"Kamu mau pergi?"
Noah bertanya saat mereka selesai menyantap makan malam seraya menunjuk ke arah salah satu sudut ruang tengah apartemen itu dimana terdapat koper besar yang dia tahu adalah milik Ara. Wanita muda disisinya itu mengikuti arah pandangnya sebelum menjawab.
"Ya, aku akan kembali ke apartemenku sendiri lalu pergi ke mansion orangtuaku saat mereka sampai lusa ini."
"Kamu bisa tinggal disini sampai lusa, Ara. Tak perlu buru-buru," ujar Noah.
"Aku sudah hampir seminggu disini," sahut Ara.
"Lalu kenapa?" Noah melempar tanya lagi.
"Ini apartemenmu," cetus Ara.
Pria itu tersenyum, "Unit ini milikmu, Ara."
"HA?!" Ara sontak melebarkan bibirnya tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Noah tak langsung menjawab. Pria muda itu beranjak berdiri dan melangkah menuju salah satu lemari yang ada di ruang tengah dan mengeluarkan sebuah berkas yang rupanya tersimpan di sebuah brankas tersembunyi disana.
"Bacalah." Pintanya sambil memberikan berkas itu pada Ara yang menerimanya dengan kening berkerut.
Dirinya membuka dan meneliti isi berkas itu sebelum akhirnya matanya melebar penuh keterkejutan. Ara mengangkat wajahnya, menatap Noah yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa namaku tercantum sebagai pemilik apartemen ini?" tanyanya.
Senyum kecil muncul di wajah Noah saat pria itu menjawab, "Ini hadiah delapan kali ulang tahunmu yang tak pernah kuhadiri sejak kamu meninggalkan Indonesia, Ara."
Ara menatapnya dengan keterkejutan nyata di wajahnya, "Unit apartemen ini nilainya milyaran."
"Aku bebas ingin memberikannya pada siapa pun yang aku inginkan dan aku ingin kamu memilikinya," tutur Noah.
"Tapi ..."
"Ini berlebihan, Noah." wanita itu sedikit memprotes seraya menggigit bibir bawahnya.
Noah menggeleng, "Tak ada yang namanya berlebihan. Aku tahu kamu sangat suka tinggal disini karena damai, bukan?"
Ketika Ara mengangguk kecil dengan jujur, Noah terkekeh dan mengelus puncak kepalanya lembut, "Kalau begitu tak perlu berpikir terlalu sulit. Properti ini sudah jadi milikmu dan akan selalu jadi milikmu."
Tahu dia jelas tak akan menang jika terus mendebat pria itu, Ara memilih mengangguk lagi dan menutup berkas di tangannya lalu menyimpannya hati-hati di tempatnya semula setelah Noah memberinya sandi brankas disana.
"Kamu akan bekerja selama tinggal disini?" tanya Noah lagi.
Ara mengangguk, "Aku akan cari pekerjaan nanti setelah 1 atau 2 bulan."
"Tidak mau bekerja di perusahaan keluarga saja?" Pertanyaan ini membuat Ara langsung menggeleng.
"Tidak mau," jawabnya singkat.
"Kalau bekerja denganku saja, bagaimana?" tawar Noah.
"Tawaran yang dulu masih diingat rupanya," cetus Ara.
Noah terkekeh, "Tentu saja aku mengingatnya. Aku yang menawarimu dulu."
"Dan posisi apa yang kamu tawarkan?" tanya Ara.
"Sekretaris pribadiku," sahut Noah tanpa ragu.
Mendengarnya membuat raut Ara berubah masam, "Aku punya pengalaman tak menyenangkan di posisi itu saat terakhir kali bekerja."
"Insiden dengan Mr. Russel, huh? Aku bukan mantan bosmu itu," ujar Noah.
"Aku tahu, tapi itu jelas mempengaruhi caraku memandang posisi ini," Ara menimpalinya.
Noah terdiam sesaat sebelum berpindah ke sofa di ruang tengah dan menepuk tempat di dekatnya, meminta Ara duduk disana alih-alih terus berdiri.
"Seperti apa pandanganmu tentang posisi sekretaris pribadi sekarang?" tanyanya setelah wanita itu duduk di dekatnya.
"Rawan. Kalau bosku sudah menikah atau memiliki pasangan, sekretarisnya adalah orang pertama yang dituduh memiliki affair," jawab Ara.
"Calon bosmu belum punya pasangan," Noah menjawab enteng.
"Kamu gay?" Pertanyaan polos Ara membuat Noah langsung menepuk keningnya.
"Aku normal, Ara." Jawaban ini tak membuat ekspresi penuh tanya hilang dari wajah Ara hingga Noah memutar bola mata melihatnya.
"Kita sedang membahas prospek kerjamu, bukan orientasi seksualku," protesnya.
Kali ini Ara tertawa kecil, "Baiklah."
"Aku ingin mencoba melamar di perusahaan lain lebih dulu," lanjutnya.
"Untuk apa repot saat kamu punya golden ticket untuk bekerja dengan CEO Skylar?" cetus Noah.
Giliran Ara yang memutar bola matanya sekarang, "KKN itu dilarang."
"Kalau kandidatnya berotak kosong, jelas dilarang. Tapi kamu jelas bukan kandidat sembarangan," sahut Noah.
Ara menghela nafasnya, "Biar kupikirkan."
"Gajimu dua kali lipat dari yang diberikan Mr. Russel. Dalam USD." Perkataan Noah membuat mata Ara melebar.
"Istimewa sekali," komentarnya kemudian.
"Jangan salah, aku tidak menawarkannya tanpa pertimbangan. Beban kerjamu akan jauh lebih besar dibanding saat bekerja dengan Mr. Russel," jelas Noah.
"Plus, anggap saja itu termasuk kompensasi," imbuhnya.
"Kompensasi apa?" Ara bertanya tak mengerti.
"Kalau kamu menerimanya, kamu akan bertemu hampir tiap hari dengan orang yang kamu hindari," ujar Noah.
Jawabannya membuat Ara mengurut dahinya apalagi ketika pria itu kembali melanjutkan, "Jerriel adalah salah satu manajer di perusahaan."
Ara berdiri diam menatap pintu kamar rawat yang tertutup rapat di depannya. Kamar VIP yang menjadi tempat Nyonya Tiara dirawat selama wanita itu sakit beberapa bulan belakangan. Dia sudah tiba sejak 10 menit yang lalu, namun tangannya seakan kaku hanya untuk sekedar membuka pintu itu.
Dirinya menarik nafas dalam sebelum akhirnya menggerakkan tangan untuk membuka pintu dan melangkah masuk. Matanya langsung menangkap keberadaan kakek dan neneknya serta seorang pria muda yang selama ini disebutnya sepupu.
"Ara, akhirnya kamu datang juga menjenguk nenek tua ini." Nyonya Tiara langsung menyambutnya dengan tangan terentang dan senyum lebar di wajahnya.
"Maaf aku baru datang, Nenek." Ara berkata sambil memeluk wanita tua itu.
"Tidak apa, Nenek bisa mengerti." Nyonya Tiara menimpali seraya mengelus punggung Ara penuh sayang.
Wanita muda itu lalu mengurai pelukannya dan beralih pada kakek dan neneknya. Alih-alih menghampiri mereka, Ara memilih mengangguk sopan dan kembali mengalihkan atensinya pada seorang lagi di ruangan itu.
"Apa kabar, Bastian?" tanyanya.
"Kabarku baik, Ara. Terimakasih sudah datang." Bastian menjawabnya dengan ekspresi datar tanpa senyuman atau sambutan yang lebih baik.
Ara hanya mengangguk singkat dan kembali menatap Nyonya Tiara, "Nenek sudah makan?"
Nyonya Tiara menggeleng, "Belum, tolong suapi Nenek."
Sang cucu tertawa kecil sebelum beranjak mengambil nampan makanan yang sudah disiapkan pihak rumah sakit dan mulai menyuapi sang nenek dengan telaten.
"Kalian boleh pergi, terimakasih sudah berkunjung." Nyonya Tiara berkata disela suapannya, pada ketiga orang lainnya.
Tanpa protes atau banyak berkomentar, ketiganya langsung keluar dari ruangan itu, membiarkan Ara tetap disana menemani sang nenek.
"Bastian masih tetap tidak bersikap sopan padamu," ujar Nyonya Tiara.
"Sikapnya bisa dimaklumi sebenarnya, Nenek." Ara menjawab sambil menyuapkan sesendok makanan.
"Dia harus memahami tempatnya," cetus Nyonya Tiara.
"Tidak bisa serta merta begitu. Bagaimana pun dia yang selama ini berada di dekat Nenek ketimbang cucu satu ini yang suka kabur-kaburan," sahut Ara.
Nyonya Tiara mendengus, "Ini semua karena pilihan gegabah Ryan. Satu-satunya pilihan yang benar dilakukannya hanyalah menikahi Nada dulu sebelum dirusaknya kemudian."
Ara hanya tersenyum, tak ingin menjawab demi membuat sang nenek tak membahas topik itu lebih jauh. Sungguh dia tak nyaman membicarakan kisah rumit dalam lingkaran keluarganya.
Namun, pertanyaan yang keluar dari sang nenek selanjutnya, membuat Ara menghela nafas kasar, "Kamu sudah siap mengambil alih perusahaan keluarga kita, kan?"
"Aku tak akan mengambil alih perusahaan, Nenek. Tidak Abimana atau pun Winata," tegas Ara.
"Tapi kenapa?" Nyonya Tiara menatapnya ingin tahu.
"Jawabanku masih tetap sama, aku tak ingin terlibat dalam drama perebutan posisi. Hidupku sudah terlalu banyak drama, Nenek." Ara berkata lebih halus, tangannya mengelus tangan sang nenek.
"Kamu tidak perlu berebut. Kamu justru satu-satunya pewaris, Ara." Nyonya Tiara menyahut tak mau kalah, wanita tua itu lalu meminta Ara meletakkan piring di tangannya.
Ara menghela nafas lagi, "Aku tak akan berubah pikiran. Aku hanya ingin hidup tenang sekali pun itu berarti aku harus bekerja untuk orang lain dibanding keluarga sendiri."