Debu gudang yang pengap terasa menyesakkan paru-paru Dinara. Ia berdiri mematung di antara dua pria yang selama ini menjadi pusat dunianya. Di depannya, Rendra berdiri dengan pistol yang masih mengarah ke kepala Adrian, sementara Adrian berdiri dengan tenang di atas lantai kayu yang terbongkar, memegang map merah yang seolah berisi vonis mati bagi kewarasan Dinara.
"Katakan padanya, Rendra. Jangan jadi pengecut sekarang," suara Adrian bergema, tajam dan penuh kemenangan.
Dinara menoleh perlahan ke arah Rendra. Suaminya itu tampak sangat berantakan. Perban di bahunya mulai merembeskan darah segar akibat gerakan yang terlalu dipaksakan. Matanya yang biasanya penuh otoritas, kini memancarkan ketakutan yang belum pernah Dinara lihat sebelumnya.
"Mas... apa yang dia katakan itu benar?" suara Dinara nyaris tidak terdengar.
"Dinara, sayang, dengarkan aku. Aku melakukan semuanya karena aku mencintaimu. Aku tidak punya cara lain untuk memilikimu," jawab Rendra dengan suara bergetar. Pengakuan itu terasa seperti tamparan keras di wajah Dinara.
"Jadi benar?" jerit Dinara. "Kau menghancurkan perusahaan ayahku? Kau membuat ibuku depresi karena kemiskinan mendadak itu hanya agar kau bisa datang sebagai pahlawan kesiangan dan membeliku?"
Rendra menurunkan pistolnya sedikit, wajahnya memelas. "Kau tidak tahu betapa sulitnya mendekatimu saat itu. Kau selalu menolakku. Aku hanya mempercepat keadaan agar kau menyadari bahwa hanya aku yang bisa melindungimu."
Adrian tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang terdengar sangat iblis. "Melindungi? Kau menyebut menjadikannya tawanan di sangkar emas sebagai perlindungan? Kau egois, Rendra. Kau merusak hidupnya demi obsesimu sendiri."
"Diam kau, Adrian! Kau tidak lebih baik!" bentak Rendra kembali mengarahkan pistolnya. "Kau menidurinya hanya untuk membalas dendam padaku! Kau menggunakan tubuh istriku sebagai alat tukar atas dendam masa lalumu!"
Adrian melangkah maju, sama sekali tidak takut pada moncong pistol itu. Ia berdiri tepat di depan Rendra, lalu menoleh ke arah Dinara dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan.
"Memang benar. Awalnya aku menginginkannya hanya untuk menghancurkanmu. Tapi setelah aku merasakannya, setelah aku mendengar desahannya yang tidak pernah kau dengar, aku menyadari satu hal. Dia jauh lebih berharga daripada seluruh harta Pratama."
Adrian menarik tangan Dinara dengan sentakan kuat, membawanya ke dalam pelukannya di depan mata Rendra. Dinara yang sudah hancur secara mental tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Ia merasa seperti barang yang sedang diperebutkan oleh dua monster.
"Lepaskan dia, Adrian!" teriak Rendra.
"Atau apa? Kau akan menembakku? Lakukan saja. Tapi ingat, jika aku mati, kau tidak akan pernah tahu di mana aku menyimpan dokumen asli yang bisa membuktikan semua kejahatan bisnismu ke pihak berwenang," ancam Adrian.
Tangan Adrian mulai merayap ke pinggul Dinara, sebuah gerakan provokatif yang sengaja ditunjukkan untuk menyulut emosi Rendra. Adrian menunduk, menciumi ceruk leher Dinara dengan sangat posesif, menghirup aroma ketakutan dan gairah yang bercampur menjadi satu.
"Jangan, Adrian... tolong jangan lakukan ini di depannya," rintih Dinara, namun tubuhnya yang sudah terbiasa dengan sentuhan Adrian justru bereaksi di luar kendali.
"Kenapa tidak? Biarkan dia melihat bagaimana istrinya yang suci ini merespons sentuhanku. Biarkan dia tahu bahwa di ranjang, kau bukan lagi miliknya," bisik Adrian tepat di telinga Dinara.
Rendra meraung marah, ia menerjang maju mengabaikan rasa sakit di bahunya. Ia menghantam wajah Adrian dengan gagang pistolnya. Adrian terjatuh, namun ia segera bangkit dan membalas dengan pukulan keras ke arah luka tembak Rendra.
Suasana gudang itu berubah menjadi arena pertarungan yang brutal. Dinara berteriak histeris melihat dua pria itu saling pukul, darah berceceran di lantai kayu yang tua. Rendra yang terluka jelas kalah tenaga, namun kemarahannya membuatnya bertahan.
"Berhenti! Cukup!" teriak Dinara sambil memungut pistol Rendra yang terlepas dan jatuh ke lantai.
Kedua pria itu berhenti seketika. Mereka menatap Dinara yang kini memegang pistol dengan kedua tangan yang gemetar.
"Dinara, berikan padaku. Biar aku selesaikan bajingan ini," ujar Rendra sambil terengah-engah.
"Tidak, sayang. Berikan padaku, dan kita akan pergi dari sini. Kita akan meninggalkan Rendra di sini untuk membusuk bersama rahasianya," bujuk Adrian dengan nada yang manis namun beracun.
Dinara menatap mereka bergantian. Ia melihat pengkhianatan di mata Rendra dan manipulasi di mata Adrian. Tidak ada cinta yang tulus di ruangan ini. Hanya ada obsesi, dendam, dan nafsu kekuasaan.
"Kalian berdua sama saja," suara Dinara kini terdengar dingin dan tegas. Air matanya sudah kering, digantikan oleh kekosongan yang gelap.
"Kalian menganggapku sebagai piala. Kalian merobek hidupku hanya untuk saling membuktikan siapa yang lebih kuat. Aku membenci kalian berdua!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki banyak orang terdengar dari luar. Lampu sorot polisi kembali menyapu masuk melalui jendela-jendela gudang yang pecah.
"Tuan Rendra Pratama dan Tuan Adrian, angkat tangan kalian! Tempat ini sudah dikepung!" teriak polisi lewat pengeras suara.
Ternyata, pengacara Hendra tidak sepenuhnya berpihak pada Rendra. Ia telah melaporkan keberadaan mereka semua agar hukum yang mengambil alih.
Adrian melihat ke arah jendela, lalu kembali menatap Dinara. Ia tahu waktunya sudah habis. Ia mendekati Dinara dengan cepat, mengabaikan pistol yang diarahkan padanya. Ia memeluk Dinara dengan erat, mencium bibirnya untuk terakhir kalinya dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut.
"Ini belum berakhir, Dinara. Aku akan kembali untukmu. Kau sudah menjadi bagian dari darahku sekarang," bisik Adrian di sela ciumannya.
Adrian kemudian melepaskan Dinara dan berlari menuju pintu belakang gudang yang menuju ke arah hutan, menghilang ke dalam kegelapan tepat sebelum polisi menyerbu masuk.
Rendra, yang sudah terlalu lemah untuk melarikan diri, hanya bisa bersimpuh di lantai. Ia menatap Dinara dengan tatapan yang hancur saat polisi memborgol tangannya.
"Dinara... maafkan aku... aku hanya terlalu mencintaimu..." rintih Rendra sebelum ia diseret keluar.
Dinara berdiri sendirian di tengah gudang yang kini dipenuhi polisi. Ia melihat map merah yang dijatuhkan Adrian. Ia memungutnya, mendekapnya di dada. Di dalam map itu bukan hanya rahasia tentang orang tuanya, tapi juga sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk naga perak. Kunci menuju sebuah tempat yang Adrian sebut sebagai "istana aslinya".
Polisi mendekati Dinara. "Nyonya, Anda baik-baik saja? Mari kami antar ke rumah sakit."
Dinara menoleh ke arah polisi itu dengan tatapan yang sangat berbeda. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi ketakutan.
"Aku baik-baik saja. Tapi aku tidak ingin ke rumah sakit. Antar aku ke alamat ini," ujar Dinara sambil menunjukkan sebuah kartu nama yang ia temukan di dalam map merah tersebut.
Ia tidak akan kembali ke rumah orang tuanya sebagai korban. Ia akan menggunakan informasi yang ia miliki untuk menghancurkan mereka semua dan mengambil alih kekuasaan Pratama dengan tangannya sendiri.
Namun, saat ia masuk ke dalam mobil polisi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenali sebagai kode khusus Adrian.
"Periksa laci rahasia di bawah tempat tidur villa kita. Aku meninggalkan sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Jangan berani-berani menghilangkannya, Dinara."
Dinara membeku, tangannya secara tidak sadar meraba perutnya yang masih rata.