Tumblerku Hilang Malah Dapat Gebetan Baru Bab 2 : Tumbler Sentimental
2/30
Bab 2

Bab 2 : Tumbler Sentimental

Rara berdiri mematung di depan pantry sambil memandangi pria asing yang tadi dilihatnya membawa tumbler mint super mirip tumbler miliknya. Setelah pria itu keluar, Rara perlahan, sangat perlahan, menyandar pada dinding pantry. Tangannya menekan dada, mencoba menstabilkan denyut jantung yang seperti mengetuk-ngetuk pintu tulang rusuknya.

“Rara… napas dulu… napas,” gumamnya pada diri sendiri. “Belum tentu itu tumblermu. Banyak tumbler warna mint di dunia ini. Banyak. Ratusan. Ribuan. Bahkan mungkin ada pasar gelapnya.”

Ia menutup mata. Menarik napas. Membuang napas. Lalu membuka mata lagi dan panik lagi.

“Oke, stop. Fokus. Ingat terakhir kali kamu pegang tumbler itu.”

Rara memeluk dirinya sendiri, mencoba memanggil ingatan yang tersisa. Ia berjalan menuju meja pantry, lalu ke rak pojok, lalu ke dispenser, seperti memeriksa lokasi TKP sebuah kasus kejahatan kelas berat.

“Jumat sore,” gumamnya, jari telunjuk menempel di bibir. “Aku ambil air panas di sini. Lalu Dede manggil aku buat duet lagu dangdut. Habis itu aku taruh tumb.”

Rara berhenti. Matanya berkedip cepat.

“Taruh di mana?” Ia mengingat kembali lebih dalam, memejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke lemari pendingin pantry yang sedikit berembun.

Cahaya neon pantry memudar sedikit di matanya, berganti dengan gambaran masa lalu yang muncul perlahan. Hatinya menegang. Udara seolah berubah suhu.

Flashback, beberapa tahun lalu. 

Sudah sore waktu itu, matahari hampir turun, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta. Di halaman belakang rumah Rara, dua remaja SMA duduk di lantai beralas tikar. Rara dengan rambut dikuncir asal dan Nara, sahabat baiknya sejak kelas sepuluh dengan wajah ceria meski matanya sembab.

Di depan mereka berdua, sebuah koper biru besar sudah tertutup rapi.

“Kamu beneran mau pergi besok?” tanya Rara, suaranya serak menahan perasaan.

Nara mengangguk. “Iya. Tiket pesawatnya jam sembilan pagi.”

“Terus aku sendirian dong sekolah?”

“Kamu nggak sendirianlah, Ra. Kamu kan anaknya rame.”

“Ya rame karena ada kamu!” Rara memukul pelan lengan Nara.

Nara hanya tertawa kecil, tapi sudut bibirnya bergetar. “Kalau aku nggak pergi, aku nggak bisa lanjut kuliah, Ra. Beasiswa ini kesempatan besar.”

“Aku tahu, tapi tetap aja. Aku egois sih, tapi aku sedih.”

“Kita tetap komunikasi. Kamu bakal capek sendiri nanti kalo aku tiap hari video call.”

“Aku nggak apa-apa capek. Yang penting kamu tetap ada,” jawab Rara lirih.

Nara menunduk, memainkan tutup tumbler yang ia bawa. Tumbler warna mint baru, mengilap dengan stiker tulisan lucu yang mereka pilih bersama saat jalan-jalan ke mall minggu sebelumnya.

“Tahu nggak,” kata Nara, “selama SMA kita, cuma kamu temen yang nggak pernah ninggalin aku.”

“Kok ngomongnya kayak pidato mau nikah sih,” Rara nyengir, berusaha bercanda.

Nara tertawa sambil memukul bahu Rara. “Aku serius. Kamu itu, rumah buat aku.”

Rara terdiam. Matanya mendadak panas. Lalu Nara menyerahkan tumbler mint itu padanya.

“Ini buat kamu.”

“Hah? Kok jadi aku yang dikasih?”

“Supaya kita tetap terhubung. Kamu minum dari sini tiap hari, terus kamu ingat, bahwa kita tetap bareng, meski jauh.”

Rara menerima tumbler itu dengan perlahan, seolah menerima sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar wadah minum.

“Nara.”

“Dan kalau kamu kehilangan tumbler itu,” Nara menggoda, “aku bakal marah dari Jepang.”

Rara menghela napas panjang. “Aku nggak akan hilangin. Demi apa pun.”

Nara memeluknya erat. “Aku percaya.”

Flashback meredup, kembali ke masa kini. Rara membuka mata. Pandangan pantry kembali jelas.

Rara menutup wajah dengan kedua tangan. “Yaaaa Tuhan, aku keinget hal kayak gitu, makin stres aku!”

Ia terduduk di kursi pantry, memegang kepalanya. Dalam sekejap, semua alasan kenapa tumbler itu begitu penting menyerbu dadanya.

Tumbler itu bukan cuma botol minum. Itu pengingat sahabatnya. Penghubung masa-masa mereka yang penuh tawa, curhat, masa labil remaja yang lucu dan memalukan. Setiap kali Rara minum dari tumbler itu, ia merasa masih terhubung dengan Nara, meski mereka sekarang terpisah ribuan kilometer.

Rara berdecak. “Bisa-bisanya gue kehilangan benda segitu pentingnya. Rara, kamu memang calon legenda kebodohan.”

Ia bangkit lagi, lalu membuka semua rak pantry satu per satu. Kosong. Ia bahkan menunduk memeriksa bagian bawah meja pantry, sampai hampir kepalanya terbentur dispenser.

“Oke. Tenang." Nada suaranya tidak terdengar tenang sama sekali. “Kemungkinan besar tumbler itu masih di kantor. Kecuali ada maling khusus tumbler? Nggak mungkin!”

Rara menghela napas panjang lagi. Lalu ia keluar dari pantry dan kembali ke meja kerjanya.

Siska melihat Rara datang sambil memegang punggung.

“Lo kenapa?” tanya Siska.

“Lutut gue kebentur meja dispenser.”

“Oke. Pencarian gagal?”

Rara mengangguk lesu. “Kosong. Seperti hidupku di hari gajian.”

“Lah lo baru gajian minggu lalu.”

“Itulah inti tragedinya.”

Fajar ikut menyampuk sambil nyeruput kopi. “Lo tau nggak, Ra. Kehilangan tuh, bagian dari perjalanan hidup.”

“Lo ngomong gitu karena lo kehilangan mantan lo, Jar.”

“Beda dong! Mantan gue emang harus hilang. Tapi tumbler lo kan.”

“Fajar diam.”

Fajar terkekeh.

Rara menatap kembali tasnya, berharap keajaiban terjadi, tumbler itu tiba-tiba muncul dari dimensi lain. Tentu saja tidak. Yang muncul hanya snack jahe yang sudah expired dua bulan.

Ia menatap mulut dispenser, lalu layar monitor, lalu jendela. Semua benda tampak menertawakannya.

Dalam hati, Rara merasakan dorongan emosi yang lebih dalam dari sekadar kehilangan barang. Ada rasa bersalah. Rasa kecewa pada diri sendiri.

Sejak Nara pindah ke Jepang, mereka tetap berteman, tetap ngobrol seminggu sekali, tapi jadwal Nara makin sibuk dan Rara tidak mau mengganggu. Tumbler itu seperti benda kecil yang membuat Rara merasa Nara masih dekat.

“Kalau tumbler itu hilang,” Rara berbisik pada dirinya sendiri, “kayak aku kehilangan Nara juga.”

Ia menggigit bibir bawahnya.

Perasaan itu membuat matanya kembali panas. Tetapi tentu saja Rara tidak bisa menangis di kantor, walau sebenarnya ia tipe yang bisa menangis hanya karena kucing lucu di TikTok.

Ia bangkit berdiri. “Gue harus nemuin itu,” ucapnya dengan suara mantap.

Siska menatapnya dengan campuran rasa iba dan khawatir. “Ra, serius lo? Itu cuma tumbler, tau.”

“Buat lo cuma tumbler. Buat gue itu kenangan.”

Siska diam sejenak, lalu mengangguk. “Okey, tapi lo jangan ambruk di tengah jalan, ya. Gue males gendong lo.”

“Ah elah, berat badan gue cuma lima kilo kok.”

“Lima kilo dari planet mana?!”

Rara menggeleng cepat. “Udah, gue mulai investigasi lagi.”

Ia berjalan menuju ruang fotokopi, lalu kantin, lalu toilet wanita. Ya, siapa tahu ketinggalan saat isi ulang air sebelum pulang. Tidak ada.

Setiap kali Rara menemukan tumbler warna mint lain di area kantor, degup jantungnya naik menjadi tiga ratus persen, lalu turun lagi saat melihat modelnya berbeda.

Hingga pikirannya kembali pada pria asing di pantry tadi.

“Tumblernya, bener-bener mirip. Mirip banget,” gumam Rara sambil menggigit kuku.

Tentu ia tidak bisa asal nuduh, tapi lecet kecil di pinggir tutup itu, itu ciri yang sangat spesifik. Rara yakin betul tumblernya punya bekas lecet mungil itu, hasil ia jatuhkan waktu pulang kantor dua bulan lalu.

Rara meletakkan tangan di pinggang. “Apa aku harus ngintip lagi?”

Siska menghampiri dengan gelas kopi. “Ngintip apaan lagi?”

“Eehhh, desain interior pantry.”

Siska memelotot. “Ra, jangan bilang lo mau ngawasin anak baru itu.”

“Bukan ngawasin! Cuma observasi mendalam untuk keperluan investigasi saintifik.”

“Saintifik dari Hongkong! Ra, lo mau ditangkap HRD?”

“Aku coretan kecil di hati mereka! Mereka nggak akan sadar kehadiranku!” Rara menepuk dada percaya diri.

Siska menutup wajah. “Ya Tuhan, tolong hambamu satu ini!”


Setelah lima belas menit bolak-balik di sekitar pantry dengan gaya seperti agen rahasia murah, Rara kembali ke meja kerjanya dengan napas memburu.

Ia melihat layar monitor kosong. Pekerjaan menumpuk, tapi pikirannya fokus pada satu hal, tumblernya dan Nara.

Kenangan itu kembali memenuhi dadanya. Tertawa bersama. Menangis bersama. Saling menghibur. Bertukar cerita tentang cowok-cowok cupu di sekolah.

Rara tersenyum getir. “Nara, kalau kamu lihat aku sekarang pasti kamu ngakak habis.”

Ia menarik kursi, duduk, dan memegang kepala. Tumblernya harus ditemukan. Apa pun caranya.

Karena kehilangan tumbler itu seperti kehilangan bagian kecil dari dirinya dan Rara tidak siap mengalaminya.