Suasana malam itu begitu tenang di apartemen kecil milik Chiara. Hujan rintik turun perlahan membasahi jendela yang setengah terbuka. Chiara baru saja menyelesaikan tugasnya menyimpan cello ke dalam kotak ketika suara batuk kecil memecah keheningan.
“Lauren?” panggilnya pelan, bergegas menuju kamar tidur.
Di atas ranjang, tubuh mungil Lauren menggigil dengan wajahnya yang pucat dan basah oleh keringat dingin. Matanya setengah terbuka, pandangannya kosong. Tubuhnya panas, jauh lebih panas dari biasanya.
“Lauren, Sayang, bangun. Ibu di sini.”
Chiara menepuk lembut pipi anaknya, tapi tubuh kecil itu tak memberi respons selain helaan napas berat yang tak beraturan. Panik mulai merayapi dada Chiara. Ia segera meraih ponsel, menekan nomor darurat sambil menggigil.
“Tolong, cepat ke apartemen saya, apartemen Buana Kencana Jalan Melati. Anak saya tak sadarkan diri.” Suaranya bergetar saat memberi alamat kepada petugas medis.
Beberapa menit, kemudian ambulans tiba. Dalam kekacauan, Chiara menggendong Lauren erat-erat. Bocah itu tak sadarkan diri. Mata bulatnya yang biasa ceria, kini tertutup rapat dan napasnya makin berat.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya petugas.
“Saya tidak tahu! Dia hanya makan sup ayam tadi sore, saya juga makan itu, tapi saya baik-baik saja!” seru Chiara, kalut.
Petugas saling berpandangan, kemudian mengambil tindakan cepat, memasang oksigen dan memantau tanda-tanda vital.
Saat ambulans melaju, sebuah mobil hitam mewah membuntuti dari kejauhan. Aaren Baron berada di dalamnya, wajahnya tegang. Ia menerima informasi dari asistennya bahwa Chiara membawa seorang anak kecil ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Aaren tak butuh bukti lebih jauh—dia tahu itu pasti Lauren.
Di ruang gawat darurat tubuh Lauren dipasangi infus dan alat bantu lainnya. Chiara terus menangis dalam diam, berdiri di sudut ruangan, matanya tak lepas dari putrinya. Ketika dokter keluar, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Kami curiga anak Anda mengalami keracunan makanan. Kami sedang melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan untuk memastikan racun jenis apa yang masuk ke tubuhnya.”
“Keracunan?” Chiara terguncang. “Kami makan makanan yang sama.”
“Terkadang dosis kecil racun hanya berdampak berat pada anak-anak. Kami akan segera informasikan hasilnya.”
Chiara jatuh terduduk dengan air matanya tak terbendung. Ia merasa dunia runtuh. Bagaimana mungkin Lauren bisa keracunan? Siapa yang tega melakukan ini?
Di saat yang sama, pintu ruang UGD terbuka keras.
Aaren Baron masuk dengan langkah tergesa. Tatapannya langsung menuju ranjang tempat Lauren terbaring lemah.
“Chiara!” serunya tajam.
Chiara berdiri dan terkejut, bukan karena kedatangan Aaren, melainkan karena ekspresi wajahnya yang benar-benar marah dan penuh tekanan.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya Aaren dingin.
“Dia, dia keracunan. Aku tidak tahu dari mana asalnya. Aku sudah masak seperti biasa." Suara Chiara bergetar.
“Dan itu cukup menjadi alasanmu untuk menelantarkan anak ini di rumah sakit biasa seperti ini?” suara Aaren meninggi, penuh amarah yang ditahan.
Chiara mengernyit. “Apa maksudmu? Rumah sakit ini tempatku selalu membawa Lauren, jika dia sakit! Mereka profesional!”
“Chiara, dia anakku juga! Dan aku tidak akan membiarkan putriku dirawat di tempat yang tidak memiliki fasilitas terbaik!” Aaren menghampiri ranjang, menatap Lauren dengan wajah pucat. “Aku akan memindahkannya ke rumah sakit milik Baron Medical.”
“TIDAK!” Chiara berseru lantang. “Kau tidak bisa seenaknya begitu saja mengatur semuanya! Dia selama ini hidup tanpa kau ketahui keberadaannya dan sekarang, setelah semuanya terjadi, kau mau menculiknya ke rumah sakitmu hanya karena kau merasa pantas menjadi ayahnya?”
“Ini bukan tentang pantas atau tidak,” kata Aaren dengan suara tertahan, tapi tegas. “Ini tentang menyelamatkan nyawa seorang anak kecil, Chiara! Lihat keadaannya sekarang! Dia tak sadarkan diri, dan waktu kita terbatas.”
Chiara menggigit bibirnya. Matanya basah. Di satu sisi ia tahu Aaren benar—Baron Medical memiliki fasilitas terbaik di kota ini. Di sisi lain, egonya sebagai seorang ibu yang membesarkan Lauren sendirian selama dua tahun tak rela menyerahkan segalanya begitu saja.
“Dia hanya akan menjadi satu dari sekian banyak pasien penting di rumah sakitmu. Aku mengenal Lauren, dia butuh sentuhan manusia, bukan fasilitas mewah,” ucap Chiara tajam.
“Dan aku mengenal diriku sendiri,” balas Aaren dingin. “Aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya lagi. Termasuk para pengecut yang mencoba membunuhnya hari ini.”
Chiara terkejut. “Apa maksudmu?”
“Aku punya rekaman CCTV dari apartemenmu,” ujar Aaren sambil menunjukkan ponselnya. “Seorang pria asing menyelinap ke area dapurmu sekitar pukul tiga sore. Dia menyentuh bahan makanan. Aku sudah mengirimkan video ini ke pihak berwajib.”
Chiara terdiam. Tangannya menutup mulutnya sendiri, shock.
“Seseorang mencoba meracuninya, Chiara,” Aaren menatap matanya dalam-dalam. “Dan mulai sekarang, aku tak akan tinggal diam.”
Dalam keheningan yang menggantung, dokter masuk kembali.
“Kami sudah mendapatkan hasil awal. Ini racun yang biasanya digunakan dalam dosis kecil untuk memperlambat kerja organ hati. Kami akan melakukan pemindahan darurat jika Anda menyetujui.”
Chiara menatap Lauren, lalu menatap Aaren.
“Aku tidak percaya padamu sepenuhnya,” katanya pelan, “tapi aku akan membiarkanmu mengurus pemindahan ini. Demi Lauren.”
Aaren menunduk sedikit, menahan napas. “Terima kasih.”
Namun, dibalik sorot matanya, kemarahan perlahan tumbuh. Seseorang telah berani menyentuh darah dagingnya. Dan siapa pun orang itu, mereka akan menyesali keputusannya.
Suara sirene ambulans nyaris tak terdengar, tergantikan oleh detak jantung Chiara yang menggema dalam dadanya. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan kecil Lauren yang kini berbaring lemah, wajahnya pucat seperti kertas.
Di seberangnya, Aaren duduk diam, menatap lurus ke arah jalanan yang tertutup hujan. Tak ada kata-kata di antara mereka. Hening, tapi penuh desakan yang tak terucap.
Chiara mencuri pandang ke arah pria itu. Wajah tegasnya tampak menegang, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal di atas lutut. Aaren tidak sedang tenang. Dia marah dan Chiara tahu, kemarahan itu bukan hanya karena kondisi Lauren, tapi juga karena kenyataan bahwa ia telah kehilangan dua tahun kehidupan anaknya tanpa sepengetahuannya.
“Aku tak butuh pengawasanmu, Aaren." Suara Chiara akhirnya pecah, pelan tapi tajam. “Aku hanya ingin Lauren sehat, bukan dikendalikan.”
Aaren mengalihkan pandangannya perlahan. Tatapan mereka bertaut, kali ini tanpa kemarahan, tapi juga tanpa kelembutan.
“Aku tidak akan mundur lagi, Chiara. Aku kehilangan cukup banyak waktu. Sekarang, kau harus terbiasa melihatku di hidup kalian.”
Chiara mengatupkan rahangnya, menahan emosi yang membuncah.
Lauren menggeliat pelan, membuat mereka berdua sontak menoleh. Mata mungil itu masih terpejam, tapi gerakan kecil itu cukup memberi harapan.
Dan di antara ketegangan yang belum usai, satu hal menjadi jelas dan pertarungan mereka baru saja dimulai.