Malam itu, hujan rintik turun membasahi kaca jendela apartemen Arema. Lampu kota terlihat buram dari balik tirai tipis, seolah ikut mencerminkan perasaannya yang tak lagi jernih.
Arema duduk di tepi kasur, ponsel berada di genggaman, layar menyala menampilkan satu nama yang sejak sore tadi terus berputar di kepalanya, yaitu Leo.
Arema menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak, bukan karena sedih semata, melainkan karena perasaan bersalah yang pelan-pelan merayap.
Janji sudah terucap. Harapan sudah terlanjur tumbuh. Dan malam ini, ia harus mematahkannya dengan kata-kata yang terdengar sederhana, tapi baginya terasa berat.
Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar sekali, dua kali, tiga kali.
Arema hampir membatalkan panggilan itu ketika akhirnya suara di seberang terdengar.
"Halo, Rema?" Suara Leo terdengar hangat, sama seperti ingatannya di taman kecil dekat rumah dulu.
"Iya, Leo, aku," jawab Arema pelan.
"Kok suaranya kayak capek? Habis kerja lembur, ya?" tanya Leo, nada suaranya tulus, tanpa curiga.
Arema tersenyum tipis, meski Leo tak bisa melihatnya. "Iya, kurang lebih gitu."
Sejenak, hening menyela. Arema menggigit bibir bawahnya, mencari kalimat yang paling tidak menyakitkan.
"Leo, aku mau ngomong sesuatu," katanya akhirnya.
"Em, ngomong apa? Kedengerannya serius." Leo tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
Arema mengusap keningnya. "Soal kondangan itu."
Tawa kecil Leo berhenti. Namun nada suaranya tetap tenang. "Kenapa? Jadinya gimana?"
Arema menelan ludah. "Aku … kayaknya gak jadi datang bareng kamu."
Di seberang, hening lagi. Kali ini sedikit lebih panjang. Arema bisa membayangkan ekspresi Leo, alisnya mungkin terangkat, matanya menyempit sedikit, bukan karena marah, tapi karena terkejut.
"Oh ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Leo.
"Maaf ya," lanjut Arema cepat, seakan takut Leo keburu salah paham, "mendadak banget. Tadi sore aku ketemu temen kantor, dan mereka ngajak datang bareng. Aku pikir ya udah, sekalian rame-rame."
Leo terdiam sejenak, lalu terdengar helaan napas ringan. "Oh, gitu."
"Iya." Arema menggenggam ponsel lebih erat. "Aku nggak enak sama kamu, makanya aku telpon sekarang. Biar nggak mendadak pas hari-H."
Di balik kata-kata yang terdengar rapi itu, Arema menyembunyikan satu hal, alasan sebenarnya.
Ia tak sanggup mengatakannya. Tak sanggup mengaku bahwa ia ingin datang bukan sebagai Arema yang terluka, melainkan Arema yang terlihat baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya.
Leo terkekeh kecil. "Santai aja, Rema. Aku paham kok."
"Kamu nggak marah?" tanya Arema ragu.
"Marah kenapa?" jawab Leo ringan, "kamu kan cuma ngajak, bukan maksa. Lagian kamu juga punya hidup sendiri."
Jawaban itu justru membuat dada Arema terasa lebih nyeri. Andai Leo marah, mungkin rasa bersalahnya bisa sedikit tertebus. Tapi sikap dewasa itu malah membuatnya merasa semakin kecil.
"Maaf ya, Leo," ulang Arema, kali ini lebih lirih.
"Iya, nggak apa-apa," kata Leo. "Yang penting kamu nyaman. Datang ke kondangan mantan itu juga gak gampang, kan?"
Arema terdiam. Ucapan Leo seperti menelanjangi isi hatinya. "Iya."
"Kamu kuat, Rema," lanjut Leo, "aku tahu kamu bukan tipe yang gampang jatuh."
Arema tersenyum pahit. "Kadang kelihatannya aja kuat."
"Semua orang juga gitu," sahut Leo, "kalau butuh teman ngobrol, kamu tahu aku ada."
Kalimat sederhana itu membuat mata Arema terasa panas. Ia menoleh ke arah jendela, memastikan tak ada siapa pun yang melihatnya saat ia mengusap sudut matanya.
"Makasih, Leo," katanya pelan.
"Ya udah, aku gak mau ganggu. Kamu istirahat yang cukup," kata Leo, "semoga acaranya lancar. Eh, maksudku, kamu baik-baik aja di sana."
"Iya. Kamu juga jaga diri."
Panggilan pun berakhir. Arema menurunkan ponselnya perlahan. Layar yang tadinya terang kini menghitam, menyisakan bayangan wajahnya sendiri, wajah yang terlihat lebih dewasa, tapi juga lebih lelah.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar. Kata-kata Leo terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan bayangan Jordi yang tersenyum tenang sore tadi di mall.
Dua sosok yang hadir di hidupnya dengan cara berbeda, di waktu yang berbeda pula.
"Maaf, Leo," gumam Arema lagi, pada ruang kosong.
Ia tahu keputusannya ini egois. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arema ingin memikirkan dirinya sendiri.
Bukan sebagai mantan yang terluka. Bukan sebagai perempuan yang ditinggalkan. Melainkan sebagai Arema yang sedang belajar berdiri dengan caranya sendiri.
Di luar, hujan semakin deras. Arema memejamkan mata, membiarkan suara rintik itu meninabobokkan pikirannya.
Malam terasa panjang, namun di balik kegelisahan yang belum sepenuhnya reda, ada tekad kecil yang mulai tumbuh.
Apa pun yang akan terjadi di hari pernikahan itu, ia akan datang bukan untuk menangisi masa lalu, melainkan untuk menutupnya.
** Arema menghela napas panjang, lalu bangkit dari posisi rebahnya. Keputusan itu akhirnya benar-benar bulat di kepalanya.
Ia meraih ponsel yang tadi diletakkan di samping bantal, jarinya sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mencari satu nama di daftar kontak: Jordi.
Ia menatap layar sejenak, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali.
"Halo, Arema?" Suara Jordi terdengar tenang, sedikit terkejut namun tetap hangat.
"I-iya, Pak Jordi," jawab Arema agak gugup, "maaf ganggu malam-malam."
"Tidak apa-apa. Kamu kenapa?" tanya Jordi, nadanya penuh perhatian.
Arema menarik napas, menata suaranya agar terdengar mantap. "Saya mau ngabarin soal yang kemarin, Pak. Tentang undangan pernikahan itu."
"Oh." Jordi terdengar tersenyum dari seberang. "Kamu sudah dapat keputusan?"
"Iya," kata Arema pelan tapi jelas, "kalau Bapak masih berkenan, saya bisa datang bareng Bapak."
Hening sejenak di ujung telepon. Arema sempat khawatir ucapannya terdengar terlalu lancang. Namun detik berikutnya, suara Jordi terdengar lebih ringan.
"Berarti kamu sudah yakin?" tanya Jordi.
"Iya, Pak. Saya sudah pikirkan matang-matang," jawab Arema jujur, "dan, terima kasih sudah mau nawarin kemarin."
Jordi tertawa kecil. "Kamu nggak perlu terima kasih. Aku senang kalau bisa nemenin."
Pipi Arema menghangat mendengar kalimat itu. "Berarti, saya nggak ngerepotin, kan?"
"Justru sebaliknya," jawab Jordi cepat, "saya malah senang bisa anter kamu. Jadi kita datang sebagai tamu biasa saja, santai."
Arema mengangguk meski tahu Jordi tak bisa melihatnya. "Baik, Pak. Nanti saya kabari detailnya lagi."
"Siap. Aku jemput atau kamu mau ketemu di lokasi?" tanya Jordi.
Arema berpikir sebentar. "Kalau dijemput juga nggak apa-apa, Pak. Kita datang sama-sama.
"Baik. Nanti aku kabari jamnya," kata Jordi. "Kamu istirahat ya. Jangan dipikirin terlalu berat."
"Iya, Pak. Terima kasih," ucap Arema tulus.
Setelah panggilan terputus, Arema menatap ponselnya lama. Dadanya masih berdebar, tapi kali ini bukan karena ragu, melainkan karena perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Ada sedikit tegang, sedikit berani, dan sedikit lega.
"Ya udah," gumamnya pelan, aku pilih dateng sama Jordi aja."
Ia kembali merebahkan diri, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Untuk pertama kalinya menjelang hari pernikahan itu, Arema merasa tidak sepenuhnya sendirian.