MAHKOTA DENDAM "THE CROWN OF VENGEANCE" LUKA YANG TAK TERLIHAT
2/20
Bab 2

LUKA YANG TAK TERLIHAT

Malam masih basah oleh sisa hujan ketika suara langkah pelan terdengar di sepanjang lorong kamar kerajaan. Di balik dinding batu dan permadani merah tua, lampu-lampu minyak berkedip tenang, menemani bayangan yang melintas dengan cepat dan hati-hati.

Di dalam sebuah kamar sederhana yang terletak jauh dari pusat istana, seorang wanita tua sedang duduk bersila di lantai. Tangannya yang keriput meremas rosario kecil dari batu giok. Wajahnya penuh kekhawatiran. Pintu diketuk tiga kali, lalu terbuka perlahan.

“Madam Lau,” suara lembut itu terdengar.

Wanita tua itu mendongak, dan matanya langsung berkaca-kaca. “Tuan Puteri… tidak seharusnya Anda ke sini malam-malam begini.”

Anne melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan hati-hati. Ia duduk di lantai, persis di hadapan wanita yang sudah ia anggap seperti ibu sendiri.

“Tidak apa-apa. Aku butuh bicara,” bisik Anne. “Aku tidak bisa menahan ini sendiri.”

Madam Lau menghela napas, lalu menyentuh pipi Anne dengan lembut. “Hatimu terlalu penuh, Nak. Itu bahaya terbesar bagi siapa pun yang hidup di istana.”

Anne menunduk. “Aku merasa seperti terjebak. Seperti setiap langkahku sudah diawasi. Ibu… Ratu Elena… dia bukan ibuku. Bukan yang seharusnya.”

Madam Lau menatap dalam-dalam ke mata Anne. Tak ada bantahan dari wanita tua itu. Diamnya justru membenarkan semua yang tak terucap.


Anne tidak pernah benar-benar mengerti kenapa Ratu Elena begitu dingin padanya. Sejak kecil, ia tumbuh dalam bayangan seorang ibu yang tak pernah menyentuhnya dengan kasih, hanya dengan instruksi. Segala bentuk kelembutan datang dari tangan orang lain—dari pengasuh, pelayan dapur, bahkan penjaga istana.

Tapi tidak dari sang ibu.

Ketika Anne masih berusia lima tahun, ia pernah terjatuh dari kuda kecil yang sedang dilatih untuknya. Lututnya berdarah, dan ia menangis sejadi-jadinya. Namun Ratu Elena hanya berdiri beberapa meter jauhnya, tidak bergerak. Ia hanya berkata:

“Seorang pewaris tidak boleh menangis karena luka kecil.”

Yang berlari menghampirinya justru Madam Lau, yang membopong tubuh kecil Anne sambil membalut lukanya dengan sobekan kain dari gaunnya sendiri. Sejak saat itu, Madam Lau menjadi lebih dari sekadar guru. Ia adalah pelindung diam yang setia di balik tirai istana.

Tapi kini, bahkan dia pun menjadi korban permainan politik Ratu Elena.

“Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi,” ujar Anne tegas, matanya berkilat.

“Jangan buat aku khawatir padamu, Tuan Puteri,” kata Madam Lau. “Ratu Elena lebih berbahaya dari yang kau kira. Dia bukan sekadar ratu—dia adalah penjaga rahasia.”

Anne mengerutkan dahi. “Rahasia apa?”

Madam Lau terdiam. Lama. Terlalu lama.

“Ada hal-hal… yang bahkan Raja Carlos pun tidak tahu. Tentang asal-usul Elena. Tentang bagaimana dia bisa menjadi ratu.”

Anne semakin penasaran. “Kau tahu sesuatu, bukan?”

Madam Lau memejamkan mata. “Yang perlu kau tahu… dia bukan orang biasa. Dan darah yang mengalir di nadimu… lebih rumit dari yang kau kira.”

Kalimat itu menancap dalam di kepala Anne. Kata demi kata seperti ranting kering yang terbakar diam-diam, menyisakan bara. Ia tahu ibunya bukan sosok yang bisa dipercaya. Tapi bahwa ada rahasia darah yang bahkan Ayahnya pun tak tahu… itu mengubah segalanya.


Keesokan paginya, Anne duduk termenung di balkon ruang baca kerajaan. Buku-buku menumpuk di meja, namun tak satupun menarik perhatiannya. Pikirannya masih tertambat pada ucapan Madam Lau.

Seseorang mengetuk pintu. Seorang pelayan masuk, membawa sepucuk surat.

“Ini untuk Tuan Puteri. Dikirim dari perpustakaan istana bagian bawah. Tidak bertanda nama.”

Anne membukanya. Kertas itu berbau lembab dan tua, namun tulisan tangan di dalamnya sangat jelas:

“Cari nama ‘Lady Althea’ dalam dokumen pernikahan Raja Carlos. Kau akan tahu siapa ibumu sebenarnya.”

Anne menggenggam surat itu kuat-kuat. Nama itu—Lady Althea—tidak pernah ia dengar sebelumnya. Tapi jika benar, berarti Elena mungkin bukan istri pertama Ayahnya… atau bukan satu-satunya cinta sejatinya.

Ia segera berdiri, meninggalkan ruang baca dengan langkah cepat.


Lorong menuju perpustakaan bawah istana dipenuhi debu dan jaring laba-laba. Tempat itu nyaris tak pernah dikunjungi kecuali oleh sejarawan kerajaan atau peneliti tua.

Di sana, Anne menemukan tumpukan dokumen pernikahan kerajaan masa lalu. Ia membuka satu per satu, menyusuri nama-nama yang asing dan kuno, hingga akhirnya menemukannya.

Pernikahan Raja Carlos dengan Lady Althea dari House Verandis.

Tanggalnya cocok dengan masa sebelum ia lahir. Bahkan tercatat sebagai pernikahan resmi yang diberkati oleh Pendeta Agung. Tapi yang membuat Anne tercekat adalah catatan kecil di bawah dokumen itu:

“Pernikahan dibatalkan oleh permintaan Dewan, dengan alasan ‘pengkhianatan darah.’”

Namun tidak ada keterangan jelas tentang siapa Lady Althea sebenarnya, atau apa maksud dari pengkhianatan itu. Semuanya dihapus. Bahkan potongan kertas tampak dirusak secara sengaja.

Anne menatap kosong pada halaman yang robek itu.

Satu hal kini pasti—Ratu Elena menyimpan rahasia besar tentang masa lalu. Dan ia, Putri Anne, bukan hanya pewaris kerajaan… tapi mungkin juga pewaris kebenaran yang selama ini dikubur dalam-dalam.


Malam itu, Anne kembali ke kamarnya dan menuliskan sesuatu di jurnalnya.

“Jika mahkota adalah warisan, maka luka adalah pengingat. Aku akan menggali semua luka yang tersembunyi… dan membuka setiap topeng yang selama ini menyembunyikan wajah ibuku yang sebenarnya.”

Di balik pintu, bayangan seseorang memperhatikan gerak-gerik Anne dari celah. Seorang pelayan perempuan yang selama ini dianggap tak penting. Ia berbalik dan berjalan cepat ke ruang pribadi Ratu Elena.

“Ia mulai mencari, Tuanku,” katanya pelan.

Ratu Elena menutup buku yang sedang ia baca. “Biarkan dia. Dia harus tahu siapa dirinya… sebelum semuanya aku ambil darinya.”