BAB 37: PUNCAK KEMELUT DI AMBANG API

06 February 2026

Sisa-sisa asap dari gudang yang terbakar masih mengepul tipis ke langit subuh yang abu-abu. Aroma kayu yang hangus dan bau bensin yang menyengat seolah mengunci paru-paruku. Aku berdiri di tengah halaman Griya Siti Aminah dengan tubuh yang gemetar, bukan karena dinginnya embun pagi, melainkan karena amarah yang telah mencapai titik didih. Di sekelilingku, anak-anak panti asuhan mulai tenang dalam dekapan para relawan, namun trauma di mata mereka tidak akan bisa hilang hanya dengan satu malam yang sunyi.

Baskara berdiri tidak jauh dariku, sedang memeriksa sisa-sisa botol kaca yang pecah di depan gudang. Wajahnya tampak sangat keras, seolah-olah setiap kerutan di dahinya adalah garis rencana pertempuran. Ia mematikan senter di tangannya dan berjalan menghampiriku serta Alif yang masih setia memegang pundakku.

"Ini bukan sekadar teror gertakan, Lisna. Mereka sengaja membakar gudang dokumen karena mereka tahu di sana tersimpan bukti-bukti kepemilikan lahan warga yang bisa kita gunakan untuk memukul balik sisa perusahaan Suryadi," ujar Baskara dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Aris tidak bertindak sendiri. Dia dikendalikan oleh seseorang yang sangat ahli dalam urusan sabotase."

Alif menghela napas panjang sambil menatap puing-puing yang masih membara. "Aris berpikir bahwa dengan membakar bukti-bukti ini, dia bisa melemahkan posisi kita di pengadilan. Dia ingin menunjukkan bahwa kamu tidak mampu melindungi aset dan lingkungan sekitarmu. Dia ingin menciptakan opini bahwa panti asuhan ini adalah magnet bagi kerusuhan, sehingga hak asuh anak-anak lebih aman berada di tangannya."

Aku menatap Alif dengan pandangan tajam. "Lalu kita akan diam saja menunggu sidang minggu depan? Menunggu sampai mereka melempar api ke dalam kamar anak-anakku? Tidak, Mas. Aku sudah cukup bersabar selama sepuluh tahun menjadi istrinya, dan aku sudah cukup bersabar saat dia mencoba merampas warisan Hartono. Tapi saat dia menyentuh rumah ini, dia baru saja menggali liang lahatnya sendiri."

"Apa yang ingin kamu lakukan, Lisna?" tanya Alif dengan nada khawatir.

"Baskara, kamu bilang timmu menemukan jejak mereka di hutan belakang?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari arah pegunungan yang masih diselimuti kabut.

Baskara mengangguk. "Mereka menggunakan pondok tua di lereng bukit sebagai tempat transit. Aku yakin Aris ada di sana. Dia terlalu pengecut untuk berada jauh dari para pengawalnya, dan dia terlalu sombong untuk meninggalkan area ini sebelum melihat aku hancur."

"Bawa aku ke sana," kataku mantap.

"Lisna, jangan gila! Itu wilayah berbahaya!" cegah Alif.

"Mas Alif, aku minta tolong. Siapkan semua dokumen hukum untuk melaporkan percobaan pembunuhan ini. Hubungi media, buat konferensi pers di depan puing-puing ini. Biarkan masyarakat melihat hasil karya seorang ayah yang mengaku merindukan anaknya. Biarkan Baskara yang menemaniku ke bukit itu. Ini urusan pribadi antara aku dan bayangan masa laluku."

Perjalanan mendaki lereng bukit dilakukan dalam keheningan yang mencekam. Baskara berjalan di depan dengan langkah yang sangat ringan, hampir tidak menimbulkan suara di atas tumpukan daun kering. Aku mengikuti di belakangnya, menggenggam sebuah tas kecil berisi kaset rekaman dan dokumen cadangan yang sengaja aku simpan di brankas tersembunyi di bawah tempat tidurku. Aris tidak tahu bahwa aku selalu memiliki salinan untuk setiap bukti yang aku miliki.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, kami sampai di sebuah pondok kayu yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Di depan pondok itu, terparkir sebuah motor trail yang masih berlumuran lumpur, motor yang sama dengan yang dilihat Bapak Sugeng saat kejadian pelemparan bom molotov.

Baskara memberikan isyarat agar aku tetap berada di balik pohon besar, sementara ia bergerak memutar untuk mengamankan area belakang. Namun, aku tidak bisa lagi menahan diri. Rasa benci yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun seolah memberikan tenaga tambahan pada kakiku. Aku melangkah maju dan menendang pintu pondok yang tidak terkunci itu dengan sekuat tenaga.

Di dalam ruangan yang remang-remang dan bau rokok murahan, aku melihat Aris sedang duduk di sebuah kursi tua. Ia tidak lagi berada di kursi roda. Perban di kepalanya sudah dilepas, memperlihatkan wajah yang tampak segar namun dipenuhi rasa angkuh. Di depannya, tumpukan uang tunai dan beberapa botol minuman keras berserakan di atas meja.

"Sangat berani, Lisna. Aku hampir saja mengirimkan undangan kedua untukmu," ujar Aris sambil tersenyum miring, sama sekali tidak tampak terkejut dengan kedatanganku.

"Berdiri kamu, pria pengecut!" teriakku sambil melemparkan sepotong kayu hangus yang aku ambil dari puing gudang ke arah mejanya. "Kamu membakar tempat tinggal anak-anakmu sendiri? Kamu mencoba membunuh mereka demi uang haram dari Suryadi?"

Aris berdiri perlahan, ia tidak tampak sakit sedikit pun. Aktingnya di pengadilan benar-benar luar biasa. "Anak-anak itu akan lebih baik hidup dengan uang jutaan dollar di luar negeri daripada tumbuh di desa miskin ini bersamamu, Lisna. Aku hanya mencoba mengambil apa yang menjadi hakku sebagai kepala keluarga. Hartono memberikan semuanya padamu hanya karena dia merasa bersalah, tapi aku yang menanggung penderitaan menjadi suamimu selama sepuluh tahun!"

"Penderitaan? Kamu menyebut berjudi menggunakan uang susu anak-anak sebagai penderitaan?" aku tertawa getir. "Kamu adalah parasit, Aris. Dan sekarang, parasit ini harus dibasmi."

Aris melangkah maju, tangannya hendak meraih leherku, namun sebuah bayangan bergerak cepat dari arah jendela. Baskara muncul dan langsung memelintir tangan Aris hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser. Aris menjerit kesakitan dan tersungkur ke lantai.

"Jangan sentuh dia dengan tangan kotor mu itu," desis Baskara dingin.

Dua orang pengawal Aris mencoba masuk dari pintu belakang, namun mereka segera dilumpuhkan oleh tim Baskara yang sudah mengepung pondok tersebut tanpa disadari oleh Aris. Suasana seketika terkendali.

Aku mendekati Aris yang mengerang di lantai. Aku berlutut di depannya, menatap matanya yang kini dipenuhi ketakutan. "Kamu pikir kamu menang karena membakar gudang itu? Semua dokumen asli tentang kejahatan Suryadi dan keterlibatanmu sudah aku serahkan kepada Alif sejak minggu lalu. Yang kamu bakar semalam hanyalah tumpukan kertas kosong dan fotokopi yang sengaja aku taruh di sana sebagai umpan."

Wajah Aris berubah menjadi pucat pasi. "Apa? Tidak mungkin! Hendra bilang..."

"Hendra adalah pengacara, Aris. Dia hanya membela siapa yang membayarnya paling banyak. Dan pagi ini, Alif sudah memberikan penawaran yang lebih baik kepada Hendra agar dia menyerahkan semua bukti komunikasi gelap antara kamu dan sisa-sisa pengikut Suryadi." Aku berdiri dan merapikan pakaianku. "Kamu tidak akan pernah kembali ke pengadilan sebagai korban. Kamu akan kembali sebagai tersangka utama pembakaran berencana dan percobaan pembunuhan."

Saat matahari mulai meninggi, Aris digiring turun dari bukit dengan tangan terborgol. Ia terus memaki dan memohon, namun tidak ada satu pun orang yang peduli lagi padanya. Di bawah, mobil polisi sudah menunggu bersama puluhan wartawan yang sudah dipanggil oleh Alif.

Rekaman video yang memperlihatkan Aris berdiri tegak dan tertawa di dalam pondok tadi, yang diam-diam direkam oleh Baskara, langsung tersebar ke media sosial. Kebohongan tentang kondisinya yang kritis hancur dalam sekejap. Publik yang tadinya merasa simpati kini berbalik menghujatnya sebagai ayah yang iblis.

Sidang peninjauan kembali di pengadilan agama yang seharusnya dilakukan minggu depan, dibatalkan secara otomatis karena status Aris yang kini menjadi buronan yang tertangkap tangan melakukan tindak kriminal berat. Hak asuh anak-anak secara permanen jatuh ke tanganku tanpa bisa diganggu gugat lagi oleh siapa pun.

Satu minggu kemudian, suasana di desa kembali normal. Warga secara gotong royong membantu membangun kembali gudang panti asuhan yang terbakar. Dana dari PBB mulai cair dan dialokasikan sepenuhnya untuk pembangunan sekolah dan fasilitas kesehatan di desa kami.

Aku duduk di teras bersama Alif. Kami memandangi anak-anak yang sedang belajar menanam bibit pohon mangga di halaman.

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Lisna?" tanya Alif lembut.

"Rasanya seperti baru saja menyelesaikan sebuah buku yang sangat panjang dan melelahkan, Mas," jawabku sambil tersenyum. "Bab tentang Aris sudah benar-benar tertutup. Sekarang, aku ingin menulis bab baru tentang masa depan."

Alif menggenggam tanganku. "Aku ingin menjadi bagian dari bab baru itu, jika kamu mengizinkan."

Aku menatap mata Alif dan menemukan kejujuran yang selama ini aku cari. "Mari kita mulai menulisnya bersama-sama, Mas. Tapi kali ini, tidak boleh ada lagi rahasia dan tidak boleh ada lagi pengkhianatan."

Malam itu, di bawah taburan bintang yang sangat terang, aku menyadari bahwa kekayaan yang sebenarnya bukan terletak pada nominal uang di bank, melainkan pada keberanian untuk memperjuangkan kebenaran dan melindungi mereka yang kita sayangi. Aku tidak lagi mengemis pada takdir, karena aku adalah penulis dari takdirku sendiri