Detektif Imut Kematian Rektor Universitas
1/22
Bab 1

Kematian Rektor Universitas

Tak ada yang menyangka, mimpi buruk itu menjadi kenyataan. Sosok Rektor Universitas Batavia – Pak Wijaya, berdiri di sebuah aula gelap dengan wajah pucat, seolah meminta tolong. Suara pintu besi berderit, bayangan hitam mendekat, lalu jeritan tertahan menggema dan semuanya mendadak lenyap.

Rodhif terbangun dengan napas tersengal. Ia menatap layar jam digital di meja belajar, pukul 06.30. Hatinya berdegup tak karuan dan firasat buruk masih menempel kuat.

Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya bergetar. Nama Firman muncul di layar.

“Halo, Dhif.”

“Fir, ada apa pagi-pagi begini nelpon?” tanya Rodhif dengan suara parau. Namun, di seberang, suara Firman terdengar gemetar.

“Dhif … kabar buruk. Pak Wijaya, Rektor kita meninggal.”

“Apa ...?!”

Darah Rodhif seakan berhenti mengalir. Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, tapi memang benar terjadi tadi malam.

Ia menutup teleponnya dan berkemas, bersiap menuju ke TKP dengan niat ingin tahu, Rektor tadi meninggal karena apa?

Sementara itu, di Universitas, seorang pria bersetelan jas terbujur kaku dengan mata melotot dan mengeluarkan semacam busa di mulutnya.

Tidak ada tanda perlawanan, tak ada jejak siapa pun keluar-masuk ruangan sejak malam sebelumnya, sedangkan pintu masih terkunci dari dalam.

“Korbannya Pak Wijaya, usia 52 tahun, tewas setelah minum teh kemasan botol yang tadinya masih dalam keadaan tersegel, sidik jari korban ada di botol minumnya,” ungkap Inspektur Ilham menjelaskan situasinya.

Tim forensik mendapati ada bau Almond pada minuman korban. Rupanya, minuman tadi telah dicampur dengan senyawa Sianida – zat racun yang berbahaya bagi siapa saja yang meminumnya.

Ke empat orang terdekat yang diduga terlibat dalam kasus itu pun dipanggil oleh polisi untuk dimintai keterangan.

Dhehan - dosen di universitas, Khusnul - salah satu dosen perempuan yang menemukan mayat Pak Wijaya di kantornya, serta dialah orang yang memanggil polisi. Danu - salah satu mahasiswa, dan Nurul – mahasiswa perempuan. Mereka berdua murid korban yang berprestasi. Namun, mereka punya motif balas dendam kepada korban karena pilih kasih, yaitu tak pernah mendapatkan nilai bagus.

Akan tetapi, alibi mereka berempat sempurna. Awalnya, tuduhan pembunuhan itu mengarah pada Khusnul – orang pertama yang menemukan mayat.

Proses identifikasi membutuhkan waktu lama, dari pagi sampai petang kasus itu belum sepenuhnya terpecahkan.

“Bagaimana Anda tahu ada mayat Pak Wijaya di dalam Rektorat?” tanya Inspektur Ilham pada Khusnul.

“Aku curiga setelah memanggil beliau lewat telepon, tapi tak ada jawaban. Awalnya, aku mengira dia tak mau diganggu. Kemudian, aku berinisiatif menuju kantornya, tapi pintu dikunci. Setelah itu, aku mengintipnya dari jendela, meskipun tertutup tirai, tapi aku masih bisa melihat jelas Pak Wijaya yang tewas.”

Pada akhirnya, polisi pun menyimpulkan bahwa kasus itu pasti bunuh diri. Mereka tak perlu repot-repot mencari barang bukti lain, karena tak bisa menemukan apa pun, meski sudah memerlukan waktu lama.

“Baik, kasus ditutup!”

“Tunggu, Pak! Deduksi Anda kurang tepat,” kata seseorang yang tiba-tiba datang di saat semua pihak berkumpul di tempat tersebut. Dia mengenakan jas universitas sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya. Seorang pemuda yang tampan pun muncul, berdiri tegap dengan ekspresi santai.

“Kurang tepat gimana?”

“Setelah kutelisik diam-diam, itu bukanlah bunuh diri.”

“Hah?! Kau jangan bercanda, kami sudah berusaha mengusut kasus ini dari pagi sampai sekarang, tapi tak menemukan titik temu. Jadi, pasti bunuh diri, kan?”

“Maaf, Pak. Tapi Anda salah, ada beberapa barang bukti yang terlewatkan.”

“Kalau begitu, coba jelaskan!”

“Memang, minuman teh botol itu merupakan favorit Pak Wijaya,” ucap pemuda itu, “kalau Beliau bunuh diri, kenapa Pak Wijaya repot-repot mencampur racun itu ke dalam minuman teh botolnya? Kenapa tak sekalian meminum racun itu saja?”

“Iya, benar juga, lalu?”

“Aku mencurigai salah satu tersangka ada yang memberikan minuman itu di suatu tempat. Kemudian, Pak Wijaya membawa minuman itu ke kantornya. Dia sama sekali tidak tahu kalau minuman itu mengandung racun, karena zat Sianida larut sempurna pada teh.”

“Lantas, bagaimana cara pembunuh memasukkan racun itu? Mana mungkin bisa, kecuali korban sendiri yang mencampurkannya? Lihat! Botol masih keadaan tersegel, hanya ada sidik jari korban, terindikasi, korban sendiri yang membuka segel, bukan tangan orang lain.”

“Coba teliti bagian badan botol, ada tempelan stiker kecil yang tak seharusnya ada.”

Salah petugas pun membuka stiker tadi, lalu memeriksanya menggunakan kaca pembesar.

“Benar, ada lubang kecil tak kasat mata di area sini,” ungkap polisi itu.

“Jadi, kemungkinan pelaku menggunakan alat suntik untuk memasukkan racunnya tanpa perlu membuka segel minuman itu. Dia hanya perlu menusuknya pada titik itu, tepat pada bagian atas merek botol. Lagian, botol itu menggunakan plastik, akan lebih mudah dalam melancarkan aksinya. Setelah itu, mungkin saja pelaku mengocoknya agar racun itu larut dalam minumannya.”

“Kau jangan mengada-ada. Kalau kau tahu kasus ini, lantas siapakah pembunuhnya?” tanya Inspektur Ilham.

“Pembunuhnya adalah kau, Pak Dhehan,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuk pada tersangka.

“Hei, mana mungkin aku membunuhnya. Dia kan atasanku, atas dasar apa?” sangkal Dhehan.

“Iya, motifnya apa?” imbuh Inspektur Ilham.

“Pak Dhehan, kau ingin menyingkirkan posisi Pak Wijaya, agar kau bisa menjadi rektor kan?”

“Apa?”

Semua yang ada di situ pun terbelalak kaget setelah mendengar deduksi dari pemuda itu. Khusnul yang merupakan dosen perempuan pun menyiratkan ekspresi yang mencurigakan setelah mendengar katanya.

“Kau jangan sembarangan menuduhku, atau nilai skripsimu akan buruk!” tantang Dhehan.

“Apalah artinya nilai skripsi, dibandingkan dengan kejahatan yang kau lakukan, Pak Dosen?”

“Kau ini?!” gerutu Dhehan. Sementara itu, pemuda tadi masih santai saja, tanpa takut mendapatkan nilai buruk.

“Coba keluarkan buktinya agar kasus ini valid!” suruh Inspektur Ilham.

Pemuda itu pun mengeluarkan bukti berupa struk pembelian yang ia temukan di tempat sampah supermarket. Serta, ada bukti percakapan lewat pesan, kalau dia akan menggeser Pak Wijaya sebagai Rektor di universitas itu.

“Bukti ini memang valid. Kau ini sebenarnya siapa?” tanya Inspektur Ilham.

“Aku Muhammad Rodhif, mahasiswa dari fakultas hukum yang ingin menjadi detektif!”

Polisi mengambil struk itu dan memeriksanya, waktu dan tempatnya valid.

“Pak Dhehan, kau tak bisa berdalih lagi. Bukti sudah ada, dan hasilnya valid. Sekarang kau mengaku saja!” hardik Inspektur Ilham.

Dhehan tak bisa apa-apa, dia hanya bisa menunduk dan menyesali perbuatannya.

“Benar katanya, aku ingin menggeser Pak Wijaya dari jabatannya menjadi rektor. Selain itu, dia sangat angkuh, tidak mau menerima pendapat para dosen di saat rapat koordinasi. Dia anggap idenya sendiri yang terbaik,” ungkap Dhehan mengaku.

“Memang betul, apa yang dikatakan olehmu. Namun, kau tak seharusnya melakukan tindakan ini. Di balik keangkuhannya, dia sebenarnya baik kepada kita!” cecar Khusnul. Sementara itu, Danu dan Nurul yang merupakan mahasiswa hanya bisa tertunduk lesu tanpa ada niat bicara sepatah kata pun.

“Baik dari mananya?” sangkal Dhehan.

“Dia sudah mengajukan proposal kenaikan gaji dan juga beasiswa untuk mahasiswa secara rahasia,” ungkap Khusnul.

“Benarkah itu?”

“Iya, Benar. Kalau Anda tak percaya, aku punya foto proposalnya,” sambung Rodhif, kemudian membuka berkas foto itu untuk diperlihatkan kepada semua orang yang ada di sana.

“Lagi pula, kau tak perlu repot-repot membunuhnya, Pak Dosen. Aku menemukan sebuah memo, bahwa dia akan pensiun, dan Anda yang akan dipromosikan menjadi Rektor,” ucap Rodhif sambil mengeluarkan salinan memo itu dari sakunya.

Dhehan semakin tertunduk lesu, dia tak henti-hentinya menangis oleh karena tindakannya sendiri.

“Baik, kalau begitu, kasus ditutup. Khususnya tersangka, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di balik jeruji besi,” ujar Inspektur Ilham.

Polisi pun memborgol kedua tangannya, lalu membawanya menuju ke mobil polisi.

Pak Dhehan, sang pelaku pembunuhan dengan racun, akhirnya berhasil ditangkap setelah melalui penyelidikan panjang. Borgol telah terpasang di tangannya. Namun, tiba-tiba ... "Duar!” suara tembakan memecah keheningan ....