“Tadi kamu memberikan nomor handphone kamu di depan klinik dokter Rayyan,” jelas Ruby.
“Oh.. Iya, mbak Ruby,” ujar Nindy. “Akhirnya menghubungi saya juga.. Tentunya ingin tahu kenapa saya mengatakan pada mbak soal dokter Rayyan kan?”
“Aku tidak suka cerita yang hanya separuh. Kenapa kamu menyebut dia jahat dan kenapa aku harus menghindarinya. Yang paling penting adalah kenapa kamu menyebut dia pembunuh?” tanya Ruby, langsung pada intinya.
“Ya.. Dia memang pembunuh berdarah dingin,” jawab Nindy, dengan nada serius.
“Apa kamu punya bukti kalau dia seorang pembunuh?” tanya Ruby, menuntut penjelasan.
“Sayangnya dia sangat licik. Dia sudah menghancurkan semua bukti dan membuat aku terkesan seperti orang gila yang bicara ngawur karena terlalu mencintai dia,” jawab Nindy, terdengar putus asa.
“Apa maksudmu?” tanya Ruby, semakin penasaran dengan cerita Nindy.