Detektif Imut Pertarungan Hidup Mati
2/22
Bab 2

Pertarungan Hidup Mati

Namun, tiba-tiba ... "Duar!” suara tembakan memecah keheningan. Peluru menembus tubuh Pak Dhehan, membuatnya terhuyung lalu terkapar bersimbah darah.

Rodhif, yang menyaksikan kejadian itu dari dekat, spontan berteriak lantang. “Pak Polisi! Kasus ini belum selesai! Ada orang lain yang juga terlibat, kemungkinan besar, dia pasti komplotannya!”

Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, Rodhif bergegas lari mengejar arah datangnya tembakan. Napasnya memburu, tapi matanya penuh tekad. Ia tak peduli bahaya, meski nyawanya sendiri jadi taruhan.

Inspektur Ilham yang sigap segera memberi aba-aba pada anak buahnya. “Cepat! Sebar ke seluruh area! Pastikan semuanya aman, jangan sampai pelaku kabur!” perintahnya tegas.

Para polisi pun menyebar dengan cepat, menyisir tiap sudut gelap lokasi kejadian. Sementara itu, Inspektur Ilham tetap di tempat, menjaga para tersangka yang sudah diamankan. Tatapannya waspada, senjatanya siaga. Ia tahu, musuh yang sebenarnya mungkin masih bersembunyi di balik bayang-bayang malam.

Langkah Rodhif memburu cepat menembus lorong gelap Universitas Batavia. Malam itu, kampus terasa seperti labirin kematian. Bangunan-bangunan tinggi menjulang sunyi, sementara lampu jalanan berkelip redup seakan enggan menerangi. Angin malam menggesek dedaunan, menimbulkan suara samar yang bercampur dengan desah napasnya yang memburu.

Di belakangnya, suara suara langkah kaki terdengar, bercampur teriakan aparat yang menyebar ke berbagai sisi. Namun, Rodhif tidak berhenti. Nalurinya menuntun ke arah bayangan hitam yang berlari cepat di kejauhan.

“Berhenti!” teriak Rodhif. Namun, orang tadi langkahnya makin cepat, menyusuri koridor fakultas yang sepi, melewati papan pengumuman kusam, hingga menembus area lapangan fakultas kedokteran yang temaram.

Sementara itu, dari jarak yang tak jauh, Inspektur Ilham mengatur taktik pasukannya. “Kelilingi gedung utama! Jangan beri celah. Pelaku kemungkinan tak hanya satu.” Suaranya tegas, tapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran, apalagi mengingat Rodhif berlari sendirian tanpa perlindungan apa pun.

Kampus Universitas Batavia yang biasanya dipenuhi canda mahasiswa kini berubah jadi arena perburuan mematikan. Bayangan pohon, jendela kelas yang kosong, dan lorong berliku seolah menutup rapat rahasia gelap yang selama ini bersembunyi.

Di tengah keheningan itu, langkah Rodhif semakin dekat dengan target. Adrenalin memuncak. Malam terasa panjang dan penuh bahaya.

Rodhif menelusuri lorong fakultas teknik yang gelap. Hanya cahaya lampu darurat yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan bergerak di dinding. Ia berhenti sejenak ketika mendengar derap langkah yang berusaha disamarkan.

“Keluar kau!” teriak Rodhif, suaranya menggema.

Dari balik bayangan, sosok itu muncul. Seorang pria dengan wajah dingin, mengenakan jaket hitam, dan di tangannya masih tergenggam senapan dengan laras panjang. Rodhif mengenalinya.

“Fadil …,” ucap Rodhif lirih, tapi penuh keyakinan.

Fadil tersenyum miring, seakan menikmati momen itu. “Aku tidak menyangka, mahasiswa sok cerdas sepertimu bisa mengendus identitasku. Padahal selama ini aku hanya seorang petugas kantin yang menyajikan nasi goreng murah untuk kalian.”

Rodhif melangkah maju, matanya tajam. “Sejak awal aku sudah tahu ada yang aneh denganmu. Kau terlalu sering melakukan gera-gerik mencurigakan. Aku menyelidikimu, dan rupanya, kau bukan sekadar petugas kantin biasa, tapi bagian dari organisasi itu.”

Wajah Fadil mengeras, rahangnya menegang. Ia menurunkan senapan, menyadari satu hal: menembak di sini hanya akan membuat posisinya terbongkar oleh polisi yang sedang mengepung kampus. Dengan geram, ia melempar senapannya ke samping.

“Kau membuatku marah!” ucapnya serak. “Untuk itu … kau harus mati!”

Dalam sekejap, Fadil menerjang. Pukulan keras mengarah ke wajah Rodhif, tapi ia sigap menangkis. Pertarungan sengit pecah di tengah lorong sempit, dentuman tinju dan tendangan bergema memantul ke dinding.

“Kenapa aku harus mati?” Rodhif menahan serangan, matanya menatap penuh tekad.

Fadil mendorongnya hingga hampir terhantam dinding. “Karena kau ancaman bagi organisasi kami. Mahasiswa cerdas sepertimu, dengan otak yang mampu membongkar rahasia, kau tidak boleh hidup lama. Kami tak akan membiarkan calon lawan tumbuh di masa depan.”

Rodhif menahan napas, lalu dengan cepat menghantamkan sikunya ke perut Fadil. Pria itu terhuyung, tapi matanya berkilat penuh amarah. Pertarungan itu bukan sekadar adu fisik, tapi juga pertarungan hidup dan mati.

Di luar gedung, terdengar langkah-langkah polisi mendekat, sirene yang semakin keras, dan perintah teriakan yang menggema. Namun, di dalam lorong gelap Universitas Batavia itu, hanya ada dua orang yang bertarung dan hanya satu yang akan keluar hidup-hidup.

Awalnya Rodhif mendominasi. Gerakan bela dirinya luwes, tangannya menangkis dan menghantam dengan presisi. Fadil beberapa kali terdesak ke dinding, wajahnya mulai penuh luka. Namun, tatapan matanya tak menyerah, justru semakin beringas.

Dalam keputusasaan, Fadil mengeluarkan benda kecil yang ia sembunyikan, berupa alat suntik dengan cairan berwarna hijau. Gerakannya licin dan tak terduga. Rodhif sempat melihat cairan aneh itu, tapi tak cukup cepat menghindar. Dalam sekejap, Fadil menyuntikkan cairan itu di leher Rodhif, lalu setelah habis, ia kembali meletakkan di sakunya.

Fadil mendesis, napasnya berat. “Kau harus mati, Rodhif. Anak seperti kau terlalu berbahaya untuk masa depan organisasi!”

Rodhif mencoba melawan balik, tapi tubuhnya makin lemah. Pandangannya berkunang, kakinya goyah, hingga akhirnya jatuh terduduk di lantai lorong fakultas yang gelap. Fadil menatapnya dengan puas, lalu perlahan mundur, memastikan tak ada suara atau tanda mencurigakan yang bisa menarik perhatian polisi.

Suara langkah terdengar semakin dekat, sepatu menghentak tanah di luar gedung. Namun lorong itu tetap sepi, hanya berisi napas Rodhif yang terengah dan tubuhnya yang semakin tak berdaya.

“Selamat tinggal, bocah sok pintar,” bisik Fadil sebelum lenyap ditelan kegelapan, meninggalkan jejak langkah samar di lorong panjang Universitas Batavia.

Beberapa polisi yang menyisir kampus mendekat ke gedung, tapi mereka belum masuk ke lorong itu. Inspektur Ilham, yang berada di luar, memberi arahan keras. “Cari jejak penembak! Jangan biarkan dia keluar dari kampus!”

Tak seorang pun menyadari bahwa di balik dinding fakultas yang dingin, Rodhif tengah berjuang antara sadar dan tak sadar. Napasnya berat, tubuhnya melemah, tapi matanya yang setengah terbuka masih menyimpan tekad. Ia tahu, jika ia menyerah malam itu, kebenaran tentang organisasi itu akan ikut terkubur dalam kegelapan.

Detik setelah tusukan itu, Rodhif merasakan sesuatu yang asing menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa panas menyambar tulang-tulangnya, seakan api merambat dari dalam. Napasnya tercekik, dadanya naik turun tak beraturan. Ia ingin berteriak, melawan rasa sakit yang tak tertahankan itu, tapi mulutnya membeku, tak ada suara yang keluar, hanya desahan terputus-putus.

Kakinya gemetar hebat. Setiap otot terasa ditarik paksa, setiap sendi seakan diremukkan. Dunia di sekitarnya berputar. Cahaya lampu darurat di lorong fakultas tampak menari liar di matanya.

Rodhif berusaha menahan diri, matanya terbuka lebar menatap kegelapan malam itu. Dalam benaknya hanya satu hal: jangan biarkan dirinya tumbang sebelum kebenaran terungkap. Namun, rasa sakit itu terlalu hebat. Tulang-tulangnya serasa retak dari dalam, seakan terbakar tanpa api.

Tangannya sempat menggapai udara, mencari pegangan. Lalu tubuhnya goyah, ambruk menghantam lantai. Pandangannya mengabur, hanya samar-samar mendengar langkah Fadil menjauh, menghilang ditelan kegelapan Universitas Batavia.

Sekuat apa pun Rodhif berusaha melawan, akhirnya kegelapan lebih kuat. Kesadarannya ditelan habis. Tubuhnya tergeletak di lorong dingin itu sendirian, tanpa seorang pun yang tahu betapa ia sedang bertarung di ambang hidup dan mati ....