Benih di Dalam Badai

03 January 2026

Bau antiseptik rumah sakit biasanya menenangkan bagi sebagian orang, namun bagi Dinara Kirana, aroma itu hanya mengingatkannya pada kematian dan pengkhianatan. Ia duduk di tepi tempat tidur ruang VIP, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota di bawah guyuran hujan lebat. Polisi berjaga di depan pintunya, melindunginya dari media dan mungkin, dari dua pria yang telah mengoyak hidupnya.

Dinara meraba perutnya yang masih rata. Pesan singkat dari Adrian semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sesuatu yang sedang tumbuh di dalam rahimmu. Ia merasa mual, bukan karena kehamilan yang belum terbukti, melainkan karena kenyataan bahwa tubuhnya seolah merindukan sentuhan iblis yang telah membohonginya.

Pintu kamar terbuka pelan. Dinara mengira itu adalah perawat, namun sosok yang muncul adalah Pengacara Hendra. Pria paruh baya itu membawa sebuah koper kecil dan wajahnya tampak sangat serius.

"Nyonya Dinara, Anda harus segera melihat ini sebelum polisi menyitanya," ujar Hendra sambil meletakkan koper itu di atas meja.

Hendra membukanya, memperlihatkan tumpukan dokumen legal dan sebuah tablet elektronik. "Rendra Pratama telah resmi ditahan dengan pasal berlapis. Namun, sebelum ia dibawa ke sel isolasi, ia menandatangani surat kuasa penuh atas aset pribadinya kepada Anda. Dia pikir dengan melakukan ini, Anda akan memaafkannya dan menunggu dia keluar."

Dinara tertawa getir. "Dia pikir uang bisa membeli pengkhianatan yang dia lakukan pada keluargaku?"

"Mungkin tidak. Tapi aset ini mencakup gedung perkantoran, saham di Pratama Group, dan villa di perbukitan itu," Hendra menjeda kalimatnya. "Adrian—atau Adrian Pratama—saat ini berstatus buronan. Namun, intelijen saya melaporkan bahwa ia tidak benar-benar pergi jauh. Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengambil kembali apa yang ia anggap miliknya."

Hendra meninggalkan kamar itu setelah memberikan instruksi tentang cara mengakses akun rahasia Rendra. Begitu pintu tertutup, Dinara merasa sesak. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.

Tiba-tiba, lampu di kamar itu berkedip lalu mati total. Dinara tersentak, suasana menjadi gelap gulita hanya dalam hitungan detik. Ia bisa mendengar suara keributan kecil di luar pintu, diikuti oleh suara benda jatuh yang berat.

"Siapa di sana?" teriak Dinara, tangannya meraba-raba mencari ponselnya.

Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang, sementara tangan lainnya melingkar erat di pinggangnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau hujan yang segar seketika menyerang indra penciuman Dinara. Ia tahu aroma ini. Ia tahu detak jantung ini.

"Sstt... jangan berteriak, sayang. Aku hanya datang untuk memeriksa hartaku yang paling berharga," bisik suara serak yang sangat ia kenali.

Adrian.

Pria itu memutar tubuh Dinara hingga menghadapnya dalam kegelapan. Meskipun hanya ada sedikit cahaya dari kilatan petir di luar jendela, Dinara bisa melihat mata Adrian yang menyala penuh gairah dan kegilaan. Adrian tampak berantakan, ada luka gores di pipinya, namun auranya tetap dominan dan menakutkan.

"Kau gila! Polisi ada di mana-mana!" desis Dinara, mencoba mendorong dada Adrian yang keras.

"Polisi-polisi itu tidak kompeten, Dinara. Mereka tidak bisa menjagamu dariku," Adrian justru semakin merapatkan tubuh mereka, mendorong Dinara hingga punggungnya membentur dinding dingin.

Adrian menunduk, mencium leher Dinara dengan kasar, menghisap kulit sensitif di sana seolah ingin menandai kembali wilayahnya. Dinara mengerang pelan, tubuhnya mengkhianati akal sehatnya sekali lagi. Rasa takut yang ia rasakan melebur menjadi gairah yang menyakitkan saat tangan Adrian mulai menyusup ke bawah gaun rumah sakitnya yang tipis.

"Lepaskan aku, Adrian... kau hanya memanfaatkanku," rintih Dinara, namun kakinya justru perlahan melingkar di pinggang Adrian saat pria itu mengangkatnya.

"Aku memang memanfaatkanku, tapi kau menikmatinya, bukan? Kau menyukai caraku menghancurkanmu," Adrian menggigit daun telinga Dinara sebelum membungkam bibirnya dengan ciuman yang liar dan penuh tuntutan.

Di dalam kamar rumah sakit yang gelap, di bawah ancaman penangkapan yang setiap saat bisa terjadi, mereka melakukan pergulatan yang penuh dosa. Adrian memperlakukan Dinara dengan intensitas yang lebih gila dari sebelumnya. Setiap hentakannya seolah ingin memastikan bahwa Dinara tidak akan pernah bisa melupakan sensasi yang ia berikan.

Tangan Adrian mencengkeram rambut Dinara, memaksanya untuk mendongak dan menatap matanya di tengah temaram. "Katakan padaku, Dinara. Siapa ayah dari anak yang ada di perutmu? Katakan namaku!"

"Kau... Adrian... ahhh... berhenti..." jerit Dinara saat ia merasakan puncak kenikmatan yang meledak-ledak mulai menguasai dirinya.

Adrian tidak berhenti hingga ia memastikan Dinara benar-benar lemas di pelukannya. Ia menyandarkan dahi mereka yang berkeringat, napasnya memburu di telinga Dinara.

"Jangan pernah berpikir untuk memberikan aset Rendra kembali padanya. Gunakan uang itu untuk membangun kerajaan kita. Aku akan mengawasimu dari bayang-bayang, Dinara. Dan jika kau berani membiarkan pria lain menyentuhmu, aku akan membakar kota ini bersamamu di dalamnya."

Adrian melepaskan Dinara dan menurunkannya ke tempat tidur. Ia berjalan menuju jendela dan membukanya, membiarkan angin badai masuk ke dalam ruangan.

"Adrian, tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi di gudang itu? Apa yang disembunyikan ayahmu?" tanya Dinara dengan suara bergetar.

Adrian menoleh sebentar, senyum miringnya terlihat sangat mengerikan di bawah kilatan petir. "Ayah tidak menyembunyikan dokumen, Dinara. Dia menyembunyikan bukti bahwa Rendra telah membunuh ibu kandungku agar dia bisa menjadi pewaris tunggal. Dan sekarang, aku punya rekaman aslinya."

Adrian melompat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan malam tepat saat lampu kamar kembali menyala dan pintu didobrak oleh polisi yang baru saja tersadar dari bius gas air mata yang disemprotkan Adrian sebelumnya.

"Nyonya Dinara! Anda baik-baik saja?" tanya seorang polisi dengan panik.

Dinara duduk di atas tempat tidur dengan pakaian yang berantakan dan napas yang masih tersengal. Ia menatap ke arah jendela yang terbuka lebar. Di lantai, di dekat kakinya, terdapat sebuah flashdisk kecil berwarna hitam yang ditinggalkan Adrian.

Ia mengambil flashdisk itu dan menyembunyikannya di balik bantal.

Keesokan harinya, Dinara secara resmi keluar dari rumah sakit. Ia tidak pulang ke rumah lamanya. Ia menuju ke kantor pusat Pratama Group dengan pengawalan ketat. Ia mengenakan setelan jas hitam yang elegan, kacamata hitam yang menutupi matanya yang sembab, dan memoles bibirnya dengan warna merah darah.

Di ruang rapat utama, para pemegang saham sudah menunggu dengan wajah cemas. Mereka mengira perusahaan akan hancur setelah penangkapan Rendra. Namun, saat Dinara masuk, suasana mendadak menjadi hening.

"Mulai hari ini, saya, Dinara Kirana Pratama, akan mengambil alih posisi CEO Pratama Group sesuai dengan surat kuasa yang diberikan oleh Rendra Pratama," suara Dinara terdengar dingin dan tanpa emosi.

Salah satu direktur tua berdiri. "Tapi Nyonya, Anda tidak memiliki pengalaman bisnis. Bagaimana dengan Adrian? Dia juga memiliki klaim..."

"Adrian Pratama adalah seorang buronan pembunuhan," potong Dinara tajam. "Dan Rendra Pratama sedang menunggu hukuman mati. Jika Anda ingin perusahaan ini tetap berdiri, Anda akan mengikuti perintah saya."

Dinara membuka laptopnya dan memasukkan flashdisk dari Adrian. Ia melihat sekilas isinya; sebuah video hitam putih yang memperlihatkan kejadian tragis dua puluh tahun lalu di rumah keluarga Pratama. Ia tahu, dengan benda ini, ia memegang leher Rendra dan Adrian sekaligus.

Malam itu, Dinara kembali ke villa di perbukitan. Ia masuk ke dalam kamar utama yang masih menyisakan aroma Adrian. Ia membuka laci rahasia di bawah tempat tidur seperti yang diinstruksikan Adrian dalam pesannya.

Di sana, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil. Isinya bukan perhiasan atau uang, melainkan sebuah tes kehamilan yang sudah menunjukkan dua garis merah, dan sebuah surat pendek dengan tulisan tangan Adrian yang tajam.

Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Ibu dari anakku. Sekarang, mari kita lihat seberapa jauh kau bisa berlari sebelum aku menjemputmu kembali.

Dinara merobek surat itu menjadi kepingan kecil. Ia menatap cermin, melihat seorang wanita yang tidak lagi ia kenali. Ia hamil anak dari pria yang membunuh martabatnya, dan ia memimpin perusahaan dari pria yang menghancurkan keluarganya.

Tiba-tiba, suara interkom villa berbunyi. Suara penjaga di gerbang terdengar panik.

"Nyonya, ada seorang pria di depan gerbang. Dia bilang dia memiliki pesan dari ibu kandung Anda yang selama ini Anda kira sudah meninggal."

Dinara membeku. Satu lagi rahasia mulai terkuak. Ibunya masih hidup?