Penaklukan Sang Tuan Tanah

03 January 2026

Hawa dingin pegunungan merayap masuk melalui celah ventilasi villa, namun suhu di dalam kamar utama itu terasa membakar. Dinara menatap pergelangan tangannya yang terikat borgol baja ke tiang tempat tidur. Logam itu terasa dingin dan keras, sebuah pengingat brutal bahwa ia hanyalah seorang tawanan yang dihias sedemikian rupa.

Bima atau Adrian berdiri di ujung tempat tidur. Ia telah menanggalkan handuknya, membiarkan tubuhnya yang atletis dan penuh bekas luka terpampang di bawah lampu remang. Matanya menyisir setiap lekuk tubuh Dinara yang terbalut dress sutra hitam yang sudah koyak di beberapa bagian.

"Jangan menatapku seperti itu, Dinara. Kau yang memulainya dengan mencari tahu hal-hal yang tidak seharusnya kau ketahui," suara Adrian rendah, bergetar dengan dominasi yang kental.

Ia merangkak naik ke atas tempat tidur, gerakannya perlahan dan mengintimidasi, persis seperti predator yang sedang mendekati mangsa yang sudah terpojok. Dinara mencoba mundur, namun borgol itu merenggut gerakannya, membuatnya hanya bisa pasrah saat Adrian menindih tubuhnya, memerangkapnya di bawah berat otot yang padat.

"Tolong, Adrian... lepaskan ini. Ini menyakitkan," rintih Dinara, mencoba menggunakan nama aslinya untuk memancing sedikit rasa kemanusiaan.

Adrian justru terkekeh. Ia mencengkeram rahang Dinara, memaksanya untuk menatap matanya yang gelap dan penuh gairah yang merusak. "Menyakitkan? Kau belum merasakan apa-apa, sayang. Rendra mungkin mengasarimu karena dia tidak tahu cara mengendalikan amarahnya. Tapi aku? Aku akan mengasarimu karena aku menikmati setiap inci perlawananmu."

Adrian membungkam bibir Dinara dengan ciuman yang meledak. Tidak ada kelembutan di sana. Ia menghisap bibir Dinara seolah ingin mencabut nyawa wanita itu melalui napasnya. Lidahnya menyapu rongga mulut Dinara dengan tuntutan yang mutlak, memaksa Dinara untuk membalasnya.

Tangan Adrian yang bebas mulai menjelajah, merobek sisa dress hitam itu hingga memperlihatkan kulit putih Dinara yang kini dipenuhi bintik-bintik kemerahan akibat gairah dan ketakutan. Ia meremas payudara Dinara dengan kuat, membuat wanita itu mengeluarkan desahan tertahan yang langsung disambar oleh mulut Adrian.

"Katakan kau merindukanku, Dinara. Katakan kau lebih menyukai tanganku daripada tangan suamimu yang pecundang itu," bisik Adrian di ceruk leher Dinara, sambil memberikan gigitan kecil yang meninggalkan bekas keunguan.

"Aku... aku membencimu, Adrian," rintih Dinara, meski tubuhnya justru mengkhianatinya. Bagian bawah perutnya berdenyut hebat, merespons setiap stimulasi ahli yang diberikan Adrian.

"Benci adalah nama lain dari obsesi, Dinara. Dan aku sangat suka melihat kebencianmu berubah menjadi rintihan nikmat."

Adrian bergerak turun, menciumi perut rata Dinara hingga ke pangkal pahanya. Ia memisahkan kedua kaki Dinara dengan paksa, memposisikan dirinya di antara kedua paha itu. Dinara mencoba merapatkan kakinya, namun tenaga Adrian jauh lebih besar.

Dengan satu gerakan terampil, Adrian mulai memberikan rangsangan yang paling intim. Dinara mendongak, kepalanya membentur sandaran tempat tidur, napasnya memburu saat ia merasakan gelombang nikmat yang menyiksa mulai menguasai akal sehatnya. Ia membenci kenyataan bahwa Adrian tahu persis di mana titik terlemahnya.

"Adrian... ahhh... cukup..." Dinara memohon, namun jemarinya justru mencengkeram sprei hitam itu kuat-kuat.

"Belum, sayang. Kita baru saja dimulai," jawab Adrian dengan suara serak.

Ia mengangkat tubuh Dinara, memaksanya dalam posisi duduk meski satu tangannya masih terborgol. Dalam posisi yang sangat intim dan menantang itu, Adrian memasuki Dinara dengan satu hentakan yang kuat dan dalam. Dinara membelalak, mulutnya terbuka lebar tanpa suara, sebelum akhirnya sebuah jeritan nikmat pecah memenuhi ruangan.

Adrian bergerak dengan ritme yang cepat dan penuh tenaga. Setiap hantaman tubuh mereka menciptakan suara yang memacu adrenalin. Dinara merasa seolah jiwanya sedang ditarik keluar. Borgol di tangannya berdenting beradu dengan tiang tempat tidur, menciptakan musik pengkhianatan yang memekakkan telinga.

Adrian mencium bahu Dinara yang berkeringat, memeluk tubuh wanita itu seolah ia ingin menyatukan tulang-tulang mereka. "Kau milikku... hanya milikku... jangan pernah berpikir ada pria lain yang bisa melakukan ini padamu."

Di tengah puncak kenikmatan yang meledak-ledak, Dinara merasa dunianya menjadi putih sesaat. Ia hancur. Ia kalah. Di bawah kuasa Adrian, ia bukan lagi seorang istri, bukan lagi seorang wanita bermartabat, melainkan hanya sebongkah gairah yang haus akan penaklukan.

Setelah badai itu mereda, Adrian tidak langsung melepaskan Dinara. Ia tetap memeluk tubuh lemas wanita itu, membiarkan detak jantung mereka yang liar berangsur normal. Ia mencium kening Dinara dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontradiktif dengan kekasaran yang baru saja ia tunjukkan.

"Sekarang tidurlah. Besok kita akan mulai merencanakan masa depan kita tanpa bayang-bayang Rendra," bisik Adrian.

Ia meraih kunci kecil dari kantong celananya yang tergeletak di lantai, lalu membuka borgol di tangan Dinara. Pergelangan tangan Dinara tampak memerah dan sedikit lecet. Adrian mengusap bekas itu dengan ibu jarinya, tampak ada secuil penyesalan di matanya, namun segera tertutup kembali oleh kedinginan yang biasa.

Adrian beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan Dinara yang masih terbaring tak berdaya di atas tempat tidur yang berantakan.

Dinara menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. Rasa sakit di tubuhnya dan rasa panas di antara paha adalah bukti nyata dari penaklukan Adrian. Namun, di balik rasa hancur itu, sebuah api kemarahan mulai menyala di sudut hatinya. Ia tidak bisa terus menjadi pion dalam permainan dendam dua bersaudara Pratama ini.

Ia melihat ke arah jendela besar yang tertutup gorden tebal. Di luar sana, di suatu tempat di rumah lamanya, ada sebuah rahasia di bawah lantai gudang. Ia harus sampai ke sana.

Tiba-tiba, ia mendengar suara Adrian berbicara di telepon dari dalam kamar mandi. Suaranya kecil, namun dalam kesunyian malam, Dinara bisa menangkap beberapa kata.

"Iya... pastikan Rendra tidak pernah sampai ke rumah sakit. Jika perlu, buat dia menghilang selamanya di perjalanan... Dan pastikan gudang di rumah tua itu dijaga ketat. Jangan biarkan siapapun masuk, terutama orang-orang suruhan pengacara ayah."

Dinara membeku. Adrian ingin melenyapkan Rendra secara permanen? Dan gudang itu... Adrian juga tahu tentang gudang itu!

Berarti apa yang ada di sana benar-benar bisa menghancurkan Adrian.

Dinara segera memejamkan matanya saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ia mengatur napasnya seolah sedang tertidur lelap. Ia merasakan Adrian kembali ke tempat tidur, menyelimuti tubuhnya, dan memeluknya dari belakang dengan sangat posesif.

"Aku akan memberikanmu segalanya, Dinara. Asalkan kau tidak mengkhianatiku," gumam Adrian pelan sebelum ia sendiri terlelap.

Dinara menunggu hingga satu jam berlalu. Ia memastikan napas Adrian sudah dalam dan teratur. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia melepaskan tangan besar Adrian dari pinggangnya. Ia turun dari tempat tidur tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Ia tidak mencari pakaiannya yang sudah robek. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil salah satu kemeja putih milik Adrian yang cukup panjang untuk menutupi tubuhnya. Ia harus menemukan cara untuk keluar dari kamar ini.

Pintu utama kamar dikunci dari luar oleh penjaga yang berdiri di lorong, ia tahu itu. Satu-satunya jalan keluar adalah balkon. Dinara berjalan menuju pintu kaca balkon, membukanya dengan sangat perlahan agar tidak berderit.

Angin gunung yang membekukan menyapu kulitnya, namun ia tidak peduli. Ia melihat ke bawah. Balkon itu berada di lantai dua, di bawahnya ada sebuah kanopi kayu yang menutupi teras bawah. Jika ia bisa turun ke sana, ia punya kesempatan untuk lari ke arah hutan pinus.

Namun, saat ia hendak memanjat pagar balkon, sebuah sorot lampu senter menyapu ke arahnya dari arah taman bawah.

"Nyonya? Apa yang Anda lakukan di sana?" suara berat seorang penjaga terdengar dari bawah.

Dinara tersentak. Ia menoleh ke belakang, dan di sana, di ambang pintu balkon, Adrian sudah berdiri dengan mata yang menyala karena murka.

"Kau benar-benar tidak pernah belajar, ya, Dinara?"