Keheningan malam di desa kini tidak lagi terasa mencekam, melainkan menenangkan. Aris sudah berada di dalam sel tahanan dengan pengawalan ekstra ketat agar tidak ada lagi drama pemalsuan kematian untuk ketiga kalinya. Namun, bagi Alif dan Baskara, tertangkapnya Aris hanyalah permulaan dari pembongkaran sarang lebah yang jauh lebih besar. Di dalam ruang kerja sederhana di Griya Siti Aminah, tumpukan dokumen hasil sitaan dari kantor pengacara Hendra Kusuma berserakan di atas meja, diterangi oleh lampu belajar yang berpijar kuning.
Alif mengusap wajahnya yang tampak sangat lelah. Sudah dua hari dia hampir tidak tidur untuk membedah catatan keuangan rahasia milik Hendra. Pengacara itu ternyata tidak hanya membela Suryadi, tetapi juga menjadi perantara suap bagi sejumlah pejabat tinggi yang selama ini melindungi operasional konsorsium Suryakanta.
"Lisna, lihat ini." Alif mengangsurkan sebuah map plastik berisi salinan percakapan digital yang sudah dicetak. "Hendra bukan hanya sekadar disuap. Dia memegang daftar nama orang-orang yang menerima aliran dana dari Hartono dan Suryadi selama dua puluh tahun terakhir. Ini adalah daftar hitam yang bisa meruntuhkan tatanan politik di kota ini jika kita membukanya ke publik."
Aku duduk di samping Alif, mencoba mencerna informasi tersebut. "Apa hubungannya dengan kita sekarang, Mas? Bukankah Aris sudah tertangkap? Bukankah Suryadi sudah di penjara?"
Baskara yang berdiri di dekat jendela sambil menyesap kopi hitam pahit akhirnya bersuara. "Masalahnya adalah orang-orang di daftar ini masih bebas, Lisna. Mereka adalah hakim, jaksa, bahkan beberapa oknum di kepolisian. Mereka ketakutan. Saat ini, mereka sedang mencari cara untuk melenyapkan semua bukti yang ada pada Hendra. Dan karena Hendra sudah tertangkap, satu-satunya orang yang mereka anggap memegang kunci atau salinan bukti tersebut adalah kamu dan Alif."
Pernyataan Baskara membuat bulu kudukku merdiri. Ternyata musuhku bukan lagi sekadar mantan suami yang licik atau konglomerat yang jatuh, melainkan sebuah sistem yang korup dan putus asa.
"Jadi, kita sedang memegang bom waktu?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Lebih dari itu, Lisna. Kita sedang memegang pemicunya." Jawab Alif tegas. "Hendra memberikan semua ini karena dia tahu hanya dengan cara inilah dia bisa mendapatkan perlindungan saksi. Dia tahu jika dia tetap bungkam, dia akan dilenyapkan di dalam penjara oleh orang-orang yang dulu dia suap."
Keesokan paginya, suasana di Griya Siti Aminah terasa sedikit berbeda. Beberapa mobil asing tampak berlalu lalang di jalan utama desa. Baskara sudah menempatkan timnya di titik-titik strategis, namun dia menyarankan agar aku dan anak-anak segera dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
"Aku tidak mau lari lagi, Bang," kataku saat kami sedang sarapan di dapur. "Setiap kali aku lari, mereka merasa menang. Aku ingin menyelesaikan ini di sini, di tanah Ibu."
"Ini bukan soal menang atau kalah, Lisna. Ini soal keselamatan nyawa," sahut Baskara. "Anak-anak masih kecil. Bumi, Bintang, dan Cahaya tidak seharusnya berada di tengah baku tembak jika sesuatu yang buruk terjadi."
Akhirnya, dengan berat hati, aku menyetujui agar anak-anak dibawa oleh Bapak Sugeng ke rumah kerabat jauh di pelosok yang lokasinya dirahasiakan bahkan dariku. Melihat mobil yang membawa mereka menjauh, separuh jiwaku rasanya ikut pergi. Namun, aku harus kuat. Ini adalah pertempuran terakhir untuk memastikan mereka tumbuh di dunia yang bersih.
Tepat tengah hari, sebuah pesan masuk ke ponsel Alif. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal, namun isinya sangat jelas: Serahkan salinan dokumen Hendra di dermaga lama pukul sepuluh malam ini, atau panti asuhanmu akan kami ratakan dengan tanah beserta isinya.
Alif menatapku, lalu menatap Baskara. "Mereka mulai bergerak."
"Jangan berikan, Mas," kataku mantap. "Jika kita berikan, mereka tetap akan melenyapkan kita untuk menghilangkan saksi mata. Kita harus melakukan serangan balik."
Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menandakan dia sudah menyiapkan sesuatu. "Kita akan datang ke dermaga itu. Tapi bukan untuk menyerah. Kita akan menjadikan dermaga itu sebagai panggung pengakuan mereka."
Malam itu, dermaga lama di pinggiran kota terasa sangat dingin. Bau air laut yang asin dan suara ombak yang menghantam tiang-tiang kayu menciptakan suasana yang mencekam. Alif berjalan di depan sambil membawa tas koper hitam, sementara aku berjalan di sampingnya dengan kamera kecil yang tersembunyi di balik kancing bajuku. Baskara dan timnya sudah menyusup ke dalam kontainer-kontainer kosong yang berjejer di sekitar dermaga.
Tiga mobil mewah berhenti di ujung dermaga. Beberapa pria berjas rapi turun, dipimpin oleh seorang pria yang wajahnya sering kulihat di televisi sebagai tokoh masyarakat yang vokal tentang integritas. Namanya adalah Bapak Irawan.
"Selamat malam, Saudara Alif dan Ibu Lisna," sapa Irawan dengan suara yang berat dan penuh wibawa palsu. "Saya sangat menyesal kita harus bertemu dalam situasi yang kurang menyenangkan seperti ini. Seharusnya dokumen itu tidak perlu menjadi beban bagi kalian."
Alif mengangkat koper hitamnya. "Dokumen ini bukan beban bagi kami, Pak Irawan. Dokumen ini adalah bukti pengkhianatan Anda terhadap sumpah jabatan. Anda menerima lebih dari lima puluh miliar rupiah dari Suryakanta untuk mengamankan izin lahan ilegal di Kalimantan."
Wajah Irawan berubah menjadi sangat dingin. "Dunia ini tidak sesederhana hitam dan putih, Alif. Uang itu digunakan untuk stabilitas ekonomi. Sekarang, berikan kopernya dan kalian bisa pulang dengan selamat. Saya akan memastikan kasus Aris ditutup dengan cepat dan kalian tidak akan diganggu lagi."
"Bagaimana dengan keadilan bagi warga desa yang lahannya Anda rampas?" tanyaku, memberanikan diri melangkah maju. "Bagaimana dengan nyawa orang-orang yang dibungkam karena mengetahui rahasia ini?"
Irawan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kejam. "Keadilan adalah dongeng bagi orang miskin, Lisna. Di dunia nyata, yang ada hanyalah kekuatan. Dan malam ini, saya memegang kekuatan itu."
Ia memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk mencabut senjata. Namun, sebelum mereka sempat menarik pelatuk, lampu sorot raksasa tiba-tiba menyala dari arah laut. Sebuah kapal patroli polisi air muncul, diikuti oleh puluhan petugas bersenjata lengkap yang keluar dari balik kontainer.
Baskara melangkah keluar dengan pengeras suara. "Bapak Irawan, Anda berada di bawah pengepungan. Seluruh percakapan malam ini telah disiarkan secara langsung melalui satelit ke markas besar kepolisian pusat dan tiga stasiun televisi nasional."
Irawan tampak pucat pasi. Ia menoleh ke sekeliling, menyadari bahwa dia baru saja masuk ke dalam jebakan yang sangat rapi. "Kalian tidak bisa melakukan ini! Saya punya pengaruh!"
"Pengaruh Anda berakhir malam ini, Pak," ujar Alif sambil membuka koper hitamnya. Koper itu ternyata kosong, hanya berisi sebuah pemancar sinyal yang menghubungkan rekaman kamera di bajuku langsung ke pusat data. "Dokumen yang asli sudah berada di tangan tim investigasi independen sejak sore tadi."
Penangkapan Irawan dan beberapa pejabat lainnya malam itu menjadi berita paling menggemparkan dalam sejarah hukum di negeri ini. Gurita Suryakanta benar-benar telah dipotong hingga ke akar-akarnya. Tidak ada lagi perlindungan bagi Suryadi, Maria, ataupun Aris.
Satu minggu kemudian, aku menjemput anak-anak dari persembunyian mereka. Tangis haru pecah saat Bumi, Bintang, dan Cahaya kembali ke pelukanku. Panti asuhan kini dijaga oleh warga desa secara sukarela, bukan karena takut, tapi karena mereka merasa memiliki tempat ini.
Aku duduk di kursi goyang di teras, memandangi matahari terbenam yang berwarna jingga keemasan. Alif duduk di lantai teras, sedang bermain puzzle dengan Bintang.
"Lisna," panggil Alif lembut.
"Iya, Mas?"
"Semua rekening Suryakanta sudah dibekukan dan akan dikelola oleh kurator negara untuk ganti rugi warga. Tapi ada satu hal yang tertinggal," Alif mengeluarkan sebuah amplop kecil. "Ini adalah surat dari Hartono yang dititipkan melalui notarisnya, khusus dibuka setelah semua kekacauan ini berakhir."
Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Untuk anakku Lisna. Jika kamu membaca ini, artinya kamu telah berhasil melewati ujian yang paling berat. Maafkan ayahmu yang pengecut ini. Di dalam amplop ini ada sebuah kunci gudang kecil di pinggiran kota tua. Di sana bukan ada emas atau uang, tapi ada perpustakaan pribadi milik ibumu yang dulu aku selamatkan sebelum rumah lamanya dihancurkan. Itu adalah hartamu yang sebenarnya.
Aku meneteskan air mata. Bukan karena harta, tapi karena akhirnya aku memiliki sesuatu yang benar-benar menghubungkanku dengan kenangan indah tentang Ibu, tanpa bayang-bayang uang haram.