DARAH MAJAPAHIT; Ranggalawe, Kesatria Tumbal Kekuasaan Darah Para Sahabat
3/31
Bab 3

Darah Para Sahabat

Malam itu hujan turun pelan di Trowulan, membasahi tanah merah yang belum lama mengering oleh darah dan api.

Hujan datang tanpa suara keras, seolah enggan mengganggu luka yang masih terbuka. Ia turun perlahan, meresap ke dalam tanah yang belum sepenuhnya pulih dari panas pertempuran. Tanah merah itu menyimpan jejak-jejak yang tidak semuanya terlihat oleh mata: bekas langkah prajurit yang gugur, sisa bara yang pernah membakar bangunan, dan darah yang sempat mengering sebelum akhirnya disamarkan oleh air.

Di malam seperti itu, Trowulan terasa sepi namun sarat ingatan. Tidak ada sorak kemenangan, tidak ada pesta penobatan. Yang ada hanyalah sisa-sisa kelelahan dan kewaspadaan, seolah kota ini masih ragu untuk benar-benar percaya bahwa perang telah usai.

Raden Wijaya duduk bersama Ranggalawe di serambi kayu, tanpa pengawal, tanpa gelar. Hanya dua lelaki yang pernah saling percaya di medan perang.

Serambi itu sederhana, diterangi cahaya obor yang bergetar tertiup angin malam. Tidak ada singgasana, tidak ada lambang kerajaan. Di sana, Wijaya tidak duduk sebagai raja, dan Ranggalawe tidak berdiri sebagai bawahan. Untuk sesaat, mereka kembali menjadi dua orang yang pernah berbagi rasa lapar, rasa takut, dan tekad yang sama.

Hujan jatuh di atap kayu dengan bunyi ritmis, seolah menghitung detik yang memisahkan masa lalu dan masa kini. Bau tanah basah bercampur dengan bau kayu tua, menghadirkan perasaan akrab yang sulit dijelaskan.

“Masih ingat saat kita bersembunyi di hutan Tarik?” Ranggalawe tersenyum. “Kita makan umbi liar, minum air hujan. Tak ada raja. Tak ada kerajaan.”

Senyum itu tidak sepenuhnya ringan. Ia membawa nostalgia tentang masa ketika hidup dipertaruhkan setiap hari, namun pilihan terasa lebih jujur. Tidak ada jabatan yang harus dijaga, tidak ada keputusan yang harus memuaskan banyak pihak. Yang ada hanya bertahan hidup dan saling percaya.

Wijaya mengangguk.

Kenangan itu juga hidup di dalam dirinya. Hutan Tarik bukan sekadar tempat persembunyian, melainkan ruang pembentukan. Di sanalah ia belajar bahwa kesetiaan tidak lahir dari perintah, tetapi dari kebutuhan satu sama lain. Di sanalah ia berdiri sejajar dengan mereka yang kini memanggilnya raja.

“Dan tak ada yang harus aku khianati.”

Kalimat itu meluncur begitu saja—dan langsung menciptakan jarak.

Begitu kata itu terucap, Wijaya menyadari kesalahannya. Namun kata-kata, sekali dilepaskan, tidak bisa ditarik kembali. Ia menggantung di udara, lebih berat daripada hujan yang jatuh.

Ranggalawe menoleh tajam.

Tatapan itu bukan sekadar reaksi spontan. Ia adalah akumulasi dari kegelisahan yang telah lama dipendam, sejak Majapahit berdiri dan garis pemisah mulai terbentuk.

“Apakah itu yang kau pikirkan sekarang?”

Nada suaranya rendah, namun mengandung tekanan. Ia tidak berteriak, tidak menghardik. Justru ketenangan itulah yang membuat pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan.

Wijaya menatap hujan.

Ia memilih melihat ke luar, ke gelap malam, seolah jawaban tidak bisa ditemukan di wajah sahabatnya. Di balik rintik hujan, ia mencoba menyusun ulang pikirannya.

“Aku berpikir tentang Majapahit.”

Jawaban itu jujur, namun tidak menenangkan. Ia bukan jawaban yang diharapkan oleh Ranggalawe, dan keduanya tahu itu.

“Dan aku berpikir tentang janji,” suara Ranggalawe mengeras. “Janji bahwa kita membangun ini bersama.”

Janji itu tidak pernah diucapkan dalam upacara, tidak disaksikan pendeta, dan tidak dicatat dalam prasasti. Ia lahir di tengah lumpur, darah, dan rasa saling percaya. Justru karena itu, janji itu terasa lebih nyata daripada sumpah apa pun.

Wijaya berdiri. Tubuhnya tegap, tapi bahunya berat.

Gerakannya perlahan, seolah ia membutuhkan waktu untuk melepaskan dirinya dari posisi duduk yang sarat makna. Berdiri bukan sekadar perubahan sikap, melainkan pernyataan bahwa percakapan ini telah memasuki wilayah yang tidak lagi setara.

“Kerajaan bukan lagi milik kita berdua.”

Kalimat itu jatuh tanpa hiasan. Ia tidak disampaikan dengan kemarahan, namun juga tanpa keraguan. Bagi Wijaya, kalimat itu adalah pengakuan tentang perubahan yang tidak bisa dihindari.

Ranggalawe ikut bangkit. Wajahnya memerah—bukan oleh amarah semata, tapi oleh rasa dilupakan.

Ia tidak merasa ditolak sebagai sahabat, melainkan disisihkan sebagai bagian dari perjalanan. Dan bagi seseorang yang bertaruh nyawa sejak awal, pengabaian semacam itu terasa lebih menyakitkan daripada kematian.

“Tanpa kami,” katanya, “kau tidak akan duduk di singgasana itu.”

Wijaya menoleh perlahan.

Ia tidak menyangkal kebenaran itu. Ia hanya menyadari bahwa kebenaran tidak selalu cukup untuk menentukan masa depan.

“Dan tanpa singgasana itu, semua pengorbanan kita akan sia-sia.”

Bagi Wijaya, singgasana bukan simbol kesombongan, melainkan alat untuk menjaga agar apa yang telah mereka lakukan tidak runtuh kembali. Namun penjelasan itu tidak mampu menjembatani luka yang telah terbuka.

Hening.

Hening itu panjang dan sarat. Tidak ada yang berbicara, namun banyak hal terucap tanpa kata. Hujan terus turun, seolah mengisi kekosongan yang tak mampu mereka isi sendiri.

Di kejauhan, suara gamelan terdengar lirih—ritual malam bagi para pendeta. Dunia tetap berjalan, tak peduli pada retaknya persahabatan.

Bunyi gamelan itu terdengar asing di telinga mereka, seperti pengingat bahwa kehidupan tidak berhenti hanya karena dua sahabat tidak lagi sejalan.

Ranggalawe tertawa pendek.

Tawa itu pahit, nyaris tanpa suara.

“Jadi ini harga kekuasaan?”

Pertanyaan itu melayang di antara mereka, tidak menunggu jawaban.

“Ini harga bertahan,” jawab Wijaya.

Ia tahu kalimat itu tidak akan diterima dengan lapang. Namun baginya, bertahan adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

Ranggalawe mendekat, menatap mata Wijaya.

Tatapan itu tajam, bukan karena kebencian, tetapi karena sisa kepercayaan yang belum sepenuhnya mati.

“Kalau begitu, bersiaplah membayar lebih mahal.”

Ia pergi, meninggalkan jejak kaki di tanah basah. Jejak yang perlahan hilang—seperti persahabatan mereka.

Setiap langkah menjauhkan Ranggalawe dari masa lalu yang pernah mereka bangun bersama. Hujan membantu menghapus jejak itu, seolah alam pun ikut menutup lembaran lama.

Wijaya berdiri lama setelah itu. Hujan membasahi rambut dan wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang terasa asin.

Ia tidak mengejar. Ia tidak memanggil. Diamnya bukan karena keteguhan, melainkan karena ia tahu bahwa tidak ada kata yang bisa mengembalikan apa yang telah retak.

Air hujan, atau air mata—ia tak lagi tahu.

Di balik dinding istana, Gayatri menyaksikan dari jauh. Ia tahu malam itu bukan akhir, melainkan awal dari tragedi yang tak bisa dicegah.

Ia memahami bahwa konflik seperti ini tidak pernah berhenti pada kata-kata. Ia tumbuh, berakar, dan suatu hari akan menuntut darah.

Majapahit berdiri megah.

Namun di dasarnya, darah para sahabat akan mulai meresap ke tanah.

Dan tanah itu, seperti sejarah, tidak pernah melupakan apa yang diserapnya.

Catatan Kaki Bab 3

• Konflik Wijaya–Ranggalawe tercatat dalam Pararaton sebagai cikal bakal ketegangan elite awal Majapahit. • Gambaran Tarik dan fase awal Majapahit merujuk pada Prasasti Kudadu serta Negarakertagama.