Malam itu, istana Andelwhise tenggelam dalam kesunyian yang aneh. Lilin-lilin di koridor padam satu per satu, meninggalkan bayangan panjang di dinding batu. Di tengah keheningan itu, di sebuah ruang rahasia di balik ruang musik kerajaan, Ratu Elena duduk di kursi berlapis beludru merah, mengenakan gaun malam berwarna ungu tua. Di tangannya, secangkir anggur merah berputar perlahan — cairan itu tampak seperti darah di bawah cahaya lilin.
Senyumnya tipis, namun matanya memantulkan kilatan dingin seperti bilah pedang yang baru diasah.
“Seperti yang telah kuduga,” katanya lembut, suaranya bagaikan bisikan madu beracun. “Pangeran Edric membatalkan pernikahan itu. Dan kini seluruh kerajaan menatap Putri Anne dengan pandangan kasihan. Kasihan… betapa indahnya kata itu. Kasihan adalah pintu menuju kehancuran seseorang.”
Di hadapannya berdiri Lady Mirra, pelayan kepercayaannya, seorang wanita yang wajahnya selalu tersembunyi di balik tudung. “Apakah Yang Mulia hendak memanfaatkan keadaan ini?” tanyanya hati-hati.
Elena tersenyum tipis. “Tentu saja. Saat seseorang kehilangan cinta, ia juga kehilangan tempatnya di dunia. Raja akan meratap demi putrinya, dan aku akan memberinya alasan untuk ‘melindungi kehormatannya’. Lihat saja — dalam dua hari, ia akan memohon agar Putri Anne meninggalkan istana dengan dalih menenangkan diri.”
Lady Mirra menunduk. “Namun, Yang Mulia, bila Putri Anne pergi, bukankah rakyat akan menaruh simpati padanya? Nama Ratu bisa tercemar bila terlihat seolah mengusir sang putri.”
Ratu Elena tertawa pelan, suaranya lembut tapi menggema di ruangan seperti desir ular. “Itulah mengapa aku takkan melakukannya sendiri. Raja-lah yang akan mengatakannya. Ia akan percaya bahwa keputusan itu berasal dari pikirannya sendiri. Ia mencintai anak itu, tapi ia lebih mencintai kehormatan istana. Dan kehormatan adalah tali yang mudah kutarik.”
Ia bangkit, berjalan mendekati cermin besar berbingkai emas di dinding. Di dalam pantulan, ia melihat dirinya — anggun, tanpa cela, seperti dewi keanggunan. Tapi di balik keindahan itu tersembunyi sesuatu yang lebih kelam dari malam itu sendiri.
“Anne,” bisiknya pada bayangannya, “kau terlalu lembut untuk dunia ini. Dan lembut adalah kelemahan yang paling mematikan dalam istana.”
Keesokan harinya, Ratu Elena tampil di ruang makan kerajaan, wajahnya bersinar penuh kepura-puraan. Raja Carlos, ayah Putri Anne, duduk di ujung meja panjang dengan mata yang letih. Ia belum tidur semalam, memikirkan nasib anaknya yang kini menjadi buah bibir seluruh kerajaan.
“Baginda tampak murung,” kata Elena dengan nada lembut, menuangkan anggur ke piala sang raja. “Apakah masih tentang Anne?”
Raja hanya mengangguk. “Anak itu telah menanggung aib yang bukan kesalahannya. Aku ingin dunia tahu bahwa Andelwhise tidak tunduk pada fitnah.”
Elena meletakkan tangannya di tangan sang raja — lembut, penuh kasih palsu. “Dan justru karena itulah, Baginda harus bertindak bijak. Dunia kejam terhadap wanita yang dikhianati. Bila ia tetap tinggal di istana, setiap tamu, setiap duta dari negeri lain akan memandangnya dengan rasa iba… atau ejekan. Apakah itu pantas bagi seorang putri kerajaan?”
Raja memandang istrinya, matanya bergetar oleh keraguan. “Kau bermaksud agar ia pergi?”
“Tidak pergi,” jawab Elena cepat, tersenyum lembut. “Hanya… beristirahat. Di biara selatan mungkin. Biarlah ia menenangkan hati, menjauh dari sorotan. Dengan begitu, kehormatannya tetap terjaga, dan kerajaan tak tampak lemah.”
Raja terdiam lama. Kata-kata itu tampak masuk akal — bahkan bijak. Ia memejamkan mata, menatap masa depan anaknya yang porak-poranda, lalu menghela napas panjang. “Mungkin kau benar, Elena. Biarlah ia pergi sementara waktu, sampai badai ini reda.”
Di balik tatapan lembutnya, senyum Ratu Elena perlahan mengeras menjadi garis dingin yang nyaris tak terlihat. “Tentu, Baginda. Aku akan mempersiapkan perjalanannya dengan penuh kehormatan.”
Beberapa jam kemudian, Lady Mirra menemui Ratu di kamar pribadinya. “Semua telah diatur, Yang Mulia. Biara Selatan menolak menerima tamu kerajaan tanpa pemberitahuan resmi.”
Elena mengangguk. “Aku tahu. Justru itu yang kuinginkan. Ketika Anne tiba, para biarawati akan menolaknya. Ia akan dianggap tak diinginkan, bahkan oleh tempat suci sekalipun. Setelah itu, kabar bahwa putri kerajaan terusir dari biara akan menyebar. Dunia akan mengasihani, tapi istana akan malu. Dan ketika rakyat kehilangan kepercayaannya, Raja akan kehilangan kekuatannya.”
Lady Mirra menatap sang Ratu dengan takjub dan takut. “Dan setelah itu, siapa yang akan memerintah?”
Elena menatap keluar jendela, di mana matahari sore menimpa wajahnya, membuatnya tampak seperti malaikat dalam lukisan. “Siapa lagi, selain aku?” katanya lirih. “Raja telah tua. Darah bangsawan lemah bila dicampur air mata. Aku akan menuntun kerajaan ini — dengan tangan besi di balik sarung sutra.”
Ia berjalan menuju meja tulisnya dan mengambil sebuah surat kecil bersegel hitam. “Kirimkan ini pada Lord Halwen di kerajaan barat,” perintahnya.
“Katakan padanya bahwa waktunya hampir tiba. Bila perang kembali terjadi antara kedua kerajaan, maka jalan menuju kekuasaan akan terbuka lebar.” Lady Mirra ragu. “Apakah Yang Mulia yakin Pangeran Edric akan melawan? Kudengar ia telah menyesali keputusannya.”
Elena tersenyum samar. “Penyesalan adalah benih yang subur untuk perang. Ia akan datang mencari kebenaran — dan saat itu terjadi, aku akan pastikan ia menemukan kebohongan lain yang lebih besar.”
Sore menjelang malam, Putri Anne dipanggil ke aula utama. Raja duduk di singgasananya, wajahnya berat dan penuh duka. Di sisi kirinya, Ratu Elena tampak lembut, mengenakan gaun putih yang memberi kesan kesucian yang palsu.
“Putriku,” ujar Raja Carlos, “aku tahu hatimu terluka. Demi menjaga nama baikmu dan nama kerajaan, aku ingin kau beristirahat di biara Selatan untuk sementara waktu.”
Anne menatap ayahnya dengan mata terbelalak. “Ayah ingin aku pergi?”
“Bukan karena aku mengusirmu,” jawab Raja cepat, suaranya lirih. “Tapi karena aku ingin dunia tahu bahwa Andelwhise menghormati putrinya. Dengan pergi, kau menjaga kehormatanmu sendiri.”
Elena menunduk anggun, berpura-pura menahan air mata. “Kau gadis yang kuat, Anne. Tuhan pasti punya rencana untukmu di tempat itu.” Anne memandang ibu tirinya lama sekali. Di matanya yang biru, tampak secercah kecurigaan. Ia menunduk perlahan, lalu berkata, “Bila itu kehendak Ayah, aku akan menuruti.”
Raja menghela napas lega. Tapi saat Anne berpaling, Ratu Elena membiarkan senyum licik melintas di bibirnya — senyum yang tak dilihat siapa pun, kecuali Lady Mirra yang berdiri di bayangan.
Malam itu, ketika seluruh istana terlelap, Elena berdiri di balkon kamarnya, memandangi cahaya bulan yang menari di atas menara. Suara lonceng malam bergema, dan burung hantu berterbangan di kejauhan.
“Langkah pertama telah dimulai,” katanya pelan. “Andelwhise akan bersimpuh, bukan karena pedang, tapi karena air mata seorang gadis yang diusir dari rumahnya sendiri.”
Ia mengangkat piala anggur, menatap warna merah gelapnya yang berputar di bawah sinar bulan. “Untuk kehancuran yang indah,” bisiknya, lalu meminumnya hingga habis.
Di bawahnya, angin malam berhembus, membawa bisikan nasib — bahwa dalam waktu dekat, darah, cinta, dan kekuasaan akan saling bertaut dalam jalinan takdir yang tak seorang pun bisa hentikan.