Bab 14 - Red String Of Fate

Penulis Itsme-R
18 December 2025

Terkadang sebuah pertemuan bukanlah kebetulan, melainkan cara semesta bekerja untuk merangkai kembali kisah yang belum selesai.


Ansela sudah cukup lama tak merasa segusar ini ketika melihat seseorang. Hidupnya terlalu damai sejak satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai saingan, memilih meninggalkan Indonesia dan tak pernah muncul sampai saat ini.

Tangan wanita itu terkepal saat matanya mendapati empat orang yang duduk tak jauh darinya dan salah satunya jelas sangat dikenalinya. Sienna Amara Winata adalah wanita yang tak pernah diharapkannya akan kembali ditemuinya di Jakarta.

"Rusak sudah malamku," gerutunya.

Wanita itu lalu mengedarkan pandang dan memilih melangkah pergi menghampiri teman-temannya yang lain di salah satu area restoran itu. Dirinya berusaha memfokuskan diri dan bergabung lagi dalam pembicaraan mereka.

Sampai akhirnya matanya kembali tanpa sengaja menangkap sosok Ara yang berjalan menuju toilet pengunjung. Senyum sinisnya terulas sebelum Ansela melangkahkan kakinya menuju tempat yang sama.

"Lama tak bertemu, Ara." Ansela menyapa wanita itu sesaat setelah masuk ke area toilet wanita.

Wanita muda yang disapanya, menoleh tanpa menurunkan ponsel yang menempel di telinganya. Ara memilih mengabaikannya dan melanjutkan bicara dengan sang ibu di seberang panggilan itu.

"Aku akan langsung pulang ke mansion kalau Mama dan Papa sudah datang nanti. Sekarang, aku tinggal di penthouse saja."

"Um-hum, nanti aku akan mampir ke mansion Tante Nada."

Ansela menatap tajam Ara yang nampak begitu asyik bicara dengan sang ibu tanpa mempedulikannya. Namun, dia jelas tak menyerah dengan mudah. Dirinya menunggu Ara sampai selesai menelepon sebelum akhirnya wanita itu menoleh lagi ke arahnya.

"Ya, lama tak bertemu." Ara akhirnya menjawab sapaannya tadi sembari menyimpan ponsel.

"Untuk apa pulang? Kenapa tak terus lari seperti pengecut?" cecar Ansela tanpa repot-repot berbasa-basi seperti sebelumnya.

Ara mengangkat sudut bibirnya, "Kenapa kalau aku pulang? Itu jelas bukan urusanmu, lagipula siapa kamu? Pemilik negara ini?"

"Kamu bukan siapa-siapa, Ansela Gunawan."

Usai mengatakan itu, Ara langsung melangkah pergi melewati Ansela yang terpaku. Wanita itu baru berbalik menatap punggung Ara yang menghilang dibalik pintu setelah berhasil menguasai diri.

"Sombong sekali. Lihat saja, kamu akan menyesal sudah pulang ke Indonesia. Jerriel tak akan pernah kembali padamu sekali pun kamu pulang, Ara."

Sementara itu, Gisella yang melihat Ara kembali menghampiri mereka dengan wajah masam, bertanya heran padanya, "Kamu seperti baru melihat hantu."

"Kuntilanak lebih tepatnya," sahut Ara.

"Bukan Kalong Wewe?" Jenandra ikut menyahut yang langsung membuat Ara berkedip menatapnya sebelum tertawa keras.

"Itu mungkin lebih cocok untuknya," ujarnya disela tawa.

"Ini bahas apa sih? Hantu sungguhan?" Gisella yang bertanya lagi dengan raut kebingungan, membuat Jenandra dan Ara kembali tertawa, sementara Hito mengelus kepala tunangannya itu.

"Kan kamu tadi yang menyebut hantu pertama kali, sayang," ujar pria itu.

"Kan maksudku langsung saja sebut namanya," omel Gisella tak terima.

"Inisialnya A." Jenandra menyahuti dengan mata yang menatap ke arah Ansela.

Wanita itu tentu saja menyadari Jenandra yang menatapnya tajam. Ansela semakin memberengut kesal sebelum akhirnya berpamitan dengan teman-temannya dan pergi dari sana.

"Jalangnya sudah pergi," ujar Jenandra.

"Kamu pelototi begitu, siapa pun pasti lari," cetus Ara.

"Ini tatapan maut ala Raden Mas Jenandra Hadikusumo," sahut Jenandra bangga.

"Memangnya si Kalong Wewe itu melakukan apa padamu?" Gisella menyela mereka, mendesak Ara bercerita.

Ara lalu akhirnya menceritakan kejadian di toilet pengunjung pada mereka bertiga sebelum akhirnya mendapat dua acungan jempol dari Jenandra dan Gisella bahkan anggukan bangga dari Hito.

Gisella yang akhirnya berkata, "Nah seharusnya begitu sedari dulu menghadapi jalang."


Tiga hari kemudian,

"Kamu tak mau sekalian makan malam disini saja, Ara?" Nada menatapnya dengan tatapan memohon saat wanita muda itu berpamitan pulang setelah mengunjungi dan menemaninya berbelanja seharian ini.

"Aku pulang saja, Tante. Aku ingin mencoba memasak, kemarin aku melihat resep baru yang ingin kucoba." tutur Ara.

Nada akhirnya mengangguk sekalipun bibirnya masih sedikit mengerucut, "Ya sudah, tapi lain kali kamu makan malam disini, ya?"

Ara mengangguk tanpa ragu, "Lain kali, Tante."

Putri tunggal Zayn Abimana itu lalu kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya dan sempat memeluk Nada sebelum masuk ke dalam kendaraan dan melaju pergi dari area mansion megah itu. Ara mengarahkan mobil menuju salah satu supermarket.

Tangannya sudah mendorong trolley belanja saat memasuki area supermarket dan mulai memilih-milih apa yang ingin dibelinya disana. Ara tak berbohong saat menyatakan alasannya pada Nada tadi, dia memang sedang ingin memasak sesuatu dari resep yang tak sengaja dilihatnya.

"Hm, apa lagi, ya?" gumamnya saat menyusuri rak bahan-bahan segar.

Tangannya lalu meraih beberapa buah tomat dan sayuran lainnya sebelum memasukkannya ke dalam trolley usai menimbangnya. Matanya lalu menangkap keberadaan seorang pria dengan sweater abu-abu gelap tak jauh di depannya.

Pria itu sedang memilih buah dan jelas tak menyadari keberadaan Ara disana. Tanpa sadar, Ara mengikuti setiap pergerakan pria itu dan baru menyadari bahwa sosok yang dilihatnya di bandara tempo hari adalah orang yang sama dengan yang dilihatnya sekarang. Namun, pria itu jelas memiliki penampilan berbeda karena tak lagi mengenakan kacamata yang membingkai mata. Kali ini, Ara akhirnya mengenali siapa pria itu.

"Noah," bisiknya.

Seakan mendengar bisikan halus yang jelas mustahil terdengar sampai ke telinganya dari jarak mereka sekarang, Noah justru menoleh dan menatap tepat ke arah Ara yang masih belum memutus pandang. Seulas senyum sangat tipis lalu muncul di wajah tampannya sebelum kakinya melangkah mendekati Ara.

"Menatap orang dengan ekspresi begitu bisa membuatmu disalahpahami, Ara."

Ara mengerjapkan mata. Dirinya mendongak dan sekejap berusaha menguasai diri, "Ekspresiku baik-baik saja."

Noah tersenyum dan berkata lagi, "Halo, Ara."

Kali ini sesuatu yang berdesir di dalam hatinya, membuat Ara seakan berhenti bernafas. Untuk sesaat yang terasa lama, lidahnya seakan kelu hanya untuk sekedar membalas sapaan singkat itu.


Segalanya tiba-tiba terasa begitu mengabur di kepala Ara. Dia yang tadinya berada di supermarket memilih bahan makanan, sekarang telah berada di apartemen yang pemiliknya sedang berkutat di dapur tempat itu, membantunya menata belanjaan.

"Noah, biar aku saja," Ara berkata seraya menghampirinya.

"Duduk manis saja, sebentar lagi selesai dan kamu bisa membuatkanku makan malam sebagai gantinya. Aku lapar," tukas Noah.

"Tumben?" Ara berkata heran.

"Apanya?" Noah balik bertanya.

"Biasanya kamu tidak dengan sukarela memakan masakanku," ujar Ara.

Mendengarnya membuat Noah meringis, "Karena masakanmu biasanya lebih mirip senjata pemusnah masal."

Bugh ..

"Sialan!" Ara memaki seraya memukul lengan pria itu.

Kekehan Noah menyambutnya sebelum lelaki itu kembali fokus pada kegiatannya dan membiarkan Ara mengamatinya sampai selesai. Saat semua belanjaan sudah tertata rapi, barulah Noah menghadap wanita disisinya itu, lalu menengadahkan kedua tangannya.

"Bayaranku," pintanya.

"Tadi katanya masakanku sangat berbahaya," cetus Ara.

"Justru karena itu, aku ingin tahu apa keahlian masakmu sudah berkembang?" sahut Noah.

Ara sontak mengerucutkan bibirnya. Namun, wanita itu tetap memasak untuk mereka berdua pada akhirnya yang membuat Noah tersenyum puas dan mencoret salah satu tulisan di daftar yang selalu disimpannya di dalam ponsel.

Tuk ..

"Ini, aku tidak bertanggungjawab kalau kamu sampai masuk rumah sakit." Ara berkata seraya meletakkan sepiring hasil masakannya di depan Noah.

"Asuransi kesehatanku lengkap, tenang saja," sahut Noah yang dihadiahi dengusan sebal Ara.

Wanita itu lalu meraih piringnya sendiri dan mulai menikmati hasil masakannya, "Agak asin, ya?"

"Sedikit saja," Noah menjawabnya.

"Kenapa tidak bilang?" tanya Ara.

"Lebih baik asin sedikit daripada asam luar biasa seperti waktu terakhir kali kamu coba masak," tutur Noah.

"Parah sekali, ya?" Ara kembali bertanya.

Noah mengangguk dengan senyum jahilnya, "Mungkin kalau diekstrak bisa jadi racun lebih mematikan dari sianida,"

Ara menatapnya sengit, "Olok-olok saja terus, Noah. Aku tak akan membuatkanmu makanan lagi!"