Gema di Aspal Basah: Orderan Misterius Perjalanan Kelam
5/32
Bab 5

Perjalanan Kelam

Tuas rem kanan itu sudah menyentuh selongsong gas, ditarik paksa oleh jemari Aris yang kaku dan gemetar hebat. Logikanya berteriak bahwa gesekan kampas rem dengan piringan cakram seharusnya menghentikan putaran roda, atau setidaknya, menimbulkan decit nyaring tanda perlawanan. Namun, hukum fisika seolah telah menguap bersama kabut yang menyelimuti perempatan kumuh ini. Honda Beat butut itu terus meluncur, lambat namun pasti, menyeret Aris mendekati sosok kecil yang berdiri mematung di tengah zebra cross.

Aspal di bawah bannya terasa aneh. Bukan lagi permukaan keras yang biasa ia gilas setiap hari demi mengejar poin, melainkan bubur hitam pekat yang menyedot, seolah jalanan Jakarta malam ini telah berubah menjadi rawa hisap yang lapar.

"Berhenti... please, berhenti," desis Aris. Suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar seperti cicit tikus yang terjebak perangkap.

Ia mencoba menurunkan kakinya. Sol sepatunya menghantam aspal, berharap gesekan karet murahan itu bisa membantu pengereman. Namun, sensasi yang menjalar ke telapak kakinya bukan panas gesekan, melainkan dingin yang menusuk tulang. Seolah ia baru saja mencelupkan kaki ke dalam kolam es yang berbau bangkai tikus dan limbah rumah tangga.

Sosok di depan sana tidak bergeming.

Anak itu Rio. Aris mengenali postur tubuh ringkih itu. Kaos partai yang kebesaran, celana pendek dekil yang warnanya sudah tak jelas antara abu-abu atau cokelat lumpur, dan kotak tisu penyok di tangannya. Kotak tisu yang sama yang pernah Aris tepis kasar dua hari lalu saat anak itu menyodorkannya ke kaca spion motor.

Jarak mereka tinggal dua meter.

Hembusan napas di tengkuk Aris semakin berat. Bau kapur barus itu kini bercampur dengan aroma tanah basah galian kubur. Penumpang misterius di belakangnya tidak melakukan gerakan fisik apa pun, namun berat tubuhnya terasa menekan suspensi motor hingga batas maksimal, membuat setang terasa liar dan sulit dikendalikan.

"Kenapa kau takut menabraknya sekarang?"

Suara itu tidak masuk melalui telinga. Ia merembes langsung ke dalam batok kepala Aris, bergema di antara sela-sela neuron otaknya, dingin dan penuh ejekan.

"Bukankah kau sudah sering menabraknya?" lanjut suara itu, nadanya datar namun menyayat. "Bukan dengan ban motor, tapi dengan mulutmu. Dengan ambisimu."

Aris memejamkan mata tepat saat roda depannya hendak menyentuh betis kurus Rio. Ia menanti benturan. Ia menanti jeritan kesakitan atau bunyi tulang patah yang akan menghantuinya seumur hidup. Jantungnya memukul-mukul rongga dada, seirama dengan deru mesin motor yang terdengar seperti napas orang sakaratul maut.

Satu detik. Dua detik.

Hening...

Tidak ada benturan. Tidak ada guncangan.

Aris memberanikan diri membuka mata. Apa yang dilihatnya membuat perutnya mual seketika.

Ia tidak menabrak Rio. Motornya menembus tubuh anak itu.

Aris melihat organ dalam anak itu bukan sebagai daging dan darah, melainkan sebagai gumpalan asap hitam dan kenangan. Saat motornya "membelah" tubuh Rio, Aris dipaksa melihat sebuah adegan yang berputar cepat di dalam kabut itu. Sebuah memori.

Itu adalah siang yang terik di perempatan Slipi. Aris sedang melihat aplikasi di ponselnya, wajahnya tegang karena target poin harian (tupo) masih jauh, sementara waktu insentif hampir habis. Rio kecil datang, mengetuk spion, menawarkan tisu dengan senyum polos yang memamerkan gigi ompongnya.

"Minggir lu! Ganggu aja! Mata lu buta ya, lampu udah ijo!"

Suara bentakan Aris sendiri terdengar begitu jernih, memantul-mantul di dinding-dinding ruko yang gelap gulita di sekeliling mereka sekarang. Di dalam memori itu, Aris melihat wajah Rio berubah pucat, senyumnya lenyap, digantikan oleh ketakutan yang menjadi-jadi. Kotak tisu di tangan anak itu terjatuh, terinjak ban motor Aris yang langsung tancap gas tanpa menoleh lagi.

Aris di masa kini, yang duduk terpaku di atas motor hantu ini, merasakan sakit yang tajam di dadanya. Bukan sakit fisik, tapi rasa malu yang membakar. Rasa malu yang selama ini ia kubur di bawah tumpukan alasan "saya kerja keras demi Ibu".

"Hanya dua ribu rupiah, Aris," bisik Penumpang itu lagi, dagunya kini terasa menempel di bahu kiri Aris. Berat kepalanya tidak wajar, seberat batu nisan. "Kau memaki integritas Pak Mulyono yang selalu menyisihkan uang receh untuk anak ini. Kau bilang Pak Mulyono bodoh. Kau bilang sedekah tidak akan membayar cicilan motor."

Motor itu terus melaju pelan meninggalkan sosok Rio yang kini tertinggal di belakang. Aris ingin menoleh, ingin memastikan anak itu baik-baik saja, tapi lehernya terasa kaku. Ia hanya bisa melirik lewat kaca spion yang retak.

Di pantulan cermin itu, Rio tidak lagi berdiri. Anak itu perlahan meleleh, mencair menjadi aspal hitam, menyatu dengan jalanan Jakarta yang kejam. Hanya kotak tisu penyok itu yang tersisa, mengapung di atas genangan air hitam.

"Ini... ini tidak nyata," gumam Aris, suaranya bergetar. Keringat dingin mengalir deras dari balik helmnya, membasahi kerah jaket ojol hijaunya yang mulai apek. "Gue cuma capek. Ini pasti microsleep. Gue harus berhenti. Gue harus ngopi."

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia mencoba membangunkan logikanya. Namun, realitas di sekelilingnya menolak untuk patuh.

Lampu lalu lintas di atas sana masih mati, tapi entah dari mana, cahaya merah temaram mulai menyinari jalanan di depan. Bukan cahaya lampu kota, melainkan cahaya yang mirip dengan lampu darurat di lorong rumah sakit.

Aris mencoba lagi menarik rem. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya. Kiri dan kanan. Ia menarik sekuat tenaga sampai urat-urat di lengannya menonjol. Namun motor Honda Beat itu seolah memiliki nyawa sendiri. Mesinnya menderu rendah, sebuah drone mekanikal yang konstan dan menyiksa, menolak untuk diam. Roda motor itu terus berputar, membawa mereka masuk lebih dalam ke lorong gelap yang diapit oleh gedung-gedung tinggi yang tampak membungkuk, seolah sedang mengamati prosesi pemakaman.

"Kau tidak bisa mengerem di sini," suara Penumpang itu terdengar lebih jelas, lebih mendominasi. "Di dunia yang kau bangun, rem adalah tanda kelemahan, bukan? Kau selalu ingin cepat. Kau selalu ingin menyalip. Kau memotong jalur, kau melawan arus, kau menerobos lampu merah moralitas demi sampai lebih dulu."

Aris terdiam. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada angin malam. Ia teringat bagaimana ia sering mencemooh Sugeng dan Pak Mulyono di pangkalan.

"Ah, Pak Mul mah terlalu lurus. Kapan kayanya kalau nungguin orderan masuk doang? Pasang tuyul lah, Pak. Biar gacor!"

Dulu, kalimat itu terasa seperti nasihat cerdas dari seorang junior yang paham teknologi kepada orang tua yang gagap zaman. Sekarang, kalimat itu terdengar seperti racun yang keluar dari mulut ular.

Jalanan di depan mulai berubah bentuk. Aspal yang tadinya datar kini mulai bergelombang, menyerupai tekstur selimut rumah sakit yang kusut. Garis putus-putus pembagi jalan berubah menjadi garis lurus tanpa putus, garis EKG pada monitor detak jantung yang mendatar panjang.

Tiiiiiit....

Bunyi itu. Aris mendengarnya. Bunyi panjang yang paling ditakuti siapa pun yang pernah menunggu di ruang ICU.

"Ibu..." Aris tersentak.

Pikirannya langsung melayang ke wajah ibunya yang terbaring lemah dengan selang oksigen. Alasan utama ia menjadi monster di jalanan. Alasan ia menghalalkan segala cara. Semua demi Ibu, kan? Itu mantranya. Itu tamengnya.

"Jangan bawa-bawa Ibu!" teriak Aris tiba-tiba, memecah kesunyian jalanan mati itu. "Gue lakuin ini buat Ibu! Lu nggak tahu apa-apa!"

Penumpang di belakangnya tertawa. Bukan tawa terbahak-bahak, melainkan suara berkerot pelan seperti gesekan pintu engsel karatan.

"Benarkah?" tanya sosok itu. "Atau Ibu hanya alibimu? Alibi agar kau tidak merasa bersalah saat kau menginjak orang lain? Kau ingin Ibu sembuh, atau kau ingin terlihat sebagai pahlawan yang sukses menyembuhkan ibunya? Ada bedanya, Aris. Ada bedanya."

Pertanyaan itu menembus pertahanan Aris. Ia ingin membantah, tapi lidahnya kelu. Jauh di lubuk hatinya, di tempat yang paling gelap dan jarang ia kunjungi, ia tahu ada kebenaran di sana. Ia ingat saat Sarah meninggalkannya. Ia ingat rasa hina saat di-PHK. Ia ingat betapa ia haus akan pengakuan. Uang bukan hanya untuk obat Ibu; uang adalah bukti bahwa Aris mampu, bahwa Aris bisa bangkit, bahwa Aris bukan pecundang.

Motor itu berbelok sendiri ke kiri, memasuki sebuah gang sempit yang dinding-dindingnya penuh dengan lumut dan poster caleg yang sudah sobek-sobek. Gang ini terasa familiar. Terlalu familiar.

Bau got yang menyengat perlahan berganti. Kini tercium aroma masakan tumis kangkung dan sabun cuci murah. Aroma kontrakan petak.

"Tidak..." Aris menggelengkan kepalanya. "Jangan ke sini."

Ia mengenali gang ini. Ini adalah gang menuju kontrakan lama Sarah. Tempat di mana ia terakhir kali melihat wanita itu menangis di bawah hujan, tiga tahun lalu. Saat itu Aris baru saja mendapat promosi di kantor lamanya, sebelum bencana PHK terjadi dan ia merasa Sarah yang hanya seorang guru honorer tidak lagi selevel dengannya.

Motor melambat, tapi tidak berhenti. Roda berputar pelan, melindas genangan air yang memantulkan wajah Aris yang pucat pasi.

Di ujung gang, di bawah satu-satunya lampu jalan yang masih menyala namun berkedip-kedip seperti nyawa yang sekarat, seseorang sedang menunggu.

Seorang wanita dengan payung merah yang patah satu rusuknya. Ia berdiri membelakangi Aris, menatap tembok kosong yang penuh coretan vandal.

"Tagihan kedua," bisik Penumpang itu, dinginnya menjalar ke telinga Aris hingga membuatnya merinding. "Kau meninggalkan dia karena kau merasa dia beban. Kau merasa dia menghambat karirmu. Sekarang, lihatlah. Karirmu hancur, dan kau sendirian."

Aris ingin memutar balik. Ia menarik setang ke kanan sekuat tenaga, tapi motor itu terkunci pada jalurnya, seolah ada rel tak terlihat yang memaksanya maju menghadapi dosa masa lalu.

"Sarah?" panggil Aris lirih.

Wanita itu tidak berbalik. Namun, bahunya berguncang. Suara isak tangis yang tertahan mulai terdengar, bersahut-sahutan dengan suara rintik hujan yang tiba-tiba turun, bukan dari langit, melainkan merembes dari dinding-dinding gang seolah beton itu sedang menangis.

Hujan itu aneh. Airnya terasa hangat dan lengket saat menyentuh kulit tangan Aris. Warnanya kemerahan, seperti air bekas cucian daging.

"Lihatlah ke bawah, Aris," perintah Penumpang itu.

Aris menunduk. Speedometer motornya tidak lagi menunjukkan angka kecepatan. Jarum analog itu berputar liar, lalu berhenti menunjuk pada sebuah tulisan kecil yang muncul di panel instrumen yang retak.

Tulisan itu bukan "KM/H". Tulisan itu berbunyi: UTANG NURANI.

Dan di bawahnya, angka odometer berputar cepat, menghitung mundur dengan digit yang menyala merah darah.

"Kita belum sampai," kata Penumpang itu. "Jalanan penyesalan ini masih panjang. Dan kau belum membayar sepeser pun."

Aris merasakan motor itu kembali menyentak, menambah kecepatan secara tiba-tiba, menerjang ke arah sosok Sarah yang masih berdiri mematung. Kali ini, Aris tidak menutup mata. Ia dipaksa menyaksikan, dipaksa merasakan setiap inci dari kegelapan yang ia ciptakan sendiri.

Sebuah getaran hebat muncul dari saku celananya. Ponselnya berbunyi. Bukan nada dering orderan masuk. Itu adalah nada dering khusus yang ia setel untuk Suster Ningsih dari Rumah Sakit.

Di tengah antah berantah surealis ini, panggilan itu terasa lebih mengerikan daripada hantu mana pun. Apakah ini kabar buruk tentang Ibu? Atau ini bagian dari siksaan?

Tangannya gemetar saat merogoh saku, sementara motor terus melaju menembus bayangan Sarah, menuju kegelapan pekat yang menanti di ujung gang. Layar ponsel menyala, menampilkan satu nama, namun tanpa tombol hijau untuk mengangkat atau merah untuk menolak.

Hanya ada satu tombol di layar itu, berkedip-kedip menuntut perhatian:

AKUI