One Night One Lie Pertemuan Pertama Kali
1/30
Bab 1

Pertemuan Pertama Kali

Ini Langit malam kota metropolitan tampak bersih dari awan, ia menampilkan bintang-bintang yang tersebar seperti permata di hamparan hitam. Namun gemerlap lampu kota jauh lebih menyilaukan dibandingkan keindahan langit malam itu.

Di salah satu hotel berbintang lima di pusat kota, sebuah pesta perusahaan berlangsung dengan mewah, penuh dengan gelas-gelas sampanye, suara dentingan piano dan tawa para eksekutif.

Aaren Baron adalah CEO muda dari Baron Group, duduk menyendiri di balkon suite presiden lantai tertinggi. Jas hitamnya masih melekat sempurna namun dasinya telah dilepas, menggantung longgar di leher. Tatapannya kosong, menatap kerlip kota di bawah sana. Beberapa jam sebelumnya ia baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan para investor dari luar negeri. Semua berjalan lancar. Namun batinnya terasa hampa.

Pesta di ruang utama masih berlangsung. Musik, obrolan dan tawa masih terdengar samar dari dalam. Aaren tak pernah menyukai keramaian apalagi yang penuh basa-basi dan kepalsuan. Ia kembali meneguk minumannya, menghela napas panjang lalu beranjak masuk.

Di antara para tamu ada seorang wanita muda dengan gaun hitam elegan tengah duduk di sudut ruangan terlihat sedang memeluk sebuah cello berkilau di pelukannya. Wajahnya tenang, matanya lembut namun menyimpan luka yang dalam. Dia adalah Chiara Evolet, pemain cello lepas yang kerap diundang untuk mengisi acara-acara eksklusif.

Malam itu, saat jemarinya menari di senar cello, melodi sendu memenuhi ruangan. Semua mata tertuju padanya. Namun, hanya Aaren yang tak mengalihkan pandangannya sejak dentingan nada pertama terdengar. Ada sesuatu dalam cara Chiara memainkan musiknya yang membuat Aaren terdiam. Bukan hanya karena keindahan musik itu sendiri, melainkan emosi yang tersembunyi di dalam setiap nada.

Selesai bermain Chiara hendak keluar dari ruangan, ia berniat meninggalkan hotel begitu tugasnya selesai. Namun langkahnya terhenti saat seorang pria berdiri di ambang pintu, Aaren.

“Malam yang indah, bukan?” Aaren membuka percakapan dengan suaranya yang tenang.

Chiara menatapnya sejenak, lalu tersenyum sopan. “Terima kasih telah mengundang saya, Tuan Baron.”

“Bolehkah saya mentraktir Anda segelas minuman?” tanyanya tiba-tiba.

"Ba-baiklah!" setuju Chiara.

Chiara sempat ragu. Namun, tatapan pria itu tidak seperti biasanya. Ada ketenangan yang aneh, tapi juga kerinduan yang entah diarahkan kepada siapa. Ia pun mengangguk pelan.

Di ruang lounge pribadi, mereka duduk berdua. Obrolan ringan berkembang menjadi percakapan yang lebih dalam. Tentang musik, tentang ambisi dan hidup yang tak selalu ramah. Aaren jarang membuka diri, namun malam itu berbeda. Chiara juga merasa aneh dengan kenyamanan yang datang tiba-tiba, seolah pria di hadapannya bukanlah seorang CEO dingin seperti yang sering dikabarkan.

Malam yang seharusnya berakhir begitu saja, kini berubah menjadi awal dari sebuah kekacauan. Chiara tak pernah


Pagi hari cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai jendela. Chiara terbangun lebih dulu, menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Ia menyadari dirinya berada di kamar hotel mewah yang asing. Ia hanya mengenakan kemeja pria yang kebesaran. Di sebelahnya ada Aaren masih tertidur dengan wajahnya terlihat damai.

Chiara mendekap tubuhnya sendiri, mencoba mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya. Ia dan Aaren telah melampaui batas. Bukan karena mabuk, tapi karena emosi dan kesepian yang tak mampu mereka bendung. Kini segalanya menjadi rumit.

Tak ingin memperpanjang rasa bersalah, Chiara bangkit perlahan, meraih gaunnya yang tergantung di sandaran kursi dan bersiap pergi tanpa membangunkan pria itu.

Namun, sebelum keluar kamar, suara berat itu menghentikannya.

“Chiara.”

Gadis itu menoleh. Aaren menatapnya dengan mata masih setengah terbuka. “Jika kau hamil nanti, gugurkan saja. Aku tak ingin mengacaukan hidupmu dan hidup lebih jauh.”

Chiara tertegun.

"Untuk urusan itu, bukan lagi urusanmu!" ucap Chiara.

Kata-kata itu terdengar datar, tetapi menyesakkan. Ia hanya mengangguk pelan lalu meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.


Waktu berlalu.

Chiara berdiri di depan meja kecil di sebuah apartemen sederhana. Di tangannya, dua garis merah di alat uji kehamilan membuat napasnya tertahan. Ia benar-benar hamil. Tubuhnya bergetar. Pikiran Aaren dan kata-katanya kembali menghantam.

Namun, di tengah ketakutan itu, Chiara mengambil keputusan besar. Ia tak bisa menghilangkan kehidupan yang tumbuh dalam rahimnya. Bagaimanapun, bayi ini adalah darah dagingnya. Maka, dengan berat hati, ia menghubungi Aaren, meminta sejumlah uang dengan alasan untuk membeli obat penggugur kandungan. Aaren mentransfernya tanpa banyak tanya.

“Anggap saja aku tak pernah ada dalam hidupmu, Aaren Baron.” bisiknya lirih setelah menutup telepon.

Chiara tersenyum sinis saat menatap layar ponsel yang menunjukkan nominal uang yang ditransfer Aaren Baron untuknya. Seratus juta. Begitu mudah.


Dua tahun kemudian.

Di sebuah kafe bergaya klasik di tengah kota, suara cello mengalun lembut seraya mengiringi pengunjung yang menikmati sore dengan secangkir kopi dan obrolan santai. Di panggung kecil di sudut ruangan, Chiara duduk tenang dengan cello di pangkuannya. Wajahnya tetap cantik dan anggun meski terlihat sedikit lebih dewasa dan matang dari dua tahun lalu.

Selesai memainkan lagu terakhirnya, ia beranjak turun dari panggung. Di luar seorang wanita muda bernama Carissa menunggunya dengan seorang anak kecil di pelukan.

“Lauren, lihat siapa yang datang,” ucap Carissa ceria yang menyembunyikan seorang anak balita perempuan di belakang kakinya.

Anak perempuan berambut ikal berlari kecil dan memeluk Chiara. “Mama!” panggil anak balita perempuan itu dengan nada yang masih belum jelas.

Chiara mengangkat Lauren dalam pelukannya, mencium keningnya penuh cinta. “Sudah rindu, ya?”

"Apa kamu hari ini sudah jadi anak baik?" tanya Chiara pada anak kecil itu seraya tersenyum. Chiara segera menggendong anak itu dan cellonya dibawa oleh Clarissa, sahabatnya.

Dari kejauhan, seseorang memperhatikan adegan itu dengan tatapan terkejut. Aaren, yang secara kebetulan tengah menghadiri rapat informal di kafe yang sama, berdiri mematung. Ia menyaksikan semuanya bagaimana gadis kecil itu memanggil Chiara dengan sebutan 'mama' dan bagaimana wajahnya sekilas mirip sekali dengannya.

Degup jantungnya tiba-tiba tak beraturan.

“Lauren?” gumam Aaren pelan. “Itu, tidak mungkin, tapi bukankah dulu aku pernah menyuruhnya untuk tidak melahirkan anak itu, siapa anak itu sebenarnya?”

Pikiran Aaren berputar cepat. Ia tahu benar berapa lama waktu telah berlalu sejak malam itu. Dan usia anak itu tampaknya sesuai. Ia merasa dibohongi, tapi juga tergetar oleh kemungkinan besar bahwa gadis kecil itu adalah putrinya.

Tanpa membuang waktu, Aaren menghubungi asistennya.

“Selidiki wanita bernama Chiara Evolet. Semuanya. Mulai dari dua tahun lalu sampai hari ini.” titah Aaren yang ingin mendapatkan hasilnya dengan segera. Dia pun menggunakan koneksi dan jabatannya sebagai CEO.

"Aku mau secepat mungkin hasilnya, aku tak mau menunggu lama lagi!" sambung Aaren.

"Baik Tuan, akan saya laksanakan!" angguk bawahannya.

Ichan Kaori

Penulis

Lihat Profil

Daftar Bab

Pertemuan Pertama Kali

Bab 1

Kepanikan Di Malam Hari

Bab 2

Sebuah Babak Di Kegelapan

Bab 3

Di Kesunyian

Bab 4

Perlawanan Aaren

Bab 5

One Night One Lie - Berita Skandal Aaren - Bab 6

Bab 6

One Night One Lie - Merasakan Jadi Ayah - Bab 7

Bab 7

One Night One Lie - Pertanyaan Lauren Tentang Aaren - Bab 8

Bab 8

One Night One Lie - Irama Yang Tak Bisa Dipadamkan - Bab 9

Bab 9

One Night One Lie - Pertemuan Dua Nada - Bab 10

Bab 10

One Night One Lie - Kontrak Nada - Bab 11

Bab 11

One Night One Lie - Nada Kejanggalan - Bab 12

Bab 12

One Night One Lie - Sebelum Nada Digelar - Bab 13

Bab 13

One Night One Lie - Nada Yang Terkubur Di Italia - Bab 14

Bab 14

One Night One Lie - Takdir Yang Tak Diduga - Bab 15

Bab 15

One Night One Lie - Skandal Dana Konser - Bab 16

Bab 16

One Night One Lie - Berita Angin Yang Menyesakan - Bab 17

Bab 17

One Night One Lie - Simfoni Dua Jiwa - Bab 18

Bab 18

One Night One Lie - La Verita - Bab 19

Bab 19

One Night One Lie - Dua Jiwa Kesayangan Dario - Bab 20

Bab 20

One Night One Lie - La Notte Della Rivelazione - Bab 21

Bab 21

One Night One Lie - Skandal Simfoni Yang Tak Pernah Usai - Bab 22

Bab 22

One Night One Lie - Kabut Di Atas Paris - Bab 23

Bab 23

One Night One Lie - Sidang Terbuka Chiara Dan Luna - Bab 24

Bab 24

One Night One Lie - Lauren Yang Mulai Tumbuh Besar - Bab 25

Bab 25

One Night One Lie - Tekanan Ibu Mertua - Bab 26

Bab 26

One Night One Lie - Harapan Kosong Milik Luna Damian - Bab 27

Bab 27

One Night One Lie - Kedatangan Delegasi Dari UNESCO - Bab 28

Bab 28

One Night One Lie - Nada Yang Tergelincir - Bab 29

Bab 29

One Night One Lie - Bara Yang Terkubur - Bab 30

Bab 30

Rating

Bab Ini

Memuat...

Album

Memuat...