NINE TO END Pertemuan kembali
1/30
Bab 1

Pertemuan kembali

Ruby Nadira baru saja menjejakkan kakinya di bumi tanah kelahirannya. Menghirup udara di sore itu membuatnya merasa sangat bahagia. Sudah 4 tahun ia tinggalkan kota itu untuk mengejar pendidikannya di Oslo, ibu kota Norwegia. Kemarin dia sudah mengabari adik laki-lakinya untuk menjemputnya di Bandara. Belum nampak sosok faishal, si bungsu itu. Ruby duduk di bangku kosong dan mengeluarkan sebuah buku. Sepanjang perjalanannya pulang, buku itulah yang menemaninya dengan setia.

Seseorang menepuk bahunya. Ruby menegadahkan kepala untuk melihat. Seorang laki-laki tampan berdiri di hadapannya.

“Ruby?” sapa laki-laki itu. “Sejak tadi aku perhatikan tapi aku ragu untuk menyapa karena takut salah..”

laki-laki itu tersenyum.

Ah.. Senyum itu adalah senyum yang tak pernah berubah. Dan suara itu juga sangat khas di telinga Ruby. Ruby balas tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada lelaki itu.

“Rayyan..” sapa Ruby.

“Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu..” tanya Lelaki yang dipanggil Rayyan oleh Ruby.

“Baik.. kamu?”

“Sangat baik.. Sepertinya kamu tidak pernah pulang?” tanya Rayyan.

“Kata siapa?” tanya Ruby. "Aku pernah pulang"

“Aku tidak pernah tahu,” jawab Rayyan. “Kamu tidak pernah menghubungiku..”

“Kata siapa?” ulang Ruby. “Aku pernah menghubungimu.. Tapi kamu tidak menjawabnya”.

“Masa?”

“Mungkin ada yang melarangmu untuk mengangkat telpon dari perempuan,” sindir Ruby.

“Mana ada?” tanya Rayyan.

“Perempuan yang dekat denganmu.. Yang bernama Thalia,” ketus Ruby.

“Menunggu jemputan?” Rayyan mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa tidak menjawabku? Siapa Thalia?” tanya Ruby.

“Bukan siapa-siapa..” jawab Rayyan datar.

“Pacarmu? Atau calon istrimu?”

“Kamu tahu tentang Thalia dari mana?”

“Tidak perlu tahu.. Yang pasti aku tahu semua tentangmu, semua yang dekat denganmu,” jawab Ruby.

“Stalker yang handal juga..” ejek Rayyan. “Ada yang akan menjemputmu?”

“Ya.. Kemarin sudah bilang pada adikku tapi dia bilang akan menjemputku setelah menjemput Atta anaknya Kak Sofie,” jawab Ruby.

“Boleh aku menawarkan untuk mengantarmu pulang?” tanya Rayyan.

“Eh tidak usah repot-repot,” tolak Ruby.

“Tidak apa-apa.. Aku juga kebetulan mau pulang”.

“Sedang apa disini? Menjemput juga?”

“Tadi setelah mengantar teman.. entah kenapa aku bisa sampai disini. Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kita kembali,” Rayyan tersenyum sambil mengedipkan matanya.

“Ah.. Kamu membuat aku merasa setinggi langit,” ujar Ruby.

“Tidak mungkin aku tidak meluangkan waktu untuk sahabat kecilku,” kata Rayyan. “Ayo..”

“Aku harus menelpon si bungsu dulu,” kata Ruby.

“Sambil jalan saja.. Ayo,” Rayyan menarik travel bag Ruby.

Ruby tersenyum mengikuti Rayyan.

Rayyan Indra Kusuma sudah dikenal Ruby sejak masa anak-anak. Dulu rumah mereka hanya berjarak 3 rumah. Mereka sering bermain bersama. Menempuh pendidikan di sekolah yang sama hingga terpisah setelah menyelesaikan SMA. Saat itu Rayyan melanjutkan kuliahnya di kota lain. Tapi tak memutuskan tali pertemanan mereka. Hingga akhirnya Ruby mendapat kesempatan untuk melanjutkan study S2 dan bekerja  di Oslo. Tapi sejauh apapun mereka berpisah, Ruby tak pernah melupakan . Selalu mencari tahu kabarnya. Ia tahu siapa saja yang sedang dekat dengan Rayyan, bahkan ia juga tahu apa yang dilakukan Rayyan.

“Benarkah aku tahu semua tentang Rayyan?” gumam Ruby.

“sebentar lagi usia kita menginjak 32 ya?” ucapan Rayyan membuyarkan lamunan Ruby.

Mereka sudah dalam perjalanan.

“Apa?” tanya Ruby.

“Hm.. Melamunkan apa?” tanya Rayyan

“Tidak ada..”

“Sudah menikah?”

“Tidak mungkin aku tidak mengundangmu jika aku menikah,” tukas Ruby.

“Tapi sudah punya pasangan kan?” tanya Rayyan.

“Belum..” Ruby menunduk. “Mana ada yang mau denganku?”

“Ah aku tidak percaya.. Siapa yang tidak mau denganmu? Cantik dan berpendidikan tinggi”.

“Kamu tidak suka denganku..” ucap Ruby nyaris tak terdengar.

“Apa?”

“Buktinya tidak pernah ada yang mendekatiku,” Ruby memandang wajah Rayyan.”Bahkan hingga usiaku sudah memasuki angka 32 tahun”.

“Kamu juga tidak merespon laki-laki yang mendekatimu..” kata Rayyan sambil menghentikan mobilnya di sebuah klinik hewan.

“Kenapa berhenti disini?” tanya Ruby.

“Sebentar.. ada yang harus aku kerjakan,” kata Rayyan. “Ayo.. Masuk dulu”.

“Oh..” Ruby segera mengikuti Rayyan.

“Sepi?” tanya Ruby.

“Hari ini tutup.. Ntah kenapa sedang tidak ingin membuka praktek,” jawab Rayyan. “Ternyata Tuhan yang menggerakkan, sehingga aku bisa bertemu denganmu dan bisa mengantarmu pulang..”

“Jika tutup.. lalu kenapa datang kesini?” tanya Ruby.

“Kan sudah aku katakan ada yang harus aku kerjakan.. Cuma sebentar. Duduklah, aku ke lantai atas,” kata Rayyan sambil meninggalkan Ruby.

Ruby memandang sekeliling ruangan itu sambil tersenyum. Rayyan sangat mencintai hewan. Sejak kecil dia berkata ingin menjadi dokter hewan. Rayyan kecil sering kali membawa pulang kucing kecil yang ia temukan di jalan.Dan saat kucing itu dinyatakan mati, ia akan menangis di kebun belakang rumahnya sambil menguburkan kucing itu. Ntah sudah berapa banyak kuburan kucing yang ada di belakang rumahnya.

Ruby melangkah menuju ruang belakang klinik itu. Ada sebuah taman yang mengingatkan Ruby akan taman di rumahnya.

“Taman itu mengingatkanmu pada sesuatu?,” Nemo tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ruby.

“Maaf mengejutkanmu,” kata Rayyan lagi.

“Aku sangat terkejut karena melihat taman itu begitu mirip dengan taman di belakang rumahku”.

“Aku menyukai taman yang dibuat oleh papa kamu dan pernah kukatakan padanya suatu hari nanti aku juga akan punya taman seperti itu..”

“Di halaman belakang rumahku, di taman itu, kamu juga banyak menguburkan kucing kucing yang mati dan menanam bunga mawar di atas kuburannya..”

“Rumahku tidak punya halaman belakang, jadi aku selalu menumpang di halamanmu untuk menguburkan kucing-kucing malang itu..”

“Ini bunga apa?” tanya Ruby.

“Suka?”

“Ya.. Cantik sekali.. Bunga apa namanya?”

“Nemophila..”

“Jangan bercanda Ray.. Aku serius”.

“Aku tidak bercanda.. Itu bunga Nemophila namanya..”

“Oh.. Ada ya? Aku pikir kamu bercanda ,” Ruby tertawa. “Baru kali ini aku melihatnya..”

“Sudah.. Ayo kuantar pulang,” kata Rayyan.

“Boleh minta traktir makan?” tanya Ruby.

“Harusnya kamu yang mentraktirku, bukankah uang yang kamu dapat di luar negeri lebih banyak dari gajiku sebulan?”

“Pelit sekali..” ejek Ruby.

“Ayo..”

“Sore Om dokter..” seorang anak kecil menyapa di depan pintu, menghentikan langkah Ruby dan Rayyan.

“Hai.. Leon,” Rayyan tersenyum ramah pada bocah berusia 7 tahun itu. “Ada apa?”

“Om mau kemana?” tanya Leon.

“Mengantar tante Ruby pulang ke rumahnya,” jawab Rayyan.

Leon memandang Ruby dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Ada apa?” tanya Ruby.

“Tante siapa?” tanya Leon.

“Apa?”

Leon menatap Ruby dengan penuh curiga.

“Tante siapa?” tanya Leon sekali lagi.

“Tante Ruby ini temannya om,” Rayyan menjelaskan.

“Bukan pacar om kan?” tanya Leon.

“Tentu saja bukan,” jawab Ruby cepat.

“Tidak bohong kan?”

“Kalau aku pacarnya memangnya kenapa?” Ruby mendadak emosi.

“Hei..” Rayyan menarik lengan Ruby. “Hanya anak kecil..”

“Anak kecil yang sangat kepo!”

Rayyan memandang Leon.

“Ada apa?” tanya Nemo.

“Mau main disini,” jawab Leon.

“Nanti ya.. Om antar tante Ruby dulu,” ujar Rayyan.

“Ok..” Leon berlari meninggalkan tempat itu.

“Siapa dia?” tanya Ruby.

“Anak sekitaran sini..” jawab Rayyan sambil mengunci pintu. “Dia setiap hari bermain di sini”.

“Aku melihat dia seperti tidak menyukaiku..” Ruby mengikuti Rayyan berjalan menuju mobil. “Tatapannya seperti memandangku penuh curiga”.

Rayyan tertawa sambil menutupkan pintu untuk Ruby.

“Dia hanya ingin tahu karena selama ini tidak pernah melihatmu,” jawab Rayyan setelah duduk di samping Ruby.

“Atau kamu punya banyak wanita yang membuat perhatianmu padanya berkurang?” tanya Ruby.

Rayyan tertawa.

“Ah cara tertawamu itu yang tak pernah bisa membuat aku berpaling ke yang lain..” batin Ruby.

“Sepertinya dari cara bicaramu aku menangkap adanya kecemburuan yang tertuju pada wanita yang ada didekatku?”

“Apa?”

“Tidak apa-apa..” Rayyan tersenyum.

“Kamu tadi bilang apa?” tanya Ruby.

“Kenapa tadi menolak waktu Leon mengira kamu adalah pacarku?”

“Memang bukan pacar kamu kan?”

“Tidak mau jadi pacarku?” tanya Rayyan.

“Tidak”.

“Kenapa?”

“Aku ingin jadi istrimu,” jawab Ruby cepat.

Rayyan tertawa.

“Kenapa tertawa?” tanya Ruby.

“Tidak apa-apa,” Rayyan tersenyum.

“Aku bilang aku tidak ingin jadi pacarmu, aku ingin jadi istrimu.. Tapi kamu malah tertawa..”

“Mau makan dimana?” tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.

“Terserah yang traktir..” jawab Ruby. “Aku ikut saja”.

“Siapa pacarmu?” tanya Rayyan

“Tidak ada.. Awas, Ray!”