Tidak ada bintang.
Tiba-tiba, sebuah cahaya melintas.
Harapan menyentak dada Bram. Cahaya!
Ia menempelkan wajahnya ke kaca yang dingin dan berembun. Di kejauhan, ia melihat deretan lampu kekuningan. Bentuknya memanjang. Sebuah bangunan? Restoran? Pom bensin?
"Kita sampai..." bisiknya penuh harap. "Itu pasti kota."
Tapi saat bus melaju mendekat, realitas kembali memelintir persepsinya. Lampu-lampu itu bukan lampu listrik. Itu adalah api obor yang berjejer di sepanjang jalan setapak yang sempit dan terjal. Dan bangunan itu...
Itu bukan rumah makan. Itu adalah gerbang pemakaman tua dengan nisan-nisan batu yang miring dan berlumut. Di antara nisan-nisan itu, bayangan-bayangan hitam berdiri diam, menatap ke arah jalan raya, menatap ke arah bus yang melintas.
Mereka tidak punya wajah.
Bus Laju Sanjaya tidak melambat. Justru, Pak Tua menginjak gas lebih dalam. Mesin meraung seperti binatang buas yang terluka. Pemandangan mengerikan di luar sana melesat menjadi kabur, berganti kembali menjadi lorong pepohonan hutan jati yang angker. Batang-batang pohon itu tampak seperti lengan-lengan kurus yang mencoba menggapai bus, mencakar badan kendaraan.
Sreeeet... Sreeeet...
Suara ranting yang menggesek bodi bus terdengar seperti kuku yang digoreskan di papan tulis raksasa.
Bram menarik diri dari jendela, napasnya memburu. Ini bukan Jalur Pantura. Tidak ada hutan jati selebat ini di Pantura tahun 1985. Ini tempat lain.
Dan kemudian, ia menyadarinya.
Kabin bus mulai berubah.
Awalnya tidak kentara. Kursi penumpang di depannya, yang tadinya berlapis vinil merah robek, kini tampak berdenyut pelan. Pola sobekannya menyerupai luka menganga. Busa kuning yang menyembul keluar tampak basah dan merah, seperti lemak tubuh.
Lantai bus di bawah kakinya terasa melunak. Bukan lagi besi keras, tapi sesuatu yang kenyal. Bram menarik kakinya dengan jijik. Sepatunya meninggalkan bekas lekukan, seolah ia menginjak tanah liat—atau daging busuk.
"Jam berapa ini?" Darma berteriak lagi dari depan, suaranya kini histeris. Ia mengguncang-guncangkan arloji mahalnya. "Kenapa jam ini tidak jalan! Hei! Supir! Berhenti! Saya mau turun!"
Darma berdiri, sempoyongan karena bus yang melaju kencang di tikungan tajam. Ia mencoba berjalan ke depan, menuju Pak Tua.
"Duduk," suara Jaka terdengar dari belakang bus. Menggema. Tidak wajar.
"Persetan!" teriak Darma. "Saya pengusaha! Saya bisa beli bus rongsokan ini beserta nyawa kalian sekalian! Turunkan saya!"
Darma mencengkeram tiang besi di dekat pintu depan. Tapi begitu tangannya menyentuh tiang itu, ia menjerit.
"Aaaargh! Panas!"
Darma menarik tangannya. Telapak tangannya melepuh, kulitnya mengelupas merah. Tiang besi itu membara, seolah dipanaskan dari dalam.
"Duduk," ulang Jaka. Kali ini suaranya lebih dekat. Jauh lebih dekat.
Darma mundur ketakutan, jatuh terduduk kembali di kursinya. Ia menangis. Pria paruh baya yang sombong itu menangis seperti anak kecil, memeluk tangannya yang terluka.
Bram menyaksikan semua itu dengan horor yang membekukan darah. Ia sadar, tidak ada jalan keluar. Pintu itu tertutup rapat. Jendela itu kaca mati. Dan supir di depan sana... dia tidak akan pernah menginjak rem.
Di pangkuannya, tas berisi uang korupsi itu berdenyut makin kencang. Dug-dug. Dug-dug. Iramanya sinkron dengan raungan mesin bus.
Tiba-tiba, ritsleting tas itu terbuka sendiri perlahan. Zzzzt.
Bram menahan napas. Ia tidak menyentuhnya.
Dari celah ritsleting yang terbuka, selembar uang sepuluh ribu menyembul keluar. Tapi itu bukan lagi kertas bergambar RA Kartini. Gambar pahlawan itu telah berubah. Wajah di uang itu kini adalah wajah Bram sendiri.
Wajah Bram yang sedang menjerit kesakitan, dengan mata melotot dan mulut menganga lebar, seolah sedang disiksa di neraka.
Bram membanting tas itu ke kursi kosong di sebelahnya. Ia mundur, menabrak dinding bus yang kini terasa berlendir.
"Tidak... tidak..." racau Bram.
Bus Laju Sanjaya menukik tajam ke bawah. Gravitasi terasa hilang sesaat. Perut Bram mual luar biasa. Mereka tidak sedang menuruni bukit. Kemiringan ini terlalu curam. Hampir vertikal.
Mereka sedang menuju ke bawah tanah.
Ke kedalaman di mana cahaya matahari tidak pernah menyentuh. Ke tempat di mana dosa-dosa mereka telah menunggu dengan sabar untuk menagih hutang.
Dan di tengah deru mesin yang memekakkan telinga, Bram mendengar suara lain. Suara bisikan dari ribuan orang, bertumpang tindih, merayap dari balik dinding bus, dari bawah kursi, dari dalam ventilasi AC yang mati.
"Selamat datang... selamat datang di penyesalan..."
Lampu kabin padam total. Kegelapan mutlak menelan mereka. Hanya ujung rokok kretek Pak Tua yang menyala merah di depan, seperti mata iblis yang menuntun mereka pulang ke neraka.