Aspal di bawah roda Honda Beat itu masih basah dan hitam, memantulkan cahaya merah dari lampu jalan yang berjajar seperti mata-mata bengkak yang menatapnya penuh tuduhan. Aris tidak bisa melepaskan cengkeramannya; jemarinya kaku, memutih di atas karet stang yang terasa licin oleh keringat dingin. Mesin motor meraung rendah, sebuah protes mekanis terhadap beban yang tak masuk akal di jok belakang. Angin malam yang biasanya membawa aroma debu dan sate hangus kini berbau tanah basah, bau tanah galian baru yang terasa menusuk hingga ke pangkal kerongkongan
Jalan Raya Bogor, urat nadi yang menghubungkan pinggiran kota dengan jantung Jakarta, seharusnya masih denyutkan kehidupan meski pukul dua pagi. Truk-truk ekspedisi, pedagang sayur yang mengejar pasar induk, atau sesama pejuang aspal yang berburu poin insentif dini hari. Namun, malam ini, jalanan itu membentang kosong. Kosong yang absolut. Pohon-pohon angsana di tepi jalan merunduk terlalu rendah, ranting-rantingnya seperti jari-jari keriput yang mencoba menggapai helm Aris.
"Pak, titiknya masih jauh?" suara Aris keluar serak, teredam oleh kaca helm yang mulai berembun.
Tidak ada jawaban. Hanya desau angin yang mempermainkan yang terdengar di telingga Aris. Lewat kaca spion yang bergetar hebat, Aris melihat sosok dengan jaket hoodie gelap itu duduk tegak, terlalu tegak. Tidak ada gerakan alami tubuh yang menyeimbangkan diri saat motor melibas lubang atau polisi tidur. Penumpang itu membeku seperti patung porselen yang retak, namun beratnya... Tuhan, beratnya seolah Aris sedang membonceng satu ton dosa.
Aris mencoba melirik ponsel yang terpasang di holder stang. Layar aplikasi ojek onlinenya berkedip aneh. Peta digital yang biasanya menjadi kompas hidupnya kini berulah. Garis biru penunjuk jalan itu tidak lagi lurus mengikuti rute wajar. Garis itu bergelombang, berputar-putar seperti cacing kepanasan, lalu menunjuk ke arah yang secara geografis tidak mungkin.
Orderan Ganjil. Istilah itu berdenyut di kepalanya. Di tongkrongan, Bambang sering bercerita sambil menghisap rokok kreteknya tentang orderan fiktif, tentang akun "tuyul" yang bisa memanipulasi lokasi demi bonus. Aris selalu tertawa sinis mendengarnya. Bagi Aris, teknologi adalah alat untuk dikuasai, bukan untuk ditakuti. Ia adalah predator di ekosistem aspal ini; ia yang memilih mangsa, ia yang menentukan rute. Tapi malam ini, ia sadar posisinya telah terbalik. Ia bukan lagi predator. Ia adalah umpan.
Motor terus melaju, seakan memiliki kehendak sendiri. Aris mencoba menarik tuas rem kiri, berharap bisa menepi di bawah lampu merkuri yang masih menyala normal. Namun, kabel rem itu terasa putus, los. Honda Beat itu terus meluncur menembus kabut tipis yang mulai turun menyelimuti jalanan.
Gedung-gedung di kiri kanan jalan mulai berubah bentuk. Ruko-ruko kusam dengan rolling door tertutup perlahan memudar, digantikan oleh siluet bangunan-bangunan tinggi yang terasa familiar namun salah tempat. Aris menyipitkan mata. Ia kenal struktur kaca gelap itu. Ia kenal lobi marmer yang kini terlihat kusam dan retak itu.
Ini bukan lagi Jalan Raya Bogor. Ini adalah distrik perkantoran di pusat Jakarta, tempat ia pernah menghabiskan lima tahun hidupnya sebagai staf administrasi sebelum badai PHK menerjang. Tapi kenapa ia ada di sini? Jarak dari Bogor ke Sudirman tidak mungkin ditempuh dalam sepuluh menit. Logika waktu dan ruang telah runtuh, menyisakan teror yang murni.
"Kita... kita nggak lewat sini, Pak," Aris mencoba protes lagi, suaranya bergetar hebat. "Ini memutar terlalu jauh, pak..."
Lagi-lagi, hanya sunyi yang menjawab.
Tiba-tiba, motor itu melambat dengan sendirinya tepat di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang hitam ke langit tanpa bintang. Gedung bekas kantornya. Di sinilah, tiga tahun lalu, Aris pernah merasa menjadi raja kecil. Di sinilah ia belajar bahwa sikut-menyikut adalah olahraga wajib untuk bertahan hidup.
Aris dipaksa menatap ke arah lobi gedung. Dinding kaca yang biasanya bening kini buram, namun di baliknya, sebuah adegan berputar seperti film bisu proyektor rusak.
Ia melihat dirinya sendiri.
Aris muda, dengan kemeja rapi yang disetrika licin oleh Ibunya, sedang berdiri di pojok ruang arsip. Di hadapannya ada seorang pria paruh baya yang menunduk lesu, Pak Mulyono, sebelum pria itu menjadi driver ojol. Dulu, Pak Mulyono adalah kepala bagian gudang yang jujur. Dalam visi itu, Aris melihat dirinya menyerahkan sebuah berkas palsu ke manajer HRD, sebuah berkas yang menuduh Pak Mulyono menggelapkan stok barang.
Napas Aris tercekat. Ia ingat momen itu. Itu adalah tiket emasnya untuk naik jabatan menjadi supervisor. Ia yang memalsukan data itu. Ia yang mengambinghitamkan Pak Mulyono yang gaptek dan terlalu polos. Aris ingat rasanya saat itu; bukan rasa bersalah, melainkan kepuasan. Rasa menang. Ia merasa cerdas karena bisa menyingkirkan batu sandungan dengan tangan bersih.
"Bukan..." bisik Aris, mencoba memalingkan wajah, tapi lehernya kaku. "Itu cuma strategi. Itu... persaingan kerja. Wajar."
Bayangan di kaca itu berubah. Pak Mulyono terlihat membereskan barang-barangnya ke dalam kardus, berjalan gontai keluar gedung dengan mata merah menahan tangis. Aris muda di dalam kaca tersenyum tipis, lalu kembali duduk di kursi empuk yang baru saja kosong.
Rasa dingin yang tidak wajar merayap dari punggung Aris, menembus jaket ojol hijaunya yang tipis. Penumpang di belakangnya bergerak sedikit, mencondongkan tubuh ke depan. Hembusan napasnya mengenai tengkuk Aris, dingin dan berbau kapur barus.
"Kau sebut itu strategi?"
Suara itu tidak masuk lewat telinga. Suara itu meledak langsung di dalam kepala Aris, bergema di antara dinding tengkoraknya. Itu bukan suara manusia. Itu adalah gabungan dari gesekan besi berkarat dan bisikan orang mati.
"Saya butuh uang!" teriak Aris defensif, berteriak pada jalanan kosong. "Ibu saya sakit! Saya butuh posisi itu! Orang seperti Pak Mul... dia nggak punya ambisi. Dia lambat!"
"Dan sekarang..." suara di kepalanya kembali terdengar, datar namun penuh ejekan, "Kau berada di aspal yang sama dengan dia. Berebut remah-remah yang sama."
Kata-kata itu menghantam ulu hati Aris lebih keras daripada pukulan fisik. Fakta bahwa karma telah memutar roda nasibnya begitu cepat adalah sesuatu yang selama ini ia sangkal mati-matian. Ia menjadi ojol karena "keadaan ekonomi global", bukan karena dosanya. Ia dipecat setahun kemudian karena "efisiensi", bukan karena ketidakmampuannya memimpin. Itu narasi yang ia bangun. Itu benteng egonya.
Tapi di depan gedung hantu ini, benteng itu mulai retak.
Lampu jalan di atas mereka berkedip liar, memercikkan bunga api. Adegan di kaca lobi menghilang, digantikan oleh pantulan wajah Aris sendiri di spion—pucat, mata melotot, dan penuh keringat. Namun, ada yang salah dengan pantulan itu. Wajah di spion itu bukan wajah Aris yang sekarang. Itu adalah wajah Aris yang sudah tua, keriput, dengan tatapan kosong dan mulut yang menganga tanpa suara, persis seperti mayat tanpa identitas yang sering ditemukan di pinggir kali.
"Jalan," perintah penumpang itu. Singkat. Mutlak.
Motor kembali menderu, meski Aris tidak memutar gas. Kaki-kakinya gemetar di atas footstep. Ia ingin melompat, ia ingin lari dan meninggalkan motor sialan ini. Persetan dengan cicilan, persetan dengan bonus harian. Tapi tubuhnya terkunci. Ia adalah sandera dari mesin yang ia banggakan, budak dari aplikasi yang ia tuhankan.
Pemandangan di sekitar mereka mulai melesat cepat, menjadi blur warna-warni yang memusingkan. Mereka meninggalkan distrik perkantoran, masuk kembali ke labirin jalanan Jakarta yang sempit dan kumuh. Bau selokan mampet dan sampah basah menyeruak. Aris mengenali aroma ini. Ini adalah aroma kemiskinan yang selalu ia coba hindari, aroma yang menempel pada jaket Rio, bocah penjual tisu di lampu merah Slipi.
Kenapa ke sini? Kenapa sekarang?
Aris teringat siang tadi. Panas terik. Ia sedang mengejar target poin tupo (tutup poin). Rio yang kecil dan dekil menyodorkan tisu tepat saat lampu hijau menyala. Aris yang panik karena takut terlambat menjemput orderan kakap, mengebrak stang dan memaki bocah itu. “Minggir, gembel! Bikin susah orang kerja aja!”
Ia melihat Rio terlonjak kaget, tisu dagangannya jatuh berserakan di aspal yang panas, tergilas roda motor Aris yang tancap gas. Aris tidak menoleh saat itu. Ia tidak peduli. Waktu adalah uang. Empati adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.
Sekarang, di tengah malam buta yang dikuasai kekuatan ganjil ini, kabut di depan mereka mulai membentuk sebuah persimpangan. Lampu lalu lintas di kejauhan menyala merah abadi. Di bawah tiang lampu itu, berdiri sosok kecil yang membelakangi mereka.
Sosok anak kecil.
Aris merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri diam di tengah zebra cross, memegang kotak tisu yang hancur.
"Tidak..." desis Aris. Air mata ketakutan mulai menggenang di sudut matanya, perih bercampur keringat. "Gue cuma ngejar target. Gue nggak bermaksud..."
"Targetmu," bisik penumpang di belakangnya, kali ini disertai kekehan pelan yang terdengar seperti suara tanah jatuh ke atas peti mati, "selalu membutuhkan tumbal, bukan begitu, Aris?"
Motor Honda Beat itu meluncur pelan namun pasti menuju sosok kecil di persimpangan. Aris menarik rem sekuat tenaga dengan tangan kanannya, sampai urat-urat di lengannya menonjol, tapi roda motor itu terus berputar, menyeretnya mendekati konfrontasi yang ia hindari.
Aspal di bawah mereka seolah berubah menjadi lumpur hisap. Setiap meter yang mereka tempuh terasa semakin berat, seakan-akan gravitasi di titik ini menarik mereka langsung ke neraka. Aris sadar, ini bukan lagi tentang mengantar penumpang. Ini adalah perjalanan ziarah ke makam hati nuraninya sendiri, dan malam masih sangat panjang...
Di kejauhan, lampu merah itu berubah menjadi kuning, lalu mati total. Kegelapan menelan persimpangan itu, menyisakan satu pertanyaan yang menggantung di udara: Apakah Aris siap melihat wajah bocah itu? Atau lebih tepatnya, apakah ia siap melihat apa yang telah ia lakukan pada dirinya sendiri?