Tumblerku Hilang Malah Dapat Gebetan Baru Bab 1: Senin Paling Berantakan
1/30
Bab 1

Bab 1: Senin Paling Berantakan

Alarm ponsel Rara berbunyi tiga kali sebelum akhirnya ia benar-benar sadar dan itu pun karena ponsel tersebut terjatuh dari ranjang, mengenai lantai dengan bunyi 'thuk' yang menusuk jantung. Rara melompat bangun seperti ayam jago dicolek listrik.

“Haduh! Jam delapan kurang sepuluh?!” teriaknya, rambut berantakan seperti singa yang baru kelar cosplay.

Ia langsung menyambar handuk, mandi kilat tiga puluh detik, yang lebih mirip membasahi sedikit ujung rambut lalu menganggap itu cukup dan memakai kemeja biru pastel yang sudah agak kusut di bagian lengan. Celana kainnya sempat nyangkut di kaki, membuat Rara terpeleset ke pintu kamar.

Awal hari yang sangat elegan. Tidak.

Di luar, ojek online sudah menunggu sambil melihat ponselnya.

“Mas! Maaf ya, lama, saya buru-buru!” seru Rara sambil menuruni tangga kos-kosan dengan langkah yang tidak mulus.

Begitu naik ke motor, Rara belum sempat memastikan posisi duduknya ketika sang pengemudi langsung menjalankan motor.

“Mas, Mas pelan! Saya belum siap!” katanya sambil memeluk tas.

“Aduh, Mbak. Udah mepet jam masuk ya?”

“Iyaaa!” Rara menjerit setengah sambil berpegangan pada jaket pengemudi agar tidak jatuh ketika motor memotong tikungan.

Langit mendung, jalanan padat dan rambut Rara berkibar seperti rumput dipukul badai. Sesekali ia merasa pantatnya hampir terangkat dari jok motor karena jalanan berlubang.

“Saya nggak mau viral jadi penumpang ojol yang jatuh di TikTok,” gumam Rara tragis.

Begitu motor berhenti di depan gedung kantornya, Rara turun dengan langkah oleng.

“Mbak, hati-hati ya!”

“Makasih, doain saya, nggak kena marah bos,” katanya dengan napas tersengal.

Ia berlari masuk ke lobi gedung. Rambutnya acak-acakan, maskernya miring dan tas kerjanya terbuka setengah. Seseorang dari tim marketing yang lewat menyapanya.

“Pagi, Ra!”

“Pagi! Eh, bukan kamu deh, oh iya, kamu.” Rara membalas sambil fokus menemukan kartu aksesnya.

Ia melihat ke dalam tas. Isinya terbalik semua akibat guncangan motor. Pulpen, lip tint, charger dan snack jatuh berhamburan.

“Calm down, calm down, calm down baby!” Rara mumbling seperti mantra.

Ia mengobrak-abrik isi tas dengan panik, tapi kartu akses tak juga ditemukan.

“Jangan bilang ketinggalan di kos,” katanya dengan matanya membesar.

Sebelum ia sempat mengutuk nasibnya lebih jauh, satpam gedung yang hafal wajah karyawan sudah menghampiri.

“Mbak Rara, lupa bawa lagi ya?” tanyanya, senyum simpati yang sudah terlalu sering ia berikan setiap Senin.

Rara menunduk malu. “Hehe… kayaknya begitu, Pak.”

“Sudah, saya bukain aja, ya.”

“Terima kasih Pak, You're my savior.”

Satpam itu tertawa kecil sambil men-tap kartu master miliknya dan membuka gate untuk Rara. Begitu masuk, Rara langsung menuju lift yang hampir menutup.

“Tungguuu!” serunya sambil mengangkat tangan.

Pintu berhenti, Rara melompat masuk, lalu baru sadar itu adalah lift privat untuk direktur karena interiornya berbeda dan penuh dengan papan informasi executive use only.

“Eh, salah, salah-salah!”

Seorang pria berjas yang ada di dalam lift mengangkat alis. “Anda karyawan baru?”

“Bukan! Saya cuma, tersesat hidup eh, lantai yang salah! Saya keluar sekarang ya!” Rara mundur panik, hampir jatuh tersandung hak sepatunya sendiri.

Ia berhasil keluar tepat sebelum pintu lift menutup kembali, lalu berlari ke lift yang benar. Sesampainya di lantai 10, ruangannya, ia kembali berlari seperti pelari maraton yang dikejar hutang.

“Pagi Rara!” sapa beberapa temannya.

“Pagi, jangan ajak ngobrol dulu, saya butuh oksigen!”

Begitu sampai di meja kerjanya, ia menjatuhkan diri ke kursi. Napasnya ingin kabur dari tubuh.

Setelah menenangkan diri sebentar, ia membuka tas untuk mengeluarkan perlengkapan kerja. Laptop, buku catatan, pulpen. 

Lalu ia berhenti. Menatap tasnya. Mengaduk lagi. Mengaduk lebih dalam. Mengeluarkan barang-barang satu per satu, bahkan sampai snack sisa minggu lalu.

“Mana,” suaranya melemah. “Mana tumbler aku?”

Ia berdiri terpaku. Jantungnya langsung deg-deg-deg seperti drum konser rock.

“Tidak. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak hari ini. Tidak ke tumbler itu,” gumamnya.

Teman satu tim yang duduk di sebelah, Siska, menoleh. “Lo kenapa Ra? Mau pinjem charger?”

Rara menggeleng cepat. “Tumbler gue hilang!”

“Yang warna mint itu?”

Rara mengangguk seperti ayam dipatuk angin.

“Yang ada stiker tulisan ‘hydrate or diedrate’ itu?”

“Iya! Itu!”

Siska mengerutkan dahi. “Yang katanya hadiah dari sahabat lo yang pindah ke Jepang itu?”

Rara menepuk meja. “Iya itu! Tumbler keramat itu!”

Siska memejamkan mata. “Astaga. Ini bakal panjang, ayo, tarik napas dulu!” Namun, Rara sudah panik level 100%.

Ia memeriksa laci, bawah meja, kantung jaket, bahkan kardus bekas printer di sudut ruangan. Tentu saja tidak ada.

“Kenapa, Tuhan? Dari semua hal yang boleh hilang di dunia ini, kenapa harus itu? Kenapa bukan charger aku yang suka nyetrum? Atau kaos kaki yang udah bolong? Atau rasa sabtu malamku?”

“Ra, sabtu malam lo emang udah nggak ada rasanya,” celetuk Fajar dari seberang.

“Fajar gua ga butuh analisa sosial Lo sekarang!”

Satu ruangan ketawa, tapi mereka tahu Rara memang benar-benar panik.

Ia duduk lagi, wajahnya memucat. “Gue terakhir lihat itu hari Jumat sore. Gue bawa ke pantry, terus gue isi air panas, habis itu, habis itu…”

“Habis itu lo sibuk nyanyi dangdut di pantry sama Dede dari HR,” sahut Fajar.

“Gue lagi stress! Itu terapi!” Rara membela diri, “tapi tumblermu?” Siska mengingatkan.

Rara menutup wajah dengan kedua tangan. “Habis itu gue lupa. Lupa, Siiiss!”

Ia bangkit berdiri tiba-tiba. “Gue harus ke pantry sekarang!”

Siska memegang lengannya. “Sarapan dulu? Ngopi dulu?”

“Bukan waktunya kopi! Ini waktu aksi!”

Rara berjalan cepat seperti agen rahasia yang sedang menuju markas musuh. Begitu sampai pantry, ia memindai seluruh sudut ruangan.

Tidak ada.

Tidak. Ada.

Sebuah rasa nyeri di dada muncul seperti kehilangan jati diri.

Rara memegang kepala. “Hilang, beneran hilang ya ampun!”

Tiba-tiba, dari sudut mata, ia melihat seseorang masuk pantry untuk mengambil air panas. Sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tinggi, rapi, wajahnya tenang, rambut hitamnya tersisir rapi. Kemeja putihnya bersih tanpa noda, celananya licin tanpa kusut.

Seperti NPC premium dalam game kantor.

Rara tidak mengenalnya. Mungkin karyawan baru, tapi itu bukan inti masalahnya. Yang membuat Rara membeku adalah pria itu memegang tumbler warna mint. Dengan stiker ‘hydrate or diedrate’. Dengan lecet kecil di bagian pinggir tutupnya.

Mata Rara membesar sampai mirip lampu LED.

“Itu…” bibirnya bergetar. “Itu tumbler punyaku.” Suasana pantry tiba-tiba berubah menjadi slow motion. Pria itu mengisi air panas ke dalam tumbler yang terlihat sangat, sangat familiar.

Rara menelan ludah. Napasnya memburu. Kakinya gemetar.

Ia mendekat perlahan, seperti hewan liar yang sedang mengamati mangsa.

Pria itu menoleh sebentar, melihat Rara yang berdiri lima langkah di depannya, terlalu dekat untuk dianggap normal.

“Pagi?!” ujarnya pelan, suaranya jernih, tapi canggung.

Rara hanya menatap tanpa berkedip. Lalu menatap tumbler. Lalu menatap pria itu lagi.

Bibirnya bergerak, hampir mengeluarkan kalimat pertama dalam riwayat hidupnya yang paling dramatis.

“Tumb," tetapi suara Rara tercekat. Ia tidak bisa yakin seratus persen atau dia bisa?

Jantung Rara berdetak semakin keras.

Hari Senin ini baru saja resmi menjadi lebih berantakan dan Rara tahu, ini baru permulaan.