Gema di Aspal Basah: Orderan Misterius Dering Notifikasi dari Neraka
3/32
Bab 3

Dering Notifikasi dari Neraka

Kegelapan itu tidak kosong; ia memiliki tekstur, dingin dan lengket seperti oli bekas yang dicampur dengan tanah kuburan yang baru digali. Pukul 02:45 pagi itu lenyap ditelan sensasi jatuh yang tak berujung, di mana gravitasi terasa seperti tangan raksasa yang meremas dada Aris hingga sesak. Tidak ada teriakan yang keluar dari mulutnya, hanya gelembung udara bisu yang pecah dengan sia-sia di tengah massa hitam pekat yang menyedotnya turun.

Ia mencoba menggapai apa pun, akar pohon, batu nisan, atau bahkan kaki penumpang misterius itu, namun jari-jarinya hanya mencakar kehampaan yang cair. Rasa dingin menusuk tulang, bukan dinginnya angin malam Jakarta, melainkan dingin yang absolut, seolah-olah seluruh kehangatan hidup telah disedot keluar dari pori-porinya. Ponsel di genggamannya bergetar satu kali, sebuah ironi menyedihkan di tengah kiamat kecil ini, layarnya yang retak memancarkan cahaya redup sebelum akhirnya mati total, meninggalkan Aris sendirian dengan detak jantungnya yang memburu liar seperti binatang terperangkap.

Aris terhempas. Bukan ke dasar lubang tanah, melainkan ke atas lantai keramik yang dingin dan licin.

Napasnya memburu, tersengal-sengal seolah baru saja lolos dari tenggelam. Ia terbatuk, memuntahkan cairan hitam yang terasa pahit dan anyir, rasa aspal dan penyesalan. Ia mengusap matanya yang perih, mencoba memfokuskan pandangan. TPU Karet Bivak telah hilang. Nisan-nisan tua, pohon kamboja yang rimbun, dan kabut tebal itu lenyap tak berbekas. Sebagai gantinya, ia kini terkapar di sebuah lorong panjang dengan penerangan lampu neon yang berkedip-kedip sekarat, mengeluarkan dengungan listrik statis yang menyakitkan telinga. Dinding lorong itu dicat warna abu-abu kusam, catnya mengelupas di sana-sini menyerupai kulit penderita kusta, memperlihatkan lapisan beton yang retak di bawahnya.

"Di mana ini..." desis Aris, suaranya parau. Ia mencoba bangkit, namun kakinya terasa lemas seperti jeli. Jaket ojol hijaunya yang kebanggaan itu kini kotor oleh lendir hitam, berat membebani bahunya.

Ia mengenal tempat ini. Bukan secara harfiah, tapi atmosfernya. Aroma pengharum ruangan murah berbau jeruk nipis yang gagal menutupi bau debu karpet, suara tust keyboard yang samar dari kejauhan, dan rasa tertekan yang menggantung di udara. Ini adalah distorsi dari kantor lamanya, tempat di mana ia pernah menggantungkan mimpi sebelum akhirnya dipecat dengan pesangon yang habis dalam dua bulan. Namun, proporsinya salah. Langit-langitnya terlalu tinggi, menjulang ke kegelapan, dan lorong ini tampak memanjang tanpa titik akhir, melengkung ke arah yang tidak masuk akal secara fisika.

Aris memaksakan diri berdiri, berpegangan pada dinding yang terasa berdenyut di bawah telapak tangannya. Ia harus keluar. Ini pasti mimpi buruk akibat kelelahan mengejar tup (tutup poin). Mungkin ia pingsan di pinggir jalan karena kurang tidur dan otaknya merekayasa halusinasi ini.

"Bangsat," umpatnya pelan, mencoba merogoh saku celana untuk mengambil rokok, namun kotak rokoknya basah kuyup dan hancur. "Bangun, Ris. Bangun. Jangan gila."

Ia mulai berjalan, menyeret kakinya yang berat. Suara langkahnya memantul di lorong kosong itu, menciptakan gema yang terdengar seperti langkah kaki orang lain yang mengikutinya. Tap. Tap. Tap. Setiap kali ia berhenti, gema itu berhenti sedetik kemudian, seolah-olah bayangannya sendiri terlambat bergerak. Di sepanjang dinding, ia melihat pintu-pintu kantor berjejer. Namun, tidak ada nomor ruangan atau nama divisi. Plakat di pintu-pintu itu bertuliskan hal-hal yang membuat perut Aris mual: Ruang Penundaan, Departemen Alasan Palsu, Divisi Janji Kosong.

Ia mempercepat langkahnya, keringat dingin mengucur di pelipis. Ia tidak ingin melihat isi ruangan-ruangan itu. Ia hanya ingin menemukan pintu keluar, tangga darurat, lift, apa saja yang bisa membawanya kembali ke aspal Jakarta yang keras namun nyata.

Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan lorong. Suara yang sangat familiar, namun terdengar seperti diputar dari kaset rusak yang pitanya kusut.

"Rezeki itu nggak akan ketuker, Ris. Yang penting berkahnya, bukan jumlahnya."

Aris terhenti. Tubuhnya kaku. Itu suara Pak Mulyono. Tapi Pak Mulyono tidak ada di sini. Pak Mulyono ada di pangkalan, mungkin sedang tidur di atas motor bututnya menunggu orderan subuh. Aris menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah. Di ujung lorong yang gelap, ia melihat sosok siluet bungkuk mengenakan jaket hijau yang lusuh. Sosok itu berdiri diam, wajahnya tertutup bayangan helm yang kacanya buram.

"Pak Mul?" panggil Aris, suaranya bergetar antara harapan dan ketakutan. "Pak, ini beneran Bapak? Kita di mana, Pak? Saya... saya tadi jatuh."

Sosok itu tidak menjawab, hanya menunjuk ke sebuah pintu kaca besar di samping Aris. Pintu itu berbeda dari yang lain. Kaca pintunya retak seribu, namun Aris bisa melihat ke dalamnya. Dan apa yang ia lihat membuat darahnya berdesir ngeri.

Di dalam ruangan itu, ia melihat dirinya sendiri.

Aris versi masa lalu, tiga tahun yang lalu. Aris yang masih mengenakan kemeja rapi, dasi yang sedikit longgar, duduk di hadapan meja kerjanya. Wajahnya merah padam menahan amarah. Di depannya berdiri seorang rekan kerja, Budi, kalau ia tidak salah ingat, yang sedang menunduk ketakutan. Aris di balik kaca itu sedang berteriak, mulutnya bergerak-gerak penuh kebencian, menunjuk-nunjuk wajah Budi dengan telunjuk yang gemetar. Meskipun kaca itu tebal, Aris yang berdiri di lorong bisa mendengar suaranya sendiri menembus benaknya, jernih dan tajam.

"Lu itu bego apa gimana sih? Laporan kayak gini aja nggak becus! Gue yang kena semprot Bos gara-gara ketololan lu! Asal lu tau ya, gue bakal pastiin kontrak lu nggak diperpanjang!"

Aris di lorong mundur selangkah, menabrak dinding seberang. Ia ingat kejadian itu. Itu adalah hari di mana ia memfitnah Budi untuk menutupi kesalahan fatal yang ia buat sendiri dalam input data penjualan. Ia mengorbankan Budi demi menyelamatkan posisinya, demi bonus akhir tahun yang ia gunakan untuk DP motor sport yang akhirnya ditarik leasing juga. Budi dipecat seminggu kemudian. Aris tidak pernah meminta maaf.

"Itu... itu cuma kerjaan," gumam Aris pada dirinya sendiri, mencoba membela diri di hadapan pengadilan kosong ini. "Hukum rimba, Pak Mul. Siapa kuat dia menang. Kalau saya nggak gitu, saya yang dipecat. Saya punya Ibu yang sakit..."

Sosok Pak Mulyono di ujung lorong itu perlahan mendekat. Langkahnya berat, disertai suara kretek-kretek tulang tua yang ngilu. "Ibu kamu sakit, atau ego kamu yang sakit, Ris?" Suara itu bukan lagi suara Pak Mulyono yang lembut, melainkan suara parau yang menggema dari segala arah, seolah dinding-dinding itu sendiri yang berbicara.

"Diam!" bentak Aris, menutup telinganya. "Lu nggak tau apa-apa! Lu cuma orang tua yang nggak punya ambisi! Lu nggak tau rasanya jadi pecundang!"

Pemandangan di balik kaca berubah. Ruang kantor itu meleleh seperti lilin yang dipanaskan. Kini, Aris melihat pemandangan lain. Lampu merah Perempatan Coca-Cola. Hujan deras. Aris versi ojol sedang duduk di atas motor, menatap layar ponsel dengan obsesif. Di samping motornya, ada Rio, anak kecil penjual tisu yang sering mangkal di sana. Rio sedang mengetuk spion Aris, menawarkan tisu dengan wajah memelas, basah kuyup.

Aris di dalam kaca menepis tangan Rio dengan kasar hingga dagangan anak itu jatuh berserakan di aspal basah.

"Minggir lu, bocah! Ngalingin jalan aja! Gue lagi nunggu orderan kakap nih! Dasar gembel!"

Aris di lorong memejamkan mata erat-erat. Ia ingat rasa puas yang aneh saat membentak Rio hari itu. Rasa superioritas semu karena ia merasa memiliki kuasa, meskipun hanya di atas jok motor. Ia melampiaskan kekesalannya pada sistem aplikasi yang tidak memberinya orderan kepada anak kecil yang tidak berdaya.

"Cukup..." rintih Aris. "Gue mau keluar. Gue mau pulang."

"Pulang ke mana?" suara itu bertanya lagi, kali ini lebih dekat, tepat di belakang telinganya. "Ke rumah kontrakan yang nunggak tiga bulan? Ke pelukan Sarah yang sudah kau usir demi karir yang sekarang hancur? Atau ke dalam kebohongan yang kau ceritakan pada Ibumu setiap hari Minggu?"

Aris berbalik cepat, melayangkan tinjunya ke arah suara itu. Namun, tidak ada siapa-siapa. Lorong itu kosong melompong. Sosok Pak Mulyono telah menghilang. Hanya ada pintu lift di ujung lorong yang kini terbuka perlahan, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan yang bercampur dengan kabut tebal.

Di tengah cahaya itu, motor Honda Beat miliknya terparkir dengan standar dua. Mesinnya mati, namun lampu depannya menyala menyorot lurus ke arah Aris. Dan di jok belakang, Si Penumpang Misterius itu duduk dengan tenang. Kali ini, ia tidak memakai helm. Kepalanya terbungkus kain kafan yang longgar, namun di balik kain itu, Aris bisa melihat seringai lebar yang retak, seolah wajahnya terbuat dari porselen yang dihantam palu. Tangan penumpang itu menepuk-nepuk jok pengemudi, sebuah undangan bisu yang mengerikan.

Aris tahu ia tidak punya pilihan. Lorong ini semakin menyempit. Dinding-dindingnya mulai bergerak mendekat, ingin menghimpitnya sampai remuk. Suara tawa rekan-rekan kerjanya yang dulu, tangisan Rio, dan bentakan bosnya mulai berbaur menjadi satu kakofoni yang memekakkan telinga. Satu-satunya jalan keluar adalah menembus kabut itu, bersama penumpang yang membawa petaka ini.

Dengan gemetar, Aris melangkah mendekati motornya. Setiap langkah terasa seperti menyerahkan sepotong jiwanya. Ia naik ke atas motor, merasakan jok yang dingin membekukan pantatnya. Tangannya mencengkeram setang motor yang terasa licin oleh keringat.

"Kita... kita mau ke mana lagi?" tanya Aris, tidak berani menoleh ke belakang, menatap spion pun ia tak sanggup karena takut melihat apa yang ada di boncengannya.

"Jalan saja," bisik penumpang itu. Suaranya tidak lagi terdengar di telinga, melainkan langsung bergema di dalam batok kepala Aris, merayap di sela-sela neuron otaknya. "Tagihanmu masih panjang, Ris. Kita baru saja mulai verifikasi data."

Mesin motor menyala sendiri dengan raungan yang tidak wajar, suara yang menyerupai jeritan panjang. Tanpa Aris memutar gas, motor itu melesat maju, masuk ke dalam lift yang terbuka, menembus cahaya putih, dan terjun kembali ke dalam labirin memori Jakarta yang lebih kelam.

Aris memejamkan mata saat angin kencang menerpa wajahnya. Ia merasakan aspal di bawah rodanya berubah tekstur. Bukan lagi lantai keramik, melainkan jalanan berbatu yang tidak rata. Aroma antiseptik rumah sakit mulai tercium samar-samar, bercampur dengan bau bunga sedap malam yang menyengat. Ia tahu ke mana arah tujuan selanjutnya, dan hatinya mencelos.

Rumah Sakit. Tempat di mana kebohongannya paling besar bersarang.

Di spion yang retak, sekilas ia melihat bayangan seorang wanita berdiri di pinggir jalan yang mereka lewati dengan kecepatan tinggi. Sarah. Mengenakan gaun biru yang sama, namun kini gaun itu kotor oleh tanah. Sarah tidak melihat ke arah Aris; ia sedang menatap jam tangan, menunggu seseorang yang tak akan pernah datang. Aris ingin berteriak memanggil namanya, ingin mengerem, ingin menjelaskan kenapa ia pergi waktu itu. Bahwa ia merasa minder, bahwa ia merasa tidak pantas bersanding dengan Sarah yang karirnya melesat naik sementara ia terpuruk. Bahwa egonya sebagai laki-laki terluka parah.

Tapi motor itu tidak mau berhenti. Roda-rodanya seperti memiliki kehendak sendiri, menyeret Aris menjauh dari kesempatan untuk memperbaiki masa lalu, memaksanya untuk terus melaju menuju konsekuensi yang tak terelakkan.

"Aku cuma mau sukses, Sar..." bisik Aris, air mata frustrasi mulai menggenang di sudut matanya, segera tersapu angin malam yang ganas. "Apa salah kalau aku mau punya harga diri?"

"Harga diri atau harga mati?" Penumpang di belakangnya terkekeh pelan. "Kau menjual jiwamu seharga promo diskon, Aris. Sekarang nikmati perjalanannya."

Motor Honda Beat itu melompat keluar dari kabut, mendarat keras di atas aspal Jalan Raya Bogor yang sepi. Namun jalanan itu tidak normal. Lampu-lampu jalan berwarna merah darah, dan pohon-pohon di pinggir jalan merunduk seperti orang-orang yang sedang berdoa dalam keputusasaan. Di kejauhan, sebuah bangunan putih besar menjulang tinggi, namun jendela-jendelanya gelap gulita seperti mata mayat yang kosong.

Aris mencengkeram setang motornya lebih erat. Ia sadar, malam ini belum akan berakhir. Fajar masih sangat jauh, dan ia masih harus melewati banyak pos pemeriksaan nurani sebelum ia diizinkan untuk sekadar berharap bisa melihat matahari lagi. Ia bukan lagi pengemudi yang memegang kendali; ia hanyalah sandera dari dosanya sendiri yang kini menagih ongkos perjalanan.