Perkamen yang masih berstempel basah itu terlempar di atas tumpukan kayu yang menyala. Dengan wajah yang penuh amarah, gadis cantik dengan pipi merona terlihat memandang perkamen yang mulai perlahan terbakar menjadi abu itu dengan penuh dendam.
“Aku bersumpah tidak akan memaafkannya,” ucapnya dengan mata merah menahan tangis.
“Puteri, apa yang Anda lakukan?” Seorang pelayan mengenakan baju khas kerajaan Yunani kuno tampak begitu cemas. Ia menarik gadis itu untuk menjauh dari perapian.
“Madam Lau, aku bersumpah, jika bukan karena hubungan kerajaan ini, aku sudah membunuhnya.”
“Puteri Anne, Anda masih terlalu kecil untuk berbicara seperti itu,” Madam Lau mencoba memberi nasihat kepada Anne, puteri pewaris kerajaan Andelwhise.
Masih berselimut kemarahan, Anne berjalan menuju sebuah patung yang berbalut gaun hijau zamrud dengan hiasan batu Swarovski, menunjukkan kemewahan dan kemegahan gaun tersebut. Ia mengambil gelas lilin lalu melemparkannya ke gaun yang menjuntai itu. Dengan cepat, gaun itu terbakar. Madam Lau yang melihat itu berteriak memanggil penjaga istana.
“Cepat padamkan!” Madam Lau memerintah dengan keras dan panik kepada para penjaga istana yang berlari membawa kain dan berusaha memadamkan baju yang terbakar itu.
Dengan keras, Madam Lau menarik tangan Anne dan menggiringnya untuk duduk di ranjang.
“Apa yang kau lakukan? Kau ingin membakar istana ini?” Madam Lau terlihat sangat kesal dengan sikap Anne yang dikendalikan oleh emosi.
“Ada apa ini?” Sebelum Anne bisa menjawab, semua dikagetkan oleh suara yang sangat mereka kenal. Suara yang penuh kekuasaan.
Semua membungkuk hormat kepada perempuan cantik berambut pirang dengan gaun merah maroon dan mahkota di kepalanya.
“Ratu Elena.” Madam Lau memberi salam kepada sang ratu yang terlihat sangat tegas.
“Jelaskan, apa yang terjadi, Madam?” tanyanya sambil menatap tajam gadis kecil yang tengah menahan tangis di atas ranjangnya.
“Maafkan saya, Ratu. Ini semua juga kesalahan saya… saya telah gagal mendidik Tuan Puteri.” Madam Lau, asisten pribadi Putri Anne, bersujud dalam-dalam di hadapannya. Suaranya gemetar namun tegas, menunjukkan keberaniannya untuk bertanggung jawab.
Ratu Elena menatapnya dengan tegas. Tatapannya tajam, bibirnya terkatup rapat, dan gaun merah marunnya menjuntai seperti darah yang menetes dari takhta.
“Kalau begitu,” ucapnya dingin, “hukum siapa pun yang tak becus mendidik Putri Anne.”
Para penjaga istana bersiap. Dalam hitungan detik, dua di antara mereka mulai bergerak mendekati Madam Lau. Namun langkah mereka terhenti ketika seorang gadis melesat cepat ke tengah ruangan.
Anne. Putri tunggal dari Raja Carlos dan Ratu Althea mendiang ratu pertama.
Dengan gaun putih pucat yang kontras dengan rambut hitam panjangnya, ia bagaikan kilat di tengah badai. Tatapan matanya tajam, penuh keberanian. Ia berlutut di samping Madam Lau, membantunya berdiri, lalu menatap langsung ke arah ibunya.
“Ini bukan salah mereka,” ucap Anne dengan suara yang terdengar di seluruh aula. “Aku yang bertanggung jawab atas semua ini.”
Ada jeda. Keheningan yang menggantung seperti pedang di udara.
Ratu Elena tersenyum—senyuman tipis yang lebih menyerupai ejekan. Ia berjalan perlahan menghampiri gadis itu dengan langkah anggun. Saat berdiri di depan Anne, ia meraih dagu putrinya, mengangkatnya agar mata mereka sejajar.
“Gadis kecil sepertimu memang sangat susah diatur,” bisiknya, sangat pelan namun menggigit. “Memang… keturunan tidak akan jauh berbeda.”
Itu lebih dari sekadar hinaan. Itu adalah pernyataan yang disengaja—mengingatkan Anne akan desas-desus yang sering ia dengar dari para pelayan tentang darah campurannya, tentang betapa ibunya selalu meragukan kelayakannya sebagai pewaris.
Anne menatap ibu tirinya, matanya menyala. Tidak ada rasa takut di sana—hanya kebencian murni. Senyumnya yang muncul adalah cerminan dari dendam yang dipendam terlalu lama.
Sebelum kata-kata tajam lain keluar dari bibir Anne, suara berat dan berwibawa memecah suasana.
“Ada apa ini?”
Raja Carlos memasuki aula. Sosoknya tinggi dan kokoh, dengan rambut perak yang tertata rapi. Suaranya membuat semua orang berpencar seketika, menyusun barisan hormat.
“Oh, sayang…” Ratu Elena buru-buru berbalik, menampilkan wajah lembut yang terasa begitu dibuat-buat. “Aku memeriksa keadaan Puteri kita. Aku takut dia terluka karena kelalaianku.”
Anne berdiri tegak, menahan geli yang hampir tumpah dari dadanya. Ibu tirinya memang pemain sandiwara terbaik di kerajaan ini.
Raja Carlos mendekati putrinya. “Anne, jelaskan pada Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Anne tersenyum kecil, mencoba menenangkan ayahnya yang tampak cemas. Ia menggenggam tangan pria itu, merasakan kehangatan yang sangat berbeda dari dinginnya tangan sang ibu.
“Ayah, aku tidak apa-apa. Aku hanya… sedikit emosi ketika mendengar kabar pembatalan pernikahanku dengan Pangeran Edric dari Kerajaan Barat.”
Tatapan Raja Carlos berubah. Ia menghela napas berat, jelas sedang menahan amarah.
“Mereka berani menghina kita… dan keluarga kita,” lanjut Anne. “Aku tidak terima, Ayah.”
“Sayang, mungkin kau masih terlalu muda untuk memahami politik antar kerajaan,” ucap Carlos, mencoba lembut. “Tapi Ayah akan mengurusnya. Kau tidak perlu memikul beban ini sendirian.”
Anne hanya tersenyum. Dalam hatinya, ia tahu, kadang yang muda justru lebih tajam melihat dunia, karena belum dibutakan oleh kompromi.
Sementara itu, dari kejauhan, Ratu Elena mengamati. Ekspresinya nyaris tak terbaca. Namun satu hal jelas—Anne sudah tumbuh, dan bukan lagi gadis kecil yang bisa dikendalikan semaunya.
Malam itu, langit benar-benar menurunkan hujan. Di balik jendela kamarnya, Anne berdiri memandangi taman istana yang gelap. Di tangannya, secarik surat tua yang ia sembunyikan dari siapapun, bahkan dari Madam Lau.
Itu adalah salinan surat pembatalan pernikahan. Namun ada hal aneh di dalamnya—tanda tangan Ratu Elena sendiri.
Mengapa ibu tirinya membatalkan pernikahan yang seharusnya menguntungkan kerajaan? Mengapa pembatalan itu terjadi diam-diam, bahkan tanpa sepengetahuan Raja Carlos?
Satu demi satu teka-teki muncul dalam kepalanya. Sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Dan dia… berada tepat di tengahnya.
Darah kerajaan mengalir di nadinya. Namun di istana ini, darah saja tak cukup. Untuk bertahan, seseorang harus tahu bagaimana bermain dengan duri yang menyelimuti mahkota.
Putri Anne menatap bayangannya di jendela. Matanya berubah dingin.
“Aku bukan boneka siapa pun…”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, dia bersumpah… akan membuka semua topeng dalam istana ini—termasuk topeng ibu tirinya sendiri.