Asap masih menggantung di udara Trowulan ketika Raden Wijaya yang kini bergelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana berdiri seorang diri di balairung istana yang belum sepenuhnya rampung. Pilar-pilar kayu jati itu masih berbau getah, lantainya masih kasar oleh bekas langkah prajurit dan darah yang telah mengering. Di luar tembok, suara palu dan teriakan pekerja bersahut-sahutan—Majapahit sedang dilahirkan, bukan dari rahim damai, melainkan dari abu kehancuran.
Asap itu tidak hanya berasal dari dapur pembakaran bata atau perapian para pekerja. Ia juga membawa sisa-sisa perang, sisa ketakutan, dan sisa kenangan tentang kerajaan yang runtuh dengan cara yang kejam. Udara Trowulan belum sepenuhnya bersih dari masa lalu, dan Wijaya merasakannya di setiap tarikan napas. Ia kini resmi menjadi raja.
Namun mahkota itu terasa berat, seakan ditempa dari tulang para sahabat. Berat itu bukan datang dari emas atau simbol kekuasaan, melainkan dari ingatan. Setiap kemenangan yang diraihnya selalu diikuti bayangan wajah-wajah yang pernah berdiri di sisinya ketika ia belum memiliki apa pun selain keberanian dan siasat. Mahkota itu bukan hadiah. Ia adalah beban yang harus dipanggul dengan kesadaran penuh.
Wijaya memandang singgasana yang baru didudukkannya beberapa hari lalu. Ukirannya belum selesai, relief-reliefnya belum menuturkan kisah kejayaan apa pun. Belum ada sejarah. Yang ada hanya kemenangan yang separuhnya pahit.
Singgasana itu berdiri sebagai janji kosong yang menunggu diisi. Belum ada kidung, belum ada prasasti yang memuliakan nama Majapahit. Segala sesuatu masih rapuh, seperti bangunan yang bisa runtuh bila salah satu tiangnya dicabut terlalu cepat.
Di balik tirai kain kasar, Gayatri berdiri diam. Ia tidak masuk, tidak pula pergi. Ia tahu saat ini Wijaya membutuhkan kesunyian dan ia sendiri tenggelam dalam kegelisahan yang sama. Kesunyian itu bukan bentuk jarak, melainkan ruang aman bagi pikiran yang sedang menimbang terlalu banyak hal. Gayatri memahami bahwa diam kadang lebih jujur daripada kata-kata, terutama ketika kekuasaan baru saja lahir dan belum menemukan bentuknya.
Gayatri adalah putri Kertanegara, sang raja terakhir Singhasari. Yang oleh Raden Wijaya kemudian di angkat menjadi Rajapatni, pendamping raja. Sebuah gelar kehormatan sekaligus menegaskan betapa pentingnya peran Gayatri yang turut menjalankan roda pemerintahan bersama suaminya.
Gelar itu tidak datang sebagai hiasan istana. Ia lahir dari pengakuan bahwa Gayatri membawa warisan pemikiran dan pengalaman yang tidak dimiliki banyak orang di Majapahit, yaitu pengalaman menyaksikan langsung bagaimana sebuah kerajaan besar bisa runtuh karena pengkhianatan dan kesalahan perhitungan. Darah Singhasari mengalir di nadinya, bersama luka yang belum sembuh sejak istana ayahandanya yang diratakan oleh pengkhianatan Jayakatwang. Ia menyaksikan dunia runtuh, lalu bangkit kembali dalam wujud baru: Majapahit.
Kebangkitan itu seharusnya membawa harapan, namun bagi Gayatri, harapan selalu datang beriringan dengan kewaspadaan. Ia tahu betul bahwa kehancuran tidak selalu datang dari luar. Sering kali, ia tumbuh dari dalam—perlahan, nyaris tak terlihat. Namun ia juga tahu bahwa setiap kebangkitan selalu menuntut harga mahal. Ia melangkah masuk perlahan.
Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara, seolah ia tidak ingin mengganggu keseimbangan rapuh yang sedang dijaga Wijaya. Balairung itu terasa luas dan kosong, namun sarat dengan beban yang belum diberi nama. Wijaya menoleh. Tatapan mereka bertemu—tatapan dua manusia yang saling mencintai, namun kini terikat oleh sesuatu yang lebih kejam dari perang: kekuasaan.
Di antara mereka, tidak ada kemarahan. Yang ada hanyalah pengertian yang menyakitkan: bahwa sejak hari penobatan, mereka tidak lagi sepenuhnya milik satu sama lain.
“Majapahit berdiri,” kata Wijaya lirih. “Tapi aku tidak merasa menang.” Gayatri tersenyum tipis. Senyum yang lebih dekat pada luka daripada bahagia.
“Tak ada raja yang benar-benar menang di hari penobatannya.”
Ia tahu, kemenangan sejati bukan tentang merebut tahta, melainkan tentang mempertahankannya tanpa mengkhianati terlalu banyak hal. Dan itu adalah perjuangan yang lebih panjang daripada perang mana pun. Ia duduk di sisi singgasana, tidak sejajar, tidak pula merendah, posisi yang tak tertulis dalam aturan istana, namun dipahami semua orang. Gayatri bukan permaisuri hiasan. Ia adalah pikiran kedua kerajaan. Keberadaannya di sana bukan untuk menyaingi, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa kekuasaan yang tidak ditemani pemahaman hanya akan mengulang kesalahan lama dengan wajah baru.
“Para rakryan mulai datang dengan tuntutan,” lanjut Wijaya. “Tanah. Jabatan. Pengaruh.”
Tuntutan-tuntutan itu disampaikan dengan bahasa sopan, dibungkus jasa, dan dihiasi kesetiaan masa lalu. Namun Wijaya tahu, di balik semua itu tersimpan harapan yang jika tidak dipenuhi, bisa berubah menjadi luka.
“Dan para sahabat lama?” tanya Gayatri pelan.
Wijaya terdiam. Nama-nama itu tidak perlu disebut. Ranggalawe. Lembu Sora. Nambi. Kebo Anabrang Nama-nama yang terukir dalam ingatan lebih kuat daripada ukiran apa pun di batu. Mereka bukan sekadar pengikut. Mereka adalah bagian dari perjalanan yang membawa Wijaya ke titik ini.
Mereka yang dulu bertaruh nyawa demi Majapahit—kini mulai menghitung bagian masing-masing. Perhitungan itu bukan selalu soal keserakahan. Bagi sebagian dari mereka, itu soal pengakuan. Soal memastikan bahwa pengorbanan tidak dilupakan begitu saja oleh sejarah yang baru ditulis.
Gayatri menunduk. Di benaknya terlintas prasasti-prasasti yang kelak akan ditulis—tentang hadiah tanah, tentang jasa, tentang legitimasi kekuasaan. Ia tahu, sejarah tidak pernah ditulis dengan jujur. Sejarah adalah hasil negosiasi yang dimenangkan penguasa. Dan sebagai bagian dari kekuasaan itu, ia juga tahu bahwa tidak semua kebenaran bisa diselamatkan.
“Jika engkau membagi kerajaan seperti rampasan perang,” katanya lembut, “Majapahit tak akan bertahan.” Wijaya memejamkan mata. Ia memahami maksud Gayatri. Kerajaan yang lahir dari kompromi berlebihan hanya akan menjadi kumpulan kepentingan yang saling mencurigai.
“Apa yang harus kulakukan, Gayatri? Mereka saudaraku.” Pertanyaan itu keluar bukan dari seorang raja, melainkan dari seorang manusia yang sedang belajar kehilangan dengan cara yang berbeda.
“Dan engkau adalah raja.” Kalimat itu jatuh seperti bilah keris.
Ia tidak diucapkan untuk melukai, namun cukup tajam untuk mengingatkan bahwa posisi Wijaya kini tidak lagi sama. Ada jarak yang tak bisa ditutup oleh kenangan. Di luar, genderang kerajaan ditabuh. Rakyat berdatangan—petani dari tepi Brantas, pedagang dari pelabuhan Canggu, brahmana, empu, dan bekas prajurit Singhasari yang kini menggantungkan harap pada kerajaan baru ini.
Mereka datang bukan untuk melihat keraguan, melainkan untuk mencari kepastian. Bagi mereka, Majapahit adalah harapan terakhir agar kehancuran Singhasari tidak menjadi akhir segalanya. Majapahit bukan hanya istana. Ia adalah janji. Janji bahwa darah yang tertumpah tidak sia-sia. Janji bahwa kekuasaan bisa dibangun kembali, meski dari puing-puing dan pengkhianatan.
Gayatri berdiri, menatap keluar jendela. Ia melihat perempuan-perempuan membawa sesaji, anak-anak berlari di tanah merah, dan bendera-bendera sederhana yang dijahit dari kain sisa perang. Ia merasa bangga dan takut. Bangga karena Majapahit hidup. Takut karena hidup berarti harus bertahan.
“Kanda Prabu,” katanya lirih, “akan tiba hari ketika engkau harus memilih antara setia pada masa lalu… atau bertahan di masa depan.”
Wijaya membuka mata. Tatapannya kosong sejenak, seolah ia baru menyadari luasnya jalan yang harus ditempuh sendirian. Dan untuk pertama kalinya sejak penobatan, ia merasa benar-benar sendirian. Di kejauhan, bayangan Ranggalawe menunggang kuda memasuki gerbang istana—wajahnya tersenyum, tapi matanya menyimpan api yang belum padam.
Api itu belum menyala menjadi perlawanan, namun cukup terang untuk terlihat oleh mereka yang peka. Majapahit telah lahir. Dan bersama kelahirannya, benih tragedi mulai tumbuh.
Catatan Kaki Bab 1 1. Konsep legitimasi dan hadiah tanah tercatat dalam Prasasti Kudadu dan Prasasti Sukamerta (awal abad XIV). 2. Aktivitas pelabuhan Canggu dan struktur ekonomi awal Majapahit: Prasasti Canggu (1358 M), Negarakertagama pupuh XV.