Suasana rumah sakit pagi itu terasa dingin dan sunyi. Chiara duduk di ruang tunggu dengan mata sembab dan napas berat. Sudah dua belas jam lebih Lauren kembali tak sadarkan diri. Setiap detik seperti jarum yang menusuk jantungnya. Aaren berdiri beberapa langkah darinya, memandangi Chiara dengan sorot mata yang tak bisa dijelaskan—campuran antara kekhawatiran, kemarahan dan penyesalan.
“Aku sudah bilang, Lauren harus dirawat di rumah sakit milik keluarga Baron. Di sana peralatannya lebih lengkap dan dokter anak terbaik ada di sana,” ucap Aaren dengan nada tenang namun tegas.
Chiara mengangkat wajahnya dengan tatapan tajam. “Aku tak peduli seberapa bagus rumah sakitmu, Aaren. Aku hanya ingin Lauren dirawat di tempat yang membuatnya nyaman. Dia tidak butuh semua kemewahan itu, dia butuh ketenangan. Aku tidak ingin orang-orang memandangnya seperti objek.”
Aaren mendekat dan mencoba menahan emosinya. “Ini bukan soal kenyamanan, Chiara. Ini soal nyawanya. Lauren keracunan. Kita tak tahu siapa pelakunya. Di rumah sakitku, setidaknya ada pengamanan penuh. Kau tidak mengerti dunia yang kau hadapi.”
Chiara bangkit berdiri, matanya menatap Aaren tajam. “Justru karena aku mengerti, aku tak ingin Lauren berada di dalamnya. Aku tahu siapa dirimu, siapa keluargamu. Aku tahu tekanan seperti apa yang bisa menghancurkan kami dan aku tak akan biarkan Lauren tumbuh di bawah bayangan kekuasaanmu!”
Pertengkaran mereka terhenti seketika saat seorang perawat keluar dari ruang ICU. “Ibu Chiara? Ayah Lauren? Putri Anda sudah sadar, tapi masih sangat lemah. Anda bisa menemuinya bergantian.”
Chiara menghela napas lega, sementara Aaren terlihat mengendurkan rahangnya yang menegang. Keduanya saling menatap tanpa kata, lalu Chiara melangkah lebih dulu masuk ke ruang perawatan. Ia menggenggam tangan kecil Lauren yang dingin, membisikkan doa dan syukur berulang kali.
Beberapa menit kemudian, Aaren masuk pelan. Ia berdiri di sisi berlawanan, memandangi putrinya yang tertidur dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Hatinya mencelos. Tak pernah ia menyangka, cinta yang tumbuh dari satu malam kebodohan bisa berubah menjadi rasa memiliki sedalam ini.
“Aku tahu aku salah,” suara Aaren pelan, nyaris berbisik. “Aku tidak ada saat kamu membesarkannya sendirian. Aku bahkan tidak tahu saat kamu mengandungnya, melahirkannya dan saat berjuang sendirian untuknya. Tapi sekarang aku di sini. Dan aku ingin menebus semuanya.”
Chiara menoleh padanya, mata cokelatnya penuh luka yang belum sembuh. “Kau tak bisa menebus sesuatu yang telah kau tinggalkan, Aaren. Kau bukan ayahnya selama dua tahun ini. Jangan datang hanya karena rasa bersalah.”
“Ini bukan hanya rasa bersalah,” Aaren memotong. “Aku mencintainya. Aku, mungkin mulai mencintaimu juga, Chiara. Aku ingin memperbaiki segalanya.”
Chiara menunduk dan meremas lembut jemari Lauren. “Cinta bukan sesuatu yang bisa dibangun dari kesalahan, Aaren. Aku butuh waktu, dan Lauren butuh kestabilan.”
Sebelum Aaren sempat menjawab, suara gaduh terdengar dari luar ruangan. Seorang wanita berpenampilan mewah menerobos masuk, wajahnya merah padam karena amarah.
“Aaren, masih belum sadarkan dirimu?” bentak Luna Damian. “Kau malah mengurusi anak haram ini daripada mengurusi kelanjutan pertunangan kita?”
Chiara berdiri refleks. “Jaga ucapanmu!”
Tanpa aba-aba tangan Luna kembali melayang menampar pipi Chiara dengan keras. Suara tamparan itu bergema di ruangan yang sempit. Chiara terhuyung mundur sementara Lauren mulai menangis lirih di ranjang.
Aaren bergerak cepat. Ia menarik tubuh Chiara ke pelukannya dan menatap Luna dengan kemarahan membara. “Cukup, Luna. Sudah kukatakan pertunangan kita sudah selesai. Aku tidak pernah mencintaimu. Dan kau tak punya hak menyakiti Chiara, apalagi menghinanya di depan putriku!”
Luna terbelalak, air matanya menetes karena amarah dan harga diri yang terluka dan dihancurkan oleh pria yang ia cintai selama ini. “Kau akan menyesal, Aaren! Keluargamu tak akan menerima wanita ini dan anak itu!”
Aaren merapatkan pelukannya pada Chiara. “Aku akan melindungi mereka. Apa pun yang terjadi.”
Luna pergi dengan langkah kasar, meninggalkan jejak kebencian yang tebal di udara. Di balik pelukan Aaren, Chiara menggigil—bukan karena takut, tapi karena luka lama yang kembali diungkit. Ia tidak tahu apakah harus mempercayai Aaren atau tetap menjaga jarak.
Namun satu hal yang pasti, badai baru saja dimulai.
Chiara terduduk di sisi ranjang dengan satu tangannya meraba pipi mnya yang memerah akibat tamparan Luna. Meski tubuhnya masih gemetar, ia berusaha menenangkan Lauren yang terus menangis. Air matanya menetes perlahan, tak mampu ia bendung lagi.
Aaren berdiri di belakangnya dengan tangan yang mengepal dan rahang yang mengeras. Ia tak pernah merasa semarah ini. Melihat wanita yang selama ini diam-diam ia kagumi disakiti di depan matanya dan itu membuat dadanya terasa sesak.
“Maafkan aku,” bisik Aaren lirih seraya mendekat dan berlutut di hadapan Chiara. “Aku terlalu lambat menyadari segalanya. Aku terlalu pengecut untuk melawan semuanya sejak awal.”
Chiara menggeleng pelan. “Bukan waktunya untuk kata maaf, Aaren. Aku tidak butuh janji. Aku hanya ingin Lauren aman. Jangan biarkan dunia kamu menyentuhnya atau menyakitinya lagi.”
Aaren menatap mata Chiara—dalam, terluka namun tetap kuat. “Aku bersumpah, Chiara. Mulai sekarang, aku akan berdiri di depan kalian. Apa pun yang terjadi.”
Hening mengisi ruang itu. Di antara isak kecil Lauren, keduanya menyadari satu hal: cinta mereka tak lahir dari keindahan tetapi dari luka dan tekad untuk saling menjaga, apa pun taruhannya.