Hujan di perbukitan belum juga reda. Suara guruh yang bersahut-sahutan di luar villa terasa seperti iringan musik bagi kekacauan yang sedang terjadi di kepala Dinara. Ia berdiri di depan monitor interkom, jemarinya yang dingin gemetar saat menekan tombol bicara. Di layar yang sedikit buram karena air hujan, seorang pria paruh baya mengenakan jas hujan hitam berdiri dengan kaku di depan gerbang besi yang kokoh.
"Nyonya, dia tidak mau pergi. Dia bilang nyawa Anda dalam bahaya jika tidak mendengar pesannya sekarang," suara penjaga gerbang terdengar melalui interkom, penuh kecemasan.
Dinara menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. "Bawa dia masuk ke ruang tamu. Geledah dia terlebih dahulu, pastikan dia tidak membawa senjata atau alat perekam apa pun."
Sepuluh menit kemudian, Dinara menuruni tangga melingkar villa dengan langkah yang sengaja dibuat angkuh. Ia mengenakan jubah tidur sutra panjang berwarna merah gelap, pakaian yang menutupi jejak-jejak merah di tubuhnya namun memamerkan aura kekuasaan yang mulai ia bangun.
Di ruang tamu, pria asing itu sudah menunggu. Ia tampak basah kuyup, namun matanya menatap Dinara dengan tatapan yang penuh haru sekaligus ngeri. Begitu melihat Dinara, pria itu langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Siapa kau? Dan kenapa kau membawa nama ibuku?" tanya Dinara tanpa basa-basi. Suaranya dingin, meniru cara Rendra bicara saat sedang mengintimidasi bawahannya.
"Nama saya Yusuf, Nyonya. Saya adalah sopir pribadi Nyonya Kirana sepuluh tahun yang lalu. Orang-orang mengira ibu Anda meninggal dalam kecelakaan mobil setelah perusahaan ayah Anda bangkrut, tapi kebenarannya tidak sesederhana itu," pria itu bicara dengan suara parau.
Dinara merasa dunianya seolah miring. "Apa maksudmu? Aku melihat peti matinya, aku menghadiri pemakamannya!"
"Peti mati itu kosong, Nyonya. Rendra Pratama yang mengaturnya. Dia membutuhkan ibu Anda menghilang agar dia bisa memiliki Anda sepenuhnya tanpa campur tangan siapa pun. Ibu Anda tidak meninggal, dia... dia disembunyikan di sebuah sanatorium di pinggiran kota selama bertahun-tahun," Yusuf mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin kecil dari sakunya.
Dinara mengenali kalung itu. Itu adalah kalung yang selalu dipakai ibunya, sebuah hadiah ulang tahun dari ayahnya. Jantung Dinara serasa diremas. Jika ibunya masih hidup, berarti setiap hari yang ia lalui bersama Rendra adalah sebuah kebohongan yang berlumuran darah.
"Kenapa kau baru muncul sekarang?" cecar Dinara, matanya mulai memanas karena air mata yang tertahan.
"Karena Adrian Pratama telah melepaskan saya dari ancaman Rendra. Adrian yang menemukan saya, Nyonya. Dia yang meminta saya untuk memberikan informasi ini pada Anda saat waktunya tepat," jawab Yusuf.
Lagi-lagi nama Adrian. Dinara merasa terjepit di antara dua saudara yang sama-sama manipulatif. Rendra menyembunyikan ibunya untuk memilikinya, sementara Adrian memberikan informasi ini agar Dinara semakin membenci Rendra dan bergantung padanya. Keduanya menggunakan ibunya sebagai pion dalam permainan mereka.
"Di mana dia sekarang? Di mana ibuku?" tanya Dinara dengan nada mendesak.
"Saya akan mengantar Anda, tapi kita harus bergerak sebelum orang-orang Rendra yang masih setia menyadari ada yang tidak beres," ujar Yusuf.
Tiba-tiba, lampu di ruang tamu mendadak redup, dan aroma yang sangat familiar memenuhi ruangan. Aroma maskulin yang tajam, bercampur dengan dinginnya udara malam. Dinara menoleh dengan cepat ke arah bayang-bayang di pojok ruangan.
"Kau terlalu cepat memberikan kejutan itu, Yusuf," suara Adrian terdengar dari kegelapan.
Pria itu melangkah keluar dari balik pilar, mengenakan pakaian hitam serba tertutup. Wajahnya yang tampan terlihat sangat berbahaya di bawah cahaya lampu yang temaram. Adrian berjalan mendekati Dinara, mengabaikan Yusuf yang langsung menunduk ketakutan.
"Adrian? Kau masuk ke sini lagi?" desis Dinara.
"Ini villaku, Dinara. Aku tahu setiap inci rahasia di gedung ini," Adrian berdiri tepat di depan Dinara, tangannya terangkat untuk membelai pipi Dinara yang dingin.
Dinara menepis tangan itu. "Kau menggunakan ibuku untuk memanipulasiku! Kau tidak lebih baik dari Rendra!"
Adrian tertawa rendah, tawa yang menggetarkan dada Dinara. Ia menarik pinggang Dinara dengan kasar, merapatkan tubuh mereka hingga Dinara bisa merasakan panas tubuh pria itu di balik jubah sutranya.
"Aku tidak memanipulasimu, sayang. Aku memberikanmu kebenaran yang selama ini disembunyikan darimu. Rendra mencintaimu seperti pencuri, sementara aku mencintaimu seperti seorang penakluk. Kau ingin melihat ibumu? Aku akan membawamu padanya. Tapi ada harganya."
"Hargamu selalu terlalu mahal, Adrian," rintih Dinara, namun tangannya secara tidak sadar mencengkeram lengan kokoh Adrian.
"Hargaku adalah kau. Seluruhnya. Malam ini, besok, dan selamanya," Adrian menunduk, mencium bibir Dinara dengan paksa.
Ciuman itu bukan lagi tentang dendam, melainkan tentang klaim mutlak. Adrian menghisap bibir Dinara, lidahnya menuntut balasan yang sama liarnya. Dinara mencoba melawan, namun gairah yang telah ditanamkan Adrian dalam darahnya meledak kembali. Di depan Yusuf yang masih mematung, Adrian tidak peduli. Ia memutar tubuh Dinara, mendorongnya ke sofa besar di ruang tamu itu.
"Yusuf, keluar! Tunggu di mobil!" perintah Adrian tanpa melepaskan pandangannya dari Dinara.
Setelah Yusuf pergi dengan terburu-buru, Adrian segera menindih Dinara. Ia merobek jubah sutra merah itu, memperlihatkan keindahan tubuh Dinara yang kini tampak lebih berani di bawah tatapannya.
"Katakan kau merindukanku, Dinara. Katakan kau merindukan rasa sakit dan nikmat yang hanya bisa kuberikan padamu," bisik Adrian sambil menjelajahi leher Dinara dengan ciuman-ciuman panasnya.
"Aku membencimu... ahhh... Adrian..." rintih Dinara, kepalanya mendongak saat merasakan jemari Adrian bermain di titik paling sensitifnya.
Adrian tidak memberikan ampun. Ia memperlakukan Dinara dengan dominasi yang luar biasa, seolah ingin memastikan bahwa berita tentang ibunya tidak akan mengalihkan fokus Dinara darinya. Di atas sofa ruang tamu itu, di tengah badai yang mengamuk di luar, mereka bersatu dalam pergulatan yang lebih intens dari sebelumnya. Adrian bergerak dengan ritme yang menghancurkan pertahanan Dinara, membuatnya mendesah menyebut nama Adrian berkali-kali.
"Ingat rasa ini, Dinara. Setiap kali kau menatap ibumu nanti, ingatlah bahwa kaulah yang membayarnya dengan menyerahkan dirimu padaku," gumam Adrian di tengah puncak kenikmatan mereka.
Dinara merasa hancur sekaligus terbang tinggi. Ia merasa menjadi wanita paling hina di dunia karena mendesah nikmat di pelukan pria yang sedang memanipulasinya, namun ia tidak bisa berhenti. Tubuhnya telah menjadi tawanan Adrian sepenuhnya.
Setelah badai itu reda, Adrian membantu Dinara berdiri dan merapikan pakaiannya yang sudah berantakan. Ia menyeka air mata di sudut mata Dinara dengan ibu jarinya.
"Ayo. Waktunya menemui Nyonya Kirana," ujar Adrian, suaranya kembali dingin seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Mereka berangkat menggunakan mobil hitam milik Adrian, dikawal oleh Yusuf di mobil depan. Perjalanan menembus malam itu terasa sangat panjang bagi Dinara. Pikirannya bercabang antara harapan bertemu ibunya dan ketakutan akan apa yang akan ia temukan di sana.
Sampai di sebuah bangunan tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon besar, Adrian menuntun Dinara masuk. Suasananya sunyi dan mencekam. Mereka berhenti di depan sebuah kamar bernomor 404.
"Masuklah. Dia menunggumu," ujar Adrian sambil membukakan pintu.
Dinara melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat. Di atas tempat tidur putih, seorang wanita dengan rambut yang sudah memutih duduk menatap jendela. Saat wanita itu menoleh, Dinara menjerit kecil. Itu benar ibunya, namun wajahnya tampak kosong, seolah jiwanya sudah lama pergi.
"Ibu?" bisik Dinara.
Wanita itu menatap Dinara lama, lalu sebuah senyuman tipis muncul di bibirnya yang pucat. "Dinara? Kau sudah datang? Rendra bilang kau akan datang menjemputku setelah kau melahirkan anak untuknya."
Dinara membeku. Ibunya masih berpikir Rendra adalah orang baik?
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari arah pintu. Namun itu bukan suara Adrian.
Sesosok pria muncul dari balik bayangan koridor, memegang sebuah alat picu ledak di tangannya. Itu adalah asisten pribadi Rendra yang paling setia, yang selama ini dikira sudah ikut tertangkap.
"Reuni yang sangat indah, Nyonya Dinara. Sayangnya, Tuan Rendra meninggalkan perintah terakhir jika ia sampai tertangkap," ujar pria itu dengan senyum jahat.
Adrian yang berdiri di belakang Dinara langsung menarik senjatanya, namun pria itu sudah menekan satu tombol di alat picunya.
"Gedung ini akan rata dengan tanah dalam tiga menit. Pilihlah, Adrian. Selamatkan istrimu, atau selamatkan ibu mertuamu?"