MAHKOTA DENDAM "THE CROWN OF VENGEANCE" Bab V – Sayap yang Terkoyak
5/20
Bab 5

Bab V – Sayap yang Terkoyak

Fajar baru saja menyentuh menara-menara Andelwhise ketika derap kuda terdengar di jalan berbatu yang menuju gerbang selatan. Udara pagi masih dingin, sarat kabut yang menggantung seperti tirai tipis di sepanjang tembok kota. Di balik kabut itu, kereta kecil berwarna biru kelam bergerak perlahan keluar dari istana — membawa seorang putri yang diasingkan dari rumahnya sendiri.

Di dalam kereta, Putri Anne duduk diam, tangannya menggenggam erat selendang putih yang diberikan ayahnya. Mata birunya menatap kosong ke luar jendela, menyaksikan bayangan-bayangan kota yang menjauh, seolah setiap detik yang berlalu mencabut satu bagian dari hidupnya.

Di jantung kota Andelwhise, di saat yang sama, suara terompet terdengar menggema. Warga berbondong-bondong memenuhi jalan utama ketika bendera merah emas dari Kerajaan Barat memasuki gerbang besar kota. Pangeran Edric, yang beberapa hari lalu membatalkan pertunangan dengan Putri Anne, pulang membawa rombongan singkat — wajahnya pucat namun matanya menyimpan kegundahan dalam.

Ia turun dari kudanya, berniat menuju istana, ketika suara-suara dari kerumunan mulai terdengar:

“Kasihan Putri Anne… dibuang seperti itu.”

“Apa kau dengar? Katanya ia tak pantas jadi permaisuri!”

“Pangeran Edric benar, gadis itu pasti menyembunyikan sesuatu.”

“Kau lihat keretanya tadi? Keluar istana pagi-pagi sekali. Bahkan biara pun mungkin tak mau menerimanya.”

Telinga Edric menangkap setiap kata — tiap bisikan tajam seperti pisau yang menusuk kulitnya sendiri. Ia berhenti. Napasnya membeku.

Anne? Keluar dari istana? Pada pagi ini?

Jantungnya berdetak cepat. Ia menatap jalan selatan, arah yang sama dengan kereta yang baru saja meninggalkan kota. Kerumunan menatapnya dengan ambigu — sebagian hormat, sebagian membandingkannya dengan putri yang mereka cibir.

Edric menggenggam tali kudanya, mencoba menahan gelombang penyesalan yang menghantam dadanya.

“Putri Anne… apa yang telah mereka lakukan padamu?” gumamnya hampir tanpa suara.

Namun ia tidak mengambil langkah mengejarnya. Bukan karena tidak ingin — tetapi karena ia tahu, jika ia kembali mengambil keputusan gegabah, seluruh kerajaan akan memandangnya sebagai orang lemah. Ia harus terlebih dahulu mencari tahu kebenaran yang disembunyikan istana… dan juga kebenaran dalam hatinya sendiri.

Sementara itu, jauh di jalan selatan, Putri Anne semakin menjauh dari rumah yang selama ini ia pikir akan selalu aman baginya.


Perjalanan menuju Biara Selatan memakan waktu hampir setengah hari. Ketika kereta berhenti di depan bangunan batu berlumut dengan salib kayu besar di puncak atapnya, Anne merasakan ketenangan aneh menyentuh dadanya. Ia berharap, meski kecil, bahwa di sana ia akan menemukan tempat untuk memulihkan diri.

Ia turun dari kereta. Angin selatan berembus, mengibarkan rambut cokelat keemasannya. Dua biarawati berjalan mendekat, wajah mereka tertutup kerudung putih yang bersih.

“Aku Putri Anne dari Andelwhise,” katanya, mengatur napasnya. “Ayahku mengutusku untuk beristirahat di biara ini. Aku memohon agar diterima.” Kedua biarawati saling berpandangan. Salah satunya, yang lebih tua, melangkah maju. Tatapannya tajam dan penuh keraguan.

“Putri,” katanya perlahan, “kami mendapat kabar… namun tidak seperti yang Anda harapkan.”

Anne mengerutkan kening. “Apa maksud Anda?”

“Tidak ada pesan resmi dari istana. Tidak ada permohonan tertulis, tidak ada segel kerajaan. Dan lebih dari itu…” Ia menelan ludah, seolah berat mengatakannya. “Kami telah diperintah untuk… menolak kedatangan Anda.”

Dunia Anne seolah berhenti. “Diperintah? Oleh siapa?”

“Kami hanya menjalankan pesan yang datang dua hari lalu,” jawab biarawati itu, menundukkan wajahnya. “Kami mohon maaf, Putri. Anda tidak dapat tinggal di sini.”

Anne terdiam. Dingin. Hampa.

Dua hari lalu? Bahkan sebelum Raja memintanya pergi?

Ini berarti… seseorang telah menata semuanya jauh sebelum dirinya bersiap meninggalkan istana.

Wajah cantik ibu tirinya muncul dalam ingatannya — senyum lembut, mata penuh kepura-puraan, dan suara manis yang selalu membuat bulu kuduknya meremang.

Ratu Elena.

Anne merasakan dadanya seperti ditarik keras oleh tangan tak terlihat. Ia menegakkan tubuhnya.

“Baik,” katanya lirih. “Aku mengerti.”

Ia kembali ke kereta, namun kusirnya — seorang pelayan istana — menunduk dalam-dalam.

“M-maafkan saya, Putri… Saya diperintah hanya mengantar Anda sampai sini. Saya… harus kembali ke istana.”

Anne menatapnya. Sekilas saja. Namun tatapan itu cukup membuat sang kusir menelan ludah ketakutan.

“Pergilah,” kata Anne pelan.

Kereta itu berbalik, meninggalkan debu yang berterbangan. Dalam hitungan menit, Anne benar-benar sendirian. Sunyi. Tanpa tempat tujuan. Tanpa perlindungan. Tanpa keluarga.

Ia menatap langit selatan yang kelabu, lalu menatap jalan tanah yang terbentang menuju desa—atau mungkin menuju bahaya yang tidak ia ketahui.

Untuk pertama kalinya, Anne merasa benar-benar ditinggalkan oleh dunia.


Senja mulai turun ketika ia mencapai sebuah bukit kecil yang menghadap padang rumput luas. Angin menerpa gaunnya, mendorongnya ke belakang, seakan dunia pun ingin menolaknya.

Kemarahan perlahan menyusup ke dalam hatinya.

Awalnya kecil. Lalu tumbuh, mengisi ruang-ruang luka dengan api yang menyala semakin panas.

Aku diusir. Dihina. Dijadikan bahan cibiran. Ayahku… bahkan ia tidak melihat bahwa aku sedang disingkirkan. Semua ini karena seseorang menghendaki kehancuranku.

Bayangan wajah Ratu Elena kembali muncul — senyum palsu itu, tatapan dingin yang dibalut kelembutan semu. Anne menggertakkan gigi.

“Aku tidak akan menjadi korban,” bisiknya pada angin. “Aku bukan anak kecil yang bisa dipermainkan.”

Ia memejamkan mata, membiarkan semua rasa sakit, pengkhianatan, dan penghinaan itu menumpuk dalam dadanya… lalu membakarnya menjadi satu tekad.

Ketika ia membuka mata, semuanya telah berubah.

Inilah pertama kalinya Anne merasakan sesuatu yang bukan hanya luka — tetapi kekuatan dari dalam dirinya sendiri.

“Aku akan kembali ke Andelwhise,” katanya lantang.

Suara itu dipatahkan angin, namun tekadnya tidak.

“Aku akan kembali, bukan sebagai putri yang lembut. Tapi sebagai seseorang yang akan menghancurkan siapa pun yang berani membuatku menderita.”

Ia mengepalkan tangan. Mata birunya kini bukan lagi mata gadis yang rapuh — tapi mata seseorang yang telah kehilangan segalanya… dan karena itu, tidak takut pada apa pun.

“Dunia ingin melihatku jatuh?”

Ia tersenyum tipis, senyum yang bahkan dirinya sendiri hampir tak kenal.

“Maka akan kubalas dengan kejatuhan yang lebih besar.”

Putri Anne berdiri di puncak bukit, membiarkan angin malam menampar wajahnya. Ia tidak lagi menjadi gadis yang meninggalkan istana dengan hati patah.

Ia kini adalah badai yang sedang lahir — badai yang suatu hari akan kembali dan mengguncang istana Andelwhise hingga ke pondasinya.

Dan di kejauhan, tanpa ia ketahui, seorang pangeran yang menyesali kebodohannya menatap arah yang sama, merasakan bahwa takdir keduanya baru saja berubah… untuk selamanya.