Pagi yang biasanya penuh suara printer dan ketikan keyboard kini berubah jadi seperti lokasi syuting sinetron kriminal dengan Rara sebagai pemeran utamanya. Bukan pemeran figuran, bukan cameo lewat doang, tapi tokoh utama dengan energi berlebihan dan ekspresi dramatis level acara investigasi malam minggu.
Rara berdiri di tengah pantry dengan tangan menyilang di dada, wajah tegang dan alis mengerut seolah tengah menghitung tingkat kejahatan di ruangan berukuran lima meter persegi itu.
“Semua tolong tenang,” katanya membuka sidang ala detektif amatir. Semua orang berhenti mengaduk kopi dan menggigit roti tawar. Bahkan dispenser yang biasanya mengeluarkan suara tik tik tik saat proses pemanasan, mendadak terasa ikut diam.
Sari, rekan kerjanya yang paling hobi ikut drama, langsung menutup mulut dengan tangan. “Astaga, Ra, kamu mau ngumumin apa? Ada yang resign? Ada yang ketahuan selingkuh? Atau?”
“Aku kehilangan sesuatu,” ujar Rara berat, padahal sebelumnya dia sudah mengumumkan itu ke seluruh dunia kantor.
“Kehilangan apa lagi?” tanya salah satu anak magang, melongok dari balik kulkas.
“Tumbler.” Suaranya bergetar dramatis.
Semua orang saling pandang.
“Oh, masih si tumbler itu!” “Ya ampun!” “Tumbler? Masih?" “Kirain apa. Masih belum usai juga perihal si tumbler!"
Sari menyengir. “Ra, mukamu kamu itu kayak baru lihat tagihan kartu kredit.”
“Ini serius, Sar! Itu tumbler sisa warisan dari sahabatku sebelum dia pindah ke luar kota. Sentimental value, tau nggak?” Rara menekankan kalimat terakhir dengan suara yang cukup dramatis untuk membuat dua orang karyawan serius mengangguk, padahal mereka sebenarnya cuma bingung harus merespons bagaimana.
Rara kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, selembar kertas fotokopian yang gambarnya hampir tidak jelas.
Sari melongo. “Ra, itu apa?”
“Ini poster tumbler hilang.” Dengan bangga ia menempelkannya di lemari kulkas.
Gambar tumbler berwarna pudar itu terlihat seperti alien imut dengan tutup botol di kepala, bukan alat minum, tapi Rara tetap menatapnya dengan bangga seperti polisi menampilkan barang bukti.
“Aku akan mulai menginterogasi,” katanya sambil memandang karyawan pantry satu per satu. “Kalian semua adalah saksi potensial.”
Orang-orang mulai saling berbisik. Beberapa menahan tawa.
Interogasi ala Rara pun dimulai.
Dengan seorang terduga pertama. Anton, karyawan bagian keuangan, yang pagi ini hanya ingin membuat kopi sachet tanpa drama.
“Mas Anton,” Rara memulai dengan gaya bak penyidik senior, “jam berapa Anda ke pantry tadi?”
Anton menggaruk kepala. “Uh, sekitar jam delapan?”
“Lalu apakah Anda melihat objek berbentuk silinder dengan tinggi sekitar dua puluh tiga sentimeter, warna pastel dengan stiker bunga lengket di bagian samping?”
Anton berkedip beberapa kali. “Kayak minuman botol boba?”
Rara memegang kening. “Mas, itu tumbler saya.”
“Ohhh… yang itu. Nggak lihat, Ra.”
“Yakin?” Nada suaranya membuat dua anak magang spontan menegakkan badan.
“Yakin banget. Aku lihat teh celup, kopi dan semangat hidupku yang mulai menurun tiap awal bulan.”
Interogasi selesai.
Terduga kedua. Tia, anak magang lainnya yang baru dua minggu masuk.
“Tia,” Rara memulai sambil mencondongkan badan, “kamu yang paling sering ke pantry buat isi air panas. Kamu lihat nggak tumblerku?”
Tia pucat seperti habis ditagih utang. “Su-sumpah nggak lihat, Kak.”
“Kamu yakin?” “Kak, saya takut!”
“Tenang, saya bukan bos HR.”
Tia langsung menghela napas lega. “Oh, syukurlah.”
“Tapi saya bisa tanya HR kalau saya mau.”
“Saya nggak lihat tumblernya, Kak.”
“Baik, kamu lolos.”
Terduga ketiga. Pak Deni, staf paling senior yang selalu diam dan anti drama.
Rara menatapnya dengan curiga. “Pak Deni, tadi pagi Bapak ke pantry?”
“Ya. Biasa. Buat air hangat.”
“Bapak lihat tumbler saya?”
“Nggak.”
“Bapak yakin?”
Pak Deni menghela napas sabar. “Rara, kalau saya ambil tumbler kamu, buat apa? Bapak nggak ngopi dari tumbler. Bapak pakai gelas kaca.”
Rara mengangguk, menyadari dia memang tidak punya bukti apa pun kecuali keputusasaan.
Setelah setengah jam interogasi, hasilnya nihil. Tidak ada yang melihat tumbler itu. Tidak ada yang menyentuhnya. Bahkan ada rumor kecil yang beredar bahwa tumbler itu mungkin lari sendiri karena capek dipakai Rara tiap hari.
Rara menyeret interogasi ke luar ruang pantry.
Ia tidak menyerah, Rara bergerak ke area berbeda, ruang resepsionis.
Resepsionis cantik bernama Bella menatap Rara yang datang sambil membawa papan kecil bertuliskan Case No. 042. Tumbler Hilang, seperti polisi tiba-tiba magang di kantor.
“Bel, kamu lihat tumblerku?” Rara bertanya langsung tanpa salam.
Bella mengerjap. “Tumbler yang warna pastel itu?”
Rara hampir memeluknya. “Iya! Kamu lihat?”
Bella geleng. “Aku cuma lihat kamu panik setengah mati tadi.”
“Oh!” Wajah Rara langsung merosot.
“Kamu yakin nggak salah taruh di lift?” tanya Bella.
“Kalau aku salah taruh di lift, pasti aku nemu sendiri.” Bella terkekeh mendengar jawaban Rara.
Interogasi level berikutnya. Satpam. Satpam kantor, Pak Togar, yang biasanya menjaga dengan tenang, kali ini jadi sasaran interogasi dengan gaya dramatis Rara.
Pak Togar yang sedang duduk sambil membaca catatan tamu langsung berdiri karena melihat Rara mendekat dengan langkah seperti mau mendobrak pintu rumah maling.
“Pak Togar!” “Ya, Bu Rara?” “Saya mau tanya sesuatu. Penting. Sangat penting. Nyawa, eh, kenangan saya dipertaruhkan.”
Pak Togar langsung fokus. “Ada pencurian?”
“Ya.” “Apa yang dicuri?” “Tumbler saya.”
“Tumbler?”
“Iya, Pak. Tumbler spesial. Punya nilai emosional. Bukan sekadar wadah minum!”
Pak Togar mengangguk serius, tapi terlihat jelas ia berusaha menahan tawa. “Baik, saya bantu. Tadi pagi tidak ada orang keluar bawa tumbler mencurigakan.”
“Bapak yakin?”
“Yakin. CCTV juga tidak ada yang terlihat membawa barang seperti itu.”
“Astagaaa, berarti tumblerku hilang di dalam kantor sendiri?”
“Sepertinya begitu.”
Rara menatap langit-langit seolah berharap jawaban jatuh dari ventilasi.
Orang-orang semakin tahu kabar hilangnya tumbler sentimental itu. Beberapa rekan kerja ikut menenangkan Rara, meski sebagian besar sebenarnya ikut tertawa di belakang.
“Kak Rara, coba cek ruang meeting,” kata Vina.
“Sudah! Bahkan aku buka-buka laci meja meeting yang isinya cuma spidol mati!”
“Coba area gudang alat tulis.”
“Sudah! Yang kutemukan cuma stepler rusak sama bolpoin nyaris habis!”
“Coba tanya OB?”
“Sudah! Mereka malah nanya balik apakah tumblerku punya kaki.”
Sebagian besar pegawai sudah mengikuti drama ini kayak nonton telenovela. Beberapa bahkan melakukan taruhan kecil, apakah tumbler itu akan ditemukan hari ini atau tidak.
Pencarian meningkat ke level absurd. Di mana Rara masuk ke ruang print.
Ia membuka laci. Ia mengangkat kotak kertas A4. Ia memeriksa belakang printer. Ia bahkan sempat berjongkok dan mengintip bawah meja.
“Ra, kamu nyari apa?” tanya Bayu, rekan di bagian marketing.
“Tumblerku mungkin tersesat di antara kertas-kertas ini.”
“Ra, itu printer, bukan hutan rimba.”
“Printer kadang lebih misterius daripada hutan rimba, Bay!”
Bayu cuma bisa mengusap wajah sambil berdoa dalam hati agar Rara segera menemukan tumbler itu atau minimal menemukan kewarasannya kembali.
Pos ronda kecil di pantry.
Siang hari, Rara kembali ke pantry. Kali ini dengan meja kecil yang ia jadikan pusat komando mini.
Sari ikut duduk sambil membawa camilan. “Ra, kamu bikin posko pencarian tumbler?”
“Ini markas besar,” jawab Rara sambil menulis sesuatu di sticky note. “Aku mencatat siapa saja yang sudah kuinterogasi. Aku nggak boleh melewatkan satu pun.”
“Ra, kamu tahu ini terlihat sangat, euh, apa ya.”
“Profesional?” “Absurd.”
Rara menghela napas panjang. “Aku nggak mau tumblerku hilang sia-sia.”
Sari tersenyum simpati. “Aku ngerti, tapi kamu udah nanya ke semua orang?”
“Belum.”
“Siapa lagi?”
Rara berdiri.
“Dirut.”
Sari langsung memegangi lengan Rara. “Tolong, jangan.”
“Aku bakal sopan!”
“Tolong, Rara. Jangan bikin aku kehilangan pekerjaan.”
“Aku cuma mau tanya aja, siapa tahu beliau lihat tumbler warna pastel mint itu lewat depan ruangannya.”
Sari memelototkan mata. “Dia sibuk meeting dari tadi! Kamu mau interogasi bos besar gara-gara tumbler?”
Rara terdiam. Ia memikirkan kemungkinan dipecat dalam 3 detik. Akhirnya ia duduk kembali.
“Oke, aku batalkan.”
Sore menjelang.
Jam kantor berjalan seperti biasa, tapi untuk Rara, waktu terasa lambat. Ia sudah memeriksa semua tempat rasional dan beberapa tempat yang sama sekali tidak rasional.
Pantry, toilet, lift, ruang meeting, ruang fotokopi, rudang ATK, ruang cleaning service. Bahkan balkon kantor tempat orang-orang curi-curi foto pemandangan.
Nihil.
Tumbler itu tidak ada.
Rara menyerah, hampir.
Menjelang sore, Rara duduk lemas di kursinya. Sari menghampiri dan menepuk bahunya.
“Ra, kalau memang nggak ada, mungkin memang belum rezekimu hari ini.”
Rara menatap layar komputer kosong. “Aku cuma berharap dia muncul aja. Entah tumblerku sendiri atau yang mirip, pokoknya muncul.”
Sari mengangguk pelan. “Pasti nanti ketemu. Kamu tuh, magnet barang hilang, Ra. Suatu saat muncul sendiri.”
Rara menghela napas panjang, menatap meja kerjanya yang kosong dari tumbler kesayangan.
Pencarian hari ini sudah seperti film detektif absurd yang tidak menghasilkan tersangka, tidak ada bukti, tidak ada CCTV mencurigakan, hanya Rara yang semakin puyeng.
“Tumblerku pasti ada di suatu tempat,” gumam Rara.
Di suatu tempat yang tidak ia duga atau sedang dipegang seseorang yang belum sempat ia interogasi. Yang jelas, hari ini tumbler itu tidak ditemukan dan Rara bersiap melanjutkan pencarian keesokan harinya.