NINE TO END Perempuan Misterius
2/30
Bab 2

Perempuan Misterius

Rayyan menginjak pedal rem dengan kasar, membuat mobilnya berhenti mendadak. Hampir saja ia menabrak seorang wanita yang hendak menyeberang jalan tanpa melihat.

"Kamu ini tidak hati-hati!" seru Ruby, nada suaranya khawatir sekaligus kesal. Ia segera keluar dari mobil dan menghampiri wanita yang terlihat terduduk di pinggir jalan.

"Maaf ya, Mbak?" ucap Ruby tulus, membantu wanita itu berdiri.

"Tidak apa-apa..." jawab wanita itu dengan senyum tipis. "Saya juga salah... tidak melihat kiri dan kanan saat menyeberang."

"Ada yang luka?" tanya Rayyan, suaranya terdengar sedikit cemas. Ia ikut menghampiri mereka.

"Tidak..." jawab Ruby, memastikan wanita itu tidak terluka parah.

Wanita itu menoleh ke arah Rayyan, tatapannya sedikit ragu. "Dokter Rayyan?" sapanya pelan.

"Nindy? Apa kabar?" sapa Rayyan balik, senyumnya terlihat sedikit kaku.

"Baik, Dok. Dokter sehat?" tanya wanita yang dipanggil Nindy itu, tatapannya menyelidik.

"Ya..." jawab Rayyan singkat, menghindari tatapan Nindy.

Nindy mengalihkan pandangannya pada Ruby, tatapannya seolah ingin menyampaikan sesuatu. "Saya tidak apa-apa, terima kasih ya, Mbak?" ucap Nindy, senyumnya tulus.

"Yuk, Ruby..." ajak Rayyan, kembali masuk ke dalam mobil. Ia tampak tidak nyaman dengan kehadiran Nindy.

"Oh... kalau begitu kami tinggal ya?" kata Ruby, merasa sedikit aneh dengan sikap Rayyan.

"Mbak..." panggil Nindy, menarik lengan Ruby dengan lembut.

"Ada apa, Mbak?" tanya Ruby, penasaran.

"Hati-hati dengan Dokter Rayyan..." bisik Nindy, suaranya penuh peringatan.

"Maksudnya? Hati-hati bagaimana?" tanya Ruby, bingung.

"Dia itu sangat jahat," bisik Nindy lagi, tatapannya serius.

"Jahat bagaimana?" Ruby semakin penasaran, namun Rayyan kembali memanggilnya.

"Ruby..." panggil Rayyan, nada suaranya sedikit tidak sabar.

"Ya..." jawab Ruby, menoleh ke arah Rayyan.

"Dia..." belum sempat Nindy menyelesaikan kalimatnya, Ruby sudah meninggalkannya dan bergegas menghampiri Rayyan. Ia merasa tidak enak meninggalkan Rayyan terlalu lama.

"Lama sekali..." gerutu Rayyan, begitu Ruby masuk ke dalam mobil.

"Loh... kenapa jadi marah?" tanya Ruby, heran dengan perubahan sikap Rayyan yang tiba-tiba.

"Aku lapar..." jawab Rayyan singkat, menghindari tatapan Ruby.

"Kenapa sikapmu jadi beda?" tanya Ruby, menyelidik. "Tadi kamu terlihat humble... kenapa sekarang jadi ketus begitu?"

"Tidak apa-apa..." jawab Rayyan, masih menghindari tatapan Ruby.

"Nindy siapa?" tanya Ruby, memandang Rayyan dengan curiga.

"Bekas asistenku..." jawab Rayyan, akhirnya menatap Ruby.

"Bener? Bukan mantan pacar?" tanya Ruby, tidak percaya begitu saja.

"Bukan..." jawab Rayyan tegas, namun Ruby masih merasa ada yang disembunyikan.

Mobil itu berhenti di depan sebuah kafe yang terlihat ramai.

"Ayo..." ajak Rayyan, turun dari mobil. Ruby mengikuti Rayyan dengan perasaan campur aduk.

"Recommended?" tanya Ruby, mencoba mencairkan suasana.

"Ya... kopi di sini luar biasa," jawab Rayyan, senyumnya kembali terpasang.

Ruby melangkah masuk ke dalam kafe bersama Rayyan. Suasana kafe terasa hangat dan nyaman, dengan aroma kopi yang menggoda.

"Eh, Pak Dokter... sudah lama tidak ke sini," sapa seorang pria paruh baya dengan ramah.

"Makanya ke sini, Bang..." jawab Rayyan. "Sudah rindu dengan kopi di kafe ini..."

"Dengan siapa?" tanya pria itu, matanya melirik ke arah Ruby.

"Calon istri," jawab Rayyan, menggenggam tangan Ruby dan menariknya untuk berdiri di sampingnya.

"Wah... akhirnya!" seru pria itu, tersenyum lebar.

"Ruby, ini Bang Wanda. Bang... ini Ruby," Rayyan memperkenalkan mereka.

"Baru jadian ya?" tanya Wanda, tatapannya menyelidik.

"Sudah lama, tapi dia melanjutkan studi di Oslo," jawab Rayyan menjelaskan.

"Wah... pantas selalu menolak setiap kali aku jodohkan. Ternyata sudah punya calon. Duduklah... biar aku suruh anak-anak membuatkan kopi untukmu. Ruby minum apa?"

"Sama saja," jawab Ruby, tersenyum ramah.

"Oke... sebentar ya?" Wanda meninggalkan Ruby dan Rayyan untuk memesan kopi.

Setelah makanan dan minuman yang mereka pesan datang, Ruby membuka percakapan. "Kenapa menyebutku calon istri?" tanyanya, tatapannya menyelidik.

"Bukankah kamu bilang ingin jadi istriku?" Rayyan balik bertanya, senyumnya menggoda.

"Aku hanya bercanda," ujar Ruby, pipinya sedikit merona.

"Ah, padahal aku sangat berharap kalau tahun ini bisa memiliki wanita yang kusebut sebagai istri," kata Rayyan, tatapannya melembut.

"Begitu banyak wanita yang ada di dekatmu, kenapa harus menunggu aku pulang?" ejek Ruby, mencoba menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. "Kelihatan sekali gombalnya."

"Karena hatiku sudah memilihmu, tapi kamu ternyata hanya memandangku biasa," kata Rayyan.

"Pintar sekali kamu merayu," ujar Ruby, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Apakah karena ini Nindy tadi berbisik padaku untuk hati-hati padamu? Dia bilang kamu lelaki yang sangat jahat."

"Dia bilang begitu?" tanya Rayyan, tatapannya terkejut.

"Ya... tapi aku tak tahu maksudnya karena kamu sudah memanggilku," jawab Ruby, mengamati reaksi Rayyan dengan seksama.

Rayyan tiba-tiba berdiri dari kursinya, membuat Ruby terkejut. "Mau kemana?" tanya Ruby, khawatir.

"Sebentar... ada yang mencariku di parkiran," jawab Rayyan, senyumnya sedikit dipaksakan. Ia meninggalkan Ruby seorang diri di meja.

Beberapa saat kemudian, Wanda kembali menghampiri Ruby. "Hai, Ruby..." sapanya ramah. "Rayyan bilang ada yang menunggunya di parkiran. Ia minta aku menemanimu."

Wanda duduk di hadapan Ruby, tatapannya bersahabat. "Sudah lama menjalin hubungan dengan Rayyan?" tanyanya, penasaran.

"Kami hanya teman masa kecil..." jawab Ruby, merasa perlu untuk menjelaskan hubungan mereka.

"Aku sudah cukup lama mengenal Rayyan. Dia adalah orang yang menyelamatkan Lexy," kata Wanda, matanya berbinar saat menyebut nama itu.

"Lexy?" tanya Ruby, bingung.

"Seekor anjing yang tak sengaja kutabrak. Dua minggu Lexy dirawat di klinik Rayyan hingga akhirnya aku bawa pulang dan sekarang Lexy menjadi peliharaanku di rumah," cerita Wanda dengan antusias.

"Oh..." Ruby hanya bisa ber-oh ria, merasa sedikit canggung dengan cerita itu.

"Kami menjadi dekat..." Wanda melanjutkan, senyumnya sedikit berubah menjadi sendu.

"Apakah Bang Wanda kenal dengan Nindy?" tanya Ruby, mencoba mencari informasi tentang wanita yang membuatnya resah.

"Nindy?" Wanda tampak berpikir sejenak.

"Ya..." jawab Ruby, menanti jawaban Wanda dengan cemas.

"Asistennya Rayyan?" tanya Wanda, memastikan.

"Jadi bener dia hanya asisten? Bukan mantan pacarnya?" tanya Ruby, nada suaranya sedikit meninggi.

"Nindy asistennya... Tapi hanya empat bulan kerja di sana. Dia tiba-tiba mengundurkan diri," jelas Wanda, mencoba menenangkan Ruby.

"Kenapa?" tanya Ruby, rasa penasarannya semakin membuncah.

"Tidak tahu... Kamu kenal Nindy?" tanya Wanda, balik bertanya.

"Tadi sempat bertemu... Dia mengingatkan aku untuk hati-hati pada Rayyan. Katanya Rayyan itu sangat jahat..." kata Ruby, mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya.

"Jahat? Jahat bagaimana?" Wanda tampak terkejut dengan pengakuan Ruby.

"Hm... Aku semakin yakin kamu memang selalu mencari tahu semua tentangku..." ucap Rayyan yang tiba-tiba datang menghampiri.

Ruby menoleh pada Rayyan yang langsung duduk di sampingnya. Ia merasa bersalah karena membicarakan Rayyan di belakangnya, namun ia juga merasa perlu untuk mencari tahu kebenaran.

"Tolong, Bang... Kasih tahu calon istriku ini, apakah selama ini aku pernah menjahati orang?" pinta Rayyan pada Wanda, nada suaranya sedikit bercanda.

"Mungkin saja dengan wajahmu itu kamu sudah mempermainkan banyak hati wanita, termasuk mantan asistenmu itu..." Ruby merengut, merasa kesal dengan sikap Rayyan yang terlalu santai.

Wanda dan Rayyan tertawa mendengar ucapan Ruby. "Tidak... Aku bisa menjamin kalau calon suamimu ini sangat baik. Tidak tahu juga kenapa Nindy menyebut dia lelaki yang sangat jahat," ujar Wanda, mencoba meyakinkan Ruby. "Mungkin dia menyukai Rayyan tapi tidak berbalas."

Ruby hanya tersenyum tipis, merasa sedikit lega dengan penjelasan Wanda. Namun, ia tetap tidak bisa menghilangkan sepenuhnya keraguan di hatinya.

"Sudahlah... Jangan dibahas lagi," kata Ruby, mencoba mengakhiri pembicaraan yang membuatnya tidak nyaman.

Suasana kembali canggung. Bisikan Nindy terus terngiang di telinganya, membuatnya semakin resah. Ia bertekad untuk mencari tahu kebenaran, meskipun itu berarti ia harus menghadapi kenyataan yang pahit.