Detektif Imut Anak Perempuan Tak Dikenal
3/22
Bab 3

Anak Perempuan Tak Dikenal

Kesadarannya ditelan habis. Tubuhnya tergeletak di lorong dingin itu sendirian, tanpa seorang pun yang tahu betapa ia sedang bertarung di ambang hidup dan mati.

Sementara itu, polisi masih menyisir kampus, tapi belum ada yang menemukan dirinya. Malam itu, Universitas Batavia benar-benar menjadi kubah mencekam, menyimpan rahasia berbahaya yang tak boleh jatuh ke tangan yang salah.

Polisi sudah menyisir hampir seluruh sudut Universitas Batavia. Lampu sorot menyapu lorong-lorong, suara langkah sepatu menggema, dan radio komunikasi berderak dengan laporan-laporan singkat. Namun, hasilnya nihil.

“Negatif, Pak. Tidak ada tanda-tanda tersangka penembakan,” lapor salah seorang anggota.

Inspektur Ilham mengernyit. Keganjilan semakin besar. Bukan hanya penembak yang menghilang tanpa jejak, sosok Rodhif pun tak kunjung ditemukan. Ia sempat berlari mengejar, tapi sekarang seakan ditelan oleh kegelapan kampus.

Beberapa saat kemudian, pencarian mereka tidak sepenuhnya kosong. Di lorong fakultas teknik, salah satu polisi menjerit kaget. “Opsir! Kami menemukan seseorang!”

Senter diarahkan. Di lantai dingin itu, terbaring seorang anak perempuan dalam keadaan pingsan. Tubuh mungilnya hanya dibalut jas Universitas Batavia yang kebesaran dan celana yang jelas bukan miliknya. Dari label dan ukuran, pakaian itu tampaknya milik Rodhif.

Para polisi saling berpandangan dan bingung. “Kok bisa, ada anak di sini?” gumam salah seorang polisi. “Apakah Rodhif sempat menolongnya sebelum mengejar pelaku?” tanya yang lain. Setelah itu, mereka membawa anak perempuan itu ke atasannya.

Polisi tadi yang merupakan bawahan Inspektur Ilham menatap anak itu lama. Ada pertanyaan besar di matanya, tapi situasi darurat tidak memberi ruang untuk mencari jawaban saat itu juga. “Segera bawa anak ini ke rumah sakit. Pastikan ia mendapat penanganan medis secepatnya,” perintahnya tegas.

Anak perempuan itu segera dievakuasi, digendong salah satu polisi menuju ambulans yang sudah menunggu di gerbang kampus. Wajahnya pucat, napasnya lemah, seolah menyimpan rahasia yang tak mampu diucapkan.

Sementara itu, pasukan lain tetap menyisir area. Senjata-senjata terangkat, mata tajam menyapu setiap sudut gelap. Fadil masih belum tertangkap, dan kini misteri bertambah, “Di mana Rodhif? Mengapa yang mereka temukan hanya seorang anak yang tak dikenal?”

**

Pagi itu, sinar matahari menembus kaca jendela rumah sakit. Di salah satu kamar perawatan, anak perempuan yang ditemukan di Universitas Batavia mulai membuka mata. Pandangannya kosong, tubuhnya terasa lemah. Ia mengerjap pelan, mencoba memahami di mana dirinya berada.

Seorang perawat yang kebetulan masuk untuk memeriksa kondisi pasien mendekat dengan senyum lembut. “Syukurlah, kamu sudah sadar,” ucapnya pelan. “Nak, bagaimana bisa kamu berada di kawasan Universitas tadi malam? Orang tuamu di mana?”

Anak itu tidak menjawab. Kepalanya terasa berat, ingatan samar-samar berputar dalam pikirannya. Ia hanya mengangkat tangannya, memegangi bagian kepalanya dengan raut linglung, seolah rasa sakit masih menguasai pikirannya.

Perawat menatapnya penuh iba, lalu mencatat sesuatu di papan medis. “Tidak apa-apa. Kalau belum bisa bicara sekarang, istirahatlah dulu,” katanya, sebelum melangkah keluar meninggalkan kamar.

Di ruangan yang sama, hanya dipisahkan tirai tipis, ada seorang pria dewasa yang juga tengah dirawat. Wajahnya pucat, lengannya diperban. Di sampingnya, seorang perempuan muda, sepertinya siswi SMA dari seragam yang masih ia kenakan masih setia duduk menjaga.

Saat tadi mendengar perawat bertanya “Orang tuamu ada di mana?”, telinga gadis itu langsung menangkapnya. Ia menoleh sekilas ke arah tempat tidur anak perempuan tersebut. Ada rasa penasaran yang tumbuh, “siapa anak itu? Kenapa bisa ditemukan di Universitas Batavia malam-malam, tanpa orang tua, hanya dibalut pakaian yang jelas bukan miliknya?”

Gadis SMA itu menggigit bibirnya, lalu melirik lagi dengan penuh tanda tanya. Matanya sempat menangkap tatapan kosong anak perempuan itu, pandangan yang menyimpan rahasia lebih besar daripada sekadar kebingungan seorang anak kecil.

Anak perempuan itu mencoba memaksa otaknya untuk mengingat. Bayangan samar berkelebat di lorong gelap, suara langkah kaki, dan sosok yang berlari menjauh. Namun, semakin ia berpikir, rasa sakit semakin menghantam kepalanya. Dahinya mengernyit, tubuhnya gemetar kecil. Hingga akhirnya, ia tak kuasa lagi menahan pusing yang menyerang. Matanya perlahan terpejam, kembali jatuh ke dalam tidur yang tak tenang.

Di sisi lain, gadis SMA yang sedari tadi mengamati semakin penasaran. Begitu perawat masuk kembali untuk memeriksa pasien lain, ia memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit ragu, penuh rasa ingin tahu. “Mbak … anak kecil yang di sebelah itu siapa? Orang tuanya di mana ya?”

Perawat menoleh, sempat terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada hati-hati. “Belum ada yang tahu. Saat ditemukan di Universitas tadi malam, dia sendirian. Tidak ada tanda-tanda siapa orang tuanya. Polisi pun masih mencari informasi lebih lanjut.”

Gadis SMA itu mengangguk pelan, tetapi matanya berbinar aneh. Ada sesuatu dalam dirinya yang tergerak, yaitu rasa iba bercampur dorongan kuat untuk melindungi. Ia menatap tubuh mungil yang terbaring tak berdaya di ranjang sebelah, wajah polos yang tampak letih seolah baru keluar dari mimpi buruk.

“Kalau begitu, apa aku boleh menjaganya sementara? Maksudku, sampai dia benar-benar sadar. Kalau nanti orang tuanya datang, atau polisi menemukan mereka, tentu aku akan menyerahkannya kembali.” Suaranya terdengar tulus, meski ada sedikit keraguan apakah permintaan itu akan diizinkan.

Perawat menatapnya penuh pertimbangan. Gadis SMA itu tampak sungguh-sungguh, tak ada kebohongan di matanya. Setelah hening beberapa saat, perawat hanya berkata singkat, “Nanti saya sampaikan pada pihak yang berwenang. Tapi ingat, anak itu bukan tanggung jawab ringan. Dia masih syok, dan belum tentu aman keadaannya.”

Gadis itu tersenyum tipis, menunduk penuh tekad. Dalam hatinya ia berjanji, setidaknya sampai semuanya jelas, ia akan melindungi anak misterius itu meski ia sendiri belum tahu betapa besar rahasia yang tersimpan di balik tubuh mungil tersebut.

**

Esok hari, kondisi ayahnya sudah membaik dan diperbolehkan pulang. Tangan yang diperban sudah dilepas, demikian juga bocah perempuan tadi. Gadis SMA tadi meminta izin dari pihak rumah sakit untuk membawanya pulang dan merawatnya sementara waktu.

Setelah sampai, di rumah milik gadis SMA bernama Rania terasa berbeda. Biasanya hanya ada dirinya dan ayahnya, tapi kali ini ada seorang tamu kecil di tempat mereka, yaitu anak perempuan yang malam sebelumnya ditemukan tak sadarkan diri di Universitas Batavia.

Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, menatap anak itu yang masih tertidur lelap, lalu meletakkan anak itu di kasur. Wajah mungilnya tenang, meski sesekali keningnya berkerut seolah sedang bermimpi buruk.

Rania menarik kursi kecil dan duduk di samping ranjang. Ia berbisik pelan, seakan takut mengganggu tidur itu. “Aku nggak tahu siapa kamu, atau kenapa kamu bisa di kampus malam-malam, tapi sementara ini, kamu aman di sini.”

Anak perempuan itu bergeliat sebentar, lalu kembali diam. Selimut putih membungkus tubuh mungilnya, dan jas Universitas yang masih ia kenakan. Rania sempat melirik pakaian itu celana kebesaran dan jas almamater yang jelas milik seorang mahasiswa, entah siapa. Ia tak berani mengganti baju bocah itu karena takut menganggu tidurnya.

Di ruang tengah, ayah Rania sempat menegurnya. “Kamu yakin bisa merawat anak itu? Polisi sewaktu-waktu bisa menanyakan keberadaannya.”

Rania mengangguk, matanya penuh keyakinan. “Aku cuma merasa harus menjaga dia dulu. Nggak tega lihat dia sendirian. Kalau orang tuanya dicari dan ketemu, pasti aku akan serahin.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah. Tapi ingat, kamu tanggung jawab. Jangan sampai sembarangan.”

Sementara itu, di kamar, bocah perempuan tadi terbangun dan bingung, kenapa tiba-tiba berada di tempat itu? Ia sempat mengintip keluar kamar dari pintu yang terbuka sedikit.

Akan tetapi, seorang pria menyadari dirinya sedang diawasi, lalu melangkah menuju kamar tempat bocah tadi ....