DARAH MAJAPAHIT; Ranggalawe, Kesatria Tumbal Kekuasaan Api yang Dijaga dalam Dada Gayatri
5/31
Bab 5

Api yang Dijaga dalam Dada Gayatri

Malam turun perlahan di Trowulan, seperti selimut berat yang menekan dada. Keputren tidak sepenuhnya sunyi ada langkah abdi, suara air dituangkan ke bejana, dan doa-doa lirih yang terucap nyaris tanpa suara. Namun di ruang dalam tempat Gayatri Rajapatni duduk, kesunyian terasa lain: kesunyian yang penuh ingatan.

Di hadapannya terbentang peta kasar Majapahit, digambar di atas kain tebal. Garis sungai Brantas mengular seperti urat nadi, pelabuhan-pelabuhan kecil ditandai dengan tinta gelap, dan wilayah sima diberi titik-titik merah. Peta itu tidak resmi, tidak akan pernah dipajang di balairung. Namun justru di sanalah Gayatri membaca masa depan kerajaan.

Ia mengingat ayahnya, Kertanegara, duduk di lantai batu Singhasari dengan peta serupa—jauh sebelum Majapahit lahir. Ingatan itu tidak pernah netral. Di balik kasih dan pelajaran, ada darah yang belum kering, ada istana yang dijarah, ada harga diri kedua saudarinya yang terenggut, ada nama Singhasari yang dipermalukan oleh Kediri. Sejak malam itu, Gayatri tidak lagi percaya pada takdir yang dibiarkan berjalan sendiri. Ayahnya selalu membiarkannya memegang peta, membaliknya, bahkan mengkritiknya.

“Peta bukan tanah,” kata Kertanegara kala itu. “Ia hanya cermin keinginan manusia.” Gayatri muda mengangguk, meski belum sepenuhnya paham. Kini, bertahun-tahun kemudian, makna kata-kata itu menancap dalam. Setiap garis di peta Majapahit adalah keinginan: ingin diingat, ingin berkuasa, ingin diakui.

Nama Ranggalawe kembali terlintas. Gayatri memejamkan mata. Ia tidak membenci Ranggalawe. Ia bahkan menyimpan rasa hormat yang tulus—pada keberanian, pada kesetiaan masa lalu, pada darah yang ia tumpahkan demi kerajaan yang kini berdiri. Namun justru karena itulah Gayatri takut. Ia tahu dari ajaran ayahnya: orang-orang yang merasa paling berjasa sering kali merasa paling berhak. Dan rasa berhak adalah awal dari kehancuran.

Gayatri berdiri, berjalan perlahan ke jendela. Dari sana ia melihat cahaya obor di kejauhan, penjaga istana berjaga dengan tombak bersilang. Majapahit tampak kokoh dari luar—tembok, gerbang, dan disiplin prajurit. Namun ia tahu, kerajaan jarang runtuh oleh serangan dari luar. Ia runtuh oleh api yang dibiarkan menyala di dalam. Langkah kaki terdengar.

Wijaya masuk tanpa pengumuman. Ia melepaskan mahkota kecilnya dan meletakkannya di sudut ruangan, seolah benda itu terlalu berat untuk dibawa lebih lama. “Engkau belum tidur,” katanya. Gayatri tersenyum samar. “Kerajaan jarang memberi waktu untuk tidur.” Wijaya duduk di lantai, bersandar pada tiang kayu. Dalam cahaya temaram, wajahnya tampak lelah, lebih tua dari usianya. “Aku terus bertanya,” katanya lirih, “kapan seorang raja berhenti menjadi manusia biasa.” Gayatri menatapnya lama. “Ayahku tidak pernah berhenti menjadi manusia,” katanya. “Ia hanya belajar menyembunyikan letihnya.” Wijaya menghela napas. “Aku takut. Bukan pada musuh, tapi pada keputusan yang harus kuambil.” Gayatri kembali ke peta. Ia menunjuk pelabuhan Canggu, lalu jalur sungai menuju pedalaman. “Kekuasaan harus dipecah agar tidak mengeras,” katanya. “Jika satu orang menguasai terlalu banyak, ia akan lupa bahwa ia pernah setara dengan yang lain.” Wijaya mengangguk perlahan. “Dan jika ia tersinggung?” Gayatri menutup mata sejenak. Di dadanya, ada nyeri yang tak pernah benar-benar pergi—bukan sekadar duka, melainkan dendam yang dipelihara dengan disiplin. Dendam yang tidak meledak, tidak berteriak, tetapi bekerja seperti racun lambat: dingin, sabar, dan mematikan. “Maka biarkan aku yang mengingatkannya,” katanya pelan. “Atau, bila perlu, biarkan aku yang dibenci.” Wijaya menatapnya, terkejut. “Mengapa engkau selalu menempatkan dirimu di antara aku dan mereka?” Gayatri tersenyum—senyum yang tidak pernah mencapai mata. “Karena aku tahu rasanya kehilangan kerajaan,” jawabnya. “Dan aku tidak akan membiarkan Majapahit mengulang luka itu.”

Malam semakin larut. Gamelan berhenti, doa-doa mereda. Gayatri duduk kembali, sendirian setelah Wijaya pergi. Ia meraba dadanya, merasakan api itu masih menyala—api yang ia jaga dengan kesadaran penuh. Ia sadar, sebagai perempuan, namanya mungkin tidak selalu disebut dalam prasasti. Namun ia juga tahu, ada peran yang tidak membutuhkan batu untuk menjadi abadi. Gayatri menatap peta sekali lagi. “Jika harus ada yang sepi,” bisiknya pada malam, “biarlah aku.”

Pagi telah benar-benar berubah menjadi siang ketika Majapahit melanjutkan denyut kehidupannya. Di luar tembok istana, roda-roda pedati berderit di jalan tanah, para pedagang membuka kain penutup lapak, dan suara tawar-menawar mulai memenuhi udara. Bagi rakyat, istana hanyalah latar jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun keputusan yang diambil di balik tembok itulah yang akan menentukan apakah pasar akan ramai atau sunyi, apakah ladang aman atau kembali terbakar oleh perang.

Di dalam istana, gema rapat sebelumnya masih terasa meski ruang-ruang telah kosong. Beberapa Rakryan memilih kembali ke kediaman mereka dengan pikiran gelisah. Tidak adanya keputusan final memaksa mereka menimbang ulang langkah selanjutnya. Bagi sebagian orang, ketidakpastian adalah ancaman. Bagi yang lain, ia adalah peluang untuk bergerak lebih bebas tanpa batas yang jelas.

Wijaya sendiri tidak langsung kembali ke singgasana. Ia berjalan menyusuri halaman dalam, membiarkan matahari siang menyentuh wajahnya. Ia menyadari bahwa menjadi raja bukan hanya tentang memerintah, tetapi tentang menanggung akibat dari setiap penundaan dan setiap persetujuan. Mahkota tidak selalu terasa berat karena beban emasnya, melainkan karena kesadaran bahwa setiap keputusan akan meninggalkan jejak panjang.

Gayatri mengamati semua itu dari kejauhan. Ia tidak mengikuti Wijaya, tidak pula memanggilnya. Ia tahu ada waktu-waktu ketika seorang raja harus dibiarkan sendiri bersama pikirannya. Dalam kesendirian itulah, pilihan-pilihan besar sering kali menemukan bentuknya. Gayatri percaya bahwa pendamping terbaik bukan selalu yang paling dekat secara fisik, melainkan yang tahu kapan harus memberi ruang.

Hari itu, Majapahit kembali bergerak tanpa kegaduhan. Tidak ada perintah baru, tidak ada pengumuman resmi. Namun di balik keheningan itulah, arah kerajaan perlahan dibentuk. Keputusan-keputusan besar jarang lahir dari satu rapat atau satu percakapan. Mereka tumbuh dari rangkaian hari yang tampak biasa, dari penundaan yang disengaja, dan dari keberanian untuk tidak tergesa.

Menjelang sore, suara dari luar tembok semakin samar terdengar di ruang dalam istana. Wijaya berhenti di sebuah sudut halaman, memandang bayangan bangunan yang mulai memanjang. Ia memahami bahwa rakyat tidak pernah melihat seluruh isi keputusan, hanya akibatnya. Kesadaran itu membuatnya berhati-hati. Ia tidak ingin Majapahit dikenang sebagai kerajaan yang cepat berdiri namun cepat pula goyah oleh kebijakan yang tergesa.

Bagi Gayatri, hari itu adalah satu dari sekian banyak hari yang harus dilewati tanpa sorak. Ia tidak mengharapkan pujian atas sikapnya, tidak pula menginginkan pengakuan atas perannya. Dalam benaknya, menjaga keseimbangan jauh lebih penting daripada dikenang. Selama Majapahit tetap bergerak ke arah yang benar, ia rela berada di balik layar, memastikan api tidak menyala terlalu cepat.

Catatan Kaki Bab 1

  • Kerapuhan kerajaan akibat konflik internal, terutama akibat klaim jasa dan konsentrasi kekuasaan, merupakan pola yang berulang dalam sejarah Jawa Kuna dan banyak dibahas dalam karya George Coedès dan Slamet Muljana mengenai kerajaan-kerajaan Hindu–Buddha di Nusantara.
  • Pelabuhan Canggu sebagai simpul ekonomi penting di aliran Sungai Brantas disebutkan dalam Prasasti Canggu (1358 M), yang menggambarkan peran strategis jalur sungai dalam menghubungkan pedalaman dengan pesisir.
  • Konsep legitimasi dan hadiah tanah tercatat dalam Prasasti Kudadu dan Prasasti Sukamerta (awal abad XIV).