"Yang di bandara tadi Ara, kan?"
Noah melirik sang adik, "Ya. Itu memang Ara."
"Harusnya tadi tawari dia untuk pulang bersama kita," cetus Nathan.
"Mana laporan perjalananmu, Nathan?" alih-alih menimpali topik yang sedang dibahas adik kembarnya, Noah malah lebih memilih membahas pekerjaan.
Nathan mendengus, "Aku bahkan belum satu jam menginjakkan kaki di tanah Jakarta dan kamu sudah memintaku memberimu laporan bisnis."
Sang kakak memutar bola mata dan memilih untuk tak menanggapi lebih jauh. Matanya fokus pada jalanan karena dia memilih untuk tak menggunakan supir saat menjemput sang adik di bandara tadi.
"Tapi Om Zayn dan Tante Mika kok tidak bersamanya? Dan tumben sekali Ara menggunakan pesawat komersial?" Nathan kembali membuka topik.
"Telepon saja Om Zayn kalau kamu penasaran. Aku sama butanya sepertimu," cetus Noah.
Mendengarnya membuat Nathan memberengut, "Aku jadi mencurigai Papa."
Kali ini sang kakak terkekeh, "Sudah jelas ini ulah Papa."
"Pak tua itu selalu tak mau mengalah," gerutu Nathan.
Noah tak menjawab sampai akhirnya mobilnya memasuki area mansion milik orangtua mereka. Dirinya memarkirkan mobil sebelum turun dari kendaraan itu dan melangkah menghampiri sang ibu yang juga mendekatinya dengan tangan terentang.
"Harusnya kamu datang kemari sejak kemarin, dasar anak nakal." Nada menepuk sedikit keras punggung putranya itu yang langsung memeluknya saat jarak mereka sudah dekat.
"Kalau aku menemui Mama lebih dulu, nanti berandalan kecil dibelakangku ini akan protes dan mengatakan aku curang," ujar Noah.
Nada tertawa kecil sebelum mengurai pelukannya dan menyambut Nathan yang langsung menampilkan ekspresi merengek sembari berkata manja.
"Mama, Kakak tak membiarkanku istirahat dulu dan langsung meminta laporan bisnis." Adunya seraya memeluk sang ibu.
"Benarkah?" Nada langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Noah yang meringis.
"Aku hanya bercanda, Ma," tukasnya.
"Hei anak-anak nakal, lepaskan istriku." Nathan dan Noah kompak mendengus saat mendengar suara sang ayah yang menyusul mereka.
Alih-alih menurut, Nathan justru mengeratkan pelukannya di tubuh sang ibu sementara Noah mendekat pada adik kembar dan ibunya lalu merengkuh mereka dalam pelukan. Melihat kedua putra kembarnya justru semakin tak mau melepas istrinya, Sky memberengut kesal.
Berbeda dengan sang suami, Nada justru tertawa dalam pelukan kedua putranya, "Lepaskan Mama, anak-anak."
Si kembar ikut terkekeh sebelum mengurai pelukan mereka dan memberikan kecupan singkat di pipi sang ibu bergantian, lalu melangkah ke arah pintu utama mansion tanpa menyapa ayah mereka dan hanya mengulas senyum jahil pada pria itu.
"Dasar berandal," gerutu Sky.
"Ingat umurmu, Sky." Nada berkata seraya melingkarkan lengannya ke pinggang sang suami.
Sky menunduk menatap sang istri, "Aku masih remaja, Nadaku."
"Remaja setengah abad, sama dengan expired," sahut Nada.
Pria disisinya itu langsung menghentikan langkah, lalu dengan cepat mengangkat tubuh ramping sang istri dalam gendongannya, "Remaja expired ini masih sangat kuat menghukummu, Iove."
Pasangan itu lalu tertawa bersama tanpa mempedulikan bahwa anak kembar mereka sedari tadi memperhatikan interaksi orangtuanya dan kompak menggeleng heran melihat kelakuan ayah dan ibunya.
"Kamu tidak kembali ke kantor, Kak?" Nathan bertanya heran saat mengalihkan pandang dari orangtua mereka dan mendapati Noah justru menuju tangga ke lantai atas.
"Aku bekerja dari sini saja," sahut Noah.
"Tidak pulang ke apartemen?" tanya Nathan lagi yang menyusul langkahnya.
"Ara memakainya," tutur Noah.
"Ha? Dari mana kamu tahu?" Nathan menaikkan sebelah alisnya, sungguh terheran karena sedari tadi dia tak melihat sang kakak memeriksa kondisi apartemen yang memang selama ini izin aksesnya masih tak pernah dirubah untuk Ara.
"Penjaganya memberitahuku lewat pesan kalau Ara datang kesana dengan kopernya," ujar Noah.
"Itu kan hanya salah satu milikmu, kamu masih punya penthouse lain di gedung yang sama yang kamu tempati selama ini. Kenapa tak pulang saja?" cecar Nathan lagi.
Noah tak menjawab, langkah lebarnya berhenti di depan ruang kerjanya di mansion itu sebelum suaranya akhirnya menimpali pertanyaan sang adik.
"Aku lebih suka bertemu dengannya lagi atas nama kebetulan."
Keraton Private Residence - Jakarta,
Ara mengamati bagian dalam properti milik Noah yang sudah delapan tahun tak disinggahinya sekali pun dulu dia cukup sering berada disana saat memerlukan tempat untuk menyendiri. Pria itu sendiri jugalah yang memberinya akses dan izin untuk menggunakannya kapan pun Ara mau tanpa perlu lagi meminta izinnya.
"Tak banyak yang berubah," gumamnya.
Noah tak pernah benar-benar meninggali tempat itu. Properti itu pun hanyalah salah satu dari sekian banyak aset yang masuk dalam investasi jangka panjangnya, hingga Noah tanpa ragu mengizinkan Ara untuk menggunakannya. Bukan berarti wanita muda itu tak memiliki propertinya sendiri, Ara juga memiliki sebuah penthouse, namun baginya tak ada tempat senyaman apartemen ini, mungkin karena dirinya sudah begitu terbiasa berada disana seorang diri.
Tangannya menggeret lagi koper besar yang dibawanya. Sisa barang-barangnya sudah dikirim ke mansion orangtuanya dan sebagian lagi tentu saja dikirim ke penthousenya sendiri. Namun, sampai kedua orangtuanya tiba di Indonesia, Ara ingin menikmati harinya dengan tenang tanpa gangguan dari neneknya terutama dan lokasi ini adalah tempat yang tepat.
Tak ada satu pun dari kakek dan neneknya yang akan mendatangi tempat itu. Selain karena ketatnya keamanan, juga karena mereka tak akan segegabah itu mengusiknya di properti milik pewaris utama keluarga Hadinatha.
Ceklek …
Ara membuka perlahan pintu kamar lamanya dan mendapatinya masih tetap sama seperti terakhir kali dia berada disana bertahun lalu. Noah benar-benar menepati janji untuk tak mengubah apa pun selama Ara masih menjadikan apartemen itu sebagai safe house-nya. Dirinya membongkar koper, menata pakaian di walking-closet, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat selesai, Ara langsung naik ke atas ranjang dan terlelap tak lama setelahnya.
Wanita muda itu baru terbangun sekitar 2 jam kemudian saat ponselnya yang berdering keras, menariknya dari lelap. Ara meraba benda pipih itu dan langsung menggeser tombol hijau saat melihat nama Gisella disana.
"Ara! Kamu sudah sampai Jakarta?" suara keras sahabatnya itu membuat Ara menjauhkan ponsel dari telinga.
"Sudah, Gisel. Tolong kecilkan volume suaramu," pintanya.
Gisella tertawa kecil, "Maaf, terlalu bersemangat."
"Kalau begitu, ayo bertemu malam ini. Kebetulan Jenandra juga baru pulang dari perjalanan dinasnya," lanjutnya.
"Eum, kirimkan saja dimana lokasinya. Aku kesana nanti," sahut Ara.
Wanita muda itu hanya menggumam setelahnya saat Gisella masih terus mengoceh. Ketika akhirnya panggilan itu diakhiri, Ara langsung meletakkan ponsel ke atas nakas dan kembali terlelap tanpa peduli dia hanya punya waktu 3 jam lagi sampai waktu yang dijanjikannya pada kedua sahabatnya itu.
SKYE Rooftop Dining & Bar - Jakarta,
"Ara!"
Senyum lebar terulas di wajah cantik wanita yang namanya baru saja diteriakkan seorang pria muda yang sudah lebih dulu tiba di lokasi itu, menunggunya.
"Jen, apa kabar?" Ara balik menyapa dan langsung memeluk singkat pria muda itu.
"Aku baik-baik saja. Kukira kamu sudah lupa cara kemari," sahut Jenandra.
Ara terkekeh, "Sindir saja terus, Jen."
Jenandra ikut tertawa sembari menggiring wanita muda itu untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. Keduanya langsung terlibat pembicaraan seru sambil menunggu kedatangan Gisella dan Hito yang juga akan menemui mereka disana.
"ARA!"
Gisella memanggilnya begitu keras sampai beberapa orang di dekat mereka ikut menoleh, sementara Hito yang berjalan dibelakang sang tunangan, hanya bisa menggeleng pasrah.
Wanita yang dipanggilnya langsung bangkit dari duduknya dan menyambut pelukan Gisella, "Suaramu masih cempreng."
"Wah, sialan! Sudah lama tak bertemu denganku dan kata pertamamu adalah mengomentari suaraku," Gisella menyahut kesal.
Tawa mereka lalu menggema bersama sebelum Ara akhirnya beralih pada Hito dan memeluk singkat pria itu. Hito tersenyum ramah sembari menanyakan kabarnya yang dijawab Ara sama ramahnya.
"Sekalian saja, ya. Aku mau sebar undangan," cetus Jenandra setelah mereka menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya dengan topik yang lebih banyak berisi nostalgia.
"Undangan apa?" tanya Gisella ingin tahu.
"Pertunanganku," Jenandra menjawabnya.
"HA?!" Gisella dan Ara kompak berseru kaget.
"Sejak kapan ada perempuan yang mau sama kamu?" tanya Ara.
"Jenandra sudah bertobat. Terimakasih, Tuhan." Giliran Gisella yang berkomentar seraya mengusap wajah penuh syukur.
"Sialan!" Jenandra merutuki reaksi kedua wanita itu.
Tangannya lalu terulur untuk memberikan sebuah amplop berwarna hitam pada keduanya yang langsung diterima dan tentu saja dibuka oleh kedua wanita itu.
"Aku tadi berharap nama Ansela yang tertulis disini," celetuk Gisella saat membaca nama calon tunangan Jenandra.
"Bisa tidak berdoa yang baik saja? Masa aku diberi bekasnya Jerriel?" sahut Jenandra tak terima.
Sementara mereka berdebat setelahnya, Ara justru tertawa kecil dan menyimpan undangan itu di dalam tasnya. Perhatiannya lalu teralih oleh pertanyaan Hito.
"Sudah berdamai, Ara?"
Ara mengerjapkan mata. Sementara Gisella dan Jenandra kompak terdiam dan menatap Ara, menunggu jawaban keluar dari bibir wanita muda itu.
"Masih berusaha, Hito." Ara akhirnya menjawab dengan senyum kecil di wajahnya.
Hito mengangguk maklum, "Kalau begitu jangan melihat ke arah jam 9. Aku sendiri baru menyadari dia ada disana."
Tubuh Ara sontak membeku. Benaknya berpikir cepat, yang dimaksud Hito jelas salah satu diantara dua orang yang sungguh tak ingin ditemuinya saat ini, atau mungkin malah keduanya.
Jenandra berdecak, "Sial sekali. Apa yang dilakukan jalang murahan itu disini?"
"Languange," Gisella memperingatinya.
Jelas, seseorang yang dimaksud Hito adalah Ansela. Jika tidak, reaksi Jenandra tak akan sekeras itu. Dirinya lalu mengulas kembali senyumnya.
"Sudahlah, biarkan saja. Mari nikmati sisa malam ini, hm?"